<<<<<<< Cerita Sebelumnya
Kisah sebelumnya
Salira, seorang mantan penyanyi cilik tenar yang kemudian menjadi penulis, sedang menulis novel terbarunya. Sebagai penulis, ia terbilang tidak sukses dan novel-novelnya tidak laku di pasaran. Betapa terkejutnya ia ketika mendapatkan berita kematian mendadak Assara, penulis ternama yang juga sahabatnya.
Salira jadi ingat pertemuan terakhirnya dengan Assara, sebelum ia berangkat ke Nepal. Sebenarnya saat itu ia sudah merasa aneh. Namun, perasaan itu tertutupi dengan kegairahannya yang sebentar lagi akan menuju Nepal. Padahal, bila dipikirnya sekarang, keadaan saat ini memang tampak ganjil. Saat ia datang ke apartemen Assara, Assara menemuinya dengan lampu yang sedikit temaram. Ia tampak sekali dalam keadaan yang berbeda. Salira sempat berpikir, kalau yang ada di depannya ini bukanlah Assara yang dikenalnya. Benar-benar sosok yang asing.
Salira tak bisa menjelaskan dengan pasti. Tapi, ia memang seperti menjadi orang yang berbeda. Ia lebih banyak diam. Kalaupun bicara, ucapan-ucapannya kadang-kadang terasa tak beraturan. Padahal, ia tahu sekali, Assara tipe orang yang suka bicara. Tapi saat itu, waktu keduanya bercakap-cakap, Assara seperti tak benar-benar mendengarkan ucapannya. Sekali dua kali Salira bahkan seperti mendapati wajah Assara yang tampak ketakutan.
Makin berlama-lama Salira di situ, ia makin yakin Assara memang terlihat aneh. Ia seperti seorang paranoid yang berkali-kali melirik ke arah belakang, di mana meja kerjanya berada, seakan-akan ada sesuatu yang entah apa di situ.
Tapi, Salira tak bisa berpikir lebih jauh lagi dari itu. Ia sendiri sedang begitu semangat dengan rencananya. Beberapa hari lagi ia akan melakukan sebuah perjalanan panjang yang sudah diimpikannya sejak lama.
***
Sekarang semuanya terbayang dengan lebih baik.
Sepanjang perjalanan menuju ibu kota, Salira bisa mengingat hal-hal yang sebelumnya luput dari perhatiannya. Gerak-gerik Assara serta ucapan-ucapannya yang tak jelas saat bicara dengannya. Semua seakan dapat terbayang lebih sempurna sekarang.
Terlebih saat Salira datang ke apartemen Assara. Ia dapat masuk ke sana tanpa diketahui siapa pun, karena sebagai penghuni VIP apartemen ini, Assara memang memiliki akses ke lift khusus yang ada di dekat lantai parkir. Dan beruntungnya, sejak dulu Assara sudah memberikan akses itu pada Salira.
Saat Salira mulai membuka pintu apartemen, perasaan berdebar tiba-tiba hadir di jantungnya. Ia merasa seolah-olah menjadi seorang detektif swasta yang sedang menyelidiki sebuah kasus. Namun, pikiran itu langsung lenyap saat ia menutup pintu hingga benar-benar berada di dalamnya. Perasaan asing yang tak pernah dirasakannya selama ini seperti langsung menerpanya.
Entah mengapa, yang teringat pertama kali oleh Salira justru foto-foto di majalah mistis itu. Kepalanya secara refleks menoleh ke lantai, di mana tubuh Assara ditemukan pertama kali. Dan itu, seketika membuat bulu kuduknya merinding.
Salira menarik napas sejenak. Ia mencoba berpikir jernih dan rasional. Sambil mengamati sekeliling, ia mulai memetakan semuanya. Ia ingat saat ia datang malam itu. Ia ingat saat ia duduk di sofa tengah. Ia ingat saat ia mulai mengajak Assara berbincang-bincang. Ia bahkan ingat jeda saat Assara mengambilkan air mineral untuknya. Semua diingatnya dengan lambat. Seakan-akan ingatan itu mencari celah yang terlewat selama ini.
Satu hal yang sangat mencolok yang diingat Slaira adalah Assara berkali-kali tampak melihat ke arah belakang di mana meja kerjanya berada.
Dan di situlah Salira teringat pada sebuah buku catatan milik Assara.
Ia tahu sejak dulu Assara adalah tipe penulis yang memiliki kebiasaan menulis dengan tangan terlebih dahulu. Ia menulisnya di sebuah buku yang sangat tebal. Baru setelah selesai, ia akan memerintahkan orang kepercayaannya untuk mengetiknya di komputer. Barulah setelah ia mendapatkan soft copy-nya, ia mengedit di komputernya.
