Pulang. Sekarang juga. Ibu sakit. Kata-kata itu dituliskan dengan datar dan tanpa perasaan sama sekali. Seolah memerintahkan seekor hewan untuk pulang dan masuk sendiri ke dalam kandangnya.
Anggabaya beranggapan dirinya adalah orang yang paling berkuasa terhadap ibu dan kakak perempuannya. Mungkin karena dirinya pula satu-satunya lelaki yang tersisa dalam keluarga itu. Maka ia berpikir bahwa dirinyalah yang paling berhak atas segala sesuatu. Termasuk mengatur serta memerintah ibu serta kakak satu-satunya.
Dunia mereka bertiga pernah sepi dan sangat sepi, ketika Luhtitisari, Anggabaya dan ibu mereka, Atmaranti ditinggalkan oleh sang ayah, yang kabur begitu saja. Sepuluh tahun usia Luhtitisari ketika itu dan tujuh tahun usia Anggabaya. Dengan alasan demi kepentingan membesarkan anak-anak, Atmaranti tak pernah menikah lagi.
Di satu sisi kedua anak merasa bersyukur dengan keputusan ibu mereka. Di sisi lain ada ketimpangan besar ketika mereka bertiga saling menopang, bagaikan meja empat sisi yang berusaha tegak dengan tiga kaki. Tak ada rasa kokoh yang menetap dalam hati ketiganya.
Segala sesuatu terasa gamang dan mudah tumbang.
Luhtitisari dengan air mata ketakutan yang acap kali menggenang. Anggabaya dengan kemarahan yang sering tersulut membara. Atmaranti dengan penyangkalan tentang ketidaksempurnaan hidup. Mereka bertiga mengingkari dan tak pernah saling membicarakan kepergian sang ayah. Bagi mereka, tabu untuk mengerti mengapa seorang lelaki dewasa kabur begitu saja dari tanggung jawabnya. Dari istri dan anak-anak kandungnya tanpa pesan apa pun juga.
Luhtitisari akhirnya pergi dari kota kecil mereka. Kegigihannya menimba ilmu dan menjadi seorang arsitek di ibu kota telah membuahkan hasil. Ia kini menjadi salah satu partner dalam sebuah perusahaan konstruksi. Kadang-kadang memang hatinya masih terperangkap sepi.
Atmaranti memang membesarkan mereka, Luhtitisari dan Anggabaya. Anak-anak dari hasil pernikahannya. Namun kenyataan yang ada pernikahan itu terasa sepahit bratawali bagi Atmaranti. Tidak menyisakan apa pun juga kecuali kecewa dan beban hidup berupa anak-anak yang dilahirkan.
Rasa tak percaya diri terus menggerogoti Atmaranti sejak perpisahan dengan suaminya. Ia tak berani melakukan apa pun di luar kenyamanan yang digariskannya. Mencari nafkah dan membesarkan kedua anak menjadi pelampiasan hidup. Ia lupa mengajarkan keriangan dan arti bahagia. Ia tak bisa mengajarkan tentang cinta karena merasa tak memilikinya. Hatinya kebanyakan dipenuhi hampa, dendam dan curiga.
Atmaranti membiasakan hidup dengan rasa curiga.
Ia mencurigai anak-anaknya tidak akan berhasil membahagiakan dirinya. Ia mencurigai lelaki yang mendekatinya hanya akan mengarah pada harta miliknya. Bahkan ia mencurigai keluarga yang mendekat padanya hendak memiliki niatan tak baik, mencongkel-congkel kekayaannya.
Kedua anak tumbuh dengan rekatan kasih sayang yang sama sekali tak ada. Sang ibu mengumpamakan keduanya bak kuda pacu. Yang lebih berhasil akan mendapat penghargaan yang lebih baik. Yang kurang berhasil akan mendapat cercaan.
Hari-hari bergulir satu per satu, cinta sudah tak pernah diperbincangkan lagi di antara mereka bertiga. Atmaranti merasa anak-anak adalah sumber baginya untuk membanggakan diri. Anak-anak merasa ibunya adalah sumber untuk mengucurkan dana tanpa henti.
