Fiction
Janji di Negeri Titi [4]

27 Aug 2013


<<<<<Cerita Sebelumnya


Kisah Sebelumnya:
Maha, wanita asal Jakarta, pergi ke Mentawai untuk menenangkan diri dari perkawinannya yang mulai retak. Di pulau itu dia bertemu dengan Lui, pria asli Mentawai yang besar dan tinggal di Jakarta. Di kampung Lui, Maha belajar filosofi tato (titi) dalam hidup orang Mentawai. Maha juga harus menerima kecemburuan Ura, sepupu Liu, atas kedekatannya dengan Liu. Maha juga melihat kegamangan dalam hidup Liu.

Hari Kelima. Pagi
Rintik hujan sejak semalam tak menyurutkan niat anak-anak untuk datang ke sekolah di hari pertama. Berpayung daun keladi, rombongan bocah perempuan yang kulihat bermain di tengah hujan tempo hari, telah membawa kantong plastik yang berisi buku dan pensil usang yang ternyata masih mereka simpan. Tak lama Ura mengajar, bunyi kentongan kayu ditabuh memberi pertanda bahwa upacara pembuatan tato akan segera digelar. Kelas terpaksa dibubarkan.
Lui turut mempersiapkan perlengkapan untuk upacara. Sementara aku masih bertanya-tanya siapa yang akan ditato. Ura tak kelihatan lagi. Mungkin ia bersama para ina mempersiapkan makanan di dapur. Seluruh penghuni uma ini, termasuk uma tetangga, berkumpul membentuk lingkaran. Di tengah tergeletak perlengkapan untuk pembuatan tato.
Aku memilih duduk di deretan depan bersama anak-anak. Kemudian Bajak Ruji yang memakai lei-lei, ikat kepala seperti mahkota yang terbuat dari bulu binatang dan bunga, muncul di tengah sambil melantunkan doa. Pertanda prosesi telah dimulai. Aku mengamati sekeliling dan menangkap Lui yang berdiri di dekat pintu. Mulut Bajak Ruji komat-kamit dalam bahasa yang tak kupahami. Aku menunggu gerak-gerik Lui dengan degup di dada yang lebih cepat. Apakah Bajak Ruji akan menyebut nama lelaki itu.   
Dugaanku meleset. Nama Ura yang dipanggil Bajak Ruji untuk duduk di pusat lingkaran. Aku tak percaya. Ura? Benarkah? Mengapa gadis itu merahasiakan dariku? Aku menengok ke posisi Lui berdiri untuk melihat apakah ia juga tak menyangka Ura yang akan ditato. Tapi, sosoknya telah menghilang.
Setelah tato pertamanya di pangkal lengan yang dibuat sebelum Ura meninggalkan pulau ini untuk menuntut ilmu, pembuatan tato akan dilanjutkan pada bagian dada. Tubuh Ura terbujur, tampak tak berdaya. Sesekali ia meringis menahan sakit. Sorot matanya tetap berbinar dan senyumnya tetap terbingkai seolah ia menikmati rasa sakit yang menjalari tubuhnya. Sementara aku merasakan nyeri  tiap kali jarum bertangkai kayu dipukul perlahan-lahan untuk memasukkan pewarna dari campuran daun pisang dan arang tempurung kelapa ke dalam lapisan kulit. Bahkan, terkadang aku yang berteriak seperti kesakitan. Tak terbayang, dulu sebelum ada jarum, alat yang digunakan adalah kayu karai yang diruncingkan.
Membuat tato membutuhkan kesabaran untuk menahan rasa sakit selama berjam-jam. Aku hitung lebih dari tiga jam tubuh Ura dirajah. Segera kuhampiri Ura setelah Bajak Ruji menyatakan proses pembuatan tato telah usai. Ina Ama membersihkan sisa darah yang mulai mengering.
“Sakit?” tanyaku hati-hati.
“Sangat. Kau terkejut aku yang ditato?”
“Sangat. Kenapa kau tidak bilang?”
“Kejutan.”
“Semua pandai menjaga rahasia.”
“Aku juga merahasiakan dari Lui. Hanya aku, Bajak Ruji, dan Ina Ama yang tahu tentang rencana ini.”
“Kejutan ini kau tujukan untuk aku dan Lui?”
“Sebagai ucapan terima kasih untuk kalian.”
“Terima kasih untuk apa?”
“Meyakinkan aku bahwa kau bukan ancaman untukku.”
Aku tersenyum, kaku.
“Ke mana Lui? Aku tak melihatnya.” Bola matanya berputar menyapu seluruh ruangan.
“Entah, aku cari dulu, ya,” sahutku, lalu meninggalkan Ura yang masih merintih kesakitan.
Aku segera menyusul Lui yang kuduga pasti berada di tempat kesukaannya. Benar saja, aku menemuinya sedang duduk di atas batu di tepi sungai. Tangannya memainkan alang-alang liar.
“Ura mencarimu,” ujarku, setelah duduk di dekatnya.
Lui tak menyahut, seperti tak mendengar ucapanku.  
“Mengapa melewatkan upacara tato? Bukankah sejak kamu datang ke sini, inilah upacara yang pertama kali diadakan?
Ia tetap tak bereaksi apa-apa.
“Aku pikir kamu berbeda dengan para lelaki yang dibesarkan di kota yang biasa dikuasai oleh ego.”
“Setelah dua puluh tahun, dia baru memintaku untuk menemuinya. Aku butuh waktu lama membulatkan keyakinan untuk datang ke sini memenuhi keinginannya. Tapi, ketika aku meminta ia melanjutkan tato yang dulu pernah dibuatnya di tubuhku, ia mengajukan syarat yang lebih berat. Berkali-kali aku memintanya, namun ia tetap keras kepala akan mengabulkannya kalau aku memenuhi syarat yang diajukannya.”
“Ukkui mau menato Ura karena dia telah memutuskan tinggal di sini.”
“Aku tahu. Bukan karena aku iri atau tersaingi dengan Ura. Tapi, menyesali diriku sendiri karena tak bisa membuat keputusan cepat.”
“Aku lebih setuju kalau kau tidak terburu-buru.”
Aku menepuk bahunya dan meninggalkannya sendiri.

