Health & Diet
Agar Tetap Terdengar Stereo

18 Jun 2014


Banyak kesenangan yang Anda rasakan berkat kerja telinga, tapi sering kali perawatannya malah terabaikan. Begitu timbul masalah, baru panik. Jika masih ingin menikmati alunan musik indah dan suara orang-orang tersayang, saatnya Anda lebih hati-hati memperlakukan organ indra pendengaran ini.  Dr. Yosa Meyla Puar, SpTHT dari RS Eka Hospital BSD City, Serpong, mengulas beberapa kebiasaan dan aktivitas yang bisa jadi ancaman bagi pendengaran.  

1. Menggunakan cotton bud

Kata dokter:

Tindakan ini sebetulnya tidak perlu dilakukan. Pada dasarnya, telinga memiliki kemampuan untuk membersihkan sendiri. Seluruh kotoran telinga akan dikeluarkan oleh bulu-bulu halus dan terkumpul di lekuk cuping telinga bagian luar. Pemakaian alat pembersih seperti cotton bud justru akan  makin mendorong kotoran masuk lebih dalam lagi ke lubang telinga. Dampaknya, lama-kelamaan kotoran tersebut akan mengendap dan menyumbat telinga sehingga menurunkan pendengaran.
   
Bak lingkaran setan, perasaan ‘tersumbat’ ini akan mendorong orang untuk lebih sering mengorek telinganya. Hal ini justru akan   membuat  makin banyak kotoran yang terdorong menumpuk di dalam lubang telinga. Kotoran telinga yang berlebihan juga dapat mengakibatkan ketulian.
   
Jika terpaksa ingin menggunakan cotton bud, lakukan dengan gerakan mengusap dari bibir luar lubang telinga bagian atas ke arah luar (bukan mendorong ke dalam). Kedalaman yang disarankan hanya 1 cm saja. Jika sampai menusuk selaput gendang telinga yang letaknya berada 3 cm dari lubang telinga, akan terjadi robekan yang membuat telinga rentan terinfeksi. Jika selaput gendang telinga sudah telanjur robek, maka jaga telinga jangan sampai kemasukan air dan segera konsultasikan kepada ahli THT.

2. Menggunakan earphone

Kata dokter:

Daun telinga sudah didesain untuk menyebarkan suara-suara yang akan masuk ke dalam telinga. Penggunaan earphone akan membuat suara masuk langsung ke dalam lubang telinga tanpa teredam.
   
Pada pemakaian jangka panjang, earphone akan menurunkan kemampuan mendengar. Banyak remaja di Amerika yang memiliki kemampuan mendengar setara dengan manula akibat frekuensi pemakaian earphone yang tinggi.
   
Jika ingin menggunakan earphone, batasi penggunaan selama maksimal setengah jam saja dengan volume suara tak lebih dari 80 db atau 50% total volume. Jangan gunakan di keramaian, karena kita cenderung akan menaikkan volume suara ke tingkat  yang bisa merusak pendengaran. Apabila saraf pada koklea atau rumah siput sudah rusak, maka tak bisa diperbaiki lagi dan penderita akan mengalami tuli permanen.

3. Diving

Kata dokter:

Hal yang harus diperhatikan ketika akan melakukan diving adalah memastikan kondisi tubuh tidak sedang pilek atau flu. Saat menderita pilek, tekanan udara di dalam saluran tuba yang menghubungkan telinga dan rongga hidung  tersumbat. Tekanan udara yang begitu kuat dari luar dapat menekan selaput gendang telinga dan akibatnya gendang telinga bisa pecah atau robek. Makin dalam Anda menyelam,  makin tinggi tekanannya. Jika Anda pernah mengalami masalah telinga, sebaiknya berkonsultasi dulu ke dokter THT sebelum menyelam.

4. Penggunaan ear candle

Kata dokter:

Belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa ear candle dapat mengisap kotoran dalam telinga. Serbuk-serbuk putih yang terlihat setelah pembakaran, dan membuat Anda takjub, sebenarnya adalah gabus atau busa yang terbakar, bukan kotoran telinga.
   
Perawatan ear candle tidak disarankan karena selain tak terbukti bisa memberikan manfaat, ada risiko besar jika ujung candle yang terbakar jatuh dan masuk mengenai selaput gendang telinga. Ada banyak kejadian orang yang selaput gendang telinganya sampai terbakar atau terkena panas tinggi mengakibatkan kulit dalam telinga menjadi kering dan rentan teriritasi atau menjadi gatal.

5. Obat tetes telinga

Kata dokter:

Tetes telinga tidak boleh digunakan sembarangan, misalnya tanpa resep dokter, apalagi untuk anak-anak. Kondisi saraf telinga anak-anak jauh lebih sensitif ketimbang orang dewasa. Pengobatan untuk telinga bagian luar dan tengah berbeda dengan telinga bagian dalam. Apabila salah pengobatan, bukan tak mungkin justru malah merusak selaput gendang telinga atau saraf rumah siput yang mengakibatkan ketulian.

6. Kemasukan benda asing

Kata dokter:

Jangan asal mengorek telinga yang malah bisa mendorong benda asing itu makin masuk ke dalam telinga. Di rumah sakit, dokter biasanya memberikan cairan rivanol ke dalam telinga. Namun, untuk penanganan kondisi darurat di rumah, bisa dimasukkan air ke dalam telinga, asalkan selaput gendang telinga tak berlubang. Untuk membedakan selaput gendang telinga yang baik-baik saja dengan yang robek yaitu dilihat dari keseimbangan suara yang terdengar. Jika salah satu telinga seperti agak tersumbat atau pendengaran tak seimbang (tak stereo), maka kemungkinan selaput gendang telinga Anda telah robek.   

7. Sakit saat naik pesawat

Kata dokter:

Sama seperti dengan orang yang hendak diving, perubahan tekanan udara dapat menekan saluran tuba yang menghubungkan telinga dan hidung, yang bisa membuat gendang telinga pecah apabila tersumbat. Pada orang yang tak mengalami masalah pada telinga atau rongga sinusnya, maka tekanan pada saluran tuba dapat ‘plong’ dengan sendirinya. Tapi, bagi yang tengah pilek, mengalami infeksi telinga, atau radang sinusitis, maka tekanan pada saluran tuba tersebut tak bisa ‘lepas’ dan mengakibatkan rasa sakit yang amat hebat. Selaput gendang telinga pun bisa pecah karena tekanan tersebut.
   
Solusinya, jika telinga atau radang sinus Anda tengah bermasalah ketika hendak naik pesawat terbang, maka setengah jam sebelum pesawat take off atau 6 jam sebelum pesawat landing, teteskan obat tetes dekongestan ke dalam hidung. Tentu saja, pemakaian dekongestan mesti di bawah pengawasan dokter, dan tak dianjurkan terlalu sering, sebab bisa membuat iritasi dan merusak saraf. Jika ada infeksi telinga, sebaiknya 2 atau 3 hari sebelum berangkat  konsultasikan diri ke dokter THT untuk memastikan tidak ada masalah efek penerbangan terhadap telinga.



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?