Profile
Silvia Halim, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta dan Ribuan Tantangan untuk Membangun MRT Jakarta

27 Aug 2019

Dok: Femina

Ada yang baru di Jakarta sejak awal tahun ini, apalagi kalau bukan moda transportasi MRT yang mulai resmi beroperasi sejak diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Kecepatan dan ketepatanw aktu yang diberikan MRT, kini membuat transportasi yang menjalani rute Bundaran HI - Lebak Bulus ini menjadi alternatif transportasi untuk warga Jakarta di wilayah Selatan. Kemacetan, derita yang tak tertanggungkan, menemukan solusinya bagi mereka yang memburu waktu.

Ketika pemerintah DKI dengan dukungan Pemerintah Pusat akhirnya resmi memulai proyek pembangunan MRT Jakarta (saat ini fase 1), ini menjadi angin segar yang memberikan harapan besar akan transportasi massal yang layak bagi kota yang dihuni 8 juta jiwa ini.


Di balik proyek ikonis ini, Silvia Halim (35) yang bertanggung jawab untuk pembangunannya. Sebagai Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, ia nyaris tak pernah istirahat, 24/7. Bahkan, hingga proyek ini mulai resmi beroperasi Maret 2019, ia tidak mengagendakan waktunya untuk liburan!

Sebagai direktur konstruksi, Silvia mengomandani 8 kontraktor, 6 kontraktor mengerjakan konstruksi untuk railway
system, pemasangan track, persinyalan, serta 1 kontraktor untuk supply kereta. “Untuk yang supply kereta hanya dikerjakan oleh kontraktor dari Jepang, tapi 6 lainnya merupakan konsorsium lokal dan Jepang. Mengapa Jepang, karena mereka yang memberikan loan untuk proyek ini,” jelasnya. 

Pekerjaan underground yaitu pembangunan stasiun bawah tanah dan pemasangan tunnel, serta pekerjaan elevated, yang terdiri atas pembangunan stasiun layang dan viaduct jalur keretanya menjadi tanggung jawab Silvia dan timnya.

Sebagai informasi, untuk MRT Jakarta fase 1, ada 7 stasiun layang, yaitu dari Stasiun Lebak Bulus sampai Stasiun Sisingamangaraja, dan 6 stasiun bawah tanah, yaitu dari Stasiun Senayan sampai Stasiun Bundaran HI.

Apa yang dihadapi Silvia di lapangan sungguh tidak gampang. Sama seperti proyek-proyek infrastruktur besar lain, tantangan terbesar yang dihadapi adalah masalah pembebasan lahan. “Proses pembebasan lahan di sini panjang dan lama. It’s a real problem,” katanya, serius.

Sebagai contoh, proyek yang sudah dimulai sejak tahun 2013 ini, baru berhasil membebaskan nyaris semua lahan akhir tahun lalu. Ya, nyaris semua, karena hingga kini masih ada dua titik penting yang lahannya belum terbebaskan. “Jadi, memang ada satu stasiun yang harus kita declare tidak bisa diselesaikan bersamaan dengan beroperasinya MRT pada Maret 2019, yaitu Stasiun Haji Nawi,” katanya.

Pemilik lahan tersebut sampai sekarang belum mau melepaskan tanah mereka karena tidak setuju dengan harga yang ditawarkan oleh Pemprov DKI. “Saat ini prosesnya masih saling menggugat di pengadilan,” kata Silvia, sambil mengatakan bahwa dibutuhkan aturan dan sistem yang jelas untuk mendukung proyek-proyek infrastruktur agar berjalan lancar sekaligus menjaga fairness bagi masyarakat.

Kesemrawutan aturan yang saling tumpang tindih juga dihadapi ketika membuka tanah Jakarta, yang ternyata juga semrawut. Apa lagi kalau bukan utilitas berupa kabel-kabel yang saling centang perentang tanpa diketahui siapa pemiliknya.

“Kalau kita punya banyak utilitas di atas tanah, ternyata di bawah juga banyak, ha… ha… ha…,” katanya. Kalau tertanam dan bisa diidentifikasi lokasinya, ada gambarnya, dan pemiliknya jelas siapa, mungkin tidak terlalu masalah. “Tapi kenyataannya, ketika kami buka, wah, banyak yang tidak ada di gambar. Punya siapa, tidak ada yang mau ngaku. Ini adalah kendala nonteknis yang memengaruhi progresspekerjaan,” katanya.

Untuk utilitas yang tidak langsung bertabrakan dengan MRT, biasanya bisa digeser. Namun, bila utilitas itu bertabrakan langsung, maka harus dipindahkan. Persoalannya, pemindahan tidak bisa dilakukan oleh pihak MRT. Sesuai peraturan pemerintah, memindahkan utilitas proyek pemerintah harus dikerjakan oleh pemilik utilitas.

“Karena itu, kami harus melakukan banyak koordinasi dengan pemilik utilitas tersebut, dan tentu saja ini memakan waktu juga, apalagi kalau tidak ketahuan siapa pemiliknya,” ujarnya, tanpa nada mengeluh.

