Event
15 Penulis Emerging yang Akan Tampil di Ubud Writers & Readers Festival 2017

25 Jul 2017


Foto: Dok. UWRF

Meneruskan tradisi di Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) yang telah berlangsung sejak tahun 2008, UWRF 2017 kembali memilih 15 penulis emerging dari penjuru nusantara untuk ikut bergabung dan tampil di perhelatan sastra dan seni internasional terbesar di Asia Tenggara yang akan hadir pada 25-29 Oktober 2017. Emerging adalah istilah yang dipilih oleh UWRF untuk menggambarkan para penulis yang memiliki karya berkualitas tetapi belum memiliki kesempatan untuk mempublikasikan karyanya.

Selama masa seleksi yang dibuka dari Desember 2016 hingga Februari 2017, terkumpul 913 karya dari 711 penulis dari Sabang sampai Merauke serta beberapa negara lainnya. Karya-karya tersebut terdiri dari puisi, cerpen, novel, esai, non fiksi, naskah drama dan jenis karya sastra lainnya. Terbanyak adalah cerpen dan puisi.

Butuh jalur panjang seleksi dari mulai seleksi ketat oleh I Wayan Juniarta, National Program Manager UWRF, yang memilih karya untuk dimasukkan dalam daftar panjang, hingga kurasi oleh tim kurasi yang beranggotakan tiga penulis, jurnalis, dan penyair kawakan Indonesia, yaitu Seno Gumira Ajidarma, Leila S. Chudori, dan Warih Wisatsana.

“Banyak karya-karya yang masuk adalah penulisan metasastra, mengambil tema-tema yang mempersoalkan sastra dan bahasa, dan ini sangat menarik karena berarti penulis-penulis muda Indonesia mulai banyak mengulik mengenai persepsi kecendekiaan.” ujar Seno Gumira Ajidarma.

Dan, 15 penulis terpilih yang akan duduk bersama penulis-penulis pemenang penghargaan di UWRF 2017 mendatang adalah Abdul Azis Rasjid (Banyumas), Ade Ubaidil (Cilegon), A. Nabil Wibisana (Kupang), Aksan Taqwin Embe (Tangerang), Bayu Pratama (Mataram), Erich Langobelen (Maumere), Ibe S. Palogai (Makassar), Mohammad Isa Gautama (Padang), Morika Tetelapta (Ambon), M. Subhan (Padang), Na’imatur Rofiqoh (Ponorogo), Rahmat Hidayat Mustamin (Makassar), Rizki Amir (Sidoarjo), Taufiqurrahman (Yogyakarta), dan Seruni Unie (Surakarta).

Yang menarik, tahun ini jumlah penulis terpilih yang berasal dari Indonesia Timur berjumlah 6 penulis. Selain itu, para penulis tersebut  juga datang dari berbagai macam latar belakang, mulai dari mahasiswa dan guru, hingga jurnalis, buruh mebel, dan nelayan. Keberagaman ini tentunya menghasilkan karya-karya yang menarik.

Menurut Warih Wisatsana, penulis dan penyair, karya-karya yang lolos mengambil tema kehidupan sehari-hari. “Inilah karya sastra yang sesungguhnya, sangat menarik membaca karya mengenai kehidupan di daerah yang cukup terpencil,” katanya.

Bagi 16 penulis emerging akan berkumpul di Ubud untuk berpartisipasi dalam UWRF 2017 dan tampil dalam forum-forum diskusi sastra berdampingan dengan para penulis internasional. Selain itu, karya-karya yang telah terpilih tersebut akan diterjemahkan ke bahasa Inggris dan diterbitkan dalam buku Anthology 2017.

Meneruskan tradisi di Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) yang telah berlangsung sejak tahun 2008, UWRF 2017 kembali memilih 15 penulis emerging dari penjuru nusantara untuk ikut bergabung dan tampil di perhelatan sastra dan seni internasional terbesar di Asia Tenggara yang akan hadir pada 25-29 Oktober 2017. Emerging adalah istilah yang dipilih oleh UWRF untuk menggambarkan para penulis yang memiliki karya berkualitas tetapi belum memiliki kesempatan untuk mempublikasikan karyanya.

Selama masa seleksi yang dibuka dari Desember 2016 hingga Februari 2017, terkumpul 913 karya dari 711 penulis dari Sabang sampai Merauke serta beberapa negara lainnya. Karya-karya tersebut terdiri dari puisi, cerpen, novel, esai, non fiksi, naskah drama dan jenis karya sastra lainnya. Terbanyak adalah cerpen dan puisi.

Butuh jalur panjang seleksi dari mulai seleksi ketat oleh I Wayan Juniarta, National Program Manager UWRF, yang memilih karya untuk dimasukkan dalam daftar panjang, hingga kurasi oleh tim kurasi yang beranggotakan tiga penulis, jurnalis, dan penyair kawakan Indonesia, yaitu Seno Gumira Ajidarma, Leila S. Chudori, dan Warih Wisatsana.

“Banyak karya-karya yang masuk adalah penulisan metasastra, mengambil tema-tema yang mempersoalkan sastra dan bahasa, dan ini sangat menarik karena berarti penulis-penulis muda Indonesia mulai banyak mengulik mengenai persepsi kecendekiaan.” ujar Seno Gumira Ajidarma.

Dan, 15 penulis terpilih yang akan duduk bersama penulis-penulis pemenang penghargaan di UWRF 2017 mendatang adalah Abdul Azis Rasjid (Banyumas), Ade Ubaidil (Cilegon), A. Nabil Wibisana (Kupang), Aksan Taqwin Embe (Tangerang), Bayu Pratama (Mataram), Erich Langobelen (Maumere), Ibe S. Palogai (Makassar), Mohammad Isa Gautama (Padang), Morika Tetelapta (Ambon), M. Subhan (Padang), Na’imatur Rofiqoh (Ponorogo), Rahmat Hidayat Mustamin (Makassar), Rizki Amir (Sidoarjo), Taufiqurrahman (Yogyakarta), dan Seruni Unie (Surakarta).

Yang menarik, tahun ini jumlah penulis terpilih yang berasal dari Indonesia Timur berjumlah 6 penulis. Selain itu, para penulis tersebut  juga datang dari berbagai macam latar belakang, mulai dari mahasiswa dan guru, hingga jurnalis, buruh mebel, dan nelayan. Keberagaman ini tentunya menghasilkan karya-karya yang menarik.

Menurut Warih Wisatsana, penulis dan penyair, karya-karya yang lolos mengambil tema kehidupan sehari-hari. “Inilah karya sastra yang sesungguhnya, sangat menarik membaca karya mengenai kehidupan di daerah yang cukup terpencil,” katanya.

Bagi 16 penulis emerging akan berkumpul di Ubud untuk berpartisipasi dalam UWRF 2017 dan tampil dalam forum-forum diskusi sastra berdampingan dengan para penulis internasional. Selain itu, karya-karya yang telah terpilih tersebut akan diterjemahkan ke bahasa Inggris dan diterbitkan dalam buku Anthology 2017. (f)
 

Faunda Liswijayanti


Topic

#penulisindonesia

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?