Fiction
Bentung [1]

9 Oct 2013


Dulu,  tiap pukul dua siang, kala aspal minyak yang melapisi jalan di kompleks perumahan itu nyaris lumer oleh panas matahari, Bentung mengayuh sepeda Fongers-nya berkeliling kompleks sembari membunyikan bel yang dentingnya serupa lonceng surgawi di telinga bocah-bocah.

Pada saat yang sama, Pertiwi --seorang bocah yang biasa dipanggil Tiwit--menyambut kedatangannya di depan rumah dengan senyum selebar nampan. “Tung, Bentung, aku mau jajan sugi.”

Bentung melompat dari sepeda, membetulkan letak kotak kayu sarat jajanan yang terikat pada boncengan, lantas menjepit sebungkus sugi  --sejenis manisan buah plum kering-- dengan sepasang telapak tangannya, dan menyodorkannya pada Tiwit.

Sepasang mata jenaka Tiwit akan tertuju pada sepuluh jemari Bentung. Meski sudah hafal kisah di balik jemari itu, ia tak pernah jemu mendengarnya. “Hei Bentung, kenapa jari-jarimu buntung?” tanyanya, sembari sibuk mengulum sebutir sugi sewarna kesumba.
    Bentung menenggak air kecokelatan dari botol plastik setengah penyok, menyeka bibirnya yang basah, lantas kembali mengisahkan tragedi yang menimpa jemarinya.

    “Dulu, ketika harimau Sumatra masih ribuan jumlahnya, saban hari kerjaku cuma memanjat pohon kelapa. Saking sukanya, aku sampai lupa belajar dan membantu ibuku. Sialnya, suatu hari ibuku murka bukan alang-kepalang. Ia mengamuk sebab aku tak juga turun dari pohon kelapa untuk menjaga kedai kami. Begitu aku turun dan menapak tanah, tanpa pikir panjang ia mengambil sebilah parang dan menebaskannya ke jari-jariku.

Semenjak itu, semua jariku buntung.”
Sejenak Tiwit melongo, memamerkan sebutir biji sugi yang mendekam di lidahnya.
“Ibumu galak sekali, Tung. Di mana dia sekarang?”
“Mati.”
Keduanya tertawa terburai-burai. Usai menyemburkan biji sugi, Tiwit menyodorkan sekeping uang logam pada Bentung. “Besok datang lagi, ya. Aku mau jajan sugi.”

Demikianlah pertemanan keduanya terjalin melalui sebungkus manisan sugi dan kisah jemari lelaki yang sesungguhnya bernama Beni itu. Orang-orang memanggilnya Bentung, singkatan dari Beni Buntung. Usianya hampir separuh abad. Wajahnya bundar dan bersih. Rambutnya tipis kemerahan persis rambut bocah-bocah kurang gizi yang tinggal di luar kompleks.

Tak seorang pun tahu persis kapan tepatnya ia mulai berjualan keliling kompleks dengan Fongers bututnya. Yang pasti, semua penghuni kompleks mengenalnya. Anak-anak suka padanya, sebab ia ramah dan selalu datang membawa jajanan lezat. Remaja-remaja kompleks menganggapnya sebagai pecundang. Mereka kerap berlagak akan membeli, namun secepat kilat menyambar beberapa bungkus kudapan dan serta-merta kabur ke segala penjuru, meninggalkan Bentung yang memaki parau sambil mengacung-acungkan jemari buntungnya.

Mungkin Bentung tak pernah benar-benar suka berjualan di kompleks perumahan itu. Kompleks itu adalah tempat tinggal karyawan perusahaan pertambangan migas asing yang berlokasi di tengah hutan Sumatra. Penduduk di luar kompleks menghujat sekaligus memuja para penghuni sebagai orang-orang eksklusif, pongah, dan berkantong tebal yang bisa mendatangkan celaka sekaligus untung bagi mereka.

