Travel
Berkenalan Dengan Laos Di Luang Prabang

28 Mar 2014


Setelah 2 hari mengarungi arus sungai yang cukup deras sambil menghindari bebatuan, slow boat yang saya, Susan Natalia Poskitt, tumpangi perlahan-lahan merapat di pinggiran Sungai Mekong. Penumpang yang tadinya terlihat letih sekarang tampak bersemangat mencari-cari backpack di antara tumpukan barang-barang yang menggunung di bagian belakang perahu. Tidak ada dermaga mewah yang menyambut saya, hanya sebilah papan yang disenderkan untuk menjembatani sisi perahu dengan daratan berpasir.


Pertemuan Barat-Timur
Dikelilingi pegunungan dan dilewati oleh Sungai Khan dan Sungai Mekong, Luang Prabang yang dulunya pernah menjadi pusat Kerajaan Lan Xang sebelum dipindah ke Vientiane, sekarang menjadi salah satu tujuan wisata populer di Laos.
Saya bersama sekitar 70 turis lainnya turun dari perahu dan mulai menapaki tangga berupa bebatuan yang tidak rata. Beberapa orang dengan semangat menyodorkan kertas berlaminating berisi foto guesthouse. Dengan sopan saya menolak sambil berlalu, meninggalkan kerumunan yang beberapa di antaranya tertarik untuk mengikuti ‘calo’ itu ke lokasi guesthouse yang dijanjikan murah.
Harum bunga kemboja tercium seiring berembusnya semilir angin. Beberapa jubah oranye terang terlihat berseliweran di antara warga lokal yang sibuk menata barang dagangannya untuk pasar malam nanti. Rupanya, saya sudah sampai di jalan utama Kota Luang Prabang, di mana  tiap malam sebagian area tertutup bagi kendaraan bermotor demi kelangsungan pasar malam yang reputasinya sudah terkenal di kalangan turis.
Bangunan-bangunan bergaya arsitektur Prancis masih kokoh berdiri dan tersebar di beberapa penjuru kota. Tulisan berbahasa Prancis pun terlihat di beberapa fasilitas publik, dibarengi tulisan karakter Laos yang menari-nari bak huruf Jawa kuno. Walaupun suasana kolonial masih terasa kuat di Luang Prabang, di waktu yang sama budaya modern pun mulai menyerbu.
Yang jelas, turis negara Barat tidak perlu khawatir karena banyak  kafe yang menyajikan menu Barat. Baguette (roti panjang khas Prancis) juga bertebaran di kafe dan stan pinggir jalan.
Sebagai kota yang terdaftar sebagai UNESCO Heritage, pusat Luang Prabang tidak boleh dimasuki oleh bus ataupun truk. Kebanyakan aktivitas sehari-hari dilakukan dengan sepeda, motor, dan jalan kaki. Walaupun banyak dikunjungi turis mancanegara, kota ini tidak memiliki atmosfer pesta pora. Jam malam yang diberlakukan bagi para pelaku bisnis untuk menutup usahanya maksimal pukul 11.30 malam, membantu Luang Prabang mempertahankan nilai-nilai budayanya.