Malam
Purnama mencapai puncaknya. Terang. Malam tak ubahnya saat siang. Rasanya aku tak mau melewatkan malam terakhir di pulau ini dengan memejamkan mata sedetik pun. Tapi, Ura tak bisa menemani. Dia tidur lebih cepat dari biasanya. Demam mulai menjalari tubuhnya. Tak perlu dikhawatirkan, begitu pesan Ina Ama. Sementara Lui pamit untuk memeriksa sampan yang besok akan mengantarku ke muara. Setelah mengepak barang ke dalam ransel dan memastikan tak ada yang tertinggal, aku ingin menghirup udara segar agar bisa mengusir kantuk.
“Kau tinggal di sini terlalu sebentar,” suara Bajak Ruji menyambutku di beranda.
“Andai aku bisa tinggal lebih lama, Ukkui. Masih ada urusan yang harus diselesaikan. Aku pasti rindu untuk segera datang ke sini lagi.”
“Kapan pun kau ingin datang lagi, uma ini selalu terbuka untukmu,” sahutnya. “Lagi pula, Lui dan Ura pasti senang sekali ada kau di sini.”
“Terima kasih, Ukkui. Mereka berdua begitu baik. Tak hanya menganggapku sebagai tamu, tapi juga sebagai sahabat sekaligus keluarga.”
“Lui anak yang bijak. Ia menghargai tradisi dan menghormati leluhurnya. Aku bisa melihatnya dari kecil. Untuk itulah, aku tega melepasnya sementara waktu ke Pulau Jawa karena aku yakin suatu saat ia pasti akan kembali ke tanah kelahirannya. Seperti halnya yang kulihat pada diri Ura.”
Aku mengangguk memberi tanda setuju dengan ucapannya.  
“Bahkan aku telah menyiapkan jodoh yang kurasa tepat untuk putraku. Agar generasi penerusnya bisa menyelamatkan bumi ini.”
“Ura?”
Jantungku berdegup kencang menunggu jawabannya.
Ia mengangguk. “Bagaimana menurut kau?”
“Aku yakin mereka bisa bersinergi dan saling melengkapi untuk menjaga masa depan manusia dan alam di sini.”
Sesak menyergap organ pernapasanku. Aku tak bisa meraba perasaan yang merasuki hatiku. Cemburukah? Mungkin. Mataku terasa hangat. Entah karena aku mulai mengantuk, atau ada sesuatu yang tertahan di dada dan merambat naik ke mata.

