Tentu tanah lapang itu tidak seluas dulu lagi. Maklum, para pendatang yang datang belakangan berusaha mencari sisa-sisa tanah untuk mendirikan rumah. Maka, tanah lapang itu mulai tergerus sedikit demi sedikit. Tapi, sepenggal tanah terbuka yang tersisa di sana masih difungsikan seperti dulu, masih dipakai sebagai tempat bermain anak-anak di siang dan malam hari.
Sore itu ada beberapa pemuda sedang duduk-duduk di pinggir tanah lapang. Badan mereka tinggi, kekar, dengan kulit gelap dan rambut keriting, yang menunjukkan jati diri sebagai pemuda asli Papua. Mereka sedang asyik ngobrol dan tertawa-tawa. Asap rokok tak henti mengepul dari mulut mereka.
Harjoyo tidak mengenal mereka. Maka, saat kembali dari rumah Albert, ia hanya melintasi mereka, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tiba-tiba seorang pemuda berdiri dan dengan gerakan mengancam berkata kepadanya, “Kalau mo cari pacar, cari di ko pu orang. Jangan sampai kitorang lihat ko rebut kitorang pu gadis e.” Masih belum cukup, pemuda itu mengentakkan kakinya ke tanah keras-keras sebagai tanda ancamannya serius.
Harjoyo merasa hatinya beku, tubuhnya dingin. Ia tak siap dengan yang terjadi barusan. Pikirannya cepat bekerja untuk segera memerintahkan tubuhnya terbang dari sana. Tapi, tubuhnya tak mengikuti perintah pikirannya. Kakinya berjalan dengan langkah-langkah normal, meninggalkan tanah lapang dan kelompok pemuda itu.
Ia sebenarnya pemegang sabuk hitam karate. Tapi, seumur-umur tak pernah ia melayangkan tangannya, kecuali di lantai dojo. Sampai di pintu belakang rumah, ia berhenti melangkah. Dirasakannya kakinya gemetaran. Saat itu magrib menjelang. Suara azan bergema dari masjid kecil di lingkungan Dinas Pendidikan di depan rumahnya.
Saat tengah mengatur napasnya, pikirannya kembali melayang ke Jawa. Saat itu Kejagung tengah gencar-gencarnya memburu para pengemplang dana BLBI (bahkan sampai kini) yang banyak lari ke luar negeri. Tema inilah yang tengah mereka bahas.
“Mereka. Mereka itu kelompok minoritas yang benar-benar tidak memiliki jiwa nasionalis. Bahwa mereka dibesarkan, artinya menjadi kaya, dari negeri ini,” kata salah satu peserta diskusi, saat tiba giliran memberi tanggapan dan sanggahan.
Peserta yang lain tidak sepenuhnya setuju. “Tidak jujur, kalau kita hanya menyalahkan para pengemplang utang. Sebenarnya kita tidak boleh menyalahkan mereka sepenuhnya. Mengapa pemerintah tidak selektif ketika mengucurkan dana?”
Saat itu diskusi berlangsung panas. Sementara moderator yang aktivis kemarin sore itu sungguh menikmati simpang siurnya diskusi. Sehingga, tak terlintas dalam pikirannya untuk menjadi penengah.
Kata ’mereka’ dan kaum ’minoritas’ disebut berkali-kali menjadi dua kata yang mengandung makna tersendiri. Makna sakral yang terkesan negatif. Saat diskusi sedang gencar-gencarnya, Harjoyo tidak sepenuhnya mengikuti pembicaraan simpang siur itu. Ia malah sibuk melirik Hendra yang duduk di sebelahnya. Hendra, sahabatnya, biasa dipanggil Aheng di rumah.
Memang benar selama ini tak ada seorang pun yang mengelompokkan Hendra masuk ke dalam kelompok ’mereka’. Karena, Hendra, akibat pergaulannya yang luwes, sudah dianggap sebagai bagian dari kelompok ’kami’ atau ’kita’. Maklum, selain pandai bergaul, Hendra itu berpenampilan seperti teman lain. Artinya, ia memotong rambut dengan potongan klasik tanpa dicat warna-warni. Gaya berpakaiannya pun biasa, cukup dengan celana jeans dan kemeja kaus berkerah. Pokoknya, penampilan luarnya jauh berbeda dari gaya ala Aaron Kwok. Bahkan, Hendra inilah anak yang sering turun tangan membuat aneka poster sebagai perangkat demo.
Tapi, Harjoyo menangkap semburat merah di pipi Hendra, saat diskusi berubah menjadi caci-maki terhadap kelompok ’mereka’. Saat itu Harjoyo tersadar, sebagian dari diri Hendra masih termasuk kelompok ’mereka’.
Harjoyo menengadahkan wajah. Gelap menyelimuti bumi. Bau angin laut yang khas tercium olehnya. Ia menarik napas panjang. Batinnya kelu. Saat ini sepertinya ia bisa merasakan apa yang dirasakan Hendra ketika diskusi dulu itu. Ia bisa merasakan berada di kelompok ’mereka’. Ia sungguh mengerti kini.
