Meski bukan kota destinasi wisata mainstream, Almhult di selatan Swedia adalah tempat yang tepat untuk mengenal kehidupan tradisional Eropa. Dengan lanskap yang menyatu dengan alam seperti hutan, danau, dan lahan pertanian, minus gedung pencakar langit dan ‘teriakan’ iklan-iklan billboard di sepanjang jalan, menjadikan kota ini kota hijau yang teduh, humble, dan nyaman untuk ditinggali.
‘Hidup’ di Hari Kerja
Saat itu hari Minggu ketika saya tiba di Almhult. Kota itu tampak sepi. Jangankan mobil yang lewat, manusia pun tak saya jumpai. Bahkan, di jalan utama, yang merupakan pusat pertokoan, tak satu pun toko ataupun resto yang buka. Sesekali, orang yang lewat adalah pengguna sepeda, yang beriringan dengan anaknya. “Ke manakah gerangan penduduknya?” saya terus bertanya-tanya. Kota yang jauh lebih luas dari Jakarta (900.000 km² sedangkan Jakarta 800.000 km²) ini penduduknya hanya seisi satu kecamatan di Jakarta, atau sekitar 8.000 jiwa. “Tunggu nanti hari kerja, barulah kota ramai,” kata Benedicte Hansen, Marketing Director Ikea, yang menemani saya.
Kota ini memang mayoritas penduduknya adalah pekerja di Ikea. Di kota inilah, industri global Ikea dikendalikan. Ada sekitar 20-an kantor Ikea dari berbagai divisi yang tersebar di seluruh penjuru kota. Di hari kerja, jumlah penduduk bisa bertambah karena banyaknya karyawan yang berstatus komuter yang tinggal di luar kota.
Di sini pula, sejarah lahirnya Ikea diukir. Cerita itu bisa ditemukan di museum Ikea. Cerita tentang perjalanan seorang bocah kecil bernama Ingvar Kamprad yang lahir tahun 1926, dari berjualan korek api ke para tetangganya, menjadi seorang pengusaha sukses dan salah satu orang paling kaya di dunia. Benda-benda kecil yang pernah dijualnya dulu kini tersimpan rapi di museum. Begitu juga ruangan kecil tempat Ingvar meletakkan barang jualan pesanan orang untuk dititipkannya kepada tukang susu keliling, di sinilah awal mula konsep flat pack dan ide pembuatan katalog dalam bisnis Ikea berasal.
Selain Ingvar, tokoh populer lain yang berasal dari kota ini adalah ahli botani Carolus Linnaeus (yang lahir tahun 1707), yang kerap disebut sebagai bapak taksonomi. Tak heran, patungnya menghiasi taman di tengah kota.
Hanya dengan berjalan kaki berkeliling kotanya, banyak sekali yang menarik untuk dilihat. Kota ini dikelilingi oleh hutan dan danau, yang disebut sebagai beach oleh warga setempat. Saya pun bisa membayangkan, bagaimana si kecil Ingvar dulu mencari aneka buah berry di hutan atau memancing di danau, yang kemudian hasilnya ia jual ke para tetangga. Mungkin, tempat seperti ini pula yang ada dalam benak Astrid Lindgren ketika menuliskan cerita-cerita petualangan Pippi and the Long Stocking. Berry-berry lokal seperti lingonberries, cloudberries, rowanberries, rose hips (buahnya mawar), dan jenis berry liar lainnya, bisa ditemukan dengan mudah, sebagai tanaman liar di tepi jalan maupun di dalam hutan.
Pagi itu, udara di kota ini begitu segar. Kesibukan warga yang bersiap untuk berangkat kerja mulai terlihat. Anak-anak yang bersepeda ke sekolah, mobil-mobil keluar dari garasi rumah. Tapi, tetap saja kesibukan itu tak akan sampai membuat kemacetan. Di perkantoran, pukul 08.00 pagi parkiran sudah penuh dengan mobil dan… sepeda! Umumnya di sepeda itu juga terpasang boncengan untuk anak. Tak ada kafe ataupun mal di kota itu. Satu-satunya gedung yang punya eskalator hanyalah toko Ikea.
Rumah-rumah penduduk tampak berjejer rapi. Ada yang bercat kuning, merah, putih, dan warna-warna salem. Rumah pertanian khas Swedia biasanya berwarna merah dengan aksen putih. Uniknya, tiap rumah punya bentuk bangunan yang senada, seolah tak saling ingin menonjolkan diri. Berpagar rendah, dengan pekarangan luas, dihias kebun cantik, pohon apel hampir selalu ada di tiap pekarangan maupun di pinggir-pinggir jalan.
Beruntung, siang itu saya diajak berkunjung ke kediaman salah seorang warga setempat. Carina Caifeldt, ibu dari tiga anak, menyambut saya di kediamannya yang cantik. Rumah seluas 140 meter persegi itu dibangun sekitar tahun 1960-an. Rumah itu –seperti juga rumah lain di kota ini-- dari luar tampak seperti rumah satu lantai, tapi begitu masuk ke dalam, sebetulnya ada 3 lantai. Terdiri dari lantai utama, basement, dan loteng.