Hari Keenam. Pagi
    Semalam aku tak bisa memejamkan mata dan tidur nyenyak. Setelah berbicara dengan Bajak Ruji, muncul perasaan takut kehilangan. Lantai laibo dilapisi embun yang jatuh dari langit. Dingin menusuk telapak kaki dan merayap ke dada.
“Sudah bangun sepagi ini, Maha?” muncul suara dari dalam uma. “Atau tak bisa tidur semalaman?”
“Tidur tak bisa nyenyak, Ina,” sahutku setelah mengenali si pemilik suara.  
“Kau tak sabar untuk pergi dari sini rupanya?”
Aku tertawa kecil.
“Tidak, Ina. Sebaliknya, aku sebenarnya tak ingin pergi dari sini.”
“Kalau begitu, tinggallah lebih lama di sini. Belum genap sepekan kau berada di sini. Aku sampai mengira kau tak betah gara-gara aku.” Ia tertawa. Aku ikut tertawa. Baru kali ini aku melihatnya tertawa lepas.  
“Ada yang harus segera aku selesaikan di Jakarta. Suatu saat aku akan datang lagi ke sini.”
“Segera selesaikan urusanmu. Tak baik menunda masalah, apalagi sampai pergi menghindari masalah.”
“Aku pun ingin segera ambil keputusan untuk menyelesaikan masalahnya. Tapi, sering kali muncul keraguan apakah keputusan itu yang paling tepat. Aku takut menyesal belakangan karena membuat keputusan yang salah.”  
“Ikuti kata hatimu. Kalaupun di kemudian hari kau anggap keputusan itu tak tepat, kau akan memetik hikmah di baliknya,” sarannya, seakan ia memahami masalah yang kuhadapi.
Kalimatnya dilanjutkan tanpa menunggu reaksiku. “Tato adalah lambang kesetiaan, termasuk dalam hal ikatan perkawinan. Itulah yang aku patuhi ketika suamiku tak jera mengkhianati kesucian perkawinan kami. Aku tetap bertahan demi menepati janji kesetiaan yang pernah kami ucapkan. Dengan harapan pula ia akan berubah. Berulang kali hatiku disakiti,  tapi aku rela memaafkannya. Aku tak menyadari bahwa kesetiaan itu perlahan-lahan membuatku menderita. Sampai kesetiaan itu menemukan titik akhirnya. Aku tak mau merasakan sakit hati lagi. Aku layak untuk hidup bahagia. Aku ingin merasakan bahagia. Setelah puluhan tahun, aku baru sanggup membuat keputusan itu. Tapi, aku tak mau menyesalinya.”
“Apakah aku harus menunggu berkali-kali dikhianati untuk akhirnya menyerah pada kesetiaan?”
“Tidak. Tanyakan hatimu, apakah memang perlu memaafkan dan memberinya kesempatan atau justru mengakhirinya.”
“Terima kasih, Ina.” Aku mendekapnya.  
“Aku tak punya kenang-kenangan yang berharga untukmu agar selalu mengingat diriku yang beraut menyeramkan ini. Tapi, aku yakin kamu akan menyukai kalung yang kubuat pertama kali sewaktu kecil ini.”
Ia melepas kalung dari lehernya dan memasangkan ke leherku.
“Tak usah, Ina. Pasti ini kalung kesukaanmu.”
“Tak baik menolak pemberian. Pakailah kalau kau rindu tempat ini, termasuk Lui.”
“Bukan hanya Lui, Ina. Aku akan merindukan semua yang ada di sini,” sanggahku. Aku menduga ia mengetahui apa yang terjadi antara aku dan Lui.
“Tapi, kau boleh rindu lebih kepada Lui.” Ia terbahak.
Kali ini aku tidak ikut tertawa. Aku bertanya-tanya, apakah aku boleh merindukan lelaki lain selain lelaki yang masih berstatus suamiku? Apakah aku dipertemukan dengan Lui sebagai pertanda bahwa aku diberi kesempatan untuk membalas pengkhianatan suamiku?

Siang
Aku paling benci perpisahan, meskipun mungkin hanya untuk sementara waktu. Seisi uma, termasuk anak-anak yang usai belajar, melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Aku berusaha menahan air mata agar tak menetes, tapi tak kuasa. Apalagi setelah melihat Ura menangis sambil memelukku berkali-kali. Aku balas melambaikan tangan ke mereka. 

