Travel
8 Persinggahan di Sydney

10 Jul 2015


Redaktur Madya Mode dan Kecantikan femina, Ivana Sitanggang, diajak Destination New South Wales dan Qantas Airlines untuk menikmati kesibukan Sydney sebagai salah satu kota multikultural terbesar di dunia. Mendekatkan diri dengan alam, ternyata salah satu daya tarik di kota metropolitan ini.
 
Queen Victoria Building


Saat menyusuri George Street pasti gedung ini langsung mencuri perhatian saya. Bangunan dengan kubah besar dan jendela kaca patri mendominasi desain arsitektur Romanesk. Awalnya saya tak mengira gedung dengan desain megah ini adalah pusat perbelanjaan. Belakangan baru saya ketahui, gedung yang telah berdiri dari tahun 1988 dan awalnya dibangun sebagai pasar kota. Setelah melewati beberapa dekade, sempat berganti menjadi gedung konser, perpustakaan kota, kini menjadi pusat perbelanjaan. Tidak seperti pitt street mall yang berbentuk gedung besar dengan puluhan toko. Gedung ini hanya terdiri dari 4 lantai, dengan gerai-gerai yang dikeliling dengan jendela-jendela megah berteralis, dan terdapat jam besar di tengahnya. Lantai satu kebanyakan diisi oleh restoran, kedai kopi dan pencuci mulut yang di saat makan siang, ramai para pekerja kantoran. Di lantai dua dan tiga, terdapat berbagai butik-butik high end, dari  merek internasional seperti Coach, Longchamp, Bally dan Salvatore Ferragamo, toko perhiasan seperti Pandora, Swarovski, dan Mondial Pink Diamond Atelier, dan tak ketinggalan, merek fashion asal Australia seperti CUE dan Sportscraft.  Untuk berbelanja atau sekedar ngopi-ngopi, tempat ini wajib untuk dikunjungi ketika Anda bekunjung ke Sydney.

Woollahra dan Paddington



Berbagai butik kecil, galeri seni bercampur dengan perumahan tua mungil membuat area ini terasa homey dan menarik untuk dieksplorasi. Awalnya, kedua area ini merupakan daerah perumahan suburban ketika pusat kota Sydney baru terbentuk. Namun semakin kini, banyak didirikan toko-toko kecil tempat banyak desainer dan seniman lokal membuat jajaran toko kecil ini sebagai tempat perbelanjaan yang mustahil untuk tidak dikunjungi. Tengok berbagai macam toko dan galeri seni yang menjual karya-karya kontemporer, seperti di toko Anya Brock dan Juniper Hall. Atau cari koleksi desainer lokal, seperti Sass & Bide dan Jac + Jack, hingga alat makan dan furnitur dengan desain berseni di The Bay Tree dan Kerrie Brown.

Pitt Street Mall dan Westfield Sydney

Sebagai salah satu fashion district, kedua mal ini dipenuhi oleh lebih dari 600 toko. Mulai dari merek lokal hingga merek internasional sekelas Miu Miu dan Prada. Di mal ini juga terdapat dua department store terkemuka asal Australia, yaitu Myers dan David Jones.

Lokasinya strategis di tengah central bussiness district, menjadikannya salah satu tujuan utama para kelas menengah Sydney ketika ingin berbelanja atau cuci mata. 

Haymarket Paddy’s Markets
Jika Jakarta punya Pasar Asemka, Sydney memiliki Paddy’s market tempat turis memburu oleh-oleh. Pasar terbesar di Sydney dengan kapasitas lebih dari 1000 gerai ini menjual berbagai macam barang, seperti makanan, suvenir, kosmetik, baju, alat olahraga hingga barang bekas. Harga di pasar ini pun terkenal paling murah dibanding toko-toko suvenir di tempat lain. Dari awal Anda memasuki kawasan ini, begitu banyak suvenir dari gantungan kunci hingga t-shirt yang dijual satuan hingga lusinan. Gedung tua yang terletak di pertigaan Hay Street ini  awalnya dibangun sebagai pasar sayur di tahun 1909. Hingga akhirnya pasar sayur dipindahkan ke Flemington, pasar ini tetap berdiri dan menjadi pusat suvenir paling murah di kota Sydney.

