Travel
Bienvenidos a Bogota

12 Apr 2013

Rasa khawatir sempat singgah menjelang kunjungan ke Bogota, kota terbesar di negara Kolombia. Hal ini karena ada image kota ini sering diberitakan sebagai kota dengan tinggi kriminalitas yang tinggi. Tapi, itu tak mengurungkan niat saya, Mindy Jordan, untuk menikmati keindahan metropolitan khas Amerika Latin ini.

Permata Amerika Latin

Udara musim dingin yang saat itu menunjukkan suhu 9 derajat Celsius, menyambut saat saya keluar dari bandara terminal kedatangan. Membuat saya menutup jaket kulit rapat-rapat. Kota yang berada di ketinggian 2640 meter di atas permukaan laut di kaki Pegunungan Colombian Andes ini menawarkan kehangatan yang siap menjerat hati siapa saja.

Seperti halnya Jakarta, kota ini menjadi rumah bagi hampir 9 juta populasi penduduknya. Dipenuhi gedung-gedung pencakar langit, kota yang berdiri sejak lima abad yang lalu oleh bangsa Mesoamerika ini juga kental dengan peninggalan bersejarah.

Menggunakan taksi, saya menuju ke penginapan yang terletak di La Candelaria. La Candelaria merupakan pusat sejarah Bogota, di mana kita bisa menikmati rumah-rumah, gereja, serta bangunan-bangunan tua bergaya kolonial juga barok yang direnovasi secara baik. Banyak bangunan yang juga dipergunakan sebagai universitas, museum, atau toko buku. Untuk memanjakan wisatawan, sejak pertengahan tahun 2006, Jalan No. 10 dan 11 dijadikan area khusus pejalan kaki dari pukul  9 pagi hingga pukul 7 malam.

Sampai di sana, saya langsung jatuh cinta pada bangunan tua bergaya kolonial dan berlantai kayu tempat saya akan menginap. “Bienvenidos (kata selamat datang dalam bahasa Spanyol,” sapa pelayan hotel, menyambut saya.


Napak Tilas Gabo

Museo Botero, Museum Botero, berlokasi di Jalan No. 11. Museum ini termasuk salah satu museum terbaik di Bogota dan mengambil tempat di sebuah bangunan cantik bergaya kolonial. Menyimpan lebih dari 120 lukisan yang merupakan hasil karya pelukis nasional dan juga internasional. Asyiknya lagi, museum ini tidak memungut biaya masuk. Botero yang bernama lengkap Fernando Botero adalah pelukis dan juga pemahat terkenal di Amerika Latin. Objek lukisan beliau, entah itu manusia ataupun hewan, semua berwujud tambun yang menjadi ciri khas Botero. Monalisa pun menjadi wanita tambun di mata seorang Botero.

Setelah puas di Museum Botero, saya menuju Centro Cultural Gabriel Garcia Marquez atau Centro Cultural Gabo, pusat kebudayaan Gabo di kalangan penduduk asli. Gabo merupakan nama panggilan dari Gabriel Garcia Marquez, penulis dan jurnalis ternama di Kolombia, yang mendapat penghargaan Nobel di bidang literatur.

Pusat kebudayaan yang diresmikan akhir Januari 2008 ini menempati lahan sangat luas, 9.500 meter persegi. Di tempat ini ada sebuah toko buku yang memiliki lebih dari 50.000 buku, termasuk buku-buku tentang Kolombia dan juga Amerika Latin. Surga untuk kutu buku seperti saya. Buku resep Kolombia dan novel pun saya beli. Tak hanya lengkap, toko ini juga nyaman. 

Di pusat kebudayaan ini juga ada area bermain untuk anak-anak, Kafe Juan Valdez,   coffee shop yang menjual kopi lokal, auditorium, dan masih banyak lagi. Di sini juga sering diadakan pertunjukan terbuka.

Tidak terasa akhirnya saya sampai di Plaza Bolivar, alun-alun yang namanya diambil dari Simon Bolivar, seorang pahlawan kemerdekaan yang menentang kekuasaan Spanyol. Di alun-alun,  saya bisa menikmati keindahan Catedral Primada, gereja yang telah ada sejak tahun 1538. Gereja ini merupakan yang terbesar di Kolombia dan salah satu yang terpanjang di Amerika Selatan. Bagian dalam gereja didominasi oleh pilar-pilar berwarna putih yang membawa saya menuju  warna emas.

Bukit Monserrate yang terkenal di kalangan peziarah ini bisa dicapai dengan kereta gantung atau hiking. Saya memilih naik kereta gantung. Ternyata, ada dua jenis kereta yang ditawarkan. Ada cable railway, yaitu kereta gantung yang dalam satu cabinnya bisa memuat 40 orang. Satu lagi jenis funicular, kereta kecil yang berjalan di rel secara perlahan dan beratap gelas, sehingga kita bisa menikmati pemandangan selama perjalanan menuju ketinggian 3.152 meter. Penduduk lokal menyarankan untuk pergi ke Monserrate hanya pada akhir pekan karena di akhir pekan lebih ramai, sehingga lebih aman.