Semua tantangan yang dihadapi itu, menurut Silvi, menjadi pembelajaran ke depan. Soal utilitas misalnya, dari yang ia alami saat ini, ke depannya, untuk proyek MRT fase selanjutnya, pihaknya perlu berkoordinasi dengan berbagai pihak, agar tidak lagi terjadi saling menunggu yang akhirnya mengganggu kelancaran pekerjaan.

Bekerja di bidang yang masih didominasi pria tidak membuat Silvi membatasi diri hanya karena dirinya wanita. “Tentu diskriminasi tetap ada. Contohnya, dulu ketika masih menjadi insinyur muda dan harus berhadapan dengan kontraktor, mereka sempat memandang rendah karena saya seorang wanita, masih muda pula, bisa apa?” katanya.


Silvi tidak terintimidasi. Ia mengatakan bahwa cara menghadapi diskriminasi seperti itu adalah dengan fokus saja pada pekerjaan.

“Sebagai engineer, tugas saya apa. Ya sudah, kerjakan saja tugasnya. Biarkan hasil kerja sebagai bukti. Setelah saya melewati hal itu ya itu just flow,” kata penyuka jogging ini.

Menurutnya, pekerjaan itu tidak mengenal gender, karena dikerjakan oleh pria maupun wanita, tantangan yang dihadapi sama. “Jadi, fokus saja pada pekerjaan, let outcome be the voice. Kalau misalnya ada orang yang meragukan, lihat saja pada hasilnya,” ujarnya, seraya bersyukur bahwa selama ia bekerja lebih banyak menemui orang yang bekerja dengannya tidak mempermasalahkan gender.

Interaksi Silvi di lapangan dengan para pekerja konstruksi juga dengan staf-nya di kantor, membuat alumnus SMA Don Bosco II Pulo Mas, Jakarta ini terlihat sebagai sosok yang membumi. Ia terlihat bisa luwes menempatkan diri, dan tidak membentangkan jarak yang membuatnya sulit dijangkau.

Padahal, ketika tahun lalu ia menerima pekerjaan sebagai Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, keputusannya itu dipertanyakan banyak orang, termasuk teman-teman dekatnya. Maklum, sebelum pulang ke Jakarta, Silvi bisa dibilang sudah enak dan nyaman dengan posisinya sebagai Project Manager Road Projects Group, Land Transport Authority (LTA), Singapore.

“Di sana, segala sesuatu sudah teratur dan sudah ada SOP-nya. Namun, saya melihat ini adalah proyek menantang. Dampaknya besar bagi masyarakat. Ketika saya di LTA, sebagai PNS Singapura, saya dibangun oleh ide-ide tentang public service yang benar-benar harus mempunyai impact ke masyarakat. Jadi, kalau ingin membuat perbedaan di masyarakat dengan proyek yang kita kerjakan, ya, di sinilah tempat memenuhi kriteria tersebut,” kata wanita kelahiran Jakarta yang pernah menghabiskan sebagian masa kecilnya di Palembang ini.

Karena itu, tak pernah ada kata ragu bagi Silvi untuk pulang kampung. Menurutnya, jika ingin bertumbuh dan berkembang, seseorang tidak bisa terus-menerus berada di comfort zone. Justru ketika seseorang menceburkan dirinya ke hal-hal yang sulit, maka ia akan menemukan kekuatan dan kelemahannya sekaligus sehingga ia bisa terus berkembang. Meski, katanya, teman-temannya memberikan deskripsi yang minor mengenai cara bekerja orang Indonesia.

“Ya, harus diakui, reputasi cara kerja orang Indonesia dianggap buruk, karena dianggap lambat dan selalu on time alias tidak mau banyak lembur. Tapi, begitu saya bekerja dengan rekan-rekan di sini, semua anggapan itu salah,” ujarnya, sambil menyebut, MRT Jakarta dikerjakan oleh tim yang kompeten dan tidak hitung-hitungan dengan jam kerja.

Silvi mengakui, dirinya memang terbawa ritme kerja orang Singapura yang sangat kompetitif. “Saya tidak tahu, apakah itu baik atau buruk, tetapi seperti orang Singapura pada umumnya, saya agak-agak workaholic,” ujar lulusan insinyur sipil dari Nanyang Technological University, Singapura, ini sambil tertawa.

Silvi tahu, pekerjaannya saat ini memang menyita waktunya sedemikian banyak. Karena itu, ia tidak muluk-muluk menghabiskan me time (kalau bisa disebut me time, katanya).

“Ada waktu untuk tidak memikirkan sejenak pekerjaan, itu sudah cukup,” ujarnya, lagi-lagi tertawa. “Paling kalau ada weekend yang agak longgar saya pergi ke Bali karena punya keluarga di sana, atau ke Singapura bertemu teman-teman,” ujarnya, ketika dipaksa memberi tahu bagaimana caranya menghabiskan waktu luang. (f)


Baca Juga: 
Lauren Gunawan, Wanita Pasukan Pengawal Bermotor Presiden Amerika Serikat Yang Bangga Berdarah Indonesia
Triesca Ariesandy Siap Menularkan Gaya Hidup Sehat
Rita Agustina, Menjalankan Peran Ibu dari Lapangan





 


Topic

#profil

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?