<< cerita sebelumnyaSepi merajut malam. Memintal luka. Menenun perih.
Ibu mertuanya bangkit dari duduknya, lalu memeluk Jojor erat. Kewanitaannya dapat memahami perasaan menantunya itu, tetapi sesuatu yang jauh melebihi itu sebenarnya sedang dipertaruhkannya. Ini bukan sekadar perasaan suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, tetapi masalah lenyap atau lestarinya sebuah garis keturunan. Dan Jojor benci menanggung beban itu, beban yang begitu saja ditimpakan ke pundaknya yang ringkih sementara ia tak punya cukup kekuatan untuk menanggungnya.
Ia menjadi serba salah dalam pelukan ibu mertuanya. Dapat dirasakannya kehancuran yang merapuh, remuk menghantam sanubarinya. Dekapan itu mengempaskannya, seperti sebuah isyarat permohonan agar dengan rela hati melepaskan ikatan yang menautkannya dengan keluarga Togi. Elusan lembut di punggungnya dirasa sebagai sebuah sayatan sembilu yang memerihkan. Aroma pengkhianatan yang dibungkus dengan cinta menguap ke udara. Dingin. Beku. Menghunjam ulu hati.
Ia bergeming. Hanya air mata yang meruah, bergulir perlahan dan berlomba mencapai dagunya, seperti anak-anak penyu mungil berkejaran di pasir pantai hendak merasai air laut untuk pertama kalinya.
Togi mematung. Ia tersekat dengan pemandangan tak terduga yang tak ingin disaksikannya itu. Matanya hanya terpaku ke meja, menahan napas, kesulitan berpikir. Ayahnya juga menunduk. Seolah ia sedang tafakur merenungi sesuatu. Mereka sedang diperhadapkan dengan sebuah situasi tanpa kesempatan untuk memilih.
Jojor tak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menyerah secepat itu. Ia merasa dikalahkan dengan begitu mudah dalam sebuah pertarungan tidak berimbang yang sebelumnya tak pernah dikiranya. Andai keluarga Togi menyerangnya, menyudutkannya, bahkan memaksanya agar rela melepaskan diri dari mereka, ia jauh lebih siap menghadapinya. Ia dapat bertahan, membela diri bahkan menyerang balik. Tapi ini? Dengan sebuah pelukan dan sepasang mata memelas seorang ibu mohon pengertiannya? Ah…!
“Aku bisa memahami mereka, Bang! katanya terisak di pelukan suaminya saat mereka sudah berada di kamar tidur, berdua.
“Maafkan Abang…! Abang tidak tahu harus berbuat apa, bisik Togi pelan di telinga Jojor, menampakkan ketidakberdayaannya atas kenyataan yang mempecundangi mereka.
Padahal, sebenarnya betapa ingin Jojor mendengar bantahan dari suaminya atas pendiriannya itu. Betapa inginnya ia mendengar kata-kata tidak rela berpisah dari Togi. Ia mengharap Togi akan memohon dengan seluruh jiwanya agar ia tetap berada di sampingnya setiap saat, menemaninya melalui hidup sepanjang usia. Tapi, ia tak mendapatnya. Telinganya tak mendengarnya. Pun hatinya.
Ia kecewa. Kecewa pada dirinya sendiri. Pada Togi. Pada mertuanya. Pada sekelilingnya. Pada Tuhan. Kenapa semua ini harus menimpanya seolah-olah seluruh dunia sedang bersekongkol ingin menghancurkannya? Seolah semua kekuatan sedang berhimpun untuk menjatuhkannya ke dalam jurang nestapa yang sangat dalam, sementara ia sudah berdiri gamang di bibir tebingnya yang curam. Apa salahnya? Kenapa dia sendiri yang harus menanggungnya?
Jojor benar-benar merasa diperlakukan tidak adil oleh kenyataan. Ah, apakah dia tidak termasuk orang pilihan yang digariskan meneruskan sebuah generasi baru?
Ia gelisah. Tiba-tiba saja ia merasa diserupakan dengan sebidang ladang tandus yang tidak bisa ditanami apa-apa. Tidak berguna. Maka si pemilik berhak meninggalkannya atau malah menjualnya kepada pihak lain untuk dipergunakan sesukanya. Ia merasa dilecehkan. Harkatnya dianggap menjadi tak berharga sama sekali. Apakah itu semua salahnya? Ia menggugat entah siapa.
“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.
Lamat-lamat didengarnya ultimatum yang ditegaskan pendeta seusai ikrar seia-setia di depan altar itu, ketika ia dan Togi berjanji akan saling mengasihi, menghormati, dan menerima dalam susah atau senang, kaya atau miskin, sakit atau sehat. Janji suci yang mengikat simpul hatinya, yang sekarang ditarik secara paksa, meninggalkan ruang kosong gelap serupa lorong gulita yang memerihkan seluruh indra.
