Denmark mengingatkan saya pada dongeng masa kecil, yang dikisahkan H.C. Andersen. Menyusuri Frederikshavn, kota dengan pace yang santai, waktu seolah berjalan lebih lambat. Saya, Ursula Yulita, mengagumi kota tradisional khas Skandinavia ini.

Liburan Santai
Perjalanan selama satu jam dari Aalborg Lufthavn menuju Frederikshavn di utara terasa singkat karena mata ini dimanjakan bangunan-bangunan khas Denmark yang terbuat dari bata merah maupun gedung warna-warni di kiri kanan jalan. Tumpukan salju yang telah mencair sebagian tampak di sana-sini. Di akhir Desember, biasanya salju memang tidak bertahan lama, meski suhu udara masih di atas 0 derajat Celsius.
Kota Frederikshavn yang berlangit abu-abu di musim dingin seperti ini membuat saya teringat cerita tentang si gadis penjual korek api karya H.C. Andersen. Saya jadi membayangkan si gadis korek api yang kedinginan karena harus menjajakan korek apinya di bawah hujan salju. Tidak seperti si gadis penjual korek api yang harus kedinginan di luar, saya berada di dalam rumah, minum teh hangat dan makan cookies lezat.
Saat ini tidak ada lagi penduduk Denmark yang kedinginan di luar karena kemiskinan. Denmark telah menjadi welfare state yang memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Standar gaji yang tinggi dibarengi dengan penarikan pajak yang tinggi pula, dan hasilnya digunakan untuk memberikan kesejahteraan kepada rakyat, antara lain pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis. Hal ini cukup mengejutkan karena setelah Perang Dunia II, Denmark menjadi salah satu negara paling miskin di Eropa. Penduduk Denmark disebut-sebut sebagai penduduk paling bahagia kedua di dunia, setelah Norwegia.
Nama Frederikshavn berarti kota pelabuhan. Dan memang begitulah adanya. Sejak dulu, Frederikshavn menjadi pangkalan angkatan laut karena dekat dengan Laut Baltik. Frederikshavn juga menjadi pelabuhan penting yang menghubungkan Denmark dengan Norwegia (Oslo), Swedia (Gothenburg), dan dua pulau kecil di sekitarnya. Selama di kota ini saya tinggal di apartemen dengan jendela menghadap ke pelabuhan. Tiap pagi, sambil sarapan saya menikmati burung-burung yang beterbangan dan hinggap di pohon di depan jendela, juga kapal-kapal yang sedang berlayar atau merapat di pelabuhan.
Berjalan ke pelabuhan, dari situ tampak kincir angin berdiri kokoh di laut. Saat kincir angin berputar, gerakannya gemulai seperti penari. Kincir-kincir seperti ini terdapat di seantero Denmark dan saat ini menyumbang 25% energi dari seluruh energi yang dibutuhkan di Denmark.
Denmark memang memiliki komitmen untuk menerapkan green living, dengan Kota Frederikshavn sebagai kota percontohan dan akan menjadi kota pertama yang menggunakan energi alternatif tanpa bahan bakar minyak pada tahun 2015 nanti. Selain kincir angin sebagai energi utama, Denmark juga akan menggunakan tenaga matahari. Konsep green living ini ditunjang pula dengan budaya bersepeda penduduknya. Jalur sepeda hampir ada di semua ruas jalan.
Menurut saya, kota ini cocok untuk tipe liburan supersantai. Hanya sedikit kendaraan yang wira-wiri di jalanan tengah kota. Menurut seorang teman, di kota ini tidak ada kantor pengadilan. Hanya ada sebuah penjara tua yang nyaris tak berpenghuni, kecuali jika ada orang mabuk yang tertangkap dan menginap semalam di sana demi keamanan orang tersebut. Penjara ini juga bukan penjara tertutup, tetapi terbuka dan bahkan tanpa pagar.
Kantor pengadilan terdekat terdapat di Kota HjØrring yang berjarak 35 km dari Frederikshavn. Karena keamanan terjamin, kereta bayi pun --dengan bayi di dalamnya-- biasanya hanya diletakkan di depan toko atau kafe tanpa pengawasan. Penduduk lokal yang saya temui senantiasa memberikan senyum hangat.