Dan Salira tahu sekali bahwa buku yang ada di meja malam itu bukanlah buku catatan yang selama ini dipakai Assara.
Maka, dengan gerakan ragu, Salira mulai melangkah mendekati meja. Dibukanya laci-laci di meja itu perlahan satu demi satu. Dan di laci ketiga, ditemukannya buku catatan itu.
Sejenak Salira menatap ragu. Hatinya berdesir saat ia mulai mengeluarkan buku itu. Butuh waktu beberapa detik sebelum ia akhirnya benar-benar membuka buku itu dengan perlahan. Sebagian besar buku ini masih merupakan halaman kosong, hanya sepertiga saja yang sudat ditulisi. Dan ia mengenali bila tulisan-tulisan itu adalah tulisan milik Assara.
Salira duduk di kursi. Selintas ia mencoba membaca tulisan-tulisan di halaman-halaman terakhir. Langsung dikenalinya, tulisan-tulisan itu adalah draft-draft novel yang digarap Assara.
Salira memutuskan untuk membawa pergi buku itu.
***
Di apartemennya yang lebih kecil, Salira memandangi buku milik Assara itu lekat-lekat. Buku ini tampak berbeda dibandingkan buku lainnya. Bentuknya sangat kuno dengan cover tebalnya. Ketebalan isinya pun mungkin sampai 1.000 halaman, seperti halnya kamus-kamus tempo dulu. Isi kertasnya sepenuhnya telah menguning, namun tulisan Salira tetap terbaca dengan jelas.
Salira berpikir bagaimana bisa Assara mendapat buku seperti ini? Dan mengapa ia mau menulis di sini? Kertas di buku ini tampak seperti mulai lapuk. Pasti tak mudah menulisinya dengan pulpen.
Salira kembali membuka lembar-lembar buku itu. Ada draft tulisan novel-novel Assara sebelumnya. Dari novel pertama hingga novel ketiga, semuanya tertulis lengkap. Hanya di bagian akhir halaman saja yang sebenarnya tak diketahui Salira. Tapi, tentu ia bisa langsung menebaknya dengan mudah, itu adalah draft novel terbaru yang tengah dikerjakan Assara.
Salira ingat beberapa kali Assara bercerita tentang rencananya membuat sebuah novel yang unik tentang kejadian-kejadian aneh dan tak masuk akal yang dialami seorang wanita yang sedang mencoba menyembuhkan diri dari luka. Kejadian-kejadian unik dan tak masuk akal inilah yang pada akhirnya malah mengubah hidup wanita itu. Ada banyak detail kisah-kisah yang masih diingat Salira. Tapi ia tak yakin apa semua yang diingatnya merupakan bagian novel itu. Tapi tulisan-tulisan yang dibacanya di buku ini jelas memang draft novel itu. Di awalan tulisannya, bisa ditemukan sebuah kalimat yang ditulis dengan huruf lebih besar: Kisah-Kisah Tak Terduga di Kota yang Murung.
Ini tentu sebuah judul novel yang unik, membuat Salira tanpa sadar mulai membacanya.
...
Perempuan itu memutuskan pergi. Hanya dengan membawa lukisan terakhir kekasihnya, ia memilih sebuah rumah kecil di tepi kota yang sepi. Di sana pohon-pohon seakan melengkungkan tubuh untuk menaungi rumah itu. Suara camar dan aroma tanah basah terasa selalu menyambutnya...
...
Salira terus membaca. Awalnya dari sekadar ingin tahu dan membuka-buka halaman demi halaman dengan perlahan untuk mengamatinya, ia malah membaca paragraf demi paragraf dengan runtut seakan mencari bagian-bagian yang tampak mencurigakan, entah mencurigakan karena apa. Sehingga, tanpa terasa setelah berjam-jam lewat, yang terjadi adalah Salira membaca nyaris seluruhnya.
Ia baru menghentikan saat matanya terasa lelah.
Tapi, Salira tak bisa memungkiri, bila novel ini memang sangat menarik. Entah mengapa, ia bisa menikmati seluruh tulisan yang ada. Kata demi kata dirangkai dengan indah, dan alur cerita mengalir begitu memikat. Ia begitu terbawa oleh perjalanan wanita yang terluka itu. Kadang-kadang ia bahkan tertawa sendiri saat mengetahui kejadian-kejadian tak terduga yang menimpa wanita itu, namun sesekali ia juga bisa ikut bersedih. Sungguh, perasaannya ini sama seperti saat ia membaca novel pertama Assara dulu.
