
Foto: UNICEF, YJI
Ibarat gula, keberadaan selebritas dalam acara-acara sosial kemanusiaan dan lingkungan memang cukup ampuh membuat masyarakat dan awak media ‘menyemut’, baik di lokasi kegiatan maupun di dunia maya. Benarkah popularitas mereka hanya menjadi bumbu pemanis dalam perjalanan mewujudkan harapan yang lebih baik?
Popularitas dan Sikap Positif
Belum sebulan setelah aktris Anne Hathaway diangkat menjadi Goodwill Ambassador oleh UN Women, informasi mengenai ketidaksetaraan kesempatan bagi ibu bekerja menjadi lebih mudah ditemukan di internet. Wanita, khususnya yang tinggal di 193 negara anggota PBB, setidaknya bisa lebih memahami istilah ‘penalti ibu’, yang didefinisikan Direktur Eksekutif UN Women, Phumzile Mlambo-Ngcuka, sebagai berkurangnya gaji dan kesempatan karier para wanita yang telah menjadi ibu di tempat kerja.
Bukan hanya di dunia maya, geliat niat baik juga dirasakan oleh anak-anak di lokasi bencana. Salah satunya, saat aktor Ferry Salim mengunjungi Aceh setelah bencana tsunami tahun 2004 sebagai Duta Nasional UNICEF Indonesia. Pada saat UNICEF bahu-membahu dengan para sukarelawan untuk membangun kembali sekolah-sekolah yang hancur diterjang ombak besar, Ferry bertugas membangkitkan kembali semangat hidup anak-anak korban bencana yang telah kehilangan keluarga. Anne dan Ferry tidak berjuang sendiri, ada organisasi-organisasi sosial yang mendukung mereka. Kenyataannya, kolaborasi selebritas dengan organisasi-organisasi kemanusiaan dan lingkungan ternyata sudah lama terjadi di berbagai belahan dunia, tepatnya sejak tahun 1954, jika merujuk pada catatan UNICEF.
Beberapa kolaborasi tersebut di antaranya adalah seniman multitalenta dari Amerika Serikat, Danny Kaye, aktris legendaris mendiang Audrey Hepburn, dan mantan pesepak bola asal Nigeria, Nwankwo Kanu, dengan UNICEF. Ada juga model dan Miss Universe Japan 2006, Kurara Chibana, dengan World Food Programme, Utusan Spesial UNHCR, Angelina Jolie, yang hidupnya sebagian besar dihabiskan bersama para pengungsi di seluruh dunia, dan model Indonesia, Davina Veronica, dengan World Wildlife Foundation, hingga aktris Chelsea Islan dengan Lovepink.
Keberadaan mereka sebagai duta tidak semata-mata karena popularitas, tetapi juga karena nilai-nilai kehidupan yang melatarbelakangi produktivitas mereka dalam berkarya. Menurut Jocelyne Daw dan Carol Cone dalam buku Breakthrough Nonprofit Branding: Seven Principles to Power Extraordinary Results, nilai-nilai kehidupan para duta tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman di benak masyarakat tentang visi dan misi organisasi, menumbuhkan ikatan emosional, dan menggerakkan keinginan untuk terlibat secara sukarela.
Seperti yang diungkapkan oleh Frieda Addienayuni, Private Sector Fundraising Specialist UNICEF Indonesia, mengenai kerja sama UNICEF dengan Ferry Salim yang sudah berlangsung selama hampir 12 tahun. Pada saat menjalankan tugasnya sebagai duta, misalnya saat sesi edukasi komunitas, Ferry biasanya juga menceritakan suka duka membesarkan ketiga anaknya.
“Khalayak pun bisa mengaitkan kehidupan mereka dengan pengalaman Ferry. Dengan begitu, kami berharap mereka bisa menangkap semangat hidup dan nilai-nilai baik yang turut kami tanamkan lewat kisah hidup Ferry,” ungkap Frieda.
Hal senada juga disampaikan perwakilan Bagian Komunikasi Informasi dan Edukasi Yayasan Jantung Indonesia (YJI), Rahmat Harman Pulungan. Yayasan yang bergerak di bidang kesehatan ini setia menggandeng selebritas cantik dan berprestasi, seperti Susan Bachtiar, model dan presenter, dan Zivanna Letisha Siregar, Puteri Indonesia 2008, untuk mewujudkan visi dan misi YJI.
“Kami melihat gaya hidup sehat serta pergaulan sosial mereka yang positif. Mereka juga rajin mengunggah cerita gaya hidup mereka di media sosial,” ujar Rahmat. Ia berharap, followers bisa tertular gaya hidup sehat mereka.
Jembatan Perubahan
Kalau hati masyarakat sudah tersentuh dan mereka bersedia terlibat secara sukarela, lalu apa lagi? Sst… jangan pandang sebelah mata kekuatan hati dan keikutsertaan yang terjadi secara sukarela. Jika digabungkan, kedua faktor itu bisa menjadi kekuatan besar untuk menciptakan perubahan. Hal itulah yang dirasakan Palang Merah Indonesia (PMI), khususnya untuk mendukung rencana pengesahan RUU Kepalangmerahan di Indonesia.
Menurut Kepala Seksi Humas PMI Jakarta Timur, Reza Prawira, rencana pengesahan tersebut sebenarnya sudah dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat pada tahun 2013. Namun, rencana tersebut gagal karena terjadi pergantian presiden. Padahal, RUU tersebut sangat dibutuhkan, bukan hanya untuk melindungi lambang PMI dari penyalahgunaan pihak yang tidak bertanggung jawab, tetapi juga melindungi para pekerja dan sukarelawan PMI saat bertugas di lapangan.
Kabar baik mulai berembus setelah PMI berhasil mengajak Acha Septriasa bergabung menjadi Relawan Nasional PMI, pada Maret 2016. Diakui Reza, komitmen aktris yang cerdas dan inspiratif seperti Acha untuk mendukung PMI dapat meningkatkan semangat kerja para anggota dan relawan PMI. Misalnya, meski tidak selalu bisa hadir secara fisik di kegiatan-kegiatan PMI, aktris lulusan Limkokwing University di Malaysia itu selalu menyempatkan diri untuk membuat video pendek yang mengajak rekan-rekan relawan lebih kompak.
Popularitas Acha dan kekompakan rekan-rekan relawan PMI rupanya turut membawa tagar #savePMI di media sosial menjadi trending topic. Keadaan tersebut, ditambahkan Reza, merupakan angin segar untuk perjuangan mereka dalam mengesahkan RUU Kepalangmerahan.
“Suara rakyat sangat berpengaruh. Dengan menjadi perbincangan di media sosial, apalagi sampai jadi trending topic, itu berarti desakan untuk para wakil rakyat di DPR untuk segera mengesahkan RUU itu makin bertambah,” papar Reza.
Kekuatan serupa juga terjadi di belahan bumi lainnya, tepatnya di Uni Emirat Arab (UEA). Pada Juli 2016, UN Women resmi berkolaborasi dengan pemerintah UEA untuk mendirikan kantor perwakilan UN Women di Abu Dhabi. Pemerintah UEA, yang diwakili oleh Assistant Minister for Legal Affairs, Abdulrahim Yousif Al Awadi, juga berkomitmen untuk mendukung kesetaraan gender dan pemberdayaan wanita lewat kampanye HeforShe yang diusung oleh UN Women.
Tak bisa dipungkiri, popularitas kampanye HeforShe memang terkait dengan reputasi Emma Watson. Aktris kelahiran Inggris tersebut didaulat menjadi duta kampanye HeforShe sejak Juli 2014. Lewat kampanye tersebut, pemeran tokoh Hermione dalam seri film Harry Potter ini menyuarakan kesetaraan gender bukan hanya masalah untuk wanita, tetapi juga untuk pria.
Tidak Instan
Popularitas memang menggiurkan. Namun, menggandeng selebritas menjadi duta atau perwakilan sebuah organisasi bukannya nihil risiko. Penelitian yang tercatat dalam International Journal of Business and Economic Development edisi Juli 2015 menunjukkan bahwa bentuk kolaborasi dengan selebriti juga memiliki risiko seperti pemberitaan negatif, sosok selebriti justru jadi lebih populer daripada organisasi itu sendiri, eksposure berlebihan, hingga beban biaya.
Untuk meminimalkan risiko tersebut, sebuah organisasi pada umumnya memiliki proses seleksi, tentunya sesuai dengan standar masing-masing. Seperti yang dialami Ferry Salim. “Sebelum dipilih, UNICEF meminta saya mengirimkan daftar riwayat hidup dan rencana ide saya untuk mendukung kesejahteraan anak di Indonesia. Proses screening itu berlangsung hingga dua bulan,” ujar aktor yang sudah menjelajah Sabang hingga Merauke untuk misi edukasi UNICEF, ini.
Setelah terpilih, seorang duta juga wajib menerima edukasi mengenai visi, misi, dan data terbaru secara berkala mengenai isu terkait dari pihak organisasi. Hal itu, menurut Frieda, sangat penting untuk menjaga keselarasan informasi yang akan disampaikan oleh duta. “Masyarakat biasanya lebih mendengar kata-kata yang diucapkan oleh selebritas. Jadi, duta tidak boleh salah menyampaikan key messages organisasi,” ujar Frieda.
Untuk memberikan informasi yang tepat dan seimbang, para duta juga biasanya didampingi oleh para pakar untuk tampil di acara-acara tertentu. Dijelaskan Rahmat, hal itu dilakukan oleh YJI karena tentunya seorang duta memiliki keterbatasan pemahaman jika sudah membicarakan masalah kesehatan yang terlalu detail.
“Misalnya, tentang proses pemulihan setelah seseorang terkena serangan jantung. Tentu akan lebih kompeten jika pakar kesehatan jantung yang secara langsung menjelaskan hal itu kepada masyarakat, dibandingkan dengan duta kami,” jelas Rahmat. Proses edukasi untuk para duta tersebut merupakan bentuk tanggung jawab organisasi kepada masyarakat.
Bagi para duta, tanggung jawab besar yang mereka pegang justru memberikan kebahagiaan sendiri ketika bisa membagi inspirasi sekaligus bisa mendengarkan langsung kisah-kisah mereka yang kurang beruntung “Waktu sekolah, saya pernah ikut kegiatan Palang Merah Remaja. Dari situ, saya belajar bahwa membantu orang lain itu rasanya bahagia. Makanya, sekarang saya berkomitmen membantu PMI,” ujar Acha. Kolaborasi ini sebenarnya sebuah simbiosis mutualisme antara organisasi dan selebritas. Sebab, popularitas dan ilmu pengetahuan sebenarnya hanya terasa manis jika dibagi, untuk kebaikan manusia, juga untuk alam semesta. (f)
Topic
#dutaorganisasi