Kolam Berwarna Toska
Bosan mengunjungi kuil-kuil di tengah kota, saya berencana mencicipi alam di sekitar Luang Prabang. Tujuan pertama saya adalah air terjun Kuang Si yang berlokasi di 29 km selatan pusat kota. Karena saya lebih suka berkeliling sendiri dengan bebas, maka saya menyewa sepeda motor untuk 1 hari dengan biaya sewa sekitar Rp100.000.
Banyak juga turis yang sharing kendaraan menggunakan song thaew (sejenis bemo berkapasitas 8-10 orang). Biasanya, sopir song thaew akan mengantar ke lokasi dengan sistem charter, harganya bisa mencapai Rp200.000. Alternatifnya adalah sharing dengan turis lain, yang berarti harus menunggu sampai penumpangnya cukup penuh supaya biayanya murah. Biasanya, kalau dapat penumpang sampai 8 orang, akan dikenakan biaya Rp40.000 per orang.
Setelah membayar 20.000 kip (sekitar Rp28.000) saya memilih jalur hutan daripada jalur aspal yang menanjak tajam untuk menuju ke air terjun. Pepohonan rimbun menyambut langkah-langkah kaki saya di sebuah jalur tanah yang cukup untuk 2 orang jika ingin berjalan beriringan. Konturnya naik turun namun tidak sulit. Di beberapa lokasi saya lihat ada tempelan kertas yang dilaminating berisi peringatan untuk tidak memberi makan beruang. Wah, bergegas saya mempercepat langkah untuk segera melihat beruang yang dimaksud.
Tak sampai 10 menit saya melihat pagar kawat yang mengelilingi sebuah area yang cukup luas. Namun, saya tidak melihat  satu pun binatang di dalamnya. Saya melangkah terus hingga  melihat kerumunan turis di atas platform kayu. Rupanya, saat itu hampir waktunya untuk memberi makan beruang. Makin dekat baru saya bisa melihat jelas makhluk-makhluk yang berada di balik pagar kawat itu.
Rupanya, ada sebuah organisasi penyelamat beruang di Australia yang mengurus lokasi konservasi ini. Relawan-relawannya berasal dari berbagai negara. Saya sempat berbincang dengan salah satu relawan lokal yang menjelaskan bahwa mereka sedang menjalankan proyek perlindungan beruang dari para pemburu Cina. Konon, orang-orang Cina percaya bahwa beberapa bagian tubuh beruang itu mujarab untuk obat.
Setelah melewati area konservasi beruang, saya kembali melanjutkan perjalanan mencari air terjun. Gemercik air mulai terdengar, tanda bahwa saya sudah dekat dengan lokasi. Pepohonan mulai menipis dan tiba-tiba di depan saya tampak kolam-kolam dengan bentuk terasering. Air mengalir dari kolam  yang lebih tinggi ke kolam di bawahnya. Warna hijau toska terpancar dari dasar kolam dari batuan kapur yang mengendap. Saya mengikuti jalur naik ke atas. Makin lama kolam makin besar dan jarak air jatuh pun makin tinggi.
Di pinggir salah satu kolam yang cukup besar ada pohon dengan dahan yang menjuntai sampai ke atas kolam. Beberapa pengunjung yang punya nyali antre untuk berayun ala Tarzan menggunakan tali yang tergantung di dahan, kemudian menjatuhkan diri ke kolam. Penonton pun bersorak dan bertepuk tangan. Ada juga orang-orang yang duduk berendam di bawah cipratan air terjun setinggi 3 meter.
Tapi, bukan air terjun itu yang saya cari. Air terjun utama di Kuang Si tingginya 60 meter, jatuh dari puncak yang hampir tak terlihat. Begitu tiba di sana, terasa cipratan air membasahi orang-orang yang ingin berfoto di bawahnya. Warna hijau toska kolamnya berpadu dengan warna cokelat bebatuan dan warna putih air terjun. Sungguh pemandangan yang menyegarkan mata.


