
Keterbatasan luas lahan memang jadi permasalahan di hampir tiap hunian di Indonesia. Ini pula yang menjadi pertimbangan para pemilik rumah dalam memilih ukuran dan desain furnitur pengisi ruang. Furnitur berdesain simpel dan kompak cenderung lebih diminati karena jadi kunci utama dalam menghemat tempat. Salah satu alternatif gaya interior yang turut mengusung konsep tersebut adalah gaya Skandinavia.
Bentuk simpel dengan garis-garis bersih minim detail menjadi ciri utama gaya Skandinavia. Mengutamakan aspek fungsi, gaya Skandinavia tak lantas melupakan estetika dalam kesederhanaan bentuknya. Jauh dari kesan ‘ribet’ membuat gaya ini cukup diminati oleh masyarakat Indonesia, terutama mereka yang tinggal di hunian berluas terbatas seperti apartemen.
Ini pula yang dialami oleh Yuli pada unit apartemen miliknya di kawasan Kedoya, Jakarta Barat. Hunian seluas 115 m² tersebut ia tempati bersama suami dan dua anaknya yang masih balita dengan beragam aktivitas bermain. Merasa masih banyak kebutuhan yang belum terpenuhi di apartemen tersebut, Yuli menyerahkan permasalahan ini kepada desainer interior Iqra Firdausy dari Soseki Design&Build.
“Awalnya kami melihat hasil desain Mas Daus (panggilan akrab Iqra Firdausy) pada proyek kantor milik ipar saya. Hasil desainnya menarik, lantas saya dan suami berpikir kenapa tidak dicoba saja untuk mengajak Mas Daus ke apartemen kami dan mendengar analisisnya,” jelas Yuli.
Betul saja, setelah diamati sejenak, Daus melihat ada banyak bagian dari apartemen tersebut yang dapat diolah lebih jauh. Perombakan difokuskan pada ruang keluarga, area makan, dan kamar tidur anak. Ketiga ruangan ini punya kebutuhan tinggi akan area penyimpanan, terutama kamar anak yang berisi banyak kebutuhan bayi dan tentunya mainan.
Lemari yang Menyatu

Sesuai konsep utama gaya Skandinavia yang minim dekorasi, Daus mendesain furnitur-furnitur minimalis dengan warna kayu cenderung cerah. Dominasi warna cokelat material kayu memberi citra ruang yang hangat dan homey, ditambah lagi dengan tata pencahayaan cenderung kekuningan. Pemilihan warna ini mengacu pada warna awal dari interior apartemen tersebut yang memang berlatar cokelat. Di ruang keluarga, sofa sebagai furnitur utama berukuran besar seolah tampak menyatu menjadi elemen dari bangunan karena dinaungi oleh beberapa built-in storage.
“Keluarga Ibu Yuli punya banyak barang, namun masih kekurangan area penyimpanan, termasuk di ruang keluarga. Bila saya buat lemari-lemari besar untuk memenuhi kebutuhan tersebut, ruang ini justru akan jadi sempit. Karena itu, storage saya buat menyatu dengan sofa saja,” jelas Daus.
Keputusan untuk menggunakan built-in storage yang menyatu dengan sofa terbukti dapat menghemat banyak tempat. Area di tengah ruang keluarga jadi lebih lapang karena sebagian besar barang dapat tersimpan rapi dan memberi banyak ruang bagi anak-anak untuk bermain. Bentuk sofa yang lebar seperti daybed memungkinkan kedua anak Yuli bersantai dan bermain dengan leluasa.
Penggunaan built-in storage juga diterapkan pada area makan. Awalnya, area tersebut hanya berisikan lemari-lemari penyimpanan yang kurang optimal fungsinya dan memakan banyak tempat. Daus melihat, area tersebut dapat diolah untuk menjawab kebutuhan keluarga Yuli akan area makan yang lebih luas dan nyaman. Maka, dibuatlah built-in storage yang minimalis, seolah menjadi bagian dari dinding area makan. Untuk meja dan kursi makan, Daus memilih beberapa desain dan bentuk yang masih berkonsep Skandinavia dengan warna kayu senada.
Satu Kamar, Tiga Penghuni

