Suvei yang dilakukan oleh MasterCard pada tahun 2015 mengungkapkan bahwa seperempat dari generasi millennial usia 18 – 29 tahun di Asia Pasifik membeli barang mewah secara spontan dibandingkan dengan mereka yang berusia di atas 30 tahun. Generasi millennial dipandang siap untuk membentuk kembali perekonomian. Bahkan, pengalaman mereka yang unik akan mengubah cara kita berbisnis.
Martin Siyaranamual, dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Bandung, mengatakan, secara ekonomi makro, menurut data dari Bank Indonesia, sebenarnya daya beli masyarakat Indonesia menurun dibandingkan tahun lalu. Namun, secara ekonomi mikro, kondisi berbeda terjadi pada kelompok milenial kelas menengah yang ternyata masih memiliki daya beli cukup baik, terutama untuk pembelian barang-barang mewah khususnya gadget.
Menurut Martin, hal ini dipengaruhi oleh dua hal, yaitu:
Kebutuhan. Perkembangan internet dan teknologi komunikasi yang sudah makin canggih menyebabkan internet sudah menjadi bagian penting dalam hidup kita. Kini, hampir tidak ada lagi pekerjaan atau aktivitas yang tidak melibatkan internet. Dulu, jika ingin naik ojek kita cukup melambaikan tangan kepada sopir ojek yang mangkal di dekat kita. Kini kita bisa memesannya lewat apps.
Digital revolution tidak dipandang sebagai gangguan, namun justru merepresentasikan hal yang penting dan peluang. “Tak heran jika akhirnya mereka rela membayar lebih mahal untuk sebuah gadget yang dapat membuat mereka tetap terkoneksi dengan internet. Gadget tidak lagi menjadi barang tersier, tapi telah menjadi barang primer,” papar Martin.
Peer pressure. Konsumsi seseorang, terutama untuk barang-barang mewah, didorong oleh keinginan untuk menunjukkan status sosial atau harapan untuk diterima oleh peer group-nya. “Masyarakat Indonesia adalah masyarakat komunal dengan hubungan kekerabatan yang erat. Dalam mengambil keputusan, terutama keputusan pembelian barang mewah, masyarakat komunal memiliki kecenderungan untuk berupaya mengikuti peer group-nya,” jelasnya.
Membeli barang mewah merupakan pembuktian bahwa mereka sudah berhasil dan memiliki ekonomi yang mapan. Ini adalah cara mereka mengapresiasi diri atau membayar return of education mereka. “Generasi millennial perkotaan tingkat pendidikannya tinggi, rata-rata minimal lulusan S-1. Mereka juga digaji cukup tinggi dalam pekerjaannya,” tutur Martin. (f)
Baca Juga:
Generasi Millenial Perlu Belajar Investasi
Generasi Millenial Suka Produk Lokal?