Atmaranti berharap bahwa anak-anak itu pada akhirnya akan meraih sesuatu. Sementara anak-anak terbiasa tidak bekerja terlalu keras, segalanya selalu tercukupi, ada ibu yang selalu berdiri di depan mereka.
Anggabaya tetap pada kepercayaan itu, menyusu pada induknya. Sementara Luhtitisari yang pindah ke kota lain mulai mengerti, tiap anak burung harus belajar terbang. Tidak mungkin terus berada di sarang dan menanti suapan cacing dari induknya. Apa gunanya sepasang sayap yang ada?
Luhtitisari sering mempertanyakan tentang cinta, tetapi Atmaranti menjawab, “Jangan kau berpayah masalah cinta. Pikirkan bahwa engkau akan berpayah tanpa harta.”
Sejak itu hati Luhtitisari meranggas kian sepi. Baginya, cinta hanya sahibul-hikayat. Tapi, diam-diam ia terus belajar dari kehidupan.
Siang itu di stasiun kereta, cuaca kota kecil tempat kelahiran Luhtitisari mendung menggelayut, lalu hujan deras mengguyur. Seolah suatu pertanda muram yang akan datang berlarut-larut.
Luhtitisari terpaksa menumpang sebuah becak guna menuju ke rumah sakit. Anggabaya sama sekali tak bersedia untuk menjemputnya. Dalam deras hujan Luhtitisari terus mendaraskan permohonan untuk bersabar diri dan minta kekuatan menghadapi entah hal apa yang akan menghadangnya.
Becak melaju perlahan, hingga akhirnya tiba di rumah sakit. Dengan bergegas Luhtitisari melompat dan membawa serta satu tas berisikan perlengkapannya. Dengan tergagap-gagap ditanyakannya kepada petugas rumah sakit tentang letak sebuah ruangan di mana ibunya tengah dirawat.
Setelah mencari ke sana-kemari, akhirnya ia tiba di ruangan itu.
Ketika pintu terbuka, dilihatnya Anggabaya duduk berwajah muram dan hampir menangis. Adiknya itulah alasan ibunya terus-menerus merasa cemas dan tak mampu berbahagia secara utuh di masa tua.
Pada usia dewasa, Anggabaya terus saja menghamburkan uang dengan percuma dan tidak pernah bekerja. Sekolahnya pun tak tuntas. Luhtitisari memandang dengan hambar, meletakkan tas di sebuah sudut dan mendekati ibunya.
Sedih rasanya melihat perempuan tegar itu kini tergolek lemah tak berdaya. Selang infus bergelantungan di tubuhnya. Tapi perempuan tua itu tersenyum melihatnya, seolah Luhtitisari adalah titisan cahaya bulan dalam hidupnya. Dan memang seperti itulah Atmaranti melihat anak perempuannya yang sering berselisih paham dengannya. Sementara anak lelakinya yang pandai mencari muka dijadikannya cahaya matahari.
Tak disadari oleh Atmaranti bahwa perdebatan adalah buah dari adanya ketidakpuasan, yang seharusnya menjadi ajang perbaikan sebuah kekurangan. Luhtitisari sering mempertanyakan kekerasan hati Atmaranti dan segala pendapatnya yang terasa kurang tepat. Sementara Anggabaya selalu merayu ibunya dengan kata-kata manis. Atmaranti terlalu kering oleh kepahitan hingga tak mampu melihat kebenaran. Yang manis belum tentu serupa madu.
Usia matang kini menjadikan Luhtitisari mengerti, terlalu banyak petunjuk yang diabaikan oleh Atmaranti dalam membesarkan anak-anaknya. Ia hanya berfokus pada kekuatannya sendiri. Pada kekuatan gemerincing pundi-pundi.
Atmaranti tidak suka bicara tentang cinta, apalagi Tuhan. Baginya, hidup jadi sangat melelahkan karena ia harus terus mencari uang untuk membesarkan anak-anak.
Ambigu ketika Atmaranti mengatakan bahwa uang adalah segalanya, namun gara-gara uang pula ia menjadi sangat kelelahan. Lupa ia mengadu dan berpasrah pada Sang Ilahi.