Monserrate terkenal bukan karena alamnya, tetapi karena berhubungan dengan kesakralan agamanya. Bukit ini selalu dipenuhi oleh peziarah dari segala kota di Kolombia, yang mayoritas beragama Katolik. Salah satu acara sakral yang dilakukan di sini adalah prosesi Jalan Salib.

Tapi, menurut saya, keindahan alam Monserrate cukup menyenangkan. Begitu saya tiba di tempat ini, tanaman-tanaman seperti frailejones atau espeletia, tanaman khas dataran tinggi,  tampak di mana-mana. Tanaman ini memiliki rambut-rambut halus di daunnya yang tebal dan lebar. Espeletia mempunyai bunga kuning terang yang cantik sekali. Burung-burung kolibri berbulu warna-warni juga banyak terlihat di bukit ini. Dari Monserrate ini pula saya bisa memandang liuk liku Kota Bogota.



Casa Museo Quinta de Bolivar

Saya menyempatkan diri mengunjungi rumah Simon Bolivar, sang pahlawan. Setelah kemerdekaan Kolombia, Bolivar menjadikan Quinta (kin-ta), rumah ini, sebagai kediamannya. Rumah ini kini dijadikan museum untuk menghormati jasanya.
Rumah bergaya kolonial ini dikelilingi taman yang ditata indah dan sangat terawat. Tampak beberapa ruangan yang ditata sesuai aslinya, seperti ruang tamu, kamar tidur, dan kamar tamu. Selain itu, kita juga akan melihat tempat para pekerja beristirahat di belakang rumah. Bagi para pengunjung yang tidak dapat berbahasa Spanyol, museum menawarkan pemandu wisata dalam bahasa Inggris.

Di sepanjang jalan sering terlihat pedagang kaki lima yang mengingatkan saya pada Indonesia. Mereka menawarkan minuman dan jajanan lain di gerobak. Ada yang menjual obleas, yang mengingatkan saya pada ‘rambut nenek’, jajanan waktu saya kecil. Hanya, di Kolombia jajanan ini  tidak diisi gulali, melainkan krim karamel yang disebut arequipe (a-ri-ki-pe) atau selai atau taburan kacang.

Tidak afdal rasanya kalau saya tidak mencoba camilan khas Kolombia. Saya memilih banano frito, pisang goreng seperti keripik pisang. Saya juga mencoba ajiaco (a-hi-a-ko), sup ayam berisi jagung dan kentang yang dihancurkan sehingga membuat kuah sup menjadi kental. Ajiaco disajikan dengan ikan caper, krim, dan irisan avokad. Nama ajiaco berasal dari kata aji (a-hi) yang artinya cabai. Tapi, rupanya bukan cabai yang dipakai, melainkan rempah-rempah yang terasa agak pedas.

Saya juga sempat mencoba tamal, terbuat dari beras, diisi daging ayam atau   sapi juga sayur-sayuran, seperti wortel dan kacang polong, lalu dibentuk persegi sebelum dibungkus daun pisang, lalu dikukus. Tamal ini mengingatkan saya pada lontong isi. Lagu-lagu Shakira atau Juanes (hu-wa-nes) selalu berkumandang di rumah makan dan kafe yang saya kunjungi. Salah satu kafe favorit saya adalah Juan Valdez, yang menyajikan kopi lokal yang harum dan mantap. Kafe ini memakai produk dalam negeri Kolombia, mulai dari kertas pembungkus kopi  sampai pernak-pernik lainnya.

Beberapa jalan di Bogota ditutup  tiap hari Minggu dan hari libur, untuk dijadikan ciclovia, jalur bersepeda, dari pukul 08.00 sampai pukul 14.00. Semacam car free day di Jakarta. Selain untuk bersepeda, saat itu banyak kegiatan olahraga dilakukan di jalan: lari, jalan kaki, aerobik, yoga, dan sebagainya. Bogota juga mempunyai peraturan bagi pengendara mobil yang dinamakan Pico y Placa, yang bisa diartikan sebagai rush hour dan pelat mobil. Nomor akhir pelat mobil, genap atau ganjil, hanya boleh lewat bergantian pada rush hour yang berlangsung dari pukul 06.00 sampai pukul  08.30 dan pukul  15.00 sampai pukul  19.30, untuk mengurangi kemacetan.

Oya, para pengendara sepeda motor diharuskan mengenakan rompi lalu lintas warna kuning, oranye, atau hijau yang bertuliskan nomor pelat motor mereka secara besar-besar. Mereka juga dilarang menggunakan helm yang sangat gelap. Alasannya, untuk mencegah perampokan yang dilakukan oleh pengendara bermotor. Mungkin, ini bisa jadi inspirasi untuk diterapkan di Jakarta.




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?