Negeri Bangsa Viking
Kota yang dulu disebut Fladstrand ini diresmikan sebagai kota pada tahun 1818 oleh Raja Frederik VI. Bangunan-bangunan kuno terawat bertebaran di sini, termasuk rumah-rumah yang dibangun pada tahun 1930-an. Di tengah-tengah hutan pinus di pinggiran kota terdapat kompleks berisi rumah-rumah kuno lengkap dengan cerobong asapnya. Kompleks ini disebut sommerhus atau rumah musim panas. Letaknya memang tak jauh dari pantai, hanya untuk disewakan, dan biasanya ramai di musim panas atau liburan Natal.
Untuk mengetahui sejarah kota, saya pergi ke Bangsbo Park. Letaknya di area Bangsbo, di bagian selatan Kota Frederikshavn. Sebuah bangunan kuno dari abad ke-16 berwarna putih berdiri di tepi danau. Ini adalah Museum Bangsbo yang menyimpan benda-benda sejarah Kota Frederikshavn. Di dalamnya terdapat kapal dagang Viking asli yang dibuat pada tahun 1163. Reruntuhan kapal ditemukan di dasar laut, kemudian direkonstruksi kembali. Denmark menjadi wilayah penting bagi bangsa Viking antara tahun 800 – 1050 Masehi. Selain dikenal sebagai pejuang yang tangguh, bangsa Viking adalah petani dan pedagang ulung. Konon, mereka telah berlayar sampai ke Benua Amerika, 500 tahun sebelum Colombus menemukan Amerika.
Museum tersebut dikelilingi hutan kecil, danau, taman botani, dan taman bebatuan. Terdapat taman mawar, rhododendron, dan pohon-pohon tua di taman botani. Yang unik adalah taman bebatuan, berisi beragam bentuk batuan. Kabarnya, batu-batu ini semula koleksi seorang penulis Denmark, Johannes Boolsen (1895-1985). Ia dulu memiliki taman sendiri untuk menempatkan sekitar 1.000 batu, termasuk batu-batu pahatan yang berasal dari tahun 3000 SM sampai abad ke-20. Pada tahun 1973, koleksi batu-batunya dibeli pemerintah Kota Frederikshavn.
Di sini Bangsbo juga terdapat Vandværksskoven atau Waterworks Park, yaitu hutan, rumah bagi lebih dari 100 spesies tanaman, termasuk pohon-pohon berusia sekitar seratus tahun, dan sebuah danau yang memberikan suplai air minum untuk penduduk Frederikshavn dari tahun 1884-1992. Kegiatan trekking dan hiking biasa dilakukan di sini.

Sepanjang Pesisir
Frederikshavn merupakan kota madya yang terdiri dari beberapa kota di sepanjang pesisir. Selain Kota Frederikshavn, terdapat Kota Skagen, Saeby, dan Aalbaek di dalam kota madya ini. Yang paling dekat adalah Kota Strandby. Di kota ini terdapat sebuah gereja yang dibangun pada tahun 1966 dan berbentuk seperti kapal. Di sinilah untuk pertama kalinya saya melihat replika kapal yang digantungkan di tengah-tengah gereja. Dan ternyata, hampir di semua gereja yang saya kunjungi terdapat replika kapal seperti ini, untuk menunjukkan bahwa kehidupan mereka dekat dengan dunia kelautan dan perikanan.
Dalam perjalanan dari Stranby ke Skagen, kira-kira 10 km sebelum mencapai Skagen, kami melewati Hulsig Hede, daerah konservasi alam yang meliputi padang rumput, rawa, semak-semak, dan hutan. Berbagai jenis tanaman dan hewan juga terdapat di kawasan tersebut. Salah satu bukit pasir terbesar di Eropa, ada di sini. Ternyata, wilayah ini terus bertambah tinggi tiap tahun karena permukaan air laut di Denmark terus naik akibat pemanasan global. Tetapi, dikatakan bahwa Denmark masih aman dari ancaman tenggelam, meski permukaan paling tinggi di Denmark hanya 174 meter.
Kota Skagen juga kota pelabuhan. Beberapa mercusuar tua berdiri tegak di tepi laut. Sisa-sisa peninggalan Perang Dunia II berupa bunker juga terlihat di pantai. Satu lagi fenomena alam yang saya lihat di Grenen, di salah satu pantai di Skagen, ombak Laut Utara bertemu dan seolah beradu dengan ombak dari Laut Baltik. Saya kembali merapatkan jaket untuk melindungi diri. Saking kencangnya angin di daerah ini, sampai bisa memindahkan pasir dari Frederikshavn ke bagian selatan Skagen dan membentuk bukit pasir Raabjerg Mile. Tingginya memang hanya 40 cm, tak sampai selutut orang dewasa, tapi luasnya sekitar 1 km persegi.
Perpindahan pasir ini telah berlangsung sejak lama. Bahkan sebuah gereja di Skagen yang dibangun pada pertengahan abad ke-14 telah tertimbun pasir. Pasir mulai menimbun sejak abad ke-16 sampai abad ke-18 sehingga akhirnya yang terlihat hanya menaranya saja. Karena itu gereja ini dijuluki The Sanded Church. H.C Andersen sangat terkesan dengan gereja ini sehingga setelah kedatangannya ke Skagen pada tahun 1859, ia menulis sebuah novel, A Story from the Sand Dunes.
Kota Saeby didominasi bangunan berwarna kuning. Saya tertarik pada sebuah toko yang menjual berbagai benda dari gelas, seperti vas, mangkuk, dan termasuk juga aksesori. Penjual di sini tidak mengikuti atau mengawasi kami. Ia menyapa dengan ramah dan mempersilakan kami melihat-lihat, lalu meninggalkan kami. Di sini memang terdapat sikap saling percaya yang tinggi antarpenduduk. Setelah melihat-lihat sebentar, kami menuju ke seberang toko ini di mana terdapat sebuah gereja kuno, Gereja St. Mary yang telah berdiri sejak tahun 1470.
Sesuai namanya, Santa Maria menjadi fokus utama pada altar. Gereja ini terkenal dengan lukisan-lukisan dinding yang dibuat pada tahun 1500-an. Pada masa abad pertengahan itu, di lokasi ini terdapat biara Karmelit yang memuja Santa Maria sehingga memberi nama gereja mereka St. Mary. Sejak itulah Kota Saeby dikenal sebagai ‘Rumah Maria’.
Karakter Santa Maria ini juga muncul dalam patung dua wajah yang terdapat di Pantai Saeby, yang dikenal dengan nama Lady from the Sea. Seperti judul drama karya Henrik Ibsen (1888), yang ia tulis setelah mengunjungi Saeby di musim panas pada tahun 1887. Patung ini merupakan simbol dua sisi kehidupan, antara alam (laut) dan nalar (tanah yang kita pijak), antara gereja dan laut, antara malaikat dan putri duyung, antara keinginan untuk tenggelam di suatu tempat dengan keinginan untuk menjelajahi dunia. Patung ini mengingatkan saya pada Janus, patung dewa jalan, gerbang, dan pintu Romawi yang juga memiliki dua wajah. Tapi, entah mengapa, saya malah teringat Ariel, putri duyung dalam dongeng Little Mermaid.