Menurut cerita yang beredar, sikap pongah itu sebenarnya pernah membuat Bentung benar-benar marah. Ia pernah memiting leher seorang remaja yang merampas dagangannya.
           “Maling bangsat! Bayar atau kuhajar!”
    Remaja itu sempat gentar, tak menyangka Bentung bisa murka. Tapi, buru-buru ia mengancam balik. “Kau tahu bapakku? Kepala sekuriti! Kau bertingkah macam-macam, kujamin sekarang juga kau bakalan diusir dari kompleks!”   
    Tentu saja Bentung mundur teratur. Sejak itu, jika insiden serupa terulang, Bentung cuma berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan jemari buntungnya.
    “Mereka semua tengik,” keluhnya suatu siang kepada Tiwit.
    “Ya, ya, mereka memang tengik. Tapi aku tidak tengik, ‘kan.”
    “Tidak.”
    “Kau pasti mampir tiap hari, ‘kan.”
    “Pasti.”

Tiwit memandangi lelaki buntung itu dengan tatapan kagum bercampur kasihan. Cuma Bentung temannya yang berasal dari luar kompleks. Selebihnya adalah bocah-bocah kompleks, termasuk Sara dan Maggy, anak Mr dan Mrs Austin asal Texas yang sedang bertugas beberapa tahun di perusahaan pertambangan.

Keluarga Austin agak berbeda dengan keluarga-keluarga karyawan asing lainnya yang tinggal di kompleks. Cuma mereka yang fasih berbahasa Indonesia. Keluarga-keluarga asing lainnya sepertinya terlalu malas belajar bahasa Indonesia, meski sudah lama tinggal di tengah hutan Sumatra bersama karyawan-karyawan pribumi.

Tiwit memuja Sara dan Maggy seperti ia mengagumi boneka Barbie-nya. Ia tak pernah bosan memandangi rambut merang Sara dan Maggy yang bergelombang. Sepulang bertandang dari rumah keluarga Austin, ada saja cerita atau benda istimewa yang dibawanya.

“Mata mereka kayak hantu,” katanya suatu hari, sembari mengusap-usap batu kobalt yang menghiasi cincin ibunya. “Hantu yang cantik.”

Lain waktu, ia membawa pulang sebuah buku tentang Texas. “Kalau besar nanti, aku mau sekolah yang tinggi dan tinggal di Texas,” katanya kepada ibunya, seraya menunjuk foto-foto berwarna di buku itu. “Texas itu hebat. Gedung-gedungnya besar. Jalan-jalannya lebar. Orang-orangnya besar, seperti Mr dan Mrs Austin. Pokoknya semua yang ada di Texas, besar dan hebat.”

Ibunya manggut-manggut, mendukung perkataannya. Perempuan itu senang melihat gadis kecilnya bercita-cita pergi jauh untuk menuntut ilmu dan melihat tempat-tempat lain di dunia. Sang ibu sempat berharap, keinginan itu akan tertanam kuat di benak anaknya hingga ia dewasa nanti. Sayangnya, itu hanyalah sebuah harapan prematur. Keinginan itu telah menguap bahkan sebelum Tiwit dewasa. Dan semuanya berawal pada suatu siang, ketika Bentung datang seperti biasa dengan sebungkus manisan sugi untuknya.

 “Ayo, Tung, ceritakan tentang jari-jarimu yang buntung itu,” pinta Tiwit, sambil sibuk mengulum sebutir sugi.
    “Aku punya cerita lain.”
    Sepasang mata Tiwit melebar. “Cerita apa?”
    “Sara dan Maggy.”
    Tiwit melongo.
    “Mereka suka sugi, seperti kau. Mereka juga suka kerupuk ganefo.”
    “Oh….”
    “Eh, besok saja aku bercerita tentang jariku, ya,” potong Bentung. “Sekarang aku harus ke rumah Sara dan Maggy. Mereka sudah menungguku.”