Hati Luhtitisari ngilu memandang keadaan ibunya untuk pertama kali.
Anggabaya langsung melompat bangkit dari tempat duduknya.
“Aku hendak pulang dahulu. Kau tungguilah Ibu. Ingat, dia ibumu juga!” serunya, tanpa basa-basi.
Tanpa memikirkan kelelahan kakaknya yang baru saja tiba dari enam jam perjalanan dengan kereta dan isi kepala yang rasanya hampir meledak karena cemas.
Keadaan Atmaranti memang cukup parah. Entah apa yang akan terjadi, Luhtitisari mencoba terus berdoa. Baginya, kematian adalah niscaya, hanya cara masing-masing orang untuk mati yang menjadi takdir mereka. Ada yang langsung dan ada yang lama terpenjara dalam raga kesakitan.
Luhtitisari hanya mengangguk lemah. Malas baginya untuk bersilat kata lagi.
Malam itu ia menyaksikan ibunya muntah-muntah. Seluruh isi perutnya bagaikan dipompa keluar. Tak ada makanan yang dapat masuk. Bahkan makanan yang sudah masuk juga terpompa keluar.
Hatinya tersayat-sayat melihat muntahan ibunya berwarna hitam pekat dan berbau sangat busuk. Seorang kawannya yang perawat pernah mengatakan bahwa jika kotoran tubuh yang muncul warnanya hitam, itu adalah pertanda fungsi-fungsi organ sudah melemah. Pertanda ....
Luhtitisari langsung menepis pikiran yang melintas di benak. Setelah berkelana meninggalkan kota kecil tempat kelahirannya, ia sudah mengalami berbagai peristiwa. Dan ia tahu bahwa jika ia berharap yang terburuk, maka yang terburuklah yang akan terjadi. Namun, jika ia berharap yang terbaik, maka yang terbaiklah yang akan terjadi.
Ketika perawat meminta izin, katanya demi kesehatan ibunya dan gizi yang masuk ke dalam tubuh, maka ia mengiyakan. Mereka mulai memasang selang makanan pada hidung Atmaranti.
Pada malam-malam ketika ibunya merasa sungguh tersiksa, selang itu ditarik lepas oleh Atmaranti. Luhtitisari menangis karena lengan ibunya kemudian terpaksa diikat, agar tak lagi melepas selang makanan dari hidungnya.
Luhtitisari melihat penderitaan itu menyakitkan bagi Atmaranti, tapi ia masih percaya bahwa keajaiban akan datang. Maka, ditahannya rasa pilu dan dicobanya terus tersenyum sambil menunggui ibunya. Ibu akan sembuh!
*****
Tengah malam ketika Luhtitisari menunggui ibunya di rumah sakit, lamat-lamat ia terbangun dan mendengar suara, “Cuiiiiiiit… cuittttttttttt….”
Seketika bulu kuduknya meremang. Ia tak tahu suara apa itu, yang pasti seperti cuitan burung malam yang terdengar pilu. Luhtitisari berusaha tak mengindahkan lagi suara-suara itu. Baginya, optimisme sangat penting untuk kesembuhan Atmaranti.
Ia telah belajar kekuatan untuk mengarahkan diri pada keberhasilan dan itu hanyalah keyakinan. Tidak ada muslihat lain untuk berhasil selain dari keyakinan yang kuat dan terfokus. Ibu harus sembuh!
Lalu keesokan hari, perut ibunya gembung sangatlah besar. Atmaranti bahkan tak pernah lagi terkencing-kencing, baik menggunakan pispot ataupun menyisakan bekas air pada pembalut dewasa yang dikenakannya.
Dokter tua yang menjadi dokter ibunya terlihat seperti lelaki linglung. Rumah-sakit yang tersedia adalah rumah sakit kota kecil dengan perawat-perawat yang sepertinya tak terlalu mengerti, apa yang harus dilakukan.
Baru kemudian mereka menyadari sesuatu dan mulai memasang satu selang lagi untuk saluran kencing ibunya.