Menginap di Mana?
>>Hotel Jutlandia
Hotel berbintang empat yang paling dekat dengan pelabuhan, dengan view laut dan Kota Frederikshavn. Di lantai paling atas terdapat restoran dengan pemandangan pelabuhan dan laut lepas. Hotel milik keluarga dengan 88 kamar ini dibangun pada tahun 1968. Info: www.hotel-jutlandia.dk. Hotel ini sering memberikan diskon menarik sesuai musim.
>>Hotel Scandic The Reef
Hotel bintang tiga dengan Caribbean style, juga di dekat pelabuhan. Di tengah-tengah hotel terdapat water world dengan air terjun dan waterslide sepanjang 80 m, lengkap dengan pantai, gelombang, badai, kilat, dan petir. www.scandichotels.com.

Tip
>>Penerbangan dari Jakarta ke Aalborg dapat dilakukan dengan Turkish Airlines, yang mengambil jalur Jakarta-Singapura-Istanbul-Aalborg. Atau dengan KLM, yang mengambil rute Jakarta-Kuala Lumpur-Amsterdam-Aalborg.
>>Diperlukan visa untuk mengunjungi Denmark. Untuk wilayah Jakarta, aplikasi visa diserahkan ke VFS Global di Gedung Plaza Asia Lantai 22, Jl. Jend. Sudirman Kav 59, Jakarta 12190.
>>Waktu terbaik berkunjung ke Frederikshavn adalah minggu kedua Agustus. Saat ini sudah tidak terlalu ramai karena liburan sekolah sudah berakhir dan harga-harga sudah mulai turun.
>>Dari Bandara Lindholm Aalborg menuju Frederikshavn dapat menggunakan kereta api atau bus. Dari bandara tersedia bus-bus menuju terminal bus dan stasiun kereta api. Tarif bus dan kereta api 100 kroner untuk dewasa, dan 50 kroner untuk anak-anak dan lansia (65 tahun ke atas).
>>Denmark menggunakan mata uang sendiri, kroner (DKK), dengan kurs 1 kroner = ± 1.671 rupiah. Bawalah kroner dari Indonesia atau mengambilnya di ATM di bandara. Tanyalah bank Anda tentang hal ini. Di Bandara Lindholm tidak terdapat money changer. Anda baru dapat menukar uang di bank di Frederikshavn.
>>Jalan-jalan di pusat kota dapat dilakukan dengan berjalan kaki atau naik sepeda. Pada bulan April-Oktober, kantor turis setempat dan hotel-hotel meminjamkan sepeda gratis untuk keliling kota.
>>Kalau ingin bersepeda sampai ke luar kota seperti Skagen atau Saeby, bisa menyewa sepeda dengan tarif 75 kroner per hari. Hal ini dimungkinkan karena ada jalur sepeda sampai ke luar kota sehingga pengendara aman.(f)