Featherdale Wildlife Park


Australia terkenal dengan satwanya yang ajaib, yang tidak bisa ditemukan di belahan dunia lain. Itulah sebabnya, mengapa saya menyempatkan diri untuk pergi ke Featherdale Wildlife Park.
Sebetulnya, Sydney memiliki 3 kebun binatang. Yang terbesar adalah Taronga Zoo yang bisa diakses dengan feri dari pusat kota. Lalu  Wildlife Sydney Zoo, yang hewannya kebanyakan hanya bisa dilihat dari balik kaca. Yang ketiga, Featherdale, dengan koleksi satwa asli Australia terbesar yang dimiliki swasta.
Saya tidak sabar untuk bertemu dengan wombat, koala, dan kanguru yang lucu-lucu itu. Untungnya, di Featherdale pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan mereka. Saya pun tak mau ketinggalan memberi makan kanguru dan burung emu.
Kebun binatang yang awalnya merupakan peternakan ayam ini memiliki ukuran tidak lebih dari tiga hektar. Lalu di tahun 1972 dibuka menjadi kebun binatang yang kini dipenuhi hampir 1700 binatang dan 280 spesies.  Luasnya yang tidak sebesar kebun binatang pada umumnya membuat tempat ini tidak melelahkan untuk dikelilingi, dan sangat nyaman dikunjungi bersama anak-anak. Di area tertentu, kanguru malah dibebaskan berlarian di antara para pengunjung, membuat suasana kebun binatang terasa seperti di alam. 
Saya datang di pagi hari, saat tempat ini belum terlalu ramai. Sangat disayangkan, ketika ingin menemui koala, ternyata mereka masih tertidur karena waktu tidur mereka yang menghabiskan lebih dari 22 jam sehari.
Yang menggemaskan, kebun binatang ini memiliki bayi binatang yang dapat diperkenalkan kepada para pengunjung oleh para penjaganya. Dan tak hanya itu, banyak juga terdapat kegiatan edukasi tentang alam untuk para anak sekolah, salah satunya area “The Learning burrow” yaitu teater terbuka berkapasitan 90 siswa dimana terdapat berbagai acara pertunjukkan khusus untuk kunjungan para siswa sekolah.   Walau terbilang jauh karena menempuh waktu sekitar 45 menit dari pusat kota, tempat ini sangat worth it untuk didatangi.

Museum of Contemporary Art
Salah satu yang juga menarik minat saya adalah Museum of Contemporary Art, yang buka  tiap hari sepanjang tahun, kecuali Hari Natal. Gedung yang baru dipugar tahun 2012 ini terlihat sangat modern diantara gedung-gedung kaku Circular Quay.
Terdapat lebih dari 4000 karya seni dari seniman Australia yagn dikumpulkansejak tahun 1989 yang tidak bisa saya nikmati satu per satu. tak hanya karya seni dua dimensi seperti lukisan, fotografi dan patung, ada juga karya instalasi cahaya dan suara. Belum lagi koleksi budaya dan karya seni Aborigin yang jarang ditemukan di museum lain. tak hanya pamersan saat saya melihat jadwal kegiatan museum, terdapar juga kelas diskusi serta kuliah umum bagi mahasiswa seni yang diadakan di museum tersebut.