Sudah jadi hal biasa bila di kamar anak ada banyak sekali mainan si kecil yang memenuhi ruang. Belum lagi dengan kebutuhan utamanya, seperti tempat tidur, lemari pakaian, dan peralatan bayi. Namun, bagaimana bila satu kamar tersebut harus memenuhi kebutuhan dua anak balita sekaligus? Awalnya ini juga diragukan oleh Yuli. Namun ternyata, di tangan Daus, kebutuhan tersebut terjawab lewat desain built-in bed bertingkat, yang tentunya lagi-lagi dilengkapi banyak lemari penyimpanan.
“Dari yang saya lihat, kamar anak tersebut punya ceiling (langit-langit) yang cukup tinggi. Jadi, mengapa tidak dibuatkan saja ranjang tingkat, tentu akan sangat menghemat tempat,” ujar Daus. Ranjang bertingkat memungkinkan kamar mungil tersebut dapat tetap digunakan oleh kedua anak Yuli, meskipun nanti mereka bertambah usia.
Tak hanya menghemat tempat, adanya ranjang tingkat dengan tangga juga memungkinkan penambahan satu lagi tempat tidur. Sehingga, bila sewaktu-waktu Yuli kedatangan tamu, tempat tidur tambahan tersebut dapat digunakan oleh si tamu untuk beristirahat. Lemari-lemari penyimpanan di sekitar ranjang ditujukan untuk penyimpanan berbagai kebutuhan si kecil termasuk mainan-mainannya. Bahkan, Daus juga mengolah anak tangga dari ranjang bertingkat menjadi laci ekstra yang mudah dijangkau anak-anak.
Bagian tengah ‘kolong’ ranjang bertingkat dapat menjadi area bermain anak karena lapang dan nyaman diterangi lampu LED dari balik tepi ranjang. Satu hal yang juga jadi fokus utama desain kamar anak ini adalah meminimalkan bentuk bersudut pada furniturnya. Ini untuk menjaga kenyamanan dan keamanan, mengingat si pengguna ruang adalah anak-anak.
Satu kamar mungil mampu menjadi ruang tidur nyaman untuk dua anak dan bahkan satu tamu. Pemilik hunian sangat takjub, bagaimana kamar dengan luas yang begitu terbatas dapat memenuhi kebutuhan tiga penghuni sekaligus, dan menyisakan area bermain yang cukup lapang bagi anaknya.
Tip Desain

- Untuk melakukan perombakan pada beberapa ruang di hunian, sebaiknya gunakan warna yang masih senada dengan warna ruang lain yang tak dirombak. Ini untuk menjaga harmonisasi warna pada keseluruhan hunian.
- Salah satu material unik yang Daus terapkan pada dinding ruang keluarga dan area makan adalah OSB board. Material berbentuk panel kayu modular adalah material yang biasa digunakan sebagai kotak kemas. Untuk memasangkannya ke dinding, hanya dibutuhkan sekrup biasa. Namun, yang harus diingat, pastikan panel OSB board sudah terpotong rapi sesuai bentuk dindingnya. Permukaan OSB board juga dapat diamplas terlebih dahulu untuk mendapatkan tampilan akhir yang lebih halus.
- Built-in furniture memang efektif untuk menghemat ruang karena bentuk dan besarannya yang bisa disesuaikan dengan ukuran interior. Namun, tak jarang dinding, lantai, dan ceiling ruang yang akan ditempatkan furnitur tersebut kurang presisi atau bahkan cacat. Daus memaparkan, penyelesaiannya adalah dengan mengakali bentuk dari furnitur itu sendiri. Contohnya, bila ceiling ruang agak miring, maka built-in furniture dibuat tidak menyentuh ceiling dan menyisakan ruang kosong beberapa sentimeter.
- Sesuai permintaan Yuli yang menginginkan kesan homey pada huniannya, lantai marmer existing apartemen ini dilapis kembali dengan lantai parket. Namun, agar lantai marmer tidak rusak bila sewaktu-waktu permukaan parket dibongkar, Daus tidak menggunakan perekat apa pun untuk memasangnya. Ia hanya menggunakan parket kuncian yang saling mengikat dan lapisan busa sebagai pengempuk antara bawah parket dengan permukaan marmer. (f)


