Bila dulu wanita gengsi memakai tas atau sepatu second, sekarang telah terjadi pergeseran nilai yang cukup signifikan. Mengapa demikian? Menurut Amalia E. Maulana, Ph,D. Brand Consultant and Ethnographer, kini barang second tak lagi menjadi hal yang tabu karena adanya social acceptance. “Fakta bahwa sekarang sudah banyak sekali yang memakai tas second dan menggeser rasa malu yang pernah ada,” Amalia menjelaskan.
Nadia Rachel, pemilik akun Instagram @wants_needs yang menjual barang-barang preloved memiliki pendapat yang sejalan dengan Amalia. “Sekarang malah banyak yang bangga kalau berhasil membeli barang preloved dengan harga miring dan kualitas bagus.”
Beda lagi pendapat Karen Wijaya, pemilik butik Second Chance yang telah menjual ratusan tas second selama 17 tahun. “Kebutuhan kaum wanita untuk up-to-date bisa mengalahkan gengsi untuk memakai barang second.” Wanita di balik website www.bebelian.com, Khairiyyah Sari, mengatakan, “Kalau mau tetap gaya, daripada beli KW, mending beli second!”
Dengan adanya social acceptance, tumbuhlah gruenorm di kalangan wanita bahwa barang second sudah menjadi hal biasa dan menimbulkan rasa nyaman bagi mereka yang memakainya. Tidak heran bisnis barang preloved kian menjamur dan menghasilkan keuntungan yang menggiurkan. (f)


