
Foto: Dok. The Body Shop Indonesia
“Ini Suaraku, Tubuhku, Otoritasku!” Alunan lirik itu dilantunkan oleh penyanyi Kartika Jahja membuka virtual conference sore 5 November 2020 lalu yang digelar The Body Shop. Namun kali ini bukan produk perawatan kulit dan tubuh terbaru yang dipresentasikan.
“Kami ingin DPR kembali meninjau dan secepatnya mengesahkan RUU PKS,” papar Suzy Hutomo Owner dan Executive Chairwoman The Body Shop Indonesia, mengawali konprensi. RUU PKS sendiri bertujuan mencegah segala bentuk Kekerasan Seksual; menangani, melindungi dan memulihkan Korban; menindak pelaku; dan menjamin terlaksananya kewajiban negara, peran keluarga, partisipasi masyarakat, dan tanggung jawab Korporasi dalam mewujudkan lingkungan bebas Kekerasan Seksual. Pada jangka panjangnya aktivasi Undang-Undang ini meliputi penyelenggaraan Pencegahan dalam bidang pendidikan, infrastruktur, pelayanan publik dan tata ruang, pemerintahan dan tata kelola kelembagaan, ekonomi, sosial dan budaya. RUU PKS akan menjadi payung hukum yan penting terutama bagi perempuan dan anak-anak.
Sayangnya, RUU Penghapusan Kekerasan Seksual ini pada 1 Juli 2020 lalu dikeluarkan dari Prolegnas, menjadikan perjuangan berbagai LSM dan komunitas penyintas kekerasan seksual terpukul mundur. Dengan masa bakti anggota legislatif yang kini telah memasuki tahun ke-2 justru mengeluarkan RUU-PKS yang telah menjadi fokus bahasan sejak tahun 2016 itu, tidak menutup kemungkinan bahwa RUU ini dapat tersingkirkan sepenuhnya. Melihat waktu yang tersisa dengan memperhitungkan program kerja tahun mendatang akan terfokus pada pemulihan negara, maka komunitas dan LSM melihat adanya kebutuhan dalam bentuk nyata untuk bergerak.
Masa pandemi yang memaksa kita harus setia di rumah saja ini pun bukan hal yang menyenangkan bagi korban. UNFPA memperkirakan pada tahun 2020 ada sekitar 15 juta tindak kekerasan dalam rumah tangga. Di Indonesia sendiri, jenis kekerasan terhadap perempuan yang paling menonjol adalah KDRT/RP (ranah personal) sebesar 75% (11.105 kasus), 43% merupakan kekerasan fisik disusul dengan 25% menjadi korban kekerasan seksual. “Saya pun merupakan penyintas kekerasan,” lanjut Suzy Hutomo dalam presentasinya.
Perjuangan panjang dan berat ini tak bisa dilalui sendirian, sebagaimana penyintas yang butuh pendampingan