Luhtitisari menghitung, sudah ada beberapa selang tergantung di tubuh ibunya. Selang infus, selang makanan dan kini selang untuk kencing. Bagaimanakah perasaan seorang anak, menyaksikan ibunya dalam keadaan demikian? Tentu saja hati Luhtitisari teriris-iris, tapi ia masih mendambakan mukjizat itu.
Bersama Anggabaya dalam kehambaran percakapan yang terpaksa mereka lakukan sebagai kakak-beradik, mereka memutuskan menunggu hingga seminggu. Barangkali akan ada pertanda bahwa Atmaranti dapat segera bangkit dari tempat tidurnya. Bagaimanapun juga ini rumah sakit terbaik di kota mereka.
Kesabaran Luhtitisari akhirnya habis menyaksikan bahwa ibunya hanya dibiarkan tergeletak tanpa ada secercah harapan. Dokter pikun yang memeriksa ibunya kerap terlambat datang hingga berjam-jam. Dan ketika datang, lelaki tua itu sama sekali tak menunjukkan perasaan simpati apa pun pada pasiennya.
Ia hanya berdiri manggut-manggut selama lima menit. Kemudian pergi. Pertanyaan Luhtitisari dijawabnya asal-asalan tanpa pengetahuan sederhana yang bisa dimengerti oleh awam.
Luhtitisari dan Anggabaya kemudian memutuskan untuk memindahkan ibu mereka ke rumah sakit yang lebih besar, ke ibu kota provinsi.
Lalu masalah pembiayaan itu muncul menjadi bara dalam sekam. Luhtitisari merasa bahwa ibu mereka memiliki lebih dari cukup uang simpanan untuk biaya rumah sakit. Ia menyumbang semampunya. Karena ia sendiri memiliki keterbatasan, pada masa depan diri yang tengah dirancangnya.
Sementara Anggabaya menunjukkan rasa superior itu lagi, seolah dirinyalah yang akan menanggung segala pembiayaan. Padahal bukan, Atmarantilah yang memiliki segalanya.
Jarak di antara kedua kakak-beradik itu kian jauh merenggang, tapi demi ibu mereka, keduanya terus bertahan. Hari yang diputuskan itu pun tiba juga akhirnya. Bersama dengan Anggabaya, Luhtitisari menggunakan ambulance untuk mengangkut Atmaranti pindah ke rumah sakit besar yang ada di ibu kota provinsi.
Perjalanan selama dua jam dilakukan dalam diam dan membisu oleh kedua kakak-beradik. Raungan ambulance dan sopir yang ugal-ugalan karena merasa jatahnya sebagai setan jalanan yang membawa si sakit adalah di atas segalanya, menambah ketegangan di antara keduanya.
Malam itu terasa sangat berbeda dengan seribu malam yang pernah ada dalam hidup mereka. Seolah malam itu adalah turunnya takdir Tuhan untuk mereka berdua. Takdir yang pernah mereka dengar, tapi tak pernah mereka yakini akan sedekat itu.
Malaikat maut seolah telah menepuk-nepuk pundak mereka. Bulu kuduk berdiri merinding. Tetapi, upaya harus terus dijalankan. Keajaiban itu harus ada.
Sementara itu, Atmaranti tergeletak nelangsa di tempat tidurnya. Seolah tak lagi merasakan pergerakan dunia di bawah kakinya. Kedua tangannya melengkung.
Perawat yang mendampingi mereka bolak-balik berkata, “Tampaknya ada serangan stroke ringan pada Ibu?”
Luhtitisari dan Anggabaya tak tahu harus menjawab apa. Mereka bukan dokter. Mereka hanya dua anak yang kembali menciut, mengecil pada raganya ketika dihadapkan realitas. Betapa dekatnya kematian itu kini pada ibu kandung mereka. Satu-satunya rahim tempat dari mana keduanya berasal.
Benak Luhtitisari dan Anggabaya berkecamuk dalam alunan yang berbeda, namun arahnya sama. Apa yang akan terjadi jika Ibu tiada?
Ibu terbiasa memberi umpan makanan dan kehidupan pada Anggabaya, bahkan Atmaranti pula yang menyediakan sarapan pagi untuknya.