Bentung melompat ke atas sepeda dan mengayuhnya setengah berdiri. Sekejap, ia telah hilang di ujung jalan.

Malamnya, Tiwit mengoceh tanpa henti perihal Bentung dan kedua bocah merang. Menurutnya, mustahil Sara dan Maggy doyan jajanan yang dijual Bentung.

“Bentung pasti bohong. Sara dan Maggy suka kukis cokelat dan apel karamel. Bukan sugi dan ganefo.”

Kilat cemburu tampak di matanya. Ibunya mencoba menenangkannya. Ia bilang, Sara dan Maggy tentu senang bisa mencicipi jajanan lokal. Bentung pun pasti tak kalah senang mendapatkan pelanggan bule yang pertama. “Mestinya kau ikut senang kalau teman-temanmu senang,” ujar ibunya. Tiwit membalas dengan kening berkerut. Gerutu tak jelas berlompatan dari mulutnya hingga ia tertidur lelap.

Kegusaran Tiwit sebenarnya tak beralasan. Bentung tetap menyambanginya saban siang dengan sebungkus manisan sugi. Terkadang lelaki itu akan berkisah panjang lebar tentang jemari buntungnya, lain waktu ia akan segera pamit dan buru-buru mengayuh sepedanya ke rumah keluarga Austin. Lambat-laun Tiwit mulai terbiasa dengan keadaan itu. Ia tak lagi menggerutu soal Bentung dan pelanggan barunya. Ia mulai pandai berbagi kebahagiaan dengan orang lain.

Namun, di suatu siang yang ganjil, ketika seekor enggang terbang begitu rendah di atas kompleks, Bentung tak muncul juga dengan Fongers bututnya. Tiwit gelisah menanti sembari mengisap sari bunga-bunga asoka hingga pukul empat.

“Mungkin Bentung pilek. Atau ban sepedanya bocor. Tapi besok Bentung pasti datang. Membawa sugi untukku,”  ia mencoba menghibur diri.
    Kabar tentang absennya Bentung menyebar cepat ke seluruh penjuru kompleks. Esoknya, serombongan bocah yang melintas di depan rumah Tiwit menjadi kurir kabar itu. “Bentung diusir sekuriti!”
    Tiwit menelengkan kepala dan menjawab dengan tawa gelisah. Pandangannya lurus ke ujung jalan, menanti Bentung  yang tak akan datang lagi esok maupun hari-hari berikutnya.
    “Wit, ayo masuk. Bentung tidak akan datang lagi,” bujuk ibunya, ketika suatu siang Tiwit masih juga menunggu Bentung di depan rumah. “Sekuriti sudah melarangnya masuk kompleks.”
    Dagu Tiwit tertekuk, seperti membentengi sesuatu. Beberapa detik kemudian, benteng itu rubuh. Ia sesenggukan. “Kasihan Bentung. Bentung bukan penipu. Bentung baik. Jarinya buntung.”
    Tak seorang pun menyangka nasib Bentung akan berakhir buruk. Keluarga Austin telah melaporkan lelaki itu kepada kepala sekuriti kompleks. Menurut mereka, Bentung telah menipu Sara dan Maggy. Sudah dua kali lelaki itu menyunat uang kembalian bocah-bocah itu saat mereka membeli jajanannya.
    Tak ada lagi denting surgawi terdengar di kompleks. Dua minggu Tiwit setia menanti Bentung saban siang, hingga akhirnya ia menyerah dan tak lagi menunggu.
    Ibunya sedikit lega. Ia pikir Tiwit telah melewati masa kehilangan itu. Anaknya tentu telah melupakan Bentung. Ternyata ia keliru. Urusan Tiwit belum selesai. Suatu hari dengan air muka sekeras batu dan bibir terkatup rapat, Tiwit mendatangi rumah keluarga Austin.