Carina mengajak saya berkeliling. Di lantai utama, ada ruang tamu dengan jendela kaca yang besar sehingga cahaya matahari bisa leluasa masuk, ruang makan, 3 kamar tidur, dan dapur. Cahaya matahari adalah sebuah kemewahan di negeri ini, yang tak selalu datang menyapa, meski di musim panas. Lalu, ada dua ruang tempat duduk di belakang. Yang satu tertutup kaca, dan satu lagi di teras belakang rumah.
Pembatas dengan tetangga hanya berupa pagar tanaman yang amat rendah. Jarak antarbangunannya pun harus setidaknya 12 meter. Di belakang rumah, ada tempat lapang yang menjadi tempat publik.
Carina memanfaatkan basement-nya sebagai tempat untuk menjahit. Ia hobi mengutak-atik kain, untuk dijadikan tas, celemek, ataupun pernak-pernik rumah. Di ruangan lain di basement adalah kamar anak sulungnya dan ruang untuk menonton TV. Sulungnya yang duduk di bangku akhir SMU, baru saja pulang dari summer holiday di Spanyol. Di loteng, ada ruang keluarga dan tempat untuk menyimpan dan memajang berbagai suvenir traveling. Eric, bungsunya yang berusia 5 tahun, sedang menonton acara teve kesukaannya. Dari rumah Carina, saya mendapatkan gambaran tipikal rumah warga lokal dan kehidupan kota yang jauh dari hiruk pikuk.
Kisah Petani dari Agunnaryd
Keesokannya, saya berkesempatan mengunjungi Marsholm House, sebuah rumah pertanian khas Swedia yang terletak di Agunnaryd. Berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan dari Almhult. Melalui jalanan kecil, di kanan kirinya hanya ada ladang kosong dan danau. Elmtaryd, tempat Ingvar dibesarkan, berada tepat di seberang danau. Marsholm House adalah rumah besar dengan pekarangan yang sangat luas, yang hanya dibatasi pagar rendah. Rumah dari kayu dengan dua lantai itu dibangun tahun 1800-an dan hingga sekarang masih terjaga keasliannya.
Bercat putih, dengan beberapa bangunan di dekatnya adalah lumbung, sumur, dan gudang, sekilas mengingatkan saya pada ornamen yang ada di rumah pertanian di game Hay Day. Rumah heritage itu kini di bawah naungan Heurlin Foundation.
Disambut oleh Anders Vigren dan Marianne Joensson, mereka membawa saya ke kehidupan agraris Swedia tahun 1800-an. Di rumah itu, perabotannya masih tersimpan utuh. Kursi-kursi kayu, sofa bed tua, perabot antik, ranjang yang bisa ditarik lipat, dan lainnya. Di tiap sudut terdapat tungku yang berfungsi sebagai pemanas ruangan.
Saya tertarik pada dapurnya. Sebuah ruangan berfungsi sebagai kulkas, tempat menyimpan semua bahan makanan. Lalu, ada roti-roti keras yang digantung. Begitulah mereka mengawetkan gandum untuk musim dingin.
Di atas adalah ruangan keluarga yang terdapat sebuah piano tua dan radio. “Meski tempat ini indah, kehidupan di dalam rumah tidak selalu indah. Terlebih lagi di musim dingin, sangat suram. Berhari-hari mereka tidak bisa keluar rumah karena cuaca buruk. Pasti sangat membosankan,” tutur Anders.
Anders bercerita, rumah ini milik Ake Heurlin dan istrinya, Emmeli Petersdotter. Pasangan Heurlin ini punya 5 anak. Dua anak perempuannya meninggal sewaktu masih kecil. Ketiga putra mereka, Daniel, Erik dan Per meneruskan pertanian. Emmeli sangat pintar menenun. Hampir semua kain untuk keperluan rumah, seperti karpet, gorden, taplak (yang masih tersimpan rapi di lemari rumah), ia tenun sendiri. Emmeli meninggal pada tahun 1926.
Kehidupan di tahun 1900-an sangat keras. Tanah di sini penuh dengan batu-batu. Butuh kerja keras untuk menggarap lahan dan menyingkirkan batu. Karena itu, lazimnya pagar batu di daerah pertanian sebetulnya berasal dari batu-batu yang berhasil diangkat dari tanah. Belum ada traktor, hanya ada lembu, kuda, dan beberapa peralatan sederhana. Selain lahan, umumnya tuan tanah punya alat pembuat mentega dan keju. Listrik baru masuk ke Marsholm tahun 1958. Berbagai peralatan dari masa itu bisa saya temukan di gudang.
Sembari ditemani alunan musik folk dan segelas Renat Brannvin (vodka Swedia), Anders mengajari kami nyanyian Helan går, lagu folk yang biasanya dinyanyikan sambil minum-minum liqueur untuk menghangatkan badan.
