Trending Topic
Aman, Tapi Tetap Waspada

4 Jun 2014


Memiliki anak memang andil dua pihak, namun urusan kontrasepsi sepertinya lebih dimonopoli wanita. Apalagi, jenis-jenis kontrasepsi yang tersedia juga lebih banyak diperuntukkan bagi wanita ketimbang pria. Karena itu, sudah selayaknya kita memberikan perhatian yang lebih pada kontrasepsi. Apa saja yang harus diwaspadai?

Aman, tapi Tetap Waspada
Majalah Vanity Fair edisi Januari lalu menurunkan artikel mengenai tuntutan hukum yang diajukan sekelompok orang terhadap Nuvaring. Ini adalah salah satu jenis alat kontrasepsi berbentuk semacam cincin silikon yang dipasang di vagina. Nuvaring dituduh bisa menimbulkan gumpalan darah yang bisa menyebabkan emboli paru dan mengakibatkan kematian. Kasus hukum itu hingga kini masih berjalan di Amerika.

Meski Nuvaring memang tidak beredar di Indonesia, berita ini tetap mencubit kita, bahwa kita memang harus memberikan perhatian yang cukup terhadap kontrasepsi. Satu hal yang mengusik rasa ingin tahu, seaman apakah alat kontrasepsi itu?
“Alat kontrasepsi yang ada di Indonesia  juga dipakai di seluruh dunia. Yang pasti, untuk bisa beredar di pasar itu tidak gampang untuk lolos uji coba. Kalau di AS dengan FDA dan WHO, sementara kalau di Indonesia harus lolos uji BP POM,” ujar dr Dwiana Ocviyanti Sp.OG,yang biasa dipanggil dr. Ovy.

Ibu Naf juga menegaskan, kita tak perlu takut dengan keamanan alat-alat kontrasepsi, karena semua alat kontrasepsi yang beredar sudah pasti melewati uji klinis dan proses quality control yang ketat. “Untuk kondom misalnya, semua merek harus diregistrasi dan diperiksa secara berkala. Demikian pula untuk obat-obat yang ditelan atau disuntikkan, dosis kandungan hormon progesteron, estrogen, atau kombinasi keduanya juga sangat kecil. Benar-benar dihitung sesuai dengan kebutuhan ovulasi,” paparnya.

Lebih lanjut Menteri Kesehatan RI, dr Nafsiah Mboi,yang sering dipanggil Ibu Naf,  mengatakan, kasus kematian karena Nuvaring itu bisa jadi karena pemakainya memang sudah memiliki kecenderungan khusus ke arah kondisi tersebut (predisposisi). “Kalau kasus efek samping pasti ada, tetapi saya yakin persentasenya kecil. Dan hal itu muncul pada mereka yang punya tendensi. Untuk itulah mengapa penting untuk konsultasi dan rutin melakukan pengecekan setahun sekali. Kan tidak mungkin tiba-tiba blocking. Untuk membuat sumbatan dan lainnya, tidak melulu karena Nuvaring, bisa yang lain,” tegas dr. Ovy.

Namun, baik dr. Ovy maupun Ibu Naf menegaskan, pemakai kontrasepsi memang tidak boleh teledor. Karena bagaimanapun, kontrasepsi itu alat maupun obat yang tentu saja memiliki risiko. Karena itu, pemakaian kontrasepsi harus dikonsultasikan dengan tenaga medis –dokter maupun bidan-- dan rutin melakukan pengecekan  tiap tahun.
“Pil KB saja juga bisa menyebabkan trombo emboli. Karena itu, untuk pasien-pasien yang berusia di atas 40 tahun yang merokok misalnya, tidak bisa menggunakan pil kombinasi lagi,” ujar dr. Ovy.

Di sinilah pentingnya pemeriksaan dan konsultasi dengan tenaga medis, yaitu menemukan kontrasepsi yang pas dan sesuai untuk kita. Karena tubuh manusia itu sangat personal, apa yang cocok di tubuh orang lain, belum tentu cocok di tubuh kita. Begitu pula sebaliknya, apa yang ditubuh orang lain bereaksi negatif, belum tentu hal demikian terjadi pada tubuh kita. Apa saja yang diperiksa oleh tenaga medis? Biasanya adalah cek fisik (seperti ada tidaknya keputihan), cek darah, juga cek jantung.

Karena itu, tidak semestinya kita memakai pengalaman atau referensi teman untuk pilihan kontrasepsi atau justru tidak mau  memakainya. Misalnya, ada teman yang keluar vlek karena memakai IUD, belum tentu kita juga akan mengalami hal yang sama. Masalahnya, kita sering merasa pengalaman orang lain itu lebih tepercaya, ketimbang misalnya pergi ke dokter untuk mencari jawabannya.

“Kontrasepsi memang dijual bebas, tapi pemakaiannya harus dengan konsultasi tenaga medis. Walau side effect rendah, pasti ada saja potensinya. Anda bisa datang ke puskesmas, ke dokter umum atau bidan, tidak selalu harus   ke ginekolog. Ini bukan sesuatu yang rumit,” imbuh Ibu Naf.

Yoseptin Pratiwi



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?