
Kafe Terindah di Dunia
Nama Budapest adalah perpaduan dari kata Buda dan Pest. Tahun 1873, ketika Hungaria sedang berjuang untuk kemerdekaannya dari kerajaan-kerajaan Habsburgs, Buda, Pest, dan Óbuda yang terbelah oleh Sungai Danube dijadikan satu kota metropolis.
Begitu melangkahkan kaki keluar dari Keleti pályaudvar (train station), seketika saya langsung paham dengan pilihan nama Wes Anderson untuk film dan hotel fiktif karangannya, The Grand Budapest Hotel.
Meskipun tidak sungguhan ada, kenyataannya Budapest memiliki banyak hotel dengan façade yang sama megah dan mewahnya. Beberapa chain hotel bintang 2-3 pun menempati gedung-gedung kuno yang direnovasi. Bagian interiornya dibuat modern, bagian eksterior lamanya masih dipertahankan, membuat karakter klasik kota ini tetap terjaga.
Setelah film pemenang Oscar dan Golden Globe 2015 itu keluar, banyak blog dan situs travel yang mengajukan berbagai kandidat hotel betulan yang paling pantas mendapat ‘gelar’ grand hotel di Budapest. Sebutlah Four Seasons Hotel Gresham Palace yang berlokasi tak jauh dari Sungai Danube. Atau Hotel Gellert yang ikonik berkat spa dan kolam renang indoor-nya yang indah.
Namun menurut saya, titel ini paling cocok diberikan untuk Boscolo Budapest Hotel. Berdiri megah di pojok Grand Boulevard, sepintas luxury hotel ini terlihat tidak terlalu besar, namun pantas untuk disebut sebagai work of art. Berbagai patung dan ornamen mitologi yang menghiasi façade eksteriornya membuat Boscolo tampak seperti katedral mencengangkan yang menjulang di tengah kota.
Boscolo adalah rumah dari New York Kávéház (café) yang disebut-sebut sebagai kafe terindah di dunia. Anggapan ini tidak berlebihan. Begitu masuk ke dalam ruangan yang terletak di kiri pintu utama hotel itu, saya terperangah melihat dinding dan langit-langitnya yang tinggi dan berhiaskan fresco keemasan. Tempat ini tampak kelewat mewah sebagai sekadar kafe, dan lebih cocok sebagai ruang tamu kerajaan. Sejak dibuka tahun 1894, New York Café menjadi tempat penting dalam perkembangan literatur dan puisi Hungaria.
Saya memesan minuman cokelat panas dengan krim dan pistachio dari seorang pelayan wanita berseragam hitam putih, lalu mengamat-amati sekeliling. Walau begitu sophisticated, suasana di sana terasa santai. Pengunjungnya tidak ada yang datang bergerombol atau berisik, kebanyakan datang berdua atau bertiga. Penampilan mereka juga biasa saja, tidak kelewat menor seperti mau pergi ke pesta. Di depan saya, duduk pasangan paruh baya yang saya duga baru pulang dari nonton opera atau konser klasik. Mereka menikmati makan malam dalam keheningan sambil sesekali saling melempar senyum.
Coffeehouse bersejarah tersebar di seluruh penjuru Budapest. Mereka menjadi tujuan utama warga lokal dan turis internasional untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari akan kafein, gula, dan krim. Menikmati secangkir kopi espresso memang lebih nikmat dengan sepotong cherry strudel yang legit dengan es krim vanilla atau whipped cream di atasnya.
Tujuan minum kopi saya selanjutnya adalah Café Gerbeaud yang terletak di Vorosmarty tér (square) di Pest. Di kafe yang bergaya Jerman dari abad 19-an itu, saya mendapat tempat di meja kecil dekat jendela. Dari sana saya bisa mengagumi lantai marmer, panel dan furnitur kayu elegan, serta detail pahatan di langit-langit bergaya Rococo (aliran gaya seni abad ke-18 yang penuh detail), dan beberapa chandelier kristal cantik yang menggantung di sana-sini.
Kebanyakan, kafe di Budapest menyediakan wi-fi gratis. Namun, coffeehouse tradisional seperti Gerbeaud dan New York Café bukan tujuan mereka yang ingin bekerja seharian dengan laptop seperti di kafe-kafe modern. Berhubung saya tiba di sana ketika waktu sarapan usai dihidangkan, yaitu pukul 11.30, alhasil saya memilih untuk mengenyangkan perut dengan eszterházy kehely (campuran antara spongecake, es krim, whipped cream, dan macaron rasa vanilla dalam gelas besar) dan berniat mencari late lunch nantinya. Tak saya hiraukan suara hati kecil yang mengatakan bahwa dessert tidak boleh dimakan pagi-pagi.

