<<<<<<< Cerita Sebelumnya
Kisah sebelumnya
Salira, seorang mantan penyanyi cilik tenar yang kemudian menjadi penulis, sedang menulis novel terbarunya. Betapa terkejutnya ia ketika mendapatkan berita kematian mendadak Assara, penulis ternama yang juga sahabatnya. Dia pun mengunjungi apartemen Assara dan menemukan buku di sana. Namun, kematian Assara sepertinya membawa pengaruh yang besar bagi hidup Salira.
Namun Salira tahu, pulang ke rumah masa kecilnya mungkin bisa sedikit menenteramkan hatinya. Ada ayah dan ibunya yang selalu menjaganya. Dan ia bisa pula menceritakan hal-hal yang selama ini disimpannya rapat-rapat. Maka, tanpa menunda lagi, Salira segera menelepon ibunya untuk mengabari.
“Mungkin, besok, Bu. Sore ini aku masih ada wawancara,” jawabnya, saat ibunya menanyakan waktunya.
Untuk mengusir waktu, Salira menyalakan laptop-nya. Dibuka e-mail. Ada satu notification tentang sebuah komentar di web-nya.
Salira pun segera masuk ke sana. Seseorang dengan nama akun wartawan.wai ternyata menulis panjang sekali di salah satu kotak komentar.
Saya baru saja selesai membaca novel Mbak. Dan saya sangat terkejut. Setahun yang
<<<<<<< Cerita Sebelumnyalalu, saya pernah mewawancarai Assara beberapa hari sebelum kejadian tragis yang menimpanya. Ia adalah seorang kawan yang sudah saya kenal sejak lama, sehingga kami seperti mengobrol saja kala itu.
Tapi, fokus saya saat itu sebenarnya hanya mewawancarai tentang proses kreatifnya. Maka, di akhir wawancara saya tanyakan satu pertanyaan sebagai penutup; apa yang sedang ia tulis sekarang? Dan jawabannya tentu bisa kita duga; ia sedang menyelesaikan novelnya.
Saya tahu, Mbak mengenal Assara dengan baik. Jadi Mbak pasti juga tahu bila ia adalah seorang yang suka sekali bercerita. Tanpa saya minta, ia dengan lancar menceritakan novel yang tengah dibuatnya. Dan ceritanya menurut saya cukup detail.
Saya masih ingat sekali judulnya; Kisah-Kisah Tak Terduga di Kota yang Murung. Sungguh, awalnya saat saya membaca judul novel Mbak, saya hanya tergelitik saja. Kisah-Kisah Tak Terduga di Katmandu yang Murung. Rasanya ada kemiripan, bukan? Namun saya jadi terkejut, saat saya mulai membaca novel Mbak. Sungguh, saat itu saya langsung teringat dengan semua cerita Assara waktu itu.
Hampir seluruh alur novel ini sama persis seperti yang diceritakan Assara kepada saya. Sungguh, bukankah aneh seorang penulis memiliki ide yang sama? Terutama di beberapa bagian detail yang seharusnya berbeda?
Jadi, jangan salahkan saya bila kemudian saya jadi menduga-duga. Karena semua orang tahu, bila Mbak adalah satu-satunya sahabat Assara yang diketahui publik. Dan bila kepada saya yang hanya berteman secara profesional saja ia menceritakan begitu detai apa yang sedang ditulisnya, saya tentu akan mudah menduga, ia pun melakukan hal yang sama terhadap Mbak.
Tapi, saya masih mencoba tak mau gegabah menuduh Mbak begitu saja. Maka, saya pun mencari novel Mbak sebelumnya. Saya bandingkan tulisan Mbak di situ dengan novel ini. Dan sungguh, saya, dan tentu orang lain, akan langsung mendapatkan perbedaan yang mencolok dari keduanya.
Saya harap Mbak mau menjelaskan tentang ini semua!
Salira terpaku. Dadanya seketika terasa sesak. Tangannya gemetar. Ia hanya bisa menutup laptop-nya saja, sesuatu yang sebenarnya dirasakannya bodoh.
Tiba-tiba ia teringat pada wanita berwajah dingin yang meminta tanda tangannya di saat terakhir itu….
Terima kasih. Saya suka dengan novel ini. Entah kenapa judulnya seperti terdengar tak asing. Kisah-Kisah Tak Terduga di Katmandu yang Murung, hmmm… sepertinya pernah ada, ya, novel dengan judul seperti ini?