“Maha…,” panggil Ura, sembari berlari menuruni tangga uma untuk mengejarku. “Terima kasih telah merelakan Lui untukku.”
“Jaga dirimu dan Lui baik-baik,” pesanku.  
Ura mengangguk mantap. “Aku akan merindukanmu.”
“Terlebih lagi aku, Ura. Kalau semesta mengizinkan, kita akan bertemu lagi.”
“Jangan lupakan aku, jangan lupakan kami.”
“Tidak akan pernah, Ura.”
“Ayo, sudah waktunya pergi,” suara Lui mengingatkan.
Aku melepaskan pelukan dan menghapus air mata yang mengalir di pipinya. “Sekali lagi terima kasih Ura, sampai jumpa lagi.”
Ura melambaikan tangan dan sesekali lengannya menghapus air mata yang tergenang di pelupuk mata. Lui mengambil ransel di punggungku dan membimbing langkahku.
Sepanjang menyusuri sungai, aku terdiam. Seakan memahami kondisiku, Lui tak banyak berkata. Ia hanya menjagaku melalui matanya. Aku menghindari interaksi lebih intim dengannya, mungkin untuk meredakan ketakutkan akan kehilangan dirinya. Aku membuka buku, seolah tak ada orang lain di sampan ini, kecuali mesin sampan yang berisik.  
Sampan merampat di dermaga. Kapal yang akan membawaku menyeberang ke pulau seberang telah dipadati oleh penumpang.
“Terima kasih yang tak terhingga,  Lui,” ucapku, sambil lalu. Aku tak berani menatap matanya.
“Ini bukan perpisahan, Maha.” Ia berhasil menatap mataku. “Kita akan bertemu lagi di Jakarta, janji?”
“Jangan paksa aku untuk berjanji. Sekarang aku tak nyaman lagi jika terikat janji.”
“Ok, tapi kalau kamu menghilang dan sulit aku hubungi, aku akan menyewa semua detektif andalanmu,” selorohnya. Senyumku mengembang, tapi seperti dipaksakan.
“Mungkin kita akan bertemu saat upacara pembuatan tatomu.”
“Ah, jangan bebani aku dengan permintaanmu yang tersurat itu.”
Tawaku lepas. Lui langsung memelukku. “Kita akan bertemu di Jakarta, secepatnya.”
Secepat mungkin aku melepas pelukannya.
“Kuobak ekeu,” bisiknya. Aku tak mengerti artinya. Dari reaksiku seharusnya dia bisa menangkap bahwa aku menunggu penjelasan maknanya. Namun, ia bergeming.
“Aku cinta kamu,” ucapnya, setelah jeda lama.
“Masura bagata,” balasku, Istilah yang telah kupelajari sebagai pengganti kata terima kasih.  
“Simakerek. Sama-sama,” sahutnya. Ia yakin sekali aku belum mengetahui makna kata itu.
  Aku meninggalkannya di gerbang pembatas. Aku berjalan tanpa menengok ke belakang lagi.


Jakarta
Hari Pertama
Tumben, bandara tak riuh seperti biasanya. Aku bergegas menghampiri Redo dan si kecil Aira yang membuat rinduku bertalu-talu. Kalaupun ada yang masih membuatku ingin pulang ke Jakarta, hanya sosok mungil itu. Aku sengaja memberi kabar kepada Redo mengenai kedatanganku. Dia meminta untuk menjemputku. Mungkin ia membaca pertanda bahwa aku telah memaafkan dan menerimanya kembali untuk menjalani kehidupan bersama seperti semula.
Dalam perjalanan pulang, aku meredam keraguan dan meramu hati untuk mengambil keputusan ini. Aku akan memberikan kesempatan untuk menjalani lagi kehidupan perkawinan kami yang sempat terbengkalai. Seperti pesan Ina Ama, pada akhirnya waktu yang akan menjawab apakah aku akan sanggup bertahan dalam ikatan perkawinan ini, atau aku memilih untuk menyerah.

