Fiction
Emprit Ganthil [4]

25 Dec 2015


Cerita sebelumnya <<<<



Lalu, hal yang paling dikhawatirkan Luhtitisari tibalah pula. Suatu hari Anggabaya menelepon dan memaksa agar Luhtitisari bersiap, membawa pulang ibu mereka.
Padahal, Dokter Halayuda mengatakan hal itu belum dapat dilakukan. Keadaan Atmaranti masih sangat lemah, dibutuhkan perawatan intensif terus-menerus. Bahkan, ada seorang pasien yang bersabar, menetap selama enam bulan di rumah sakit hingga kesembuhannya tiba.

Tak seorang pun akan merasa senang, menetap di rumah sakit lebih dari sehari saja. Tetapi, dalam upaya penyembuhan, segala hal harus dilakukan dan itu termasuk bertahan di rumah sakit.

Tidak ada tawar-menawar dalam pilihan hidup dan mati. Pilihannya haruslah kehidupan. Jika menolak kehidupan, tanpa dipilih pun kematian akan langsung datang, mendekat dan merangkul.

Pertengkaran tak terhindarkan lagi.

Luhtitisari berkeras agar semua harta yang tersisa dapat digunakan untuk kesembuhan ibu mereka, dan sekalipun itu hasilnya tidak sembuh. Harta yang dikumpulkan dengan seluruh napas kehidupan Atmaranti hendaknya menjadi sah, jika dihabiskan pula untuk mempertahankan napas terakhir Atmaranti.

Anggabaya yang terbiasa bersantai dan bermalasan, pandangannya jauh berbeda dengan Luhtitisari. Baginya, dana sudah terkuras habis-habisan dan terutama membebani dirinya yang mengelola keuangan ibunya.

Apalagi jika nanti pada akhirnya ia tak kebagian apa pun juga. Ini adalah masalah yang sangat penting baginya, untuk tetap hidup enak, ketika Atmaranti tiada kelak.
Suatu siang adiknya itu tiba di rumah sakit.

Dan, seperti biasa, mereka bertengkar hebat. Luhtitisari sudah lelah dan muak dengan tirani sang adik. Selain itu, urat pertahanan dirinya sudah hampir putus.
Nyawanya terasa seperti layang-layang yang terbang tinggi di awan tanpa sehelai benang yang terikat pada gelasan. Terlalu lama ia menunggui Atmaranti di rumah sakit seorang diri.

Untuk membawa Atmaranti pulang dalam keadaan begitu saja tanpa rawatan dari para petugas rumah sakit yang sudah biasa memanjakan ibunya, ia jelas tak tega. Tak dapat dibayangkan, ibunya dibawa pulang dalam keadaan semacam itu. Seolah hanya menungguinya di ranjang kematian tanpa harapan.

Di rumah sakit itu ia masih berharap munculnya keajaiban. Entah pil penyembuh. Entah sebuah alat kejut listrik. Entah sebuah terapi yang tepat. Jika dibawa pulang, sudah dapat dipastikan ibunya akan diserahkan langsung pada alam yang memang sudah lama ingin menjemputnya. Maut.

Anggabaya terus marah-marah kepadanya.
Luhtitisari sudah tak tahan lagi. Baginya, merawat ibu yang sakit adalah kemewahan yang akan dilakukan oleh seorang anak. Dengan berpeluh tangis, merawat dengan kedua lengannya sendiri.

Apakah jika itu terpaksa ia harus memandikannya, membawanya ke kakus, atau bahkan membersihkan area-area sensitif pada tubuh ibunya, akan dilakukannya. Ia tak peduli, toh, ia berasal dari rahim perempuan itu. Jika kasih sayang dapat dihargai, berapakah kira-kira besarannya?

Kelakuan Anggabaya sudah tidak lagi dapat ditoleransi.
Keputusannya adalah keputusan sepihak yang tidak disetujui oleh Luhtitisari, tetapi dipaksakan oleh Anggabaya untuk mereka bertiga. Untuk dirinya sendiri sebagai pengambil keputusan, untuk ibunya sebagai objek penderita, dan untuk kakaknya si pelengkap penderita.

Anggabaya hendak memotong tali kehidupan ibunya sendiri, memutuskan hal yang dirasakannya tepat, bukan bagi keselamatan ibunya, tapi bagi kepentingannya sendiri.
Tak diberitahukannya pada Luhtitisari berapa anggaran keuangan ibunya yang tersisa. Ia hanya berusaha meyakinkan kakaknya itu bahwa membawa Ibu pulang adalah keputusan yang terbaik.

Anggabaya bahkan memaksa Luhtitisari menjual rumahnya di ibu kota dan menghentikan pendidikannya jika hendak mempertahankan Ibu di rumah sakit selama mungkin.
Luhtitisari pun gamang, pengorbanan yang diminta Anggabaya tidak sedikit, sedangkan ini adalah masa depan yang hendak diraciknya sendiri dengan berpeluh. Menurut Luhtitisari hak ibunya bukanlah hak adiknya. Sedangkan hak dirinya juga bukanlah pula hak adiknya untuk mengatur. Itu sudah melewati batasan. Mereka semua sudah dewasa dan bukan lagi kanak-kanak. Seharusnya ada kesepakatan.

Malam itu Luhtitisari memutuskan untuk pulang ke ibu kota meninggalkan ibunya.
Atmaranti selalu memercayai Anggabaya, segala ucapan dan manipulasinya, sedangkan selama ini Luhtitisari tak lagi punya kesempatan untuk bercakap langsung dengan ibunya sebelum jatuh sakit. Luhtitisari telah berusaha hingga titik batas akhir yang mampu dicapainya.

Maka, ia akan membiarkan adiknya itu menjadi lebih dewasa. Menjadi pengambil keputusan dengan segenap akibatnya. Ia sudah lelah, tak sanggup lagi menjadi tambang yang menguatkan ruh ibunya pada pancang bumi.
Malam itu ia menangis lama di sisi ibunya yang tertidur. Antara sadar dan tidak, Atmaranti menoleh dan melihat putrinya masih duduk di sana. Berada di sisinya.
Atmaranti bergumam, “Sungguh beruntung aku, memiliki seorang anak perempuan. Ia sungguh telaten merawatku.”

Luhtitisari terus mengusap air mata yang berjatuhan tanpa suara.
Baginya, Ibu adalah harapan terakhir pintu surga yang masih terbuka. Kini ia terpaksa pergi meninggalkan pintu itu.

Bukan hanya sekadar tenaga dan waktu, tetapi perasaannya juga habis terkuras oleh sakit ibunya yang tak kunjung sembuh dan kekasaran sikap adiknya. Bukan berarti ia membuang ibunya. Ia hanya tak tahu lagi apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Biarlah adiknya itu bertanggung jawab penuh atas ibu mereka. Seperti yang terus didengungkannya selama ini mengenai masalah tanggung jawab.

Jangan kikis habis batang-batang tebu, lalu ampasnya dikepah, tersia-siakan seenaknya. Jangan seperti itu adiknya memperlakukan ibunya. Luhtitisari sudah teramat lelah berada di pusaran lingkar takdir. Saatnya ia pergi hingga takdir yang sesungguhnya akan datang tergenapi.

Ia mencium kening ibunya. Mengelusnya dengan sayang, dan entah bagaimana ia telah pasrah seandainya kali itu adalah saat terakhir ia melihat ibunya. Ia percaya ibunya tahu dan merasakan kasih sayangnya.

Ada perasaan tarik-menarik yang kuat dalam dirinya, untuk terus menemani Atmaranti. Namun, ia yakin, ada rasa sakit yang takkan mampu ia lupakan jika dipaksa melihat kepergian ibunya. Ia takkan sanggup menanggung kenangan itu.
Biarlah seperti ini kenangan terakhirnya, meninggalkan Atmaranti yang tengah tertidur pulas dan nyaman.
Seorang anak mungkin berada di sisi, tapi tak menempatkan ibu dalam hatinya. Yang lain mungkin pergi menjauh, tapi selalu bersiap menyimpan ibu selamanya dalam kenangan. Beberapa anak dilahirkan, barangkali hanya satu atau dua yang menjadi putra sejati. Yang lain hanya meminjam rahim ibunya untuk muncul ke dunia.

Luhtitisari mulai mengemasi pakaian-pakaiannya. Dirapikannya semua barang yang berserakan di kamar pondokan. Aneka kue kering, kosmetik, kacang, bahkan beberapa buku bacaan.

Sudah terlalu lama ia berada di situ pada satu sisi nasib, pada kesia-siaan hasratnya menggedor pintu surga, memohon kesempatan kedua. Menatap langit dan menanti mukjizat. Entah apa namanya, tetapi Luhtitisari menyimpulkan keputusan ini adalah berpasrah pada kehendak Tuhan.

Terserah dan menuruti kemauan adiknya yang hendak membawa pulang Ibu.
“Cuiiiiittt... cuiiiiiittt... cuiiitttt....”
Malam itu suara burung emprit ganthil yang beterbangan di atas pemondokan Luhtitisari tidak hanya satu atau dua, tetapi sebuah rombongan besar. Seolah mereka mengerahkan seluruh pasukannya.

Ketika satu per satu mereka datang dan mencuit, Luhtitisari hanya menganggap angin lalu. Hanyalah kepercayaan yang tak masuk akal. Tetapi, mendengar suara cuitan dalam  jumlah besar, bulu kuduk Luhtitisari seperti berdiri semua. Merinding.

                    *****
Burung-burung itu menuntut Luhtitisari untuk melepaskan sesuatu.
Melepas tali pusat harapan yang tersambung pada jasad ibunya. Hati Luhtitisari berusaha memberontak, tetapi kekuatan itu sedemikian kuat. Seolah burung-burung akan terus beterbangan  makin banyak dan mencuit di atas pondokan memanggil kawan-kawannya yang lain.

Luhtitisari dihadapkan pada pasukan keberangkatan yang sedemikian besar dan kuat. Hatinya kian ciut. Ia lepaskan semua ketidakrelaannya dalam sebuah doa, “Tuhan, antarkan ibuku dengan selamat. Jauhkan ia dari siksa. Hal buruk apa pun yang dilakukannya di dunia terbalas berkali lipat atas cintanya kepada anak-anaknya.”
“Tuhan, ampuni ibuku dan biarkan aku selalu mendoakannya dalam hati. Izinkan aku menangisinya dalam  tiap detik hidupku, ketika aku mengingat ibuku. Betapa aku masih jauh dari sempurna untuk menjadi seorang ibu seperti dirinya. Lindungi ibuku Tuhan. Amin....”

“Cuiiiiiiiiit… cuittttt… cuitttttt….” Bersamaan dengan berakhirnya doa itu, secara misterius suara burung-burung emprit ganthil yang tadinya ramai di atas pondokan Luhtitisari, mulai berkurang. Aneh, satu per satu mereka pergi, beterbangan menjauh. Hingga akhirnya bubar sendiri.
Luhtitisari pun merasa lebih tenang, kopernya telah tertata rapi. Esok pagi ia akan berangkat dengan pesawat pertama. Kembali pada kehidupan yang sempat dilupakannya, kehidupannya sendiri.

                    *****
Seminggu setelah kepergian Luhtitisari, Halayuda masih merasa kecewa.
Gadis itu pergi begitu saja tanpa berpamitan atau mengatakan sesuatu. Seolah ia lenyap ditelan bumi.

Halayuda telah melihat perilaku Anggabaya yang dengan seenaknya hendak membawa pulang ibunya. Lelaki muda itu juga telah mengganti perawat Angger dengan perawat lain yang tak jelas. Yang mengakibatkan Angger marah besar.

Luhtitisari tutup telinga atas kekisruhan itu. Tak lagi mencampuri.
Anggabaya sibuk dengan segala persiapannya sendiri untuk segera mengeluarkan ibunya dari rumah sakit. Dengan penelusurannya sendiri atas keadaan ibunya, kemampuannya seolah mampu menandingi dokter-dokter yang ada di rumah sakit. Sehari-hari, ibunya ditinggalkan saja sendiri tergeletak bersama dengan perawat-perawat itu hingga kondisi sang ibu menurun tajam. Ia berkilah harus terus berbisnis.
Beberapa kali Anggabaya mencoba menghubungi Luhtitisari yang mengeraskan hati dan menutup mata. Ia tak mau lagi jadi bulan-bulanan adiknya. Memang Atmarantilah yang menjadi fokus perhatian Luhtitisari, tetapi selama Anggabaya selalu ada di sekitar Atmaranti, bagaikan emprit ganthil, ia tak sanggup mengurus ibunya. Terlalu banyak yang harus dikorbankan.