Ya, Tuhan apakah ini wanita itu?
Salira segera mengambil ponselnya. Ingin sekali ia menelepon Mbak Ivet. Tapi, kejadian seperti ini dulu sudah pernah dialaminya, dan Mbak Ivet hanya menjawabnya dengan santai, “Jangan terlalu kau pikirkan soal seperti itu. Kau tahu kan makin terkenal seseorang, makin banyak ia mendapat cercaan. Apalagi sudah kukatakan berulang kali, bila seseorang siap menerima pujian, ia juga harus siap menerima cacian.”
Jadi yang dilakukan Salira hanya menenangkan dirinya sesaat, sebelum membuka lagi laptop-nya dan menghapus komentar itu.
Setelah itu, ia mematikan laptop-nya cepat-cepat.
***
Detik-detik yang bergerak kemudian terasa makin menakutkan bagi Salira. Terlebih saat wartawan dari majalah wanita itu datang ke apartemennya. Ia sebenarnya tampak sangat biasa, seperti layaknya wartawan yang sudah mewawancarainya selama ini. Namun, saat ia mengenalkan dirinya, Salira langsung merasa gamang.
Namanya Waira. Sungguh, nama ini langsung mengingatkan Salira pada nama akun yang memberi komentar di web-nya tadi: wartawan.wai.
Sampai beberapa pertanyaan diajukan, Salira tetap tak bisa fokus. Ia terdiam cukup lama. Kalaupun menjawab, jawabannya kerap tak sesuai dengan pertanyaannya.
Waira pun segera menyadari keadaan ini. Sambil tersenyum, ia menyentuh tangan Salira dengan lembut, “Kalau Mbak sedang tak sehat, saya bisa datang lain waktu.”
Salira tak butuh waktu lama untuk mengangguk.
“Maafkan saya, pikiran saya mendadak tak fokus.” Ia cepat-cepat bangkit dan mengantar Waira ke pintu.
“Maafkan saya.” Lalu, tanpa menunggu jawaban Waira, ia menutup pintu.
Di balik pintu tubuhnya luruh. Ia menangis tersedu-sedu. Penyesalan kali ini berada di puncaknya. Berkali-kali bibir Salira bergerak mengucapkan kata maaf untuk Assara. Sampai lama seperti itu. Sampai ia kemudian tertidur.
Salira terbangun saat lampu telah terasa gelap. Ternyata ia tertidur cukup lama. Namun, saat ia mulai bangkit berdiri, saat itulah ia mulai merasakan sesuatu hadir di ruangan apartemennya.
Matanya mulai melihat semacam bayang-bayang tak jauh dari dirinya berdiri. Bayangan seperti tubuh Assara yang tengah duduk di kursi kerjanya.
Melihat itu, tubuh Salira mengejang sesaat, untuk kemudian bergetar hebat. Napasnya seakan tertahan di tenggorokan, seakan lidahnya terpotong hingga sebuah kata pun tak bisa diucapkannya.
Namun, Salira masih mencoba menguatkan hatinya untuk menggerakkan tangannya meraih saklar lampu. Dan saat lampu menyala, Salira tak menjumpai siapa pun di situ.
***
Tapi, ketakutan itu tak selesai di situ. Saat jarum pendek jam menuju ke angka 12, Salira kembali mengalami puncak ketakutannya. Entahlah saat itu ia sebenarnya merasa telah tidur, namun entah kenapa, ia masih merasa sadar dan berada di ruangan apartemennya.
Awalnya tak ada yang terjadi. Kamarnya tetap hening dan sepi. Suara kulkas yang menderu sesekali mengejutkannya. Detik jam di ruang tengah tak berhenti berdetak.
Tak tak tak tak tak tak….
Tak tak tak tak tak tak….
Suara itu lama-kelamaan seperti melenakannya. Ia nyaris tak lagi ingat semuanya. Namun, di saat keadaan itu begitu melenakannya, ia tiba-tiba mulai melihat lagi bayang-bayang seperti sosok Assara benar-benar duduk di kursi kerjanya. Dan sama seperti saat itu, ia pun kini sangat ketakutan. Tapi ternyata, berbeda dengan beberapa jam lalu, kali ini bayang-bayang itu dilihatnya berdiri dan mendekat kepadanya.
Salira nyaris berteriak. Namun, ketakutannya telah membuat tenggorokannya kering, hingga suaranya pun lenyap dengan sendirinya.
