Fiction
Janji di Negeri Titi [3]

27 Aug 2013



<<<<<Cerita Sebelumnya



Bagian 3
Kisah Sebelumnya:

Maha, wanita asal Jakarta, pergi ke Mentawai untuk menenangkan diri dari perkawinannya yang mulai retak. Di pulau itu dia bertemu dengan Lui, pria asli Mentawai yang besar dan tinggal di Jakarta. Liu mengajak Maha untuk tinggal di rumahnya. Di kampung Lui, Maha belajar filosofi tato (titi) dalam hidup orang Mentawai. Di sana ada juga Ura, gadis Mentawai sepupu Lui.
 
Malam
Udara  makin lembap. Sepanjang siang, panas menyengat dari biasanya. Diprediksi malam akan turun hujan, namun hingga lewat tengah malam, tamu yang diundang tak kunjung datang. Hanya angin yang bertiup kencang, membuat pori-pori kulit mengeluarkan keringat dingin. Peluh  yang menjalari kulit membuatku tak bisa terlelap. Sementara Ura seperti tak terusik sama sekali oleh bulir keringat yang memenuhi dahinya. Dengan penerangan temaram dari lampu batok kelapa, aku berjalan ke laibo. Aku kaget melihat Lui yang terbaring di lantai menatapi langit. Lelaki itu tak kalah kaget melihat kehadiranku. Seharian aku tak berjumpa dengannya. 

“Belum tidur?” sapanya. Aku ikut berbaring di dekatnya.
“Panas tak seperti biasanya.”
“Tuhan sengaja merancangnya. Supaya manusia keluar dari guanya dan menikmati ciptaannya yang lain.” Ia menunjuk langit yang terang oleh kerlip bintang.   
“Seperti yang kulakukan, keluar dari gua bernama Jakarta, dan menikmati keindahan lain,” gumamku. “Oh iya, esok lusa aku harus pulang.”
“Pulang?”
“Ya, pulang ke Jakarta.”
“Oh, aku kira tempat ini sudah kau anggap tempat untuk pulang.”
Aku menghela napas. “Mungkin suatu saat nanti aku akan pulang lagi ke sini.”
“Berarti sebelum kau pulang, kau harus sempatkan dulu menemani Ura mengajar anak-anak putus sekolah di sini. Ura sudah cerita, ‘kan? Tadi siang dia semangat sekali menceritakan idenya untuk mendirikan sekolah. Dia sampai menyusulku di tengah hutan hanya untuk memberi kabar itu.”
Pantas saja, setelah kami bercakap di beranda tadi pagi, Ura pergi tanpa pamit. Ketika kutanya, katanya menjenguk ibu yang akan melahirkan di uma sebelah.  
“Tidurlah, besok pagi kita harus pergi ke muara, ‘kan?”
“Muara?”
“Pasar terapung di muara untuk membeli perlengkapan sekolah. Ura belum cerita?”
Aku mengingat-ingat apakah aku telah lupa ingatan.
“Mungkin aku lupa.”
“Atau mungkin Ura yang lupa cerita,” sahutnya, seakan membaca keraguan pada kalimatku. Mungkin juga, Ura memang tak mau cerita, sambarku dalam hati.
“Belum aku tinggalkan, aku sudah takut merindukan tempat ini,” aku mengalihkan pembicaraan.
“Dua puluh tahun aku meninggalkan tanah ini, tapi aku merasa tak pernah pergi dari sini.”
“Bagaimana keputusanmu? Akan menetap di sini?”
“Dua minggu lagi  cutiku sudah habis dan genap tiga bulan aku tinggal di sini, tapi aku belum bisa memutuskan.”
“Pasti ada hal lain yang membuatmu masih berat meninggalkan Jakarta. Siapa? Oh, atau apa?”
“Jangan bilang kau punya bakat menjadi detektif.”
“Aku pembaca setia Agatha Christie, Sherlock Holmes, sampai Detektif Conan,” aku memicingkan sebelah mata.  
“Padma,” jawabnya.
“Pacar?” tebakku.
Ia mengangguk.
“Berapa lama?”
“Kami bersahabat lebih dari 13 tahun.”
“Sahabat atau pacar?”
“Sahabat yang akhirnya menjadi pacar.”
“Sudah ada rencana menikah?”  
“Ya, dia mendesak dalam waktu dekat.”
“Kamu mencintainya?”
“Kok, pertanyaannya begitu?”
“Karena dalam ucapanmu tadi, permintaannya untuk menikah terkesan menjadi beban. Sepertinya kamu masih ragu menikah dengan dia.”
“Kamu memang terobsesi menjadi detektif.”
“Jadi?”
“Tentu saja aku mencintainya.”
“Jujur?” Aku menatap matanya. Ia mengalihkan wajahnya. “Ok, tak perlu dijawab lagi.”
Lui tak bereaksi.
“Kalau begitu, menikah dan ajak dia tinggal di sini.”
“Mustahil dia mau meninggalkan pekerjaan yang dibanggakan dan hidup dalam kondisi seperti ini.”
“Kalau begitu, pilihannya hanya ada dua. Menikah dengannya dan tetap tinggal di Jakarta, atau pisah darinya lalu menemukan cinta yang baru di sini. Pilihan yang sangat sulit,” ledekku, sambil terbahak.
“Hush, berisik, nanti semua orang bangun.” Tangannya menyumpal mulutku. “Giliran aku yang menjadi Detektif Conan. Siapa yang berkhianat sampai membuatmu harus melarikan diri ke sini? Aku tidak bertanya apa, karena dia pasti manusia yang berkelamin laki-laki.”
“Lelaki yang masih berstatus suamiku.”
Lui terkejut mendengar jawabanku.
“Kenapa kaget? Aku tidak kelihatan sudah menikah?”
“Tidak terpikir.” Suaranya terdengar bergetar.
“Ah, sudahlah. Kalau dibahas, aku malah tidak bisa tidur.”