Jojor memejamkam mata… menangis tanpa suara.
“Karena kami dulu menjemputmu dengan baik-baik dan terhormat, maka kami juga wajib mengantarkanmu dengan baik-baik dan terhormat pula!
Demikianlah tokoh adat dari pihak keluarga suaminya menyimpulkan percakapan, dikelilingi beberapa kerabat dan tokoh adat yang sengaja diundang menghadiri acara itu di rumah mereka sendiri. “Kami sudah mengirim utusan untuk berbicara dengan pihak hula-hula – keluarga pengambilan istri – di Toba mengenai hal ini. Sebenarnya kita semua tidak menginginkan hal ini, tetapi… tidak ada lagi pilihan lain! ucapnya dengan nada pasrah.
Semua orang terdiam. Mulut-mulut terkunci. Sepi menari diiringi alunan bernada lara. Beberapa pasang mata sesekali melihat Jojor dengan mencuri-curi, memerhatikan mimik datar tanpa ekspresi yang tergurat dalam raut wajahnya. Tak ada yang dapat membaca hatinya lagi. Dalam waktu singkat, Jojor memang telah belajar mengubur perasaannya secara sempurna.
Ia berhasil untuk tidak menampakkan apa yang dirasakannya. Dari luar, ia terlihat dingin dan berusaha tegar. Tetapi, menyibak ke relung terdalam jiwanya, ia sedang meronta. Begitukah yang namanya ‘terhormat’? Dikembalikan kepada keluarganya sendiri secara adat, ketika setelah beberapa tahun perkawinannya tidak berhasil menunjukkan bahwa ia bisa menjadi mesin pembuat anak? Dirasanya betapa dangkalnya arti sebuah perkawinan. Demi anak! Tak ubahnya seperti binatang yang bercinta di musim kawin seturut naluri, melepaskan hasrat sekadar mempertahankan garis keturunan.
Jojor memejamkan mata. Dikhayalkannya bayi montok sedang tergelung nyaman dalam pelukannya. Bayinya sendiri. Bayi merah yang pasti tidak akan mengalami penolakan sepanjang hidupnya, seperti bayi yang dibuang ibunya sendiri di tempat sampah, di salur-an air, dalam kardus lusuh yang tergeletak di pinggir jalan.
Jojor membuka mata. Kembali ia dihadapkan dengan kenyataan. Semua sedang berkumpul membicarakan nasibnya. Seolah semua orang peduli untuk kebaikannya. Padahal, ia sedang merasa seolah berlari tanpa tujuan di sebuah gurun gersang tak bertepi dengan membawa segumpal hati yang teriris berdarah-darah. Ia meraung dan melolong berharap akan bertemu seorang tabib yang dapat menyembuhkan lukanya. Tetapi sekelilingnya bisu. Semuanya tuli. Semuanya mati rasa.
Jojor tidak mengetahui rincian pembicaraan yang dilakukan oleh raja-raja adat dari pihak suaminya dengan raja adat dari pihak keluarganya sendiri. Dia tidak dilibatkan dalam kesepakatan yang diambil kedua belah pihak. Bukankah ia telah diposisikan sebagai sebuah barang–sepetak ladang–yang sedang mengalami proses jual-beli? Barang mana yang pernah protes, ketika ia dihargai dengan sebaris angka-angka di kertas persegi panjang yang bisa ditukarkan secara sah di seluruh mayapada?
Yang Jojor tahu hanyalah bahwa ia akan dikembalikan ke rumah dari tempatnya dijemput dulu, lima tahun lalu. Hubungannya dengan Togi juga sudah mendingin. Suaminya itu, meski terlihat sangat berat hati, tidak melakukan terobosan atau perlawanan apa pun untuk menyelamatkan bahtera perkawinan mereka yang nyaris karam. Jojor juga tidak berusaha melakukan sesuatu lagi.
Rupanya, Togi serta keluarganya salah membaca hatinya. Mereka berpikir bahwa ia sungguh dapat menerima keputusan itu dengan berbesar hati dan berlapang dada. Padahal, jauh di dasar hatinya, ia berharap sebuah kekuatan mahadahsyat melakukan keajaiban di detik-detik genting hidupnya, seperti para superhero yang tiba-tiba muncul dan menyelamatkan orang-orang yang tak berdaya.
Diimpikannya seorang ksatria datang mempertontonkan jurus pamungkas atau ajian sakti mandraguna di hadapannya, lalu membereskan masalah yang nyaris menjerat lehernya. Namun, disadari-nya bahwa itu hanya terdapat di film-film, bukan dalam realita. Harapan semu, bukan fakta!
Penulis: Hembang Tambun
Pemenang III Lomba Mengarang Cerber femina 2008