Sementara Luhtitisari terbiasa menerima perintah-perintah ibunya untuk menaati sejumlah aturan dan meraih beberapa prestasi di kehidupan. Yang satu kuda pacu, lainnya kuda peliharaan. Itulah kedua anak, di mata Atmaranti.
****
Tak lama kemudian mereka tiba di rumah sakit itu. Rumah sakit yang ukurannya lima kali lebih besar dari rumah sakit di kota kecil mereka. Atmaranti langsung dibawa ke ruang emergency, sejumlah perawat dan seorang dokter jaga menerima mereka.
Sebuah percakapan dengan pikiran melayang dilakukan antara anak-anak Atmaranti dan para petugas jaga di unit gawat darurat.
Luhtitisari dan Anggabaya merasa tertekan dan lelah mental. Sementara unit penerima gawat darurat dengan tenangnya mengurus Atmaranti, seolah kehadiran malaikat maut bukanlah urusan mereka.
Bagi mereka, menerima orang sakit dan merawatnya hanyalah industri. Emosi akan terkuras habis jika mereka harus turut larut dalam kesedihan yang sama seperti anggota keluarga.
Masukkan, catat, analisis, proses dan lakukan tindakan, tunggu hasilnya. Tak ubahnya seperti pabrik roti yang memasukkan tepung, mencampur, menggiling dan membakarnya dalam oven raksasa.
Malam itu Lutitisari tak dapat menangis. Kesedihannya bukan lagi tentang orang lain. Lebih tentang Anggabaya yang dianggapnya sebagai parasit jahat yang membahayakan, yang kini nyaris merenggut nyawa ibu mereka.
Berbagai cara ia lakukan guna menghasut Atmaranti agak tak terlalu percaya pada segala ucapan Luhtitisari. Lalu, ketika mendadak ibunya sakit parah, seperti ini caranya, dengan seenaknya melempar kesalahan pada Luhtitisari.
“Kau yang harus menunggui Ibu di sini! Aku akan menginap di penginapan!” Dengan angkuh Anggabaya mulai lagi memerintah kakaknya.
“Aku tidak mau sendirian di sini. Rumah sakit ini terasa asing, gelap dan hari sudah sangat malam. Aku pun kelelahan. Selama berhari-hari aku menginap bersama Ibu di kamarnya!” Luhtitisari ketakutan ketika hendak ditinggalkan sendiri saja di rumah sakit.
Anggabaya mulai meninggikan suaranya, “Aku lebih lelah daripada dirimu! Aku mengurusi Ibu sudah berhari-hari sejak kau belum datang ke kota kita. Baru sebentar saja kau mengurus Ibu sudah terlihat terbebani. Jangan cengeng dan manja!”
Dalam hati Luhtitisari mengelus dada.
Dari kota metropolitan ia dikirimi pesan pendek hanya untuk direkrut dijadikan budak belian oleh adiknya ketika ibu mereka mendadak sakit parah. Sementara selama ini Anggabayalah yang menyedot habis semua hasil perdagangan ibu mereka.
Luhtitisari merasa sangat nyeri, mimpi apa ibunya? Punya anak lelaki yang keji. Bahkan ketika ibunya mulai jatuh sakit saja ia tidak memperhatikan, hingga parah seperti ini? Sungguhkah lelaki ini anak ibunya juga?
Jika Luhtitisari membuka pertengkaran selanjutnya, mereka hanya akan menjadi tontonan para perawat yang ada di rumah sakit itu. Ia tak mau. Maka ia memilih untuk mengalah. Demi Ibu, demi Atmaranti, yang lebih sering menyakitinya juga dengan kata-kata pedas ketimbang melimpahi dengan pujian dan kasih sayang.
Kedewasaan membuat Luhtitisari sudah mengerti, sebagian orang tua punya cara tersendiri untuk mendidik anak-anak mereka. Dan Atmaranti menggunakan kepahitan hatinya yang ditinggal lelaki, ia menggunakan cairan empedu untuk mendidik mereka. Cerita selanjutnya>>>>>>>
Josephine Winda