                            ****
Aku memejamkan mata tanpa menunggu lagi reaksinya. Pikiranku melayang ke Jakarta. Teringat lagi kenangan yang ingin kulupakan. Ibuku selalu berpesan, “Kadar cintamu terhadap pasangan sebaiknya tak melebihi kadar cintanya terhadapmu.”  Tapi, aku tak kuasa mengatur kadar kasihku ketika bertemu Redo. Aku percaya cinta pada pandangan pertama setelah berjumpa dengannya.

Entah apa yang ada pada sosoknya yang menghipnotis diriku, sampai aku menutup mata bahwa ia adalah kekasih sahabatku. Terlahir sebagai anak semata wayang yang dimanjakan, aku selalu mendapatkan apa yang kumau. Termasuk mendapatkan Redo, seutuhnya. Aku menyusup dalam hubungan mereka. Apa pun aku lakukan sampai akhirnya ia takluk. Setelah berhasil mendapatkan perhatiannya, aku mengikatnya sangat  erat. Aku tak mau kehilangan dirinya. Aku tak peduli apakah ia tulus mencintaiku dan seberapa besar kadar cintanya kepadaku. Atau dia hanya kasihan melihatku yang mengemis cintanya. Aku tak pernah mau peduli.

Ibuku tak bosan pula mengingatkan, “Hati-hati, suatu hari karma akan berbalik padamu.” Sesuatu yang didapatkan dengan paksa tak akan bertahan lama. Tapi, aku hanya menganggapnya angin lalu. Sampai suatu hari, aku mendengar kabar bahwa jalinan asmara Redo dan mantan kekasihnya tak pernah putus, meskipun mereka terpisah jarak. Tanpa sadar, selama tujuh tahun pernikahan, aku telah menuai karma. Aku hanya bisa menangis dan meratapi perkawinan kami yang diselimuti pengkhianatan.

Seketika hatiku mati rasa. Redo bertubi-tubi memohon maaf dan meminta diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. Dia berharap agar perceraian bukan pilihan yang kuambil. Aku bingung menakar apa yang kurasakan, apakah masih bisa memaafkan dan menghapus sakit hati, atau sebaliknya. Aku melarikan diri agar tak mengambil keputusan saat di dekatnya. Tapi, meskipun kini telah berada ratusan kilometer darinya, aku masih sulit memutuskan. 