Aku hanya ingin bicara denganmu.
Assara terus berjalan mendekat ke arah Salira.
Kau tahu apa yang sudah kau lakukan sangat menyakitiku?
Salira hanya bisa melangkahkan kakinya mundur dengan gemetar, selangkah demi selangkah. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Yang kau dapatkan ini, seharusnya menjadi milikku!
Salira tak lagi bergerak. Tembok telah menahan tubuhnya. Jadi ia pun meluruhkan tubuhnya perlahan ke lantai. Di situ ia menundukkan tubuh, dan mulai menangis tersedu-sedu. “Maafkan aku Assara…. Maaafkan aku…. Bila waktu bisa kuputar, aku tak akan melakukan ini semua….”
Dan bayang-bayang Assara itu kini telah berdiri begitu dekat dengan Salira. Bentuknya bukan lagi berupa bayang-bayang, namun benar-benar sosok tubuh yang dikenal Salira selama ini.
Tentu saja aku akan memaafkanmu, Salira. Kita adalah sahabat, bukan?
Salira menelan ludah tak percaya. Namun, ia lega mendengar ucapan Assara. Ia ingin sekali mengucapkan terima kasih. Tapi bibirnya kembali kelu, tak bisa mengeluarkan suara apa pun.
Tapi, kau harus melakukan sesuatu untukku!
Salira mencoba membasahi tenggorokannya. ”Apa itu? Aku akan melakukan apa saja untuk menebusnya!”
Senyum Assara tampak merekah.
Benarkah?
“Ya, tentu.”
Aku ingin kau membuka jendela ini! Aku ingin kau mengambilkan sesuatu di luar sana!
Salira terdiam. Ia melirik ke arah jendela. Itu adalah jendela utama di apartemen ini. Lebarnya 1 x 2 meter, dan jumlahnya berdempetan 3 sekaligus.
Sejenak Salira tampak ragu. Tak ada apa-apa lagi di balik jendela itu. Jendela ini langsung berhadapan dengan ruang terbuka.
Kau tak keberatan, ‘kan?
Salira tak menyahut. Ia sebenarnya ingin bertanya apa yang harus diambilnya di balik jendela? Namun, mendengar pertanyaan lanjutan itu, ia tak mengindahkan pertanyaannya sendiri.
Dengan tubuh yang gamang, Salira mulai berdiri dan melangkah mendekati jendela. Dengan menaiki kursi, mulai dibukanya gerendel jendela yang sudah tampak berkarat karena tak pernah dibuka sebelumnya. Setelah itu, mulai didorongnya jendela untuk membukanya.
Sejenak Salira merasakan angin keras mengembus ke tubuhnya. Ia menoleh ke belakang. Tapi, kini ia tak melihat lagi sosok Assara. Namun bisikannya, entah kenapa, seperti masih bergema di kepalanya.
Aku ingin kau mengambil buku catatan milikku di sana!
Dan entah kenapa, Salira mengangguk saja. Ia seperti tak mengingat bahwa buku itu pernah dibakarnya beberapa bulan lalu. Tanpa bertanya lagi, ia sudah membawa tubuhnya ke ambang jendela.
Sejenak dari situ, Salira memandang sekelilingnya. Awan putih yang bergumpal-gumpal dan burung-burung kecil yang beterbangan dengan cepat, tampak menyita matanya sejenak. Baru kemudian beberapa gedung-gedung tinggi yang berderet, tak kalah tinggi darinya, mendominasi pandangannya. Dan di akhir pandangannya, ia melihat jalanan dan mobil-mobil yang tampak lebih kecil jauh di bawah sana.
Sama sekali tak dijumpainya sebuah buku pun di situ.
Saat Salira akan menoleh ke belakang untuk menanyakan di mana buku yang harus diambilnya, barulah ia melihat sebuah buku, buku yang persis sama seperti buku catatan milik Asssra, melayang perlahan di dekatnya, bagai seekor burung besar yang lamban.
Lalu tanpa sadar, Salira sudah melangkahkan kakinya untuk meraihnya….
***
Hari itu, telepon panjang tak henti-henti berdering di kamar Salira. Embusan angin juga tak henti-henti menerbangkan barang-barang yang ringan di apartemen Salira.
Di bawah sana, suara sirene ambulans terdengar terburu-buru. Sesosok tubuh baru saja ditemukan remuk di bawah apartemen. Menghancurkan paving-paving segilima di bawahnya.