Mencari Pasar Tersembunyi
Seperti kebanyakan kota di Eropa, Budapest juga memiliki pasar modern indoor yang cukup besar, yang dalam bahasa Hungaria disebut Nagycsarnok (Great Market Hall atau Central Market Hall). Walau pasar yang lokasinya persis di ujung Liberty Bridge di sisi Pest ini cukup ramai oleh turis, masih banyak penduduk lokal yang membeli kebutuhan sehari-harinya di sana.
Selain bahan makanan segar, di lantai dasar juga terdapat beberapa kios penjual aneka suvenir berbahan cabai, dari dekorasi hingga sambal berbentuk tube odol khas Hungaria. Di lantai atas adalah tempat suvenir dan foodcourt kecil yang menjual makanan-makanan lokal dan internasional, misalnya lángos, semacam cakwe khas Eropa Timur.
Di sana saya mencicipi semangkuk goulash hangat dengan pastry puff raksasa. Entah hanya perasaan saya saja, tapi hidangan ini memang lebih nikmat di negara asalnya.
Ingin mencari suasana pasar yang lebih kecil dan hangat, keesokan harinya saya menuju Szimpla Kert. Tempat ini di malam hari berfungsi sebagai bar, dan di hari Minggu pagi berfungsi sebagai farmers’ market. Kert atau ruin pub yang dibuka di bangunan-bangunan terbengkalai, menjamur di seluruh penjuru Pest. Meski tadinya dibuka untuk mahasiswa, lama-kelamaan ruin pub menjadi tempat hang out khas Budapest yang diminati oleh orang dewasa dari semua kalangan, lokal maupun turis.
Hari Minggu pagi itu, hanya dengan berjalan beberapa menit dari hotel saya di daerah Erzsebetvaros, saya tiba di depan Szimpla dan hampir terkecoh oleh pintu masuknya yang tampak lusuh dan sepi. Ketika beberapa orang tampak keluar menenteng kantong kertas isi belanjaan, barulah saya pede dan menyibak pintu tirai plastik penahan angin dinginnya. Seketika, saya mendapati banyak orang yang lalu-lalang dan anak-anak berlarian ke sana kemari.
Di kiri kanan koridor setelah pintu masuk, penduduk lokal menggelar meja-meja dagangan dengan aneka keju, roti, sosis, wine, dan kacang-kacangan. Orang-orang tampak berkerumun, asyik mencoba sampel-sampel yang dibagikan oleh para penjualnya yang ramah. Saya jadi tergoda untuk mencoba sepotong roti dengan olesan truffle butter. Rasa mentega dengan jamur hitam liar yang mahal dan langka itu terasa lembut dan langsung meleleh di lidah.
Bagian interior Szimpla memang terlihat seperti bangunan yang nyaris runtuh, meski sebetulnya tetap terpelihara dengan baik. Bangunan ini terbagi dalam beberapa ruangan yang sudah kehilangan pintu dan jendela, diterangi lampu warna-warni yang temaram, romantis. Beranjak ke bagian dalam, saya mendapati area tanpa atap yang dipenuhi barang-barang bekas aneka rupa, seperti kursi-kursi yang digantung di langit-langit dan beberapa tempat duduk terbuat dari potongan mobil bekas.
Di sana, saya menjumpai beberapa anak muda yang menjual makanan hangat. Bimbanglah saya memilih antara chili con carne dan ragout atau vegetable stew mirip ratatouille. Dua hidangan ini disajikan dengan nasi putih seperti makanan Asia. Sang penjual tampak terkesan ketika tahu saya dari Indonesia. “Wow, we get a very international mix of visitors today. You all come from around the world!” serunya senang, sambil menyerahkan semangkuk nasi dengan ragout yang mengepulkan aroma sedap.

Berenang Ala Bangsawan
Dijuluki kota 1001 spa, Budapest memilki beberapa pemandian air panas umum peninggalan bangsa Turki dari abad ke-16 dan 17. Dari sekian banyak Turkish bath yang tersebar di seluruh penjuru kota, yang paling terkenal adalah Széchenyi dan Gellért. Walau berendam di tempat-tempat ini pada saat musim dingin tidak seekstrem polar plunge, saya berniat menguji nyali dan mencoba keduanya.
Gellért Fürdo atau Gellért Baths terletak tak jauh dari Szabadság Hid atau Liberty Bridge yang ikonik di Buda. Meski sudah berusia seratusan tahun (dibangun tahun 1912-1918), Turkish bath ini beroperasi dengan modern. Tiap pengunjung diberi gelang karet dengan sensor yang berguna untuk mengunci dan membuka loker. Di sini saya menemukan bilik ruang ganti dan loker berjejer dalam lorong-lorong yang panjang dan berliku. Dalam hati saya berusaha mengingat-ingat nomor loker supaya nantinya tidak kesasar.