Mataku memang terpejam, tapi pikiranku masih terjaga. Tubuhku mendadak hangat. Selembar selimut menutupi tubuhku. Lui terbaring di sebelahku, tangannya menggenggam tanganku. Aku khawatir, apa yang kutakutkan akan terjadi. Tiba-tiba terdengar air menetesi atap.

Hari Keempat. Pagi
Tak bisa ditutupi, Ura yang telah menenteng keranjang rotan tampak terkejut melihat aku menyeruput kopi di laibo, di sebelah Lui yang tak sabar untuk segera berangkat.
“Lama sekali kau berdandan, Ura. Tak perlu lama-lama, kau sudah cantik.”
Entah bermaksud menyindir atau menggoda, gadis itu menangkapnya sebagai suatu pujian.

“Ayo, nanti kita kesiangan,” ajak Lui.  
Ura masih terpaku sambil melihat ke arahku, seolah bertanya apakah aku akan ikut serta. Lui menangkap tanda tanya itu.
“Ah, kau lupa memberi tahu Maha kalau kita akan pergi ke muara?”
“Maaf, aku lupa,” ia merajuk. “Tapi, kalau memang Maha mau tinggal, aku rasa tak apa-apa. Kita saja yang pergi sudah cukup.”
Kalimatnya menyiratkan dia keberatan kalau aku ikut. Tentu aku tak akan memaksa. “Benar, aku sebaiknya tak perlu ikut. Nanti memenuhi sampan saja.”
“Kau harus ikut. Kau harus melihat pasar terapung di sini.”
“Kaipa nuei (Mau pergi ke mana)?” tiba-tiba Ina Ama muncul di antara kami.
“Ke muara hendak membeli perlengkapan sekolah,” jawab Lui.
“Ura ikut serta? Bukankah kau harus membantu aku menunggu Ina Koa yang akan melahirkan?”
“Tapi kami hanya pergi ke muara sesaat, Baboe.”
“Tentu kau belajar bahwa waktu melahirkan tak dapat dipastikan.”
Ura tertunduk. Aku yakin dalam benaknya tengah berdebat antara memilih untuk menuruti perkataan Ina Ama atau tetap memaksa pergi ke muara. Ura melirik ke Lui, seolah meminta pembelaan.
“Kalau begitu, biar Maha dan aku saja yang ke muara. Kau tinggal di sini, Ura.”
Ura makin tertunduk dan tak memberi jawaban dengan mengangguk maupun menggeleng. Andai mampu membelah diri, aku yakin wajahnya tak perlu murung seperti itu. Ura menyerahkan keranjang rotan yang telah ia persiapkan ke tangan Lui, bukan ke tanganku.
Tatapan kecewa Ura melepas kepergian aku dan Lui menuju tepi sungai. Sampan milik keluarga Bajak Ruji yang bersandar di pinggir sungai dijalankan oleh Lui tanpa canggung. Aku yakin ia memegang lagi kendali mesin sampan ketika tiba di tempat ini yang belum genap tiga bulan. Bukan hanya mengendalikan sampan, namun membelah pohon sagu, membuka ladang keladi, bahkan membuat keranjang dari rotan. Keandalan tangannya seperti diturunkan dari ayahnya. Kudengar, langka sekali seorang lelaki bisa menjadi seorang sikerei sekaligus sipatiti.
“Ura pasti kecewa sekali tak bisa ikut. Dia begitu semangat mempersiapkan sekolah ini.”
“Sebab untuk urusan sekolah, dia merasa bisa pegang kendali. Sementara untuk mempraktikkan ilmu kebidanannya, dia masih harus di bawah kendali Ina Ama.”
“Dia anak yang cerdas.”
Lui mengangguk mantap.
“Dia mengagumi dirimu.”
Lui hanya tersenyum. “Dia hanya menganggapku sebagai seorang kakak. Tidak lebih.”
“Tapi aku merasa tidak begitu. Dia menaruh hati padamu.”
“Kau cemburu?”
Tawaku pecah. “Cemburu? Aku?”
“Ok, tak perlu dijawab lagi. Perempuan biasanya gengsi berkata jujur kalau menyinggung urusan hati.”

