Sex & Relationship
Di Balik Pagar Rumah Mewah

15 Feb 2016

Hidup bagai dalam sangkar emas, begitulah gambaran situasi yang dialami oleh 3 wanita: Vinny, Isyanti, dan Felicita. Ketiganya berasal dari keluarga berpendidikan dan berada, namun mereka merasa tidak berdaya. Sama sekali tidak memiliki kendali dalam keuangannya sendiri, apalagi keuangan keluarga, mereka harus menggantungkan hidup sepenuhnya kepada suami. Inilah fenomena kekerasan ekonomi yang  makin banyak terjadi di lingkungan urban.

Di mata teman-temannya, Vinny (32) memiliki segalanya: karier yang cemerlang sebagai manajer top di perusahaan multinasional, suami yang tidak kalah sukses di perusahaan lain, rumah mewah di daerah elite Jakarta, mobil bagus, tas mahal, dan sebagainya. Tidak banyak yang tahu bahwa sesungguhnya Vinny merasa sama sekali tidak bisa menikmati hidupnya.

“Gaji yang saya dapat  tiap bulan langsung masuk ke rekening, yang ceritanya adalah rekening bersama untuk saya dan suami. Tapi kenyataannya, saya tidak punya akses ke sana sama sekali. Saya tidak punya uang tunai, selain uang belanja yang dijatahkan suami saya  tiap minggu, yang hanya pas untuk kebutuhan rumah tangga. Gaji dari hasil kerja keras saya selama ini tidak bisa saya nikmati sendiri,” cerita Vinny.

Lain lagi dengan Isyanti (35), yang sejak 3 tahun lalu berhenti dari kariernya yang sudah mapan untuk menjadi ibu rumah tangga full time. Sebagai satu-satunya breadwinner, otomatis suami Isyanti mengambil alih keuangan keluarga. Selain uang belanja bulanan, Isyanti tidak mengetahui penghasilan suaminya diinvestasikan ke mana dan dipakai untuk apa saja.

“Semua penggunaan kartu kredit harus sesuai persetujuannya. Belum lagi, tiap saya habis belanja, ia selalu mengecek bonnya. Barang-barang yang menurutnya terlalu mahal 500 atau 1.000 perak saja selalu diributkan,” kisahnya.

Sama seperti Isyanti, Felicita (34) juga tidak tahu-menahu mengenai keuangan suaminya yang memiliki perusahaan properti. Selama ini ia mengaku menutup mata saja  karena tidak mengerti banyak soal keuangan, selain soal belanja rumah tangga. Namun, tiba-tiba saja di suatu siang, rumah Felicita didatangi 2 orang pria bertubuh besar yang menagih utang suaminya sekitar 1 miliar rupiah, sambil mengancam Felicita dan anaknya secara verbal.

“Jangankan utang hingga miliaran rupiah, soal beli mobil atau televisi saja saya tidak pernah dilibatkan, tahu-tahu sudah ada saja di rumah. Tidak ada satu pun aset yang atas nama saya. Saya baru menyadari, ternyata semua kenyamanan dan kemewahan yang saya rasakan ini sifatnya semu,” ujar Felicita, yang bersama anaknya untuk sementara tinggal di rumah orang tuanya.

Psikolog Livia Iskandar dari Yayasan Pulih dan Pulih At The Peak menguraikan  bahwa kekerasan ekonomi adalah salah satu bentuk dari kekerasan mental. Karena sifatnya yang tidak kasatmata seperti kekerasan fisik, banyak korban dan pelaku yang tidak menyadari bahwa mereka berada dalam situasi itu. Terlebih lagi, mereka juga tidak menyadari   kekerasan tersebut sudah termasuk dalam bentuk kejahatan.
 
Selain itu, selama ini kekerasan ekonomi dikaitkan dengan tekanan ekonomi yang dialami kalangan kelas menengah ke bawah. Namun, yang mengejutkan, ternyata banyak pasangan kelas menengah ke atas yang juga mengalami kekerasan ekonomi dalam rumah tangga. “Bedanya, kalangan menengah ke atas lebih segan untuk melaporkan karena   lebih banyak yang dipertaruhkan, seperti status dan nama baik. Jadi, kasusnya lebih tidak terdeteksi lagi,” ungkap Livia.(f)



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?