Fiction
Akhirnya Senja [1]

30 May 2012

Berita itu datang dengan tiba-tiba. Sangat tiba-tiba. Tapi, firasatnya sudah terlebih dahulu menjemput. Jumat, 25 April 2003, merupakan hari kedelapan Sabalah tak tidur di rumah. Tapi, ia berusaha pulang.

Ya, sejak Kamis, 17 April malam, delapan orang yang –mungkin– berpakaian hitam dengan membawa senjata memaksa masuk ke rumah dengan menendang pintu, untuk bertatap muka dengan suaminya. Sejak itulah, gelembung kegundahan mulai menusuk batinnya.

Saat itu, malam belum senja.

“Mana Sabalah?” bentak satu di antara orang yang datang tidak dengan mengetuk pintu, pada malam Jumat itu.
Mereka tak memberi salam, tidak mengucapkan assaamualaikum, selayaknya dilakukan orang-orang, ketika meminta masuk ke rumah orang. Apalagi, rumah panggung itu, sengaja pintunya diperendah sedikit agar orang-orang yang akan masuk ke dalamnya sedikit menunduk.

Fatimah harus mengucek matanya setelah mendadak terbuka dari katup. Tak begitu tersentak, seperti wanita lain di sana, ia bagai sudah terbiasa menghadapi kondisi seperti itu. Segera ia melangkah ke palang pintu yang sudah terkelupas karena ditendang oleh tamu yang datang. Malah ia sempat melilit daun pintu yang sudah terburai dengan tali.

Sabalah segera menyorongkan tubuhnya lewat gua kecil (celah seukuran setengah papan sebagai tempat buang air kecil) yang dibuat di dalam kamar, saat mendengar ada gelagat yang berwarna lain di pintu depan rumah mereka. Dari balik dinding, ia sempat melihat sekilas bayang-bayang dari pancaran cahaya lampu templok yang buram. Gelagat yang tak baik, membuat Sabalah harus turun dan berdiam di bawah rumah. Di bawah gua, tersusun kayu-kayu bakar dengan tidak teratur, ranting-ranting yang dipungut Sabalah dan Rahmah dari kebun kosong di gampong (kampung).

Sama sekali tak ada bayang-bayang Sabalah yang terpencar, karena lampu templok hanya dipasang di ruang tengah. Dengan tirai yang masih melekat di pintu kamar mereka, tak mungkin bisa menerbangkan cahaya tubuhnya.

Rumah itu hanya memiliki satu ruang tidur dan satu ruang tengah yang merangkap sebagai dapur. Hanya rumah kecil, beratap daun rumbia yang dianyam sendiri oleh Fatimah, berdinding papan yang sudah tua, sebagian diikat dari anyaman kulit bambu.

Ketika mengintip, Sabalah juga melihat bayang-bayang senjata. Tapi, Sabalah tak tahu jenis senjata apa yang dipakai oleh sang tamu. Sebuah benda yang memiliki peluru dan bisa meletus kapan saja adalah senjata, pikirnya.
“Mana Sabalah?” bentak mereka lagi.

Satu di antara mereka seperti tak sabar. Ditariknya gorden bergaris kuning dan hitam yang sudah kusam, yang menutup pintu kamar mereka. Gorden itu sampai koyak. Sang tamu menoleh ke arah teman-temannya yang berdiri di belakang, sambil menggeleng. Temannya yang menerima pesan, menggelengkan kepalanya satu kali ke luar pintu.

“Kau bilang pada Sabalah, kami mencarinya. Penting!”

“Dan kau tak perlu menyembunyikan dia!” kata seorang lain.

Di bawah, Sabalah diam dan terus melilit tubuhnya seperti seekor keong. Derap langkah mereka terdengar tergesa dan terentak dari lantai papan yang hampir rapuh menuju tangga, lalu turun, lalu lambat-laun menjauh.

Kiamat kecil sudah lewat, pikir mereka.

Tapi, Sabalah tak juga keluar. Ia menggulung tubuhnya di antara kayu bakar itu, sampai subuh.

Fatimah sempat membereskan palang pintu yang berserak di lantai. Dikutipnya satu, satu, dengan lamban. Ia sudah berumur. Pintu depan itu tak lagi tertutup rapat. Fatimah membiarkannya sedikit terbuka, karena satu palang besar yang tergeletak tak sanggup diangkatnya. Sehabis itu, ia menuju ke ranjang. Merebahkan tubuhnya di atas kasur yang tak lagi empuk. Tapi, matanya sudah tak bisa tidur. Badannya dibolak-balik.

Ketika pikirannya masih meraba-raba tentang apa dan siapa, lalu untuk apa, Samiun terdengar melengking. Anak mereka satu-satunya itu seperti sedang berusaha mengungkap takut. Matanya terbuka ketika tamu yang datang menendang pintu dengan keras.

Fatimah sama sekali tak memanggil Sabalah untuk menenangkan anak mereka satu-satunya itu. Tidak. Wanita-wanita di gampong itu sangat peka bila ada sesuatu yang membayangi diri atau suaminya. Ia takut bila memanggil Sabalah. Tak bisa dibayangkan kalau-kalau masih ada yang mengintip dari luar rumah, bisa saja dilakukan dari jauh.

Maka, ia menenangkan sendiri Samiun, membelai rambutnya, memangkunya, sambil melantunkan dodaidi (nyanyian ninabobo), sampai Samiun tak lagi mengeluarkan air mata. Ketika Samiun masih diberi ASI, saat Samiun menangis seperti itu, Fatimah akan segera menyusuinya.

Saat itu tak ada tetangga yang mendekat, ketika reriuhan terdengar dari rumahnya, sekadar menanyakan, ”Ada apa di rumahmu, Fatimah?” Tidak ada. Semua orang akan mengunci rumahnya rapat-rapat. Beberapa orang yang agak berani hanya mengintip lewat celah dinding rumah. Mereka akan berjalan perlahan, biar derap langkah mereka tak terdengar oleh orang-orang yang mungkin masih berada di luar rumah. Sedangkan lampu sudah dimatikan ketika gelap tiba. Hanya beberapa rumah yang menyisakan sebuah lampu templok di tengah ruangan.

Seperti wanita-wanita lain di gampong yang suami mereka dicari-cari entah oleh siapa dan entah untuk apa, Fatimah juga tak bisa mengatupkan matanya kembali. Sampai subuh. Kokok ayam selalu menjadi penanda kapan fajar akan tiba. Ayam jantan begitu setia memberitahukan masa yang terus berjalan tak pernah berhenti. Untuk melihat arloji kecil yang tergantung di dinding, pasti membutuhkan cahaya. Sedangkan orang-orang di gampong sedang melilit diri mereka dalam gelap. Jadi, tak mungkin mereka akan menyalakan lampu dalam masa-masa seperti itu, karena kegelapan dianggap jauh lebih tidak berisiko.

Ini adalah zaman buruk bagi wanita-wanita di gampong yang suaminya dicari-cari. Mereka tak tahu dari mana datangnya para pencari yang seperti pemburu itu. Mereka bagai burung hantu yang akan datang hanya saat malam. Yang dipikirkan oleh wanita-wanita itu adalah suami mereka sedang dalam bahaya.

Mereka seperti sudah siap menghadapi berbagai keadaan. Mereka akan menenangkan anaknya sendirian. Paling-paling, ketika pagi tiba, beberapa tetangga yang sedikit bernyali akan mendekati untuk sekadar berbisik-bisik. Tapi, percayalah, mereka tak akan menanyakan perihal semalam, tentang tamu-tamu yang tak diundang datang ke rumah.

Fatimah juga seperti itu. Saat Sabalah sudah tak di kamar, ia akan menjaga anak mereka sampai pagi dan tak lagi memanggil-manggil Sabalah. Sabalah dibayangkan akan berada di suatu tempat yang aman dalam hatinya, kecuali bila bayang-bayang lain menghinggap dengan cepat.

Sabalah pasti sedang berusaha menggapai satu tempat yang tak bisa dicari oleh siapa-siapa, termasuk dirinya, pikir Fatimah.

Tapi, Fatimah akan bermain-main dengan pikiran sampai pagi. Bila suami sudah dicari, wanita-wanita di gampong tak bisa tidur sampai pagi. Mata mereka terlihat memerah ketika pagi datang. Lalu, di bawah mata, terlihat lingkaran hitam yang membesar dan tubuh mereka menjadi kering. Tak ada yang bisa terlelap. Wanita-wanita selalu dihantui pikiran tentang pintu rumah siapa lagi yang akan ditendang oleh para pencari itu di malam yang akan datang.

Mereka akan menunggu suami mereka pulang, sampai suasana benar-benar sunyi. Biasanya, suami akan menjenguk istrinya, tapi selalu tak memberitahukan kepada istri mereka, tentang apa yang sedang dihadapi.
Sama sekali tidak memberi tahu. Sabalah juga.



Penulis: Sulaiman Tripa
Pemenang Ketiga Sayembara Mengarang Cerber femina 2006



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?