Belajar Memasak Mok Pa
Belum afdal rasanya kalau mengunjungi suatu negara tanpa mencicipi makanan lokalnya. Berdasarkan sejarah, masakan Laos memang sering disamakan dengan masakan Thailand. Alasannya adalah kepopuleran masakan Isaan di Thailand, daerah di timur laut Thailand yang termasuk ke dalam wilayah kekuasaan Laos. Jadi memang, ada kesamaan karakteristik dan jenis masakan seperti ayam bakar, salad pepaya, dan ketan.
Di Laos, ketan merupakan makanan sehari-hari dan dimakan dengan tangan sehingga masakan-masakan Laos pun didesain untuk mendampinginya. Untuk menjaga agar jari-jari tetap bersih dan nasi ketan tidak berjatuhan ke mangkuk atau piring sayuran yang dinikmati bersama, masakan dibuat tidak terlalu banyak kuah. Di daerah-daerah yang masih belum terlalu berkembang, orang-orang Laos makan nasi ketan dengan jeow (saus cocolan yang biasanya pedas) untuk menambah rasa.
Setelah menikmati makanan di Tamarind Restaurant yang  menyajikan makanan khas Laos orisinal, saya tertarik untuk mengikuti cooking class yang diadakan oleh mereka  tiap harinya. Saya pun segera mendaftar dan untungnya masih kebagian tempat karena sering kali orang-orang pesan secara online dari jauh-jauh hari.
Di hari yang telah ditentukan, pukul 8 pagi saya sudah duduk manis di restoran mereka sambil ditemani oleh segelas teh serai panas. Caroline, pemilik restoran berkebangsaan Australia, biasanya turun tangan mengajar langsung di kelas-kelas memasak. Namun,  karena hari itu Caroline sibuk mengurus restoran, kelas saya akan diajar oleh Joy, suami Caroline yang memang asli orang Laos.
Kelas saya   beranggotakan 13 orang. Ada yang dari Amerika Serikat, Cina, Inggris, dan Belgia. Dari restoran, saya diangkut  menggunakan 2 tuk-tuk sewaan menuju pasar lokal. Di sana Joy dan salah satu asistennya membeli beberapa bahan makanan segar sambil memberikan penjelasan mengenai bahan-bahan makanan serta kebiasaan-kebiasaan yang berhubungan dengan makanan.
Selesai berbelanja, saya kembali naik tuk-tuk menuju lokasi memasak, sebuah pendopo besar dengan 4 sisi terbuka di bawah naungan pepohonan rimbun. Kolam kecil dengan gemercik   air mengalir menghiasi bagian depan pendopo tersebut. Di dalam pendopo, 2 meja panjang dipasang berhadapan. Di atas meja ada beberapa mangkuk kecil berisi garam, lada, dan bumbu penyedap yang ditutupi plastik supaya tetap steril. Di bagian bawah meja sudah tersedia satu set peralatan memasak. Di ujung kedua meja panjang, ada sebuah meja melintang yang dipenuhi dengan baskom  berisi bahan memasak, mulai dari sayuran sampai berbagai macam daging.
Kelas memasak dimulai. Semua peserta memasang celemek hitam bak peserta lomba Masterchef dan berdiri berhadapan di masing-masing workstation. Joy berdiri di belakang meja bahan makanan dan mulai menjelaskan apa saja yang akan saya buat hari itu. Menu pertama adalah jeow (saus cocolan). Peserta bisa memilih apakah akan membuat saus dari bahan tomat (seperti salsa) atau  terung.
Menu lain yang saya buat hari itu adalah mok pa (pepes ikan), oua si khai (serai isi ayam), laap (daging cincang dan salad), serta diakhiri dengan khao gam (ketan hitam siram santan dan buah). Selesai memasak semua menu, peserta menuju meja makan panjang dan meletakkan hasil masakannya. Asisten datang membagikan nasi ketan panas yang diletakkan di dalam keranjang khusus.
Semua peserta menikmati hasil masakannya sambil mengobrol dengan peserta lainnya. Maklum, saat memasak tadi tidak sempat saling mengenal terlalu dalam karena harus konsentrasi memasak.
Saya senang sekali sudah ikut kelas memasak ini. Selain belajar tentang budaya orang Laos dari sisi makanan, saya juga punya tambahan resep yang bisa dipraktikkan di rumah!


Tip

1. Cara paling singkat ke Luang Prabang dari Thailand adalah terbang dari Bangkok atau Chiang Mai.
2. Naik bus dari Vientiane (ibu kota Laos) menuju Luang Prabang memakan waktu 10 jam.
3. Jika punya waktu yang lebih santai, dari Thailand bisa menyeberang jalur darat lewat Chiang Khong (Thailand) ke Huay Xay (desa di perbatasan Laos), kemudian naik slow boat dari sana ke Luang Prabang. Perjalanan memakan waktu 2 hari dengan masing-masing 8-9 jam perjalanan per hari dan menginap di Pak Beng (desa di tengah-tengah perjalanan).
4. Untuk pengalaman yang unik, coba mampir ke kuil-kuil di sore hari. Terkadang, jika sedang santai, banyak biksu muda yang ingin berlatih mengobrol dalam bahasa Inggris.
5. Wajib menghabiskan waktu di malam hari untuk mengunjungi pasar malamnya. Banyak kerajinan tangan buatan suku Hmong dan bisa ditawar dengan senyum.
6. Usahakan bangun pagi jika ingin melihat prosesi Almsgiving, di mana penduduk lokal duduk bersimpuh di tepi jalan dengan menyiapkan makanan, sementara barisan biksu lewat dengan membawa keranjang kosong.
7. Untuk menikmati sunset, naiklah ke Bukit Phou Si dengan menapaki ratusan anak tangga hingga mencapai stupa Wat Chom Si yang berwarna emas di puncaknya.(f)





 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?