Pekan Kesembilan
Berjalan memasuki sebuah kafe, Aira menggenggam tanganku erat seakan mengetahui ibunya perlu diingatkan mengenai kehadirannya di dekatnya. Persis di depan pintu, kakiku mendadak berhenti. Rasa ragu datang lagi mengendalikan hatiku. Aira ikut menghentikan langkahnya. Ia mengangguk seakan memberi aba-aba agar meneruskan langkahku.
Ruangan kafe terlihat sepi. Tampak hanya beberapa meja yang terisi. Melihat kedatanganku, sosok yang duduk di sudut ruangan langsung menyambut kami. Makin dekat, langkahku  makin melambat. Tapi, ia keburu menghampiri. Aku perhatikan penampilannya kontras dengan yang kulihat ketika di Pulau Siberut. Penampilannya tipikal lelaki metropolitan yang memuja modernitas.
Setelah berada di Jakarta, aku tak pernah menghubungi Lui. Terakhir, aku hanya membalas pesannya apakah aku telah mendarat di Jakarta dengan selamat. Setelahnya, aku tak pernah menjawab teleponnya maupun membalas pesan yang dikirimnya. Namun, ia tak patah arang. Di pesan terakhir yang kuterima tiga hari lalu, ia memohon agar aku mau menemuinya untuk menyampaikan keputusan yang diambilnya. Aku meminta agar disampaikan lewat telepon, namun ia menolak. Akhirnya aku memenuhi permintaan itu.
Lui tak menduga ada anak kecil di tengah pertemuan kami.

“Anakmu?”
Aku mengangguk.
“Siapa nama gadis cantik ini?”
“Syailendra,” jawab Aira malu-malu. “Tapi aku biasa dipanggil Aira.”
“Sangat mirip ibunya,” ujar Lui, sambil membelai rambut panjang Aira.
“Ya, banyak yang bilang begitu.”
“Aku kangen,” ucapnya, setelah mempersilakan kami duduk.   
Aku mengalihkan pembicaraan. “Jadi, ada kabar apa?”
“Aku akan pulang untuk memasang tato.”
“Sungguh?” Aku memegang tangannya. “Aku senang mendengar keputusanmu.”
“Aku ingin kamu ikut denganku. Juga Aira tentunya.”
“Bagaimana dengan Padma?”
“Ketika kembali ke Jakarta, aku meninjau lagi hubunganku dengan Padma. Ternyata, selama ini aku menyayanginya hanya sebagai seorang teman, sahabat. Aku hanya tak tega menolaknya setelah belasan tahun menungguku.”
“Aku tidak bisa, Lui. Aku memutuskan untuk memaafkannya. Kami memulainya dari awal lagi.” Aku tidak berani menatap matanya.
Kesedihan membebani kepalanya hingga tertunduk. Benakku bergejolak. Andai saja aku bisa mengatakan bahwa aku ingin sekali menemaninya tinggal di sana, tempat yang kurindukan….. Tapi, tak mungkin. Aku telah berjanji kepada Ura untuk merelakan Lui untuknya. Aku tak mau karma kembali berbalik padaku.
“Ibu, aku boleh pesan minum?” suara Aira memecah keheningan.  
“Oh, Aira mau pesan apa? Maaf, Om Lui sampai lupa menawarkan.”
“Tak usah Lui. Sebentar lagi kami harus pergi,” pintaku. “Sebentar, ya, Aira Sayang.”  
“Bahkan aku tak diberi kesempatan untuk bertemu denganmu tidak dalam kondisi terburu-buru.”
“Ura menunggumu di sana, Lui. Dia adalah perempuan yang paling tepat untuk mendampingimu.”
“Aku tidak mencintainya, Maha. Aku hanya menyayanginya sebagai seorang adik. Tak ada bedanya dengan Padma.”
“Demi tanah leluhurmu, Lui.” Aku menggenggam tangannya. Air mataku mulai menumpuk di pelupuk mata.
“Ok, Aira, sudah waktunya kita pergi. Pamit dulu sama Om Lui.”
Aira memberi salam kepada Lui.
“Kuobak ekeu, Maha,” ujarnya, saat aku pamit.  
“Sampai jumpa. Jangan lupa kirim kabar kapan upacara tato dilakukan. Semoga aku bisa datang.”
“Aku yakin kau tak akan pernah datang. Ketika kau melewati pintu itu, kau akan menghilang dari kehidupanku.”

Aku tak mengucap kata-kata lagi. Aku berbalik tanpa menunggu reaksinya. Aira menggenggam erat tanganku. Air mataku menetes tanpa sempat aku melewati pintu. Maafkan aku, Lui. Andai saja aku bisa mengatakan kondisi yang sebenarnya. Aku telah mencoba untuk memaafkan suamiku dan kembali menjalani perkawinan kami. Namun, bergulirnya waktu membuktikan bahwa aku memang bisa memaafkannya, tapi aku tak bisa melupakannya dan membohongi diriku untuk memaksakan perkawinan yang serasa tanpa nyawa. Kami sepakat untuk berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.(Tamat)

Uti Sr
Pemenang III Sayembara Cerber Femina 2013



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?