Apakah aku memang cemburu? Ya, tak bisa dipungkiri, aku mengaguminya. Tapi, apakah aku mencintainya? Atau hanya pelarian dari perasaanku yang dikhianati? Aku belum bisa memastikan. Semua masih samar.
Dari sudut mata, aku bisa melihat matanya yang berkali-kali melihat ke arahku, mungkin memastikan apakah aku akan meneteskan air mata karena tersinggung oleh perkataannya barusan. Atau ingin membaca yang terlintas di benakku.

Laju sampan melambat ketika mulai terlihat keramaian, lalu berhenti di tengah kerumunan. Pantas disebut pasar terapung. Transaksi jual-beli dilakukan dari atas sampan. Praktis, tak perlu repot naik turun ke daratan. Ada sampan yang dipenuhi oleh hasil ladang seperti ketela, keladi, cempedak, daun ubi, pisang, kelapa, dan sagu. Ada pula yang berisi ikan dan hasil tangkapan laut lainnya, seperti udang, kerang, hingga teripang. Ragam aksesori dari manik-manik juga ditawarkan di salah satu sampan. Aku menduga, dari semua perhiasan manik-manik di sampan itu, ada buatan si gadis terampil, Ura. Setelah mencari-cari, akhirnya Lui menemukan sampan yang menjual buku dan alat tulis, termasuk kapur tulis. Seluruh stok yang ada di sampan itu dibayar oleh Lui.

Setelah transaksi selesai, Lui kembali menyalakan mesin dan mengarahkan sampan ke hulu, bukan ke arah pulang. Aliran sungai yang tadi tenang mulai membuat sampan bergoyang. Di sebelah kanan dan kiri dipenuhi hutan bakau yang rimbun. Tak lama mesin sampan dimatikan dan diarahkan ke tepi. Turun dari sampan, aku mengikuti Lui yang menyusuri jalan setapak. Tiba-tiba ia berhenti dan mempersilakan aku menyibak semak belukar yang menghalangi jalan. Pasir putih yang disapu air laut berwarna biru gradasi hijau tosca kini hanya sejengkal dari titik aku berdiri. Aku menjerit, histeris. 
     
Berkali-kali aku mengusap air mata yang tergenang di pelupuk mata. Jangan sampai Lui melihat aku menangis. Entah apa yang kutangisi. Mungkin gugatan kepada Sang Pencipta. Mengapa aku tak bisa bersama keluarga kecilku untuk menikmati surga di dunia ini. Mengapa justru bersama lelaki yang baru kukenal beberapa hari. Di kejauhan, ombak menggulung peselancar yang menantang maut. Berulang kali Lui menyuruhku untuk menyentuh air laut. Tapi, aku bergeming. Aku tak mau menghentikan angin semilir yang memilin rambutku.  

“Sayang sekali kamu sudah sampai di sini, tapi tak merasakannya. Kalau kau tak mau berenang, teguklah airnya.”
Aku melengos sambil melempar butiran pasir ke arahnya. Dia tertawa.
“Jangan sia-siakan petualangan pertamamu ini.”
“Petualangan pertama?” aku mengernyitkan kening.
“Petualangan pertama di dunia yang benar-benar baru bagimu. Sebelumnya kamu tak pernah berani lepas dari zona nyaman. Hanya mau berinteraksi dengan orang-orang maupun tempat yang kamu anggap nyaman. Menutup matamu dari dunia lain. Koreksi kalau aku salah.”

Aku tak punya alasan untuk menyangkalnya.
“Terus terang, aku lebih suka kamu marah dan mendebat daripada diam seperti itu.”
“Tidak, kamu benar.”

Setelah menikah yang berarti telah resmi memiliki Redo, aku seperti berada di dunia yang sangat nyaman. Aku tak membutuhkan dunia lain. Duniaku hanya seputar dunia kami. Bahkan aku tak punya impian dan keinginan lain yang ingin diraih. Sahabat, teman-teman, dan pekerjaan kutinggalkan. Aku tak mau kehilangan dirinya. Maka aku harus mengikatnya dengan melayani dan mendedikasikan seluruh perhatian untuknya. Tanpa kusadari, ketika pasangan berkhianat akan berakibat dunia kami tenggelam, duniaku pun terbenam.      
Air mata menggenang di sudut mataku. Aku menatap langit agar tak mengalir ke pipi. Tapi, tak bisa ditahan lagi. Air menetes  makin deras, bahuku pun terguncang. Lui memelukku tanpa memintaku untuk menghentikan tangis yang terdengar di sela senja.
   