Itu adalah tubuh milik Salira.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Sahara, tetangga apartemen Salira membantu mengemasi barang-barang milik Salira. Ia sudah dimintai tolong oleh keluarga Salira untuk melakukan itu, dan menyanggupinya dengan senang.
Saat memberesi laci-laci meja Salira, Sahara tanpa sengaja menemukan sebuah surat dengan amplop putih di sela-sela meja dan tembok. Tampaknya, Sahara menebak-nebak, surat ini tanpa sengaja terjatuh dari meja.
Sekilas Sahara membaca tulisan di depan amplop itu.
Kepada Sahabatku, Salira.
Lalu dengan sedikit ragu-ragu ia mulai membuka surat itu dan membacanya...
Kepada Sahabatku, Salira.
Bila surat ini sampai padamu, itu artinya ada sesuatu yang menimpa diriku.
Aku berterima kasih selama ini kau telah mau menjadi sahabatku. Aku tahu, kalau diriku bukanlah orang yang menyenangkan. Tapi sungguh, itu semua kulakukan karena sebuah alasan.
Jujur saja, aku menyimpan sebuah rahasia besar yang sangat mengerikan. Dan rahasia ini menyangkut dengan apa yang sudah kuraih sekarang.
Aku adalah penulis yang terlalu memaksa diri. Karena sebenarnya aku tak terlalu berbakat ada di bidang ini. Aku bahkan sangat payah. Kau pasti masih mengingat bukan tulisan-tulisan pertamaku saat kita baru berkenalan dulu?
Kalau kau mengingatnya, kau pasti bertanya-tanya dalam hatimu, bagaimana bisa aku menulis sebaik ini sekarang? Dan itulah rahasia yang akan kuceritakan padamu.
Selama ini tanpa kau tahu, aku sebenarnya memang mencari orang pintar untuk membantuku. Entah bagaimana caranya. Dari sekadar doa, sampai meminum air yang sudah diberi doa. Hingga suatu saat, seorang kenalanku mengatakan seorang pintar di sebuah kota. Maka aku pun mendatanginya. Dari dialah aku mendapatkan buku catatan, yang kau tahu menjadi tempatku menulis draft-draft novelku. Kata orang pintar itu, ‘apa yang aku tulis di sini, akan diberkahi.’
Aku sebenarnya tak percaya sepenuhnya. Tapi bukankah aku sudah melakukan semua ikhtiar untuk ini? Jadi apa salahnya melakukan juga dengan yang ini?
Dan ternyata ucapan orang pintar itu benar. Entah mengapa, tiba-tiba aku merasa dapat menulis dengan baik. Semua yang kupikirkan mengalir begitu saja dengan ringan, layaknya air yang mengalir. Bahkan dalam kondisi aku tak terlalu berpikir dengan baik pun, semua yang kutulis di buku itu tetap terasa tampak baik.
Maka itulah, aku menebak ada sesuatu yang entah apa, telah membantuku untuk itu. Karena kadang, saat aku merasa telah sangat lelah, tanganku tetap saja bergerak menulis apa yang kupikirkan.
Sungguh, ini bukan sekadar omong kosong. Kau bisa melihatnya sekarang, bukan? Semua yang kutulis, kemudian bisa memukau siapa saja? Novel-novelku semuanya berhasil di pasaran, dengan penjualan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Tapi, aku sadar sekali, bila semua ini tidaklah kudapat dengan cuma-cuma. Sejak kesuksesan itu, aku mulai dibayangi dengan mimpi-mimpi yang mengerikan. Seakan-akan ada sesuatu, yang entah apa, terus mengejar-ngejar ke mana pun diriku berada. Dan itu membuatku sangat ketakutan.
Lama-kelamaan, aku tak lagi bisa membedakan mimpi dan kenyataan. Karena keduanya mampu berlangsung dalam begitu nyata. Dan saat itulah, aku tahu, kalau inilah yang harus kubayar.
Jadi, bila ada hal buruk yang menimpaku kelak, itu adalah sesuatu yang harus kuterima atas semua ini. Kau tak perlu menyangsikannya lagi.
Akhir kata, aku berharap kau mau membantuku untuk terakhir kalinya dengan melenyapkan buku ini sesegera mungkin.
Aku tak ingin ada korban lagi selain aku.(f)
Salam sayang,
Assara
>>>>>>> Cerita Selanjutnya
************
Yudhi Herwibowo
Yudhi Herwibowo