    Ia melempari rumah itu dengan jambu air busuk yang dipungutnya dari halaman rumahnya.
             “Sara jahat! Maggy bego! Kembalikan si Bentung! Pergi kalian dari sini!”  jeritnya, sembari menendang pot-pot tembikar mungil yang menghiasi bibir teras hunian keluarga Austin.
    Mr dan Mrs Austin terbeliak menyaksikan serangan seorang bocah atas tempat tinggal mereka. Kabar itu segera menyebar ke segala penjuru kompleks. Pasukan sekuriti bergegas datang. Mereka mengamankan Tiwit yang meraung-raung bagai seekor harimau sumatra yang terluka.

    Karena Tiwit masih di bawah umur, ia dianggap tak dapat bertanggung jawab atas perbuatannya. Sebagai orang tua, ibunyalah yang harus bertanggung jawab atas ulahnya. Kepala sekuriti memanggil sang ibu dan memberikan surat peringatan yang diketahui pula oleh kepala personalia perusahaan. Ia mewanti-wanti agar kejadian ini tidak terulang lagi. Ia tegaskan agar sang ibu mengawasi perilaku anaknya dengan ketat.
    Esoknya, dengan membawa sekeranjang buah-buahan, ibunya mendatangi rumah keluarga Austin. Ia menyampaikan penyesalan atas tingkah Tiwit yang tak terkendali. Sara dan Maggy mengintip dari balik pintu kamar. Perbincangan   ibu Tiwit dengan Mr dan Mrs Austin tak berlangsung lama. Mereka saling berjabat tangan, lalu sang ibu pulang bersama gusar.

Sejak insiden itu, Tiwit tak lagi sudi berteman dengan Sara dan Maggy. Ia membuang semua pemberian mereka --sebuah boneka perca Raggedy Ann, sekaleng Play-Doh (lilin mainan), seuntai gelang manik-manik, dan sebuah buku tentang Texas-- ke tempat pembakaran sampah di halaman belakang rumahnya.

Sebenarnya, dalam beberapa kesempatan  ibunya mencoba melunakkan hati anak itu. Ketika keluarga Austin akan kembali ke Texas dan mengadakan garage sale, diajaknya Tiwit main ke sana. Maksudnya agar anak itu dapat sekalian mengucapkan salam perpisahan kepada Sara dan Maggy. Tiwit menolak mentah-mentah. Akhirnya sang ibu datang sendirian dengan membawa kenang-kenangan berupa nampan dari akar kayu.
Selanjutnya, waktu bergulir begitu cepat. Bentung dan segala kisahnya sudah lama berlalu. Tiwit bukan lagi bocah ingusan. Di akhir masa SMA-nya, sang ibu menawarkan kepadanya untuk melanjutkan studi ke Texas atau tempat-tempat lain di dunia. Tiwit menolak dan memilih melanjutkan kuliah di sebuah perguruan tinggi di ibu kota.
    Sekali waktu, ketika Tiwit telah berstatus mahasiswi, ibunya mengunjunginya di ibu kota. Di depan pintu, Tiwit menyambutnya bersama seekor kucing putih berkalung lonceng. Tiap kucing itu melenggang, lonceng berdenting merdu.

 “Ia sahabat terbaikku. Namanya Bentung,” ucap Tiwit.
Serta-merta ibunya tertegun. Hidup memang terkadang aneh, pikirnya. Ada kenangan yang enggan mati, meski almanak telah dibalik ratusan kali. Tapi kemudian ia membatin, bukankah demikian tugas sebuah kenangan, ia senantiasa hidup hingga yang mengenangnya tak lagi ada? Dan sesungguhnya, ketika anaknya mengenalkan kucing itu kepadanya, detik itu juga ia paham, tak secuil pun kenangan tentang Bentung pernah enyah dari benak Tiwit. Sosok lelaki berjemari tak sempurna itu sesungguhnya begitu sempurna di mata anaknya.(f)
*********
Ernita Dietjeria



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?