Tiba di pool hall utama --dengan sedikit menggigil karena yang melekat di tubuh tinggal baju renang, handuk, dan sandal jepit-- saya terpukau melihat kolam indoor terindah yang pernah saya lihat. Sebuah kolam renang memanjang di tengah ruangan, dijaga oleh pilar-pilar tinggi dan tangga-tangga kecil berornamen klasik seperti di istana. Kira-kira, seperti inilah rasanya berenang ala bangsawan.
Ketika saya mencelupkan jari kaki ke dalamnya, ternyata dingin! Saya heran melihat beberapa lansia yang tekun berenang bolak-balik tanpa terlihat menggigil. Sementara yang muda-muda justru memenuhi kolam yang lebih kecil, yang ternyata memang airnya lebih hangat. Saya pun buru-buru masuk ke sana dan menempati tempat duduk persis di dekat air mancur. Hmmm… air hangat pun langsung memijat-mijat otot tubuh saya yang sudah berhari-hari membeku.
Kalau Gellért terkenal karena keindahan kolam indoor-nya, Széchenyi Gyógyfürdo és Uszoda (baths and pool) terkenal berkat keindahan kolam outdoor¬-nya. Katanya, bangunan yang berdiri sejak tahun 1913 ini adalah tempat pemandian berobat terbesar di Eropa. Waktu saya menuju ke sana di hari lain, sudah pukul 4 sore dan langit sudah gelap. Saya jadi waswas, jangan-jangan cuma saya dan teman seperjalanan saya, Rani, yang gila karena berniat berenang malam-malam di udara dingin menggigit seperti ini.
Ternyata, dugaan saya salah. Begitu tiba di pemandian umum yang dari luar tampak seperti Versailles mini ini, ternyata pengunjung masih berjubel. Setelah mengantre di loket beberapa menit, saya mendapatkan gelang yang mirip seperti di Gellert. Ukuran Széchenyi lebih besar dan ruang gantinya juga terletak di lorong yang panjang. Dari jendela, saya bisa melihat ke halaman tengah dengan sebuah kolam besar yang mengepul-ngepul dipenuhi oleh orang berendam.
Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana caranya pergi dari ruang loker yang hangat ini menuju ke kolam di luar sana yang suhu udaranya 0° Celsius hanya dengan memakai selembar baju renang dan secuil handuk? Ternyata, memang tidak ada cara selain berlari.
Akhirnya, dengan berjingkat-jingkat saya menuju pintu keluar terdekat, mengambil ancang-ancang, berlari terbirit-birit, melempar handuk serta sandal ke kursi terdekat, lalu buru-buru masuk ke dalam kolam. Beberapa detik saja berada di dalam air bersuhu 37° itu, seketika rasanya tubuh langsung lumer.
Terbuai angin dingin yang menerpa wajah dan kepala, saya berdiam diri sambil mengamat-amati bangunan Széchenyi yang megah melingkar dalam pijaran lampu kuning. Sama seperti di Gellert, musim dingin ini Széchenyi juga dipenuhi oleh pengunjung lokal dan turis. Saat saya ke sana sudah bukan musim liburan, jadi tidak ada terlalu banyak anak-anak.
Selain para lansia lokal, banyak orang Prancis, Italia, dan Inggris yang terlihat seumuran mahasiswa dan datang bergerombol. Tak sedikit pula yang datang bersama pasangannya. Saya sempat tersipu karena kedapatan memandang pasangan yang sedang mengumbar kemesraan di tengah kolam. Rupanya, mereka juga tidak merasa malu atau terganggu. Saya pun memutuskan pindah dan mencoba kolam lain di dalam gedung setelah bertukar senyum dengan mereka. Ah, Budapest memang kota yang tak kalah romantis dengan Paris.

TIP
• Tak jauh dari Szimpla Kert ada Karavan, yaitu area indoor foodtruck dengan aneka makanan lokal dan internasional. Favorit saya adalah fried cheese paneer atau keju goreng edam dengan saus cocol mayones wasabi.
• Sebagian besar hotel menjual tiket masuk untuk sebagian besar thermal bath. Sedikit lebih mahal, tapi ada baiknya membeli tiket fast track untuk menghindari antrean panjang.
• Untuk menghindari biaya tambahan di tempat pemandian sebaiknya membawa swimming cap (wajib dipakai), handuk dan bathrobe (supaya tidak terlalu kedinginan saat berpindah kolam), dan sandal jepit.
• Karena harga kamar hotel tidak termasuk sarapan, beli keju dan roti fresh dari pasar atau supermarket yang enak dan murah meriah. Kebanyakan kafe tidak menawarkan all-day breakfast, hanya sampai pukul 11.30.
• Bila ingin menjelajahi daerah kastil, naik bus nomor 16 yang berangkat dari Deak Ferenc Ter di pusat Buda, hingga ke Pest dan melewati Chain Bridge. Bus nomor 16A beroperasi di rute yang sama, namun lebih pendek.
PRIMARITA S. SMITA