Albert benar-benar tidak percaya pada cerita Yan. Bagaimana mungkin sahabatnya yang lembut itu bisa diancam demikian kasar.
“Kenapa ko tidak tolong?”
Pemuda pendatang lain mungkin berbahaya. Tapi, Harjoyo? Harjoyo itu terlalu lembut untuk jadi perampok. Harjoyo itu tidak sepenuhnya laki-laki. Ia tidak tega menyebut Harjoyo sebagai banci, meski hanya dalam hati.
Yan menunduk. Menunjukkan ketidakberdayaannya. Ia sering mendengar para gadis pribumi berprestasi, yang pintar, yang cantik jelita, justru banyak yang menjatuhkan pilihannya kepada pemuda pendatang. Pemuda pendatang dianggapnya lebih pantas, lebih sederajat sebagai teman hidup. Tapi, dalam hatinya, setelah mengenal Harjoyo lebih jauh, diam-diam muncul rasa syukur bahwa pemuda itu menyukai Densemina.
Alam menyajikan realitas sebagaimana adanya. Alam hanya menawarkan hujan, panas, badai, kemarau, saat seharusnya realitas itu terjadi tanpa keberpihakan.
Pesawat yang ditumpangi Harjoyo melayang pelan di atas udara Pulau Biak. Sebulan lalu dalam perjalanan liburan ke rumah ibunya, ia menanti-nantikan saat ini. Saat ia bisa menikmati pulau ini dari ketinggian. Bagaimana tidak, pulau ini menawarkan pemandangan yang membuat hatinya terharu-biru.
Pulau kecil di utara Pulau Papua ini sebenarnya tak jauh beda dari pulau-pulau lain di wilayah yang sama. Hanya, bila dilihat dari udara, pulau ini seperti dikelilingi sejenis cincin beraneka warna. Lingkaran paling dalam dari cincin itu, berwarna putih transparan. Lingkar kedua berwarna putih kekuningan. Di lapis berikutnya berwarna biru jernih. Tapi, masih belum cukup. Bagian paling luar cincinnya berubah menjadi biru cerah dan perlahan menjadi biru gelap.
Di bagian dalam yang berwarna putih transparan itu seperti ada bercak-bercak kecokelatan. Cuma, bedanya, kalau bercak-bercak kecokelatan itu ada di wajah anak gadis, bisa membuat seorang gadis terlihat seperti hantu. Padahal, bercak-bercak cokelat di bawah sana justru menambah keeksotisan Pantai Biak yang memang sudah eksotis itu. Inilah bentang alam yang tersaji di depan matanya, taman koral.
Sebulan lalu ia sangat mengagumi kekayaan alam ini. Ternyata, menurut jurnal internasional, wilayah indah di bawah sana merupakan satu dari tiga taman koral tercantik di dunia.
Tapi, saat pesawatnya sekali lagi melayang pelan menjelang transit di pulau yang sama, keindahan itu seolah memudar. Keindahan itu hanya tampak seperti hamparan pantai berwarna abu-abu gelap.
Disorongkannya tubuhnya mendekati jendela, agar ia bisa melihat pemandangan di bawah sana dengan lebih jelas. Saat itu ia merasakan sesuatu yang keras dari dalam ranselnya, menganjal perutnya. Rasanya jadi sedikit kurang nyaman. Sehingga, dengan gerak refleks dibukanya ransel di atas pangkuannya dan dirogohnya sesuatu yang keras itu.
Benda keras yang menganjal perutnya adalah sebuah keong sebesar telapak tangan. Hati Harjoyo tercekat. Ingatannya berputar cepat ke rumah ibunya yang baru ditinggalkannya dua jam lalu.
Saat itu, saat mobil yang dikendarainya mulai meluncur perlahan menuju Bandara Sentani, ia mendengar suara sayup-sayup yang begitu diakrabinya. Suara Densemina. Dengan segera dihentikannya laju mobilnya.
Densemina, gadis itu, berlari-lari kecil mengejar mobilnya sambil meneriakkan sesuatu yang tak jelas tertangkap oleh kupingnya. “Kaka Yoyo….”
Harjoyo keluar dari mobil. Disongsongnya gadis itu. “Dense?”
“Kaka mau pulang? Pulang ke Jawa?”
”Ya.”
Gadis itu berdiri ragu. Sesaat kemudian diulurkannya tangannya. Di sana, di balik telapak tangannya ada seekor keong besar berukir indah. Keong indah bermotif batik. Keong terindah yang dimilikinya. “Ini hadiah dari sa. Mudah-mudahan Kaka suka.”
Sesaat kemudian, mobil yang disopirinya meluncur kembali menuju bandara. Dari kaca spion ia melihat gadis itu melambai-lambaikan tangan dengan wajah murung.
Harjoyo mengamati benda yang ada di tangannya. Itu benar-benar seekor keong besar nan cantik. Dielusnya keong itu dengan elusan sayang. Sambil menempelkan keong itu di pipinya, dijelajahinya pemandangan menakjubkan di bawah sana. Taman koral nan indah itu menjadi buram terlihat tertutupi oleh derai air matanya yang mengalir dengan deras. Tamat
Penulis: Nunuk Y. Kusmiana
Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2007


