Keduanya adalah hal yang berbeda. Psikolog seksual, Zoya Amirin, menjelaskan, sebagai variasi seks, BDSM dapat menghangatkan hubungan pasangan. Sedangkan KDRT sebaliknya, justru merusak hubungan semua pasangan.
KDRT tidak pernah terjadi atas persetujuan kedua belah pihak. Hubungan seks sesudah tindak KDRT juga terjadi atas paksaan. Karena tidak ada pembicaraan tentang toleransi sakit dan safe word, si penerima tersakiti secara fisik dan mental. Dalam KDRT, biasanya juga terjadi verbal abuse, di mana si pelaku menghina dan melecehkan si penerima dengan sungguh-sungguh, tidak hanya saat berhubungan seks, tapi juga di kehidupan sehari-hari.(f)