Royal Easter Show

Salah satu event tahunan yang pantang dilewatkan sebagai turis yang singgah ke Sydney adalah Royal Easter Show, pertunjukan berkuda dan aksi balap motor seru. Rupanya, berbagai pertunjukan, mulai dari lomba anjing dan kucing hingga demo masak oleh chef terkenal, rutin digelar di acara pameran agrikultur yang diselenggarakan oleh organisasi nonprofit, Royal Agricultural Society (RAS) of NSW, sejak tahun 1823.
Tiap tahunnya RAS Foundation mendonasikan hampir 7 juta dolar Australia untuk menguatkan komunitas petani dan peternak pedesaan. Awalnya pameran ini bertujuan mempromosikan hasil tani, ternak, dan pangan dari seluruh pelosok Australia serta memberi penghargaan bagi hasil tani terbaik. Namun sekarang, dengan sekitar dua pertiga total pertiga produksi diekspor dan presentase ekspor pertanian mencapai 15,5 persen, acara ini menjadi media penting untuk mempromosikan hasil agrikultur bagi bidang perdagangan Austalia.
Setelah selesai pekan panen, para petani membawa semua hasil terbaik dari tanah mereka untuk dilombakan, dan saling bertukar informasi untuk meningkatkan kualitas dari masing-masing pangan. Bermacam buah-buahan, sayuran, hingga hewan ternak dibawa dari berbagai daerah Australia untuk berkumpul di perhelatan ini.
Hingga kini, acara yang berlangsung selama dua pekan di sekitar masa Paskah ini telah menarik hampir 900.000 pengunjung lokal dan wisatawan asing yang tertarik untuk mencicipi hasil bumi Australia. Tak hanya itu, perhelatan ini juga menjadi media para petani bertemu dengan pembeli dan eksportir dari dalam dan luar negeri untuk melihat serta berdagang hasil ternak dan tani mereka dalam skala besar. Tempat acara yang berada di area Sydney Olympic Park ini dibagi menjadi 5 bagian, yaitu area hewan ternak, area belanja, area karnaval, area makan dan hiburan, serta area showbags.
Setelah puas dengan atraksi yang hebat itu, saya dibawa ke area  ternak. Dari semua ternak yang ada, yang membuat saya takjub adalah sapi seberat 1 ton dan angsa dengan bulu paling halus.
Di sana, terdapat pula area di mana anak-anak dapat belajar memelihara ternak, dengan berinteraksi langsung dan memberi makan hewan-hewan yang ada di sana. Jadi, mereka tidak sekadar rekreasi, tapi juga   mengapresiasi para petani dan peternak yang berperan penting dalam menyediakan makanan bagi keluarga Australia. Anak-anak pun belajar untuk tidak menyia-nyiakan makanan yang dihidangkan di meja makan rumah mereka.
Berpikir untuk mencari suvenir, usai dari area hewan ternak saya menyempatkan diri ke area tempat berbelanja. Benar saja, di area tersebut terdapat berbagai produk, mulai dari syal, sweater, hingga sepatu boots yang terbuat dari wol, juga tas, dompet, dan jaket dari kulit sapi. Yang tak kalah menarik, ternyata banyak juga produk kecantikan berbahan alami yang menggoda untuk dicoba. Salah satunya sabun dari susu kambing dan lotion dari susu sapi.
Di area showbags,  kita bisa belanja suvenir dengan beragam kemasan, mulai dari yang seharga 10 hingga 25 dolar Australia. Isinya, berbagai macam barang sesuai tema isi tas tersebut. Ada kantong bertema cokelat dan permen Willy Wonka, mainan anak-anak, dan   produk-produk kecantikan buatan lokal. Rasanya tak tahan untuk tidak membeli satu saja sebagai kenang-kenangan.

Piknik di Pasar Ikan


Seketika saya langsung jatuh hati ketika tiba di Sydney Fish Market. Bagaimana tidak? Pasar ini begitu bersih! Di sana terdapat kurang lebih 15 gerai yang menyajikan aneka hidangan laut segar, buah-buahan, wine, dan keju yang semuanya adalah produk lokal. Pengunjung bisa memilih hasil laut yang ditangkap langsung dari laut Australia. Sebutlah ikan salmon, dori, kakap merah, makerel, marlin, tiram, udang, cumi, dan masih banyak lagi. Semuanya besar-besar dan terlihat begitu segar.
Semua hasil laut ini bisa dibeli dan langsung dimasak untuk disantap di tempat. Di area luar pasar, terdapat beranda yang menghadap ke dermaga yang berisi meja kursi. Pengunjung bisa menikmati makan siang sambil melihat pemandangan laut dan  kapal-kapal yang sedang berlabuh. 
Kalau ada waktu lebih, pengunjung bahkan bisa mengikuti cooking classes atau sekadar menonton demonstrasi bagaimana caranya memotong fillet ikan, mengupas tiram atau udang, mencicipi sampel atau menyaksikan demo masak. Rasanya, siapa pun yang berkunjung ke Sydney Fish Market bisa menjadi seafoodie seketika.
Untungnya, saya berkunjung di pagi hari ketika pasar masih cenderung sepi, sehingga bisa menikmati aneka ikan dan udang yang juicy. Ketika saya hendak pergi mendekati siang hari, pasar mulai dipenuhi   para pekerja kantoran yang ingin makan siang.
Di akhir pekan, karena penuhnya pasar ikan, banyak  pengunjung yang pergi ke taman, yang terletak tak jauh dari Sydney Fish Market dan menggelar tikar untuk   menikmati hasil laut yang segar dan nikmat. Sungguh menyenangkan.(IVANA SITANGGANG)




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?