Malam
Cahaya purnama dan obor dari batang bambu menerangi perjalanan kami menyusuri sungai serta menapaki jalan menuju uma. Dengan mengendap-endap agar tak mengganggu yang telah terlelap di jairraba, aku menghampiri tempat kosong di sebelah Ura yang terbaring. Sebelum kedatanganku, tempat ini milik Ina Ama yang bersedia dipinjamkan. Di balik raut wajahnya yang terkesan seram, ternyata ia layak disebut nyonya rumah yang baik. Saat aku membaringkan tubuh, Ura memiringkan tubuhnya dan meninggalkan punggung di hadapanku. Tak biasanya ia berperilaku seperti itu.     
“Ura, kau sudah tidur?” bisikku pelan. Tak ada jawaban. Tapi, dari irama napasnya yang tak teratur, aku yakin ia belum tidur.

“Bagaimana persalinan tadi?” aku melontarkan pertanyaan lagi yang pasti memicu minatnya untuk berbagi cerita. Tapi, dugaanku salah, tetap tak ada jawaban.
“Tak baik tidur memunggungi orang. Kau sendiri yang mengatakan itu ketika aku pertama kali datang ke sini. Demi menghormati seisi uma, aku mau berusaha mengubah kebiasaan tidurku selama ini. Apa aku berbuat salah? Katakan saja, Ura.”
Terdengar napasnya yang  makin memburu.

“Aku yakin kau berhati baik. Kalau aku ada salah, beri tahu agar aku bisa perbaiki diri. Itulah gunanya sahabat. Itu kalau kau menganggapku sebagai sahabat.”
“Tidak, kau tak ada salah.”
Kutunggu perkataan lanjutan, tapi tak kudengar.
“Jangan kau anggap aku sebagai ancaman. Aku tak akan selamanya tinggal di sini. Beberapa hari lagi aku harus kembali ke Jakarta.”
“Tapi Lui belum tentu pula akan tinggal selamanya di sini. Mungkin dia akan pulang ke Jakarta.”
“Tidak, aku yakin Lui akan menetap di sini, cepat atau lambat. Lagi pula, aku sudah menikah dan mempunyai anak, Ura. Jadi, apa yang kautakutkan tak perlu terjadi.”
“Kau sudah punya anak? Benarkah?”
“Ya, usianya tujuh tahun.”
“Boleh aku lihat fotonya?”
Ura seperti butuh bukti bahwa aku tidak berbohong. Aku mengambil dompet di dalam ransel dan mengeluarkan fotoku bersama Redo dan Aira.
“Mirip siapa? Ibunya atau ayahnya?”
“Cantik, seperti ibunya!” serunya, terkesima.
“Bagaimana persalinan tadi?”
“Lancar. Biasanya aku hanya diperbolehkan Baboe untuk menunggu di luar saja sampai bayinya lahir. Tapi, tadi akhirnya ia mengizinkan aku untuk membantunya mengeluarkan bayi dari perut ibunya.”
Aku lega mendengarnya. Setidaknya aku tak perlu kehilangan sahabat lagi hanya karena cinta.
“Aku tak sabar menunggu besok untuk mengajar,” lanjutnya. “Tapi kau sudah tahu kan, besok kegiatan belajar hanya bisa sebentar saja karena tempatnya akan dipakai untuk upacara tato.”
Menunggu bilik untuk sekolah selesai dibangun, Lui meminta izin kepada Bajak Ruji untuk sementara memakai laibo.
“Siapa yang akan ditato?” tanyaku penasaran. “Jangan-jangan...  Lui?”
“Kita lihat saja besok.”
Ucapan Ura tidak membuatku tenang, justru tambah penasaran. Kalau memang Lui yang akan ditato, mengapa ia tidak cerita?




Uti Sr
Pemenang III Sayembara Cerber Femina 2013



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?