Menurut Prita Ghozie, SE, CFP® dari ZAP Finance, ada dua jenis asuransi yang harus dimiliki individu, yaitu asuransi kesehatan dan asuransi jiwa. “Masing-masing berbeda kegunaannya. Asuransi kesehatan adalah proteksi untuk Anda saat masih hidup, sedangkan manfaat asuransi jiwa akan dirasakan oleh orang-orang yang ditinggalkan saat pemilik asuransi meninggal dunia. Asuransi jiwa pun hanya diperlukan jika ia breadwinner keluarga dan memiliki tanggungan, bisa anak, suami, adik, kakak, hingga orang tua,” jelas Prita. Mengenai besarnya premi, saran Prita, maksimal 5% dari penghasilan bulanan. Kalau punya beragam asuransi, berarti 5% itu harus dibagi-bagi untuk semua asuransi tersebut. “Jadi kalau penghasilan Rp6 juta, berarti pilih yang preminya tidak lebih dari Rp300.000 per bulan. Atau kalau dibayar tahunan menjadi sekitar Rp3,6 juta,” ungkap Prita lagi.
Lalu, bagaimana kita bisa tahu asuransi mana yang memenuhi keperluan kita? Misalnya saja, awalnya kita membeli asuransi dengan premi Rp4 juta per tahun, tapi ternyata ketika jatuh sakit dan harus dirawat, semua manfaat asuransi dan tabungan kesehatan sudah habis terpakai. Apakah mungkin kita menambah preminya?
“Prinsip asuransi adalah melihat tingkat risiko. Kalau seseorang memiliki asuransi dan tingkat klaimnya tinggi, biasanya agak sulit jika ingin menaikkan benefit atau manfaat pertanggungannya, karena orang ini justru dinilai berisiko tinggi,” ungkap Prita.
Satu-satunya jalan, mencari dana dari tempat lain. Kalau penyakit yang diderita cukup berat, dan dana kesehatan sudah habis, mau tidak mau kita harus melihat aset investasi yang tersedia. “Ini adalah masalah prioritas. Jika Anda sudah menyiapkan investasi pendidikan anak dan liburan, namun tidak untuk kesehatan, mau tidak mau gunakan investasi yang ada dulu,” tegas Prita.
Karena itu, saat menentukan asuransi kesehatan mana yang akan dipilih, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan. “Cek apa saja penyakit yang bisa di-cover, lalu apakah agennya menanyakan penyakit bawaan kita,” kata Prita.
Misalnya, Anda punya penyakit asma, dan pernah dirawat di rumah sakit dengan diagnosis asma. Sampai kapan pun, bila penyakit itu kambuh, tidak akan di-cover.
“Karena perusahaan asuransi tahu Anda berisiko tinggi dirawat di rumah sakit karena penyakit itu. Jadi, asuransi sebenarnya hanya mau meng-cover seseorang kalau orang ini dianggap bakal sehat,” tambahnya.
Lalu, apakah kita perlu asuransi penyakit kritis? Memang, ada orang yang baru membayar premi 1 tahun lalu terkena penyakit kritis, otomatis ia akan mendapat manfaatnya. “Namun, seberapa besar probabilitas seseorang terkena penyakit kritis?” tanya Prita.
Cara mengetahuinya, dengan melihat riwayat penyakit keluarga. Jika anggota keluarga Anda ada yang menderita penyakit kritis, seperti stroke, penyakit jantung, atau diabetes, Anda bisa memanfaatkan asuransi ini, karena Anda punya risiko terserang penyakit tersebut. “Perlu atau tidak asuransi kesehatan untuk penyakit kritis, jika memang dari uang bulanan masih longgar, silakan saja ambil,” jelas Prita.
Ada juga jenis asuransi yang dijual dengan investasi. Selain memberikan perlindungan jiwa, asuransi ini memiliki manfaat tambahan, seperti asuransi kesehatan, penyakit kritis, dan investasi. Biasanya preminya lebih mahal.
Untuk asuransi jenis ini, Anda harus teliti sebelum membeli. Baca baik-baik bagaimana cara kerjanya serta manfaat tambahannya. “Intinya, Anda harus ingat, utamanya, asuransi adalah produk proteksi, bukan investasi,” ungkap Prita.
Instrumen lain yang perlu dipikirkan adalah investasi. Mungkin perlu dibuat tersendiri investasi untuk dana kesehatan keluarga. Bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga keluarga besar. “Yang terpenting, Anda harus punya ‘investasi’ berharga, yakni, menjaga gaya hidup sehat,” tutup Prita.


