Diakui mantan Wajah Femina 2008 ini, mengikuti pemilihan Wajah Femina adalah dorongan sang ibu supaya ia bisa menjadi lebih feminin. “Hal tersulit dalam hidup saya adalah ketika harus mengenakan high heels tiap hari. Bagi saya, lebih sulit mengenakan high heels dibanding harus lari sprint sekian meter,” kata Putri, yang jago karate dan penyuka aktivitas naik gunung.
Ia menambahkan, “Dulu saya sempat berpikir, model adalah orang yang manja, tidak mau kepanasan akibat aktivitas outdoor. Tapi ternyata, setelah saya merasakan sendiri, menjadi model itu butuh kerja keras. Belum lagi tuntutan untuk selalu menjaga performa, penampilan, merawat aura… itu susah banget,” jelas Putri, yang pernah bermain di film garapan sutradara Riri Riza, Pesan dari Samudra.
Jauh sebelum menjadi model, teater adalah dunianya. Sekitar dua tahun lalu, ia pernah menjadi sorotan ketika namanya muncul dalam pementasan monolog Karna di Salihara. Di pementasan karya sastrawan Gunawan Muhammad ini, Putri tampil bersama bintang teater papan atas, seperti Sitok Srengenge, Niniek L. Karim, dan Whani Darmawan. Belum lagi, tim yang terlibat, ada Jay Subiakto, Taba Sanchabachtiar, dan Citra Subiakto untuk penata kostumnya. “Bermain bersama all star team seperti mereka adalah kesempatan yang luar biasa,” ujar Putri, yang sebelumnya pernah berduet dengan aktor pantomim asal Prancis, Philippe Bizot, di sebuah pementasan pantomim di teater Salihara, Jakarta.
Siapa sangka, Putri sudah mengakrabi teater sejak di bangku SMP. Saat kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Putri yang aktif di teater sastra juga menjadi salah seorang pendiri Teater Psikologi UI, atau yang dikenal dengan nama TEKO UI.
Menurut Putri, masalah klasik di teater adalah regenerasi. Sering kali, tiap pendirinya lulus, lalu menghilang. Sulit untuk mencari pengganti. “Tapi, sebenarnya yang paling sulit adalah melepaskan. Banyak mereka yang sudah telanjur attach pada komunitas. Secinta apa pun kita pada satu hal, selalu akan ada masanya kita harus melepaskan. Cari tempat lain yang bisa membuat kita lebih berkembang,” kata Putri.
“Bahkan sekarang teater tak boleh lepas dari hidup saya. Minimal saya menyempatkan diri untuk menonton pertunjukan saja. Itu pun sudah menjadi ecstasy tersendiri. Lagi pula, jika saya selalu terekspos dengan hal-hal kreatif semacam ini, produktivitas di kantor jadi lebih meningkat,” tutur Putri.
Kreativitas Putri tidak berhenti sampai di situ. Ia dan ketiga teman komunitas teaternya membuat program pendidikan alternatif untuk anak-anak di Gedong, Pasar Rebo. Program belajar bagi anak-anak SMP dan SMA ini menggunakan teori psikologi dan pendekatan teater. Putri dan teman-temannya mencoba mengaplikasikan brain based teaching lewat aktivitas kreatif. Putri memendam keinginan, suatu saat ia bisa menyalurkan ilmu psikologi dan keseniannya untuk dunia pendidikan.
Belum lama ini, kesempatan berharga lain kembali menghampirinya. Ia mendapat tawaran menjadi presenter untuk program Selamat Pagi di Trans7. Program berita dengan format feature yang banyak menampilkan informasi seputar wisata dan kuliner. Putri tak kehilangan dunia televisi yang sempat ditinggalkannya.
Karier memang telah menjadi prioritasnya saat ini. Dalam kehidupan asmara, ia baru melewati masa-masa sulit setelah sempat merasakan patah hati. “Saya kagum pada mereka yang sudah menikah. Kerelaan menyerahkan hidupnya pada seseorang adalah keputusan besar. Pastilah orang itu sangat spesial,” tutur Putri, yang mendambakan pasangan dengan kriteria sexy brain dan sexy attitude.


