Menulislah terus tiap hari, dan buktikan apa yang terjadi. Moto inilah yang menjadi salam penutup di tiap tulisan Wijaya Kusumah di laman blog http://wijayalabs.blogspot.co.id. Guru mata pelajaran prakarya dan TIK di kelas 7 dan 8 SMP Labschool Jakarta ini menjadikan blog sebagai media belajar dan ekspresinya di dunia digital. Di laman blog-nya ini orang dapat menyaksikan rekaman video aktivitas belajar anak didiknya, mengunggah soal-soal bagi para siswa, dan yang cukup mengharukan, laporannya tentang workshop E-learning untuk Rakyat di Solo, baru-baru ini.Dengan gaya bahasa yang bersahaja, Wijaya membagikan pengalaman mengikuti workshop yang diikuti oleh tak kurang dari 100 orang guru, calon guru, dan mahasiswa. Dari foto-foto yang tersaji terlihat kesungguhan dari tiap peserta untuk membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan mengadopsi TIK di dunia profesional mereka.
“Teman-teman di komunitas guru TIK dan KKPI (Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi) yang menggagas workshop ini,” ujar Wijaya, yang memiliki latar belakang pendidikan teknik elektro ini. Pria yang rajin mengasah diri secara autodidak ini merasa bahwa bergabung dengan komunitas seperti ini sangat membantunya. “Komunitas ini punya banyak pakar, salah satunya Onno W. Purbo, pakar TIK Indonesia,” lanjutnya, bersemangat.
Ia juga mendapat berbagai pelatihan. Mulai dari cara memblokir situs-situs pornografi agar tidak bisa diakses oleh para murid, hingga cara kreatif membuat materi ajar yang dikemas dalam presentasi digital yang menarik dan efektif bagi para siswa. Dari workshop yang sama, ia bisa menjalankan software Virtual Lab untuk menjelaskan bagaimana mekanisme medan magnet dan efek bayangan cermin pada pelajaran IPA.
Cara Purviantyka Limbong lain lagi. Guru kelas 6 SD di sekolah internasional Global Jaya, Karawaci, ini lebih memilih untuk follow akun Twitter para praktisi yang sering mengadopsi TIK dalam mengajar. Salah satunya @gurukreatif. “Selain itu saya juga suka mengikuti tagar #teachchat karena banyak informasi yang menarik dan up to date di dalamnya,” ungkap Purvy.
Geliat pemanfaatan ICT dalam proses belajar-mengajar ini tidak hanya terjadi di sekolah-sekolah swasta, tapi juga di sekolah negeri. Salah satunya adalah di SD Menteng 01, yang menjadikannya salah satu pilar utama dalam kegiatan belajar- mengajar.
“Internet memudahkan saya dalam mengetahui berbagai macam metode mengajar hanya dengan ‘klik’ tombol pada layar komputer,” ungkap Wahyuni, guru kelas 6. Aktivitas ini membantunya menemukan metode mengajar yang sesuai dengan karakteristik anak-anak didiknya. “Dengan begitu, hasil yang diinginkan bisa optimal,” tambahnya.
Tiap bulan, Wahyuni juga rajin menghadiri pertemuan dewan guru. Di sesi ini, para guru akan membagikan pengalaman, ide, dan juga mencari solusi kreatif dalam membawakan materi ajar kepada anak-anak.