Sayangnya, sampai kata terakhir ia selesaikan, ternyata novel ini memang belum selesai. Ini membuat perasaan Salira seakan digantung. Assara sepertinya baru menyelesaikan tak lebih 90% saja. Bagian ending yang sudah di depan mata, sama sekali tak ada penyelesaiannya.
Tapi, Salira telah jatuh cinta pada novel ini. Saat ia menutup buku itu, ia malah membayangkan melanjutkan kisah perjalanan wanita itu dengan imajinasinya sendiri. Ia bahkan menciptakan ending yang paling disukainya.
Membayangkan ini membuat Salira tersenyum sendiri. Tapi, senyum itu mendadak hilang, seiring kilatan pikiran muncul di kepalanya.
Salira terdiam seketika. Angin tiba-tiba berembus di wajahnya, entah datang dari mana, karena Salira yakin telah menutup semua jendela. Tapi, ia tak lagi bisa mengindahkan itu. Yang terpikir olehnya adalah sebuah kalimat panjang...
...
Perempuan itu memutuskan pergi. Hanya dengan membawa lukisan terakhir kekasihnya, ia memilih sebuah rumah kecil di tepi kota Katmandu yang sepi. Di sana pohon-pohon seakan melengkungkan tubuh untuk menaungi rumah itu. Suara lenguhan yak dan aroma tanah gersang akan selalu menyambutnya...
...
Salira menelan ludah. Bulu kuduknya meremang.
Tapi lagi-lagi kilatan pikirannya kembali berkelebat.
Kisah-kisah Tak Terduga di Katmandu yang Murung…
***
3
Kadang-kadang hidup dapat berubah layaknya sebuah mantra abrakadabra. Begitu cepat dan tanpa bisa diduga. Semua kemudian bagai melalui putaran kehidupan yang berbeda. Jalan yang bukan jalan yang sebelumnya dilalui.
Setahun berselang dari kematian Assara, Salira akhirnya berhasil merilis novel keduanya. Tanpa disangka, novel itu langsung mendapat respons yang baik dari pembaca. Tak lebih dari satu minggu, penerbit sudah mengabarinya lagi bila buku itu sudah kembali dicetak ulang.
Kehidupan Saliran pelan-pelan berubah. Undangan bedah buku dan permintaan dirinya sebagai pembicara muncul tanpa henti.
Seperti hari ini. Di kota berlatar pantai itu, ia diundang sebuah kampus yang tengah membedah bukunya. Ini acara yang ke-30 dalam bulan ini. Padahal, hari baru masuk di tanggal 20. Seminggu ini, ia memang kerap menjalani 2 acara sekaligus.
Entahlah, Salira merasa sangat menikmati perubahan ini. Ia jadi teringat saat remaja dulu ketika ia masih tergabung dalam grup Skygirls. Keadaannya nyaris seperti ini, semua orang tiba-tiba ingin bertemu dengannya.
Salira berpikir hari-hari terbaik yang dulu pernah hadir padanya kini kembali datang. Dan ia bersyukur untuk itu. Lebih bersyukur lagi saat tiap acara yang melibatkannya selalu ramai dan tanpa ada lagi tragedi seperti dulu saat ia merilis novel pertamanya saat seorang pembicara mengacak-ngacak hasil kerja kerasnya ini.
Pembicara di kampus ini, seorang penulis senior, bahkan berkali-kali berdecak kagum, “Saat saya diminta membedah buku ini, saya awalnya hanya akan membuat sebuah catatan kecil saja atas novel ini. Tapi ternyata, saya seperti terperangkap dalam jalinan ceritanya. Semalaman saya akhirnya menyelesaikan novel ini. Saya baru bisa berhenti saat kata ‘tamat’ saya baca di akhir buku.”
Ucapan pembicara itu begitu melegakan Salira. Apalagi saat acara selesai, pembicara itulah orang pertama yang meminta tanda tangannya.
Hari ini sepertinya menjadi hari baik lagi bagi Salira. Saat acara book signing, puluhan orang mengantre di depannya. Butuh waktu hampir satu jam ia melayani semuanya sampai orang terakhir di antrean ada di depannya.
Seorang wanita yang mengantre paling terakhir meminta tanda tangannya dengan tanpa berkata apa-apa. Salira pun menandatanganinya dengan perasaan biasa. Namun, saat ia menyodorkan buku itu, wanita itu tersenyum. Entah kenapa, senyumnya terlihat sangat sinis.
“Terima kasih,” ujarnya dengan suara datar. “Saya suka novel ini. Entah kenapa, judulnya seperti terdengar tak asing. Kisah-Kisah Tak Terduga di Katmandu yang Murung. Hmmm… sepertinya pernah ada, ya, novel dengan judul seperti ini?”
***
Hari ini seharusnya menjadi hari yang biasa-biasa saja bagi Salira. Mbak Ivet, editornya yang rajin mengantar-jemputnya di tiap acara novelnya, mengantarnya sampai di depan apartemennya.
Kini Salira memang menyewa apartemen untuk memudahkan mobilitasnya. Letaknya ada di lantai kesepuluh. Ini dilakukannya sejak sebuah rumah produksi film membeli hak cipta novelnya untuk difilmkan.
“Istirahat yang banyak. Kau kelihatan lelah sekali,” ujarnya, sambil menekan tombol untuk membuka kunci pintu mobilnya.
Salira mengangguk. “Minggu ini padat sekali, Mbak.”
“Kau juga, sih, menerima semua tawaran.”
“Lho, bukannya Mbak dulu malah yang mengusulkan begitu?” Salira mencibir.
Mbak Ivet tertawa, “Ya, setidaknya selepas minggu ini, keadaannya lebih santai, ‘kan?”
“Tidak juga, Mbak. Aku kadung berjanji untuk memberi workshop di luar kota.”
“Ah, memang susah menolak tawaran seperti itu. Tapi, kau harus tetap banyak-banyak beristirahat.”
“Tentu, Mbak. Sampai di kamar nanti, aku pasti akan tidur sampai besok siang.”
Salira keluar dari mobil dan melangkah masuk ke apartemennya. Ia dan Mbak Ivet memang baru saja pulang dari salah satu acara wawancara di televisi swasta. Padahal, seharian ini tubuh Salira cukup lelah, tapi peluang seperti ini tentu tak bisa dilewatkan begitu saja. Jarang-jarang kan televisi di negeri ini menyiarkan acara tentang buku di prime time mereka?
Namun, di balik semua kabar gembira itu, ada hal yang luput diketahui orang lain. Tak ada yang tahu, bila sejak hari itu, hari saat Salira mulai memilih-milih dan mengetik ulang tulisan-tulisan dari buku catatan Assara, perasaan cemas mulai merayapi dirinya.
Tak ada yang tahu, bila selama proses penyalinan itu berjalan, sebenarnya hati Salira selalu bimbang. Ia berkali-kali nyaris menghapus file tulisannya. Namun, ia tak pernah benar-benar melakukannya, karena ia telah begitu terpesona dengan ceritanya.
Ini menimbulkan penderitaan yang dalam. Bila sudah begitu, Salira hanya bisa menangis dan berdoa untuk memohon maaf kepada Assara.
Tapi, makin hari kecemasan itu makin tak bisa dibendung. Terutama saat novel itu akhirnya benar-benar terbit. Saat itu semua perasaan Salira seakan berkumpul menjadi satu: kecemasan, ketakutan, penyesalan, semuanya berkelindan dengan keinginannya untuk sukses sebagai penulis.
Dan ternyata perasaan itu terus mengikuti Salira sejak itu. Ia bahkan tak lagi sekadar datang saat ia dalam keadaan terjaga, namun juga saat ia tengah tertidur.
Mimpi-mimpi yang tak jelas, namun terasa menakutkan, kerap membuatnya terbangun di tengah malam. Dua butir obat tidurnya bahkan tak mampu menghela mimpi-mimpi itu. Padahal, Salira bukan tipe orang yang mampu mengingat mimpinya. Sejak dulu, saat kawan-kawannya bercerita tentang mimpi, ia hanya menjadi pendengar. Ia tak pernah bisa mengingat mimpinya, walau ia jelas mengingat telah bermimpi. Maka itulah, seharusnya apa pun yang muncul di mimpi-mimpinya bisa ia abaikan. Namun, ia tak bisa melakukannya. Karena semuanya seakan kembali muncul saat ia terjaga. Seperti sebuah siklus yang terus berkelanjutan dan tak berkesudahan.
Lalu, saat semuanya makin menjadi-jadi, Salira memutuskan untuk membakar buku catatan milik Assara. Ia bukan hanya merasa harus cepat-cepat melenyapkan buku itu untuk menutupi jejaknya, namun entahlah, keberadaan buku itu di kamarnya selalu menimbulkan perasaan tak nyaman. Dan membakarnya adalah satu-satunya jalan terbaik.
Namun yang terjadi, sejak itulah mimpinya bukan lagi dalam bentuk-bentuk yang tak jelas, namun menjadi makin jelas. Salira bahkan sempat tak memercayai bila itu adalah mimpinya, namun khayalannya.
Kini Salira benar-benar bisa merasakan mimpinya terus berganti-ganti. Namun mimpi yang paling kerap diingatnya adalah mimpi tentang seorang wanita, yang tak dikenalinya siapa, datang ke sebuah toko buku kuno yang tampak sangat menakutkan. Di situ, ia menemukan sebuah buku yang dikelilingi asap putih. Buku itu ternyata persis sekali seperti buku catatan milik Assara.
Mimpi lainnya yang diingat Salira adalah mimpi tentang seorang wanita lainnya, yang tak dikenalinya juga, tengah menulis dalam kamar yang gelap. Hanya dengan diterangi oleh lampu jalan, ia tak henti menulis di bukunya yang tebal, persis seperti buku catatan milik Assara. Anehnya tulisannya yang dibuatnya bukan dengan tinta berwarna hitam ataupun biru, namun tinta berwarna merah darah, yang perlahan-lahan sampai menetes-netes jatuh dari mejanya.
Di antara semuanya, mimpi yang paling kerap datang pada Salira adalah mimpi saat seorang wanita, yang tetap tak dikenalinya siapa, berlari-lari ketakutan di sepanjang jalanan gelap dan berkabut. Sementara di belakangnya sebuah buku tebal, yang persis seperti buku catatan milik Assara, melayang-layang seakan mengejarnya!
Itu adalah mimpi-mimpi yang selalu membuat Salira terjaga di tengah malam. Mimpi-mimpi mengerikan yang selalu membuat buku kuduknya meremang. Semuanya selalu dalam suasana gelap. Semuanya selalu tentang wanita yang tak dikenalinya. Dan semuanya selalu tentang buku tebal yang persis seperti milik Assara....
***
Tak ada yang tahu, hal terberat bagi Salira adalah mencoba menyembunyikan segala hal yang tengah terjadi padanya. Ia terus-terusan mencoba bersikap biasa. Tersenyum dan tertawa lepas.
Namun sampai kapan Salira bisa seperti itu terus? Saat mimpi-mimpinya yang mengerikan tak lagi bisa dielaknya, ia hanya bisa terdiam tanpa bisa melakukan apa-apa.
Seperti dalam acara bincang-bincang novelnya yang diadakan oleh Goodreads, Salira bahkan terdiam cukup lama, seakan-akan ia tak berada di situ. Mbak Ivet sampai harus mendatanginya dan menanyakan keadaannya
Tapi, kekacauan seperti itu bukan sekali ini saja terjadi.
Saat pulang, Mbak Ivet bertanya dengan penuh perhatian, “Kupikir kita cancel saja semua acara di minggu-minggu depan. Kau sepertinya sangat lelah. Kau jelas butuh istirahat.”
Salira terdiam, tak menjawab. Biasanya, ia akan membantah ucapan seperti itu. Mengatakan ia sudah kadung berjanjilah, kadung menandatangani surat perjanjianlah, atau apa pun yang membuatnya harus tetap datang.
“Kau pulang saja untuk beberapa minggu. Kota ini sepertinya memang tak cocok untukmu,” tambah Mbak Ivet.
Salira tetap diam. Tapi sekarang, ia memang berpikir untuk pulang. Beberapa hari terakhir ini, ia ingin sekali bertemu ayah dan ibunya. Keinginan itu datang seiring mimpi-mimpi yang menakutkan itu makin berevolusi. Seminggu yang lalu, Salira tak lagi sekadar merasakan dan melihat mimpinya sebagai sosok asing, namun ia merasa telah benar-benar ada di sana. Sosok wanita misterius yang tak dikenalinya itu, entah kenapa, tiba-tiba tampak lebih jelas terlihat. Dan wajahnya ternyata benar-benar serupa dengannya.
Itulah mimpi yang membuatnya terbangun dan menangis tersedu.
Sungguh, sebenarnya Salira sudah tak kuat menyimpan rahasia ini sendirian. Ia pernah bercerita pada Mbak Ivet, atau pada Sahara, salah satu kawan di apartemennya, namun tentu saja ia tak bisa menceritakan semuanya. Ada bagian yang tetap ia sembunyikan. Dan ini yang membuat mereka hanya bisa berkomentar sama, “Kau hanya kelelahan.”
Tapi Salira tahu, itu bukan jawaban masalah yang tengah menimpanya. Apa yang menimpanya tak sederhana itu. Kadang-kadang ia bahkan menangis ketika menyadari tak menemukan jawaban atas ini semua. Karena makin ia merasakan semua ini, ia makin merasa pula bila Assara tengah mencoba membalas atas apa yang sudah dilakukannya. (f)
>>>>>>> Cerita Selanjutnya
************
Yudhi Herwibowo
Yudhi Herwibowo