Summer House di Diö
Meski kecil, stasiun Almhult cukup sibuk dan padat di jam berangkat dan pulang kantor. Kereta api adalah salah satu transportasi andalan para komuter. Kota ini juga terhubung dengan Stockholm dan Kopenhagen. Dari stasiun Almhult, saya menuju ke Dio. Bentuk rumah-rumah di sini tak jauh beda dengan Almhult. Di kota kecil ini, saya singgah ke Funkisfabriken, yang terletak di Gemlagatan. Sebuah bangunan bekas pabrik furniture tertua di Swedia bernama Gemla, yang dulu dibangun pada tahun 1861. Sayang, perusahaan itu sudah tak beroperasi lagi sekarang. Tapi, tempat itu kini dibuka sebagai museum dan ‘kantor’ para seniman melahirkan karyanya. Di sini pula mereka memamerkan beberapa karyanya.
Disambut oleh Nikki Miles, yang mengelola kafe museum, saya pun diajak berkeliling. Terdapat museum bernama Mobleum, yang memajang furniture lama yang pernah diproduksi. Kursi-kursi, mainan anak dari kayu, lemari, dan perabotan lainnya dari masa ke masa.
Sembari menikmati suguhan teh, Nikki bercerita tentang bagaimana takdir membawanya ke tempat itu. Lahir dan besar di Australia, Nikki pernah lama bekerja di Dubai sebagai guru bahasa Inggris. Sebagai nomaden, ia berencana mencari kota untuk menetap. “Ketika saya pertama kali ditawari untuk membuka kafe di sini, saya tidak menyangka bahwa saya juga ‘membeli’ kehidupan yang indah,” katanya, berbinar. Nikki pun membeli sebuah rumah cantik yang letaknya hanya beberapa meter dari kafenya.
Keindahan itu memang nyata. Tepat di belakang Funkisfabriken, kami menyusuri jalan setapak menuju hutan. Beberapa meter kemudian, terbentanglah Danau Mockeln seluas 50 kilometer persegi yang tersembunyi di antara pepohonan lebat. Tempat ini, selain menjadi tujuan memancing, berenang, dan berkemah, juga sering dimanfaatkan untuk berdayung menyusuri danau. Tapi, tentu saja, itu hanya terjadi di musim panas. Saat musim dingin, danau ini akan berubah menjadi lapangan es.
Meski waktu saya berkunjung masih terhitung musim panas, suhunya mencapai 15 derajat Celsius dengan angin yang sangat dingin. Musim gugur akan segera tiba. Buktinya bukan hanya saya yang merasa kedinginan, meski tengah hari, sekumpulan turis tampak sedang menghangatkan diri dengan api unggun.
Tak jauh dari situ, terdapat Höö Nature Reserve. Tempat ini dulunya adalah kawasan pertanian tradisional yang sudah ada sejak abad ke-16, yang masih dilestarikan sebagai kawasan konservasi. Ada lebih dari 200 spesies tanaman di kawasan ini.
Senja segera turun. Nikki mengajak saya dan teman-teman untuk makan malam khas Swedia, seperti salmon dan jamur liar yang segar dan lezat, di sebuah tempat. Rumah besar bertingkat tiga, dengan seluruh dindingnya berwarna pink. Pekarangannya juga cantik. Kami saling bercanda dan bercengkerama di kebun, di bawah pohon apel.
Dari depan, rumah itu memang centil, tapi siapa sangka di dalamnya berisi perabotan yang tak jauh berbeda dengan apa yang saya lihat di rumah Agunnaryd. Tak salah lagi, ini adalah bangunan tua. Menurut Nikki, rumah ini dimiliki oleh pasangan asal Denmark yang disewakan sebagai penginapan, sementara pemiliknya sendiri pergi berlibur. Umumnya, di Swedia, warganya (terutama yang tinggal di kota), pergi berlibur ke rumah musim panas yang dekat dengan alam.
“Ah, saya tak sanggup membayangkan jika harus bermalam sendirian di tempat sebesar dan setua ini. Terlalu menakutkan.”
Tip
Dari Jakarta, pilih penerbangan ke Kopenhagen, Denmark. Kota ini hanya 2 jam dari Bandara Kopenhagen. Dari Kopenhagen, bisa menggunakan kereta api ataupun bus ke Almhult. - Untuk menginap, satu-satunya hotel di Ikea Hotel and Restaurant Vardshuset, di Ikeagatan, Almhult.
- Membeli oleh-oleh khas Smaland, bisa didapatkan di toko suvenir Funkisfabriken, Dio. Salah satunya kerajinan dari kaca.
- Tak seperti kota-kota besar lain di Eropa, di sini tak ada transportasi publik di dalam kota. Untuk berkeliling, pilihannya harus menggunakan mobil, bersepeda, atau cukup berjalan kaki. Satu-satunya bus, Snålskjutsen, gratis. Rutenya hanya dari toko Ikea ke stasiun.