Dua minggu kemudian dalam kekacauan itu, Luhtitisari menerima kabar bahwa ibunya telah tiada.

Ia sama sekali tak menangis. Air mata dan kelelahannya telah habis pada saat-saat terakhir ia meninggalkan ibunya yang masih bernapas. Bagi Luhtitisari, tak ada yang tersisa selain kenangan betapa Atmaranti mempersembahkan hidup hanya untuk anak-anaknya hingga tetes darah terakhir.

Seluruh hak waris diminta paksa oleh Anggabaya.
Luhtitisari sama sekali tak mengurus lagi. Apa yang menjadi hak seseorang akan kembali pada dirinya. Jika tidak kembali, maka itu bukanlah haknya.
Dan ia yakin, hal sama akan berlaku pada Anggabaya. Jika itu semua adalah harta peninggalan milik Atmaranti dan direngkuh tanpa restunya, semuanya pasti akan habis dan hilang lenyap.

Apa artinya segudang harta jika nyawa ibu mereka pun tak mampu terbeli?
Baginya, semua sudah selesai. Kekerabatan yang ada sudah punah. Ia pernah memiliki ibu, yang kini telah mati dan ia pernah memiliki adik, tetapi itu bertahun yang silam. Kini ia hanya sebatang kara. Sendiri saja.

Di sebuah rumah sakit yang indah, Anggabaya berjabat tangan dengan Halayuda.
“Dokter, jenazah ibu saya akan saya bawa pulang sekarang, karena akan segera dimakamkan. Saya rasa biaya administrasi sudah saya lengkapi semua, Dok!”
Halayuda mencoba tersenyum tipis.

Ia sedikit merasa enggan pada adik gadis yang sempat dikaguminya. Pria ini menuntutnya untuk menyembuhkan sang ibu. Padahal ia dokter, bukan pembuat keajaiban. Seolah dengan besaran uang yang dibayarkan harus dipastikan bahwa ibu mereka sembuh persis seperti semula.

“Ya, sayang sekali ibu Anda harus kita relakan bersama. Sistem kekebalan tubuhnya sudah menurun drastis, tak memungkinkan lagi baginya untuk lebih lama bertahan. Karena tubuhnya sudah kian membengkak kekurangan protein.”
Anggabaya hanya diam  mendengar fakta itu.

Baginya, apa pun alasannya, yang penting dokter telah gagal memenuhi layanan jasa yang dibutuhkannya. Bagi Anggabaya semua hanya masalah jual-beli.
Setelah kepergian Anggabaya dan jenazah Atmaranti, Halayuda masih merenungkan keluarga itu. Keluarga yang sangat sepi dan hanya terdiri atas tiga orang. Ketika yang satu mati, yang tersisa pun seolah bercerai.

Hubungan kekerabatan itu punah dengan sendirinya. Tetapi ia mengerti, Luhtitisari berbeda dengan adiknya. Selain kesamaan DNA, tidak ada lagi yang menyatukan mereka. Kini rahim yang mengalirkan darah-darah pertama mereka pun telah mati. Menyatu dengan bumi.

“Cuiitttt… cuitttt… cuiitttt....” Halayuda mendengar cuitan itu, suara burung emprit ganthil yang malang. Yang selalu berusaha menjemput orang-orang untuk pulang.
Terlalu sering ia mendengar panggilan itu, baginya menjadi hal biasa. Tetapi, teringat awan mendung yang meliputi wajah keruh Anggabaya, Halayuda merasa merinding. Apakah ia juga akan….

Lelaki itu berbeda dengan kakaknya.
Wajah kakaknya selalu tersenyum dan tabah. Sekalipun panggilan-panggilan emprit ganthil membahana, berusaha membuka pintu alam yang lainnya, orang-orang pasti akan bertahan dengan adanya Luhtitisari di sisi mereka. Seperti sang ibu yang lama bertahan karena digenggam erat oleh gadis itu.

“Cuitt… cuiitt… cuiitttt….” Suara emprit ganthil mengiringi langkah Halayuda ke pasien berikutnya. Lelaki tua yang stroke pada batang kepalanya.
Akh.... Burung-burung itu, tak lelahnya mereka memanggil  siapa saja. Siap atau tidak... bukan masalah.  (Tamat)

Josephine Winda




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?