Suhu udara yang mencapai 39 derajat Celsius menyambut saya, Mutie Aryanti, di Dhaka. Waktu kedatangan saya di ibu kota Bangladesh pada bulan Mei ini memang bertepatan dengan puncak musim kemarau. Namun, suasana Dhaka yang mirip Jakarta di awal tahun ‘70-an sukses mengalihkan perhatian saya dari cuaca panas. Bangladesh berbatasan dengan India di sisi barat. Mereka juga bisa dibilang serumpun karena kemiripan bahasa, warna kulit, dan makanan tradisional. Namun, di Dhaka saya menemukan bahwa Bangladesh tak kalah istimewa dari India.

Belanja Saree dan Kameez
Lebih dari 80% warga Bangladesh adalah muslim. Bangladesh juga merupakan negara berpenduduk muslim keempat terbesar di dunia. Pakaian nasional Bangladesh untuk wanita adalah saree, serupa dengan pakaian nasional India bagi kaum wanita. Sedangkan pakaian nasional untuk pria disebut panjabi.
Hampir tiap wanita yang lalu lalang di jalan atau di pusat perbelanjaan selalu mengenakan pakaian tradisional khas Bangladesh, yaitu kameez, serupa blus tunik yang dipadu dengan celana panjang dan dipercantik dengan kerudung. Berminat untuk membelinya, saya pun mampir ke Bashundara City Mall, salah satu pusat perbelanjaan terlengkap di Dhaka.
Bashundara terletak di tengah Dhaka di kawasan Tejgaon, sehingga mudah diakses dari berbagai arah. Dari kawasan Banani, jarak tempuhnya sekitar 20 menit perjalanan menggunakan CNG. Suasana mal ini mirip pertokoan ITC di Jakarta. Satu setel kameez berbahan katun dijual mulai dari 1.500 taka (Rp200.000). Bisa juga membeli atasan atau blusnya saja, harganya mulai dari 600 taka (Rp80.000). Baju koko anak harganya mulai dari 400 taka (Rp55.000) satu setel. Sebagian besar barang bisa ditawar.
Ada satu lagi pertokoan megah dengan desain modern, yaitu Jamuna Future Park, di mana terdapat arena bermain di halamannya. Terletak di kawasan Pragati, jarak tempuhnya sekitar 15 menit dari bandara dan dari Banani. Wahana bermain tersedia di luar areal mal, untuk anak-anak maupun orang dewasa.
Kalau ingin mencari oleh-oleh, cukup mengunjungi Aarong, toko suvenir dengan cabang yang tersebar di Dhaka. Di sana saya menemukan berbagai produk kerajinan dan tekstil lokal dengan aneka model dan warna. Harga produk kerajinan pun cukup bersaing, mulai dari 100 taka (Rp15.000) per buah. Produk garmen dengan kualitas baik juga dijual bervariasi, 400 - 10.000 taka (Rp60.000-Rp1.500.000). Bangladesh merupakan salah satu negara produsen tekstil terbesar di dunia.
Kalau Jakarta punya Pasar Tanah Abang, di Dhaka ada pasar yang bernama New Market yang berlokasi di New Airport Road. Segala barang dijual di sini, termasuk keramik dan peralatan rumah tangga. Harga produk tekstil setelan jadi dijual mulai dari 400 taka (Rp65.000) per setel. Tapi, kalau ke sini siap-siap mandi keringat, ya! Soalnya pertokoan tak dilengkapi pendingin udara. Jangan lupa keluarkan juga jurus tawar-menawar supaya bisa mendapat harga miring.

Ayam Biryani Cocol Sambal
Kebetulan saya menginap di Banani, lokasi yang cukup strategis di kawasan bisnis kota Dhaka. Jaraknya sekitar 20 menit berkendara dari bandara. Di kawasan ini terdapat berbagai restoran, kafe, juga butik pakaian tradisional. Mencicipi kuliner khas setempat di kawasan Banani cukup dengan berjalan kaki saja.
Mayoritas makanan lokal Bangladesh menggunakan bumbu kari. Favorit saya untuk dicocol atau dilumuri bumbu kari adalah parata dan nan, sejenis roti berbahan tepung terigu yang rasanya gurih dan mirip roti canai. Parata teksturnya renyah, sedangkan nan lebih empuk dan lembut.
Ada juga jajanan dan camilan yang biasa dijajakan pedagang pinggir jalan. Misalnya fuscha (baca: fuska), yang rasanya manis asam dan bentuknya mirip perkedel. Isinya sayuran selada, jagung, kentang, tomat, dan mentimun. Tiap kali jajan, saya tak lupa menyiapkan uang kecil supaya tidak repot dengan kembalian. Biasanya sekali makan setidaknya saya menghabiskan 150 - 500 taka (Rp20.000 – Rp70.000).
Untuk mencicipi makanan utama, salah satu restoran yang bisa dikunjungi adalah Star Kabab di Banani Road-17. Ini restoran favorit saya yang selalu saja dipenuhi warga lokal dan turis. Selain rasanya cocok di lidah, harganya relatif terjangkau, sekitar 150 taka (Rp20.000) per porsi (dua potong ayam).
Saya menyantap nasi briyani dengan ayam bakar alias grilled chicken yang berempah sedap. Ada pula ayam bakar berbumbu manis alias chicken tikka yang harganya 200 taka (Rp25.000). Di sini juga tersedia beragam menu daging kambing dan daging sapi.
Anehnya, kebanyakan restoran lokal di Dhaka yang saya temui hanya menyediakan air putih dan minuman bersoda. Entah mengapa, jarang ada restoran yang menyediakan minuman teh atau kopi.
Ada pula Banani Road-11, juga sebuah kawasan kuliner yang terkenal. Di sana ada Kebab Zone, kedai yang menjual potongan daging ayam panggang yang disusun seperti satai, harganya sekitar 350 taka (Rp45.000) per porsi (2 tusuk). Di Bangladesh, satai ayam panggang dinamakan chicken boti.
Ketika ingin ngemil di sore hari, saya mampir ke Kafe Pappa Roti di kawasan Kemal Attaturk. Salah satu favorit saya adalah roti rasa kopi yang harganya hanya 130 taka (Rp15.000).
Restoran khas Bangla yang juga tak terlupakan adalah Prince Restora di Jalan New Airport. Restoran ini terletak di deretan pertokoan yang suasananya mirip Pasar Baru di Jakarta. Restoran ini menyajikan sambal yang mirip sambal bajak di Indonesia. Rasanya, ini satu-satunya restoran yang saya temukan, yang menyajikan sambal sebagai teman makan.
Segera saja saya cocol ayam panggang dengan sambal tersebut dan menyantapnya dengan nasi briyani hangat. Lezat sekali! Porsinya pun sangat besar, cukup untuk bertiga.
Ingin istirahat dari makanan berat, saya pun mencari buah-buah lokal segar. Harganya bervariasi. Mangga 1 kilogram dijual 100 taka (Rp15.000). Untuk buah leci dijual per 50 butir, sekitar 175 taka (Rp25.000). Baru kali ini saya menemukan penjual buah yang menjual dagangannya berdasarkan jumlah butir. Leci asli Bangladesh ini rasanya manis sekali dan membuat saya ketagihan.

Naik Bajaj ‘Reli’
Dhaka merupakan salah satu kota berpenduduk terpadat di dunia. Sekitar 18 juta jiwa tinggal di sana. Mayoritas warganya tinggal di rumah susun atau apartemen karena lahan kota yang terbatas. Sekitar 40 tahun sejak kemerdekaan mereka pada tahun 1971, Dhaka masih giat membangun. Beragam bangunan modern, apartemen dan perkantoran terus dibangun, sementara jalan-jalan dan taman-taman kota juga terus diperbaiki.
Jalan raya di Dhaka juga sangat padat kendaraan, baik pada jam kerja maupun di luar jam kerja. Semua orang ingin serba cepat di jalan. Bisa dibayangkan, suasana lalu lintasnya begitu semrawut. Mobil pribadi, becak, bajaj, sampai bus umum berlomba-lomba memacu kendaraannya. Menjadi pejalan kaki di kota ini memang harus ekstra hati-hati kalau tidak mau tersambar! Bahkan, menjelang tengah malam jalanan masih saja macet.
Di Dhaka, kita dengan mudah menemukan kendaraan sejenis bajaj. Warga lokal menyebutnya CNG. Kalau Anda perhatikan bajaj BBG di Jakarta, ada juga stempel CNG di bodinya.
Saat naik CNG, jangan harap bisa duduk tenang. Pasalnya, para pengemudi CNG sepertinya merasa bahwa mereka adalah pembalap reli! Sungguh, naik CNG adalah pengalaman yang cukup menegangkan buat saya. Apalagi mayoritas pengemudi bajaj di Dhaka relatif ceroboh, memacu kendaraan seolah tidak punya rem.
Di dalam kabin CNG terdapat pembatas di pintu, juga di antara penumpang dan pengemudi. Kursinya pas, walau terasa sempit kalau diisi tiga orang dewasa. Ketika ingin pergi ke pasar tradisional, saya nekat duduk di samping pengemudinya. Meskipun saya sudah teriak-teriak ketakutan, pengemudinya cuek saja! Sungguh pengalaman menggelikan.
Selain CNG, ada becak khas Bangladesh yang disebut rickshaw. Tempat duduknya sangat kecil, pas untuk dua orang. Jika kita naik becak bertiga, siap-siap harus menahan kaki sampai pegal.

Istana, Benteng, dan Museum Megah
Setelah puas belanja, saya mengunjungi Sonargaon Museum, di mana terdapat koleksi benda-benda kuno yang mewakili semua etnis Bangladesh. Sonargaon terletak di luar Kota Dhaka, sekitar 45 km dari Dhaka dan memakan waktu sekitar 90 menit berkendara. Di sini saya juga menemukan pusat kerajinan yang memberdayakan warga setempat untuk membuat kerajinan keramik, kayu, dan tembaga.
Koleksi benda bernilai historis juga dapat ditemui di Bangladesh National Museum yang terletak di tengah kota. Lukisan, patung, kerajinan, replika kapal, dan banyak aneka benda bersejarah lainnya, tersimpan dengan baik di sana.
Kalau masih ada waktu, kunjungi Lalbagh Fort, peninggalan bersejarah yang dibangun tahun 1600-an. Lalbagh Fort ini menyerupai benteng dengan desain berwarna peach-pink yang terdiri dari 3 bangunan. Salah satu bangunannya adalah masjid yang dibangun pada era pemerintahan Mughal. Arsitektur bangunan sungguh menakjubkan, dikelilingi taman bunga nan indah.
Berkunjung ke Lalbagh Fort membuat saya melupakan sejenak hiruk pikuk Dhaka. Kompleks benteng yang berada di salah satu sudut kota tua di selatan Dhaka ini bisa menjadi tempat yang menyenangkan untuk mempelajari sejarah Bangladesh beberapa abad silam. Jaraknya sekitar 20 km atau membutuhkan waktu tempuh sekitar 50 menit dari bandara. Warga lokal merekomendasikan berkunjung ke Lalbagh Fort sekaligus ke Ahsan Manzil karena letaknya yang berdekatan.
Objek wisata Ahsan Manzil adalah bangunan museum yang berwarna peach-pink juga, dan dulunya berfungsi sebagai istana. Dibangun pada tahun 1800-an, arsitektur bangunan bergaya Inggris ini terletak di tepi Sungai Buriganga. Keindahan bangunan Ahsan Manzil membuatnya digemari sebagai tempat tujuan wisata, terutama di akhir pekan. Perjalanan menuju Ahsan Manzil membutuhkan waktu berkendara sekitar satu jam dari bandara.

Tip
• Penerbangan dari Jakarta ke Dhaka adalah dengan transit via Singapura atau Malaysia, belum ada direct flight.
• Berkunjung ke Bangladesh lebih mudah membawa dolar Amerika, lalu ditukarkan ke mata uang taka (1 dolar Amerika = 78 taka). Tempat penukaran uang banyak tersedia di pertokoan dan pusat keramaian. Rata-rata kursnya sama, lebih baik ditukar di money changer dibanding ke bank, karena lebih cepat.
• Meski terdapat mesin meteran seperti taksi, amat jarang pengemudi CNG yang bersedia menggunakannya. Sebaiknya siapkan tulisan bertanda harga dan tujuannya. Namun, umumnya warga Dhaka bisa berbahasa Inggris, selain bahasa nasional mereka, Bangla.
• Hari libur di Bangladesh adalah Jumat dan Sabtu. Suasana lalu lintas di pagi hari tak terlalu ramai. Saat jalan relatif lengang, tepat untuk berjalan-jalan.
• Ketersediaan suplai listrik belum memadai, karena hampir tiap hari bolak–balik mati listrik. Sebaiknya siapkan senter di hotel.
• Hotel berbintang tersebar di berbagai lokasi. Kawasan Gulshan dan Banani bisa menjadi pilihan karena dekat dengan lokasi bisnis dan restoran.
• Seorang teman, orang Bangladesh, menyarankan untuk pulang ke hotel sebelum pukul 10 malam, dan tidak bepergian seorang diri di malam hari demi keamanan. Memang di jalan umum masih jarang ditemui wanita yang berjalan kaki sendirian, khususnya selepas magrib.
• When in Rome, do like the romans do. Wanita sebaiknya menutupi rambut dengan kerudung, dan pria mengenakan celana panjang. Selain menghormati tuan rumah, ini juga demi kenyamanan dan keamanan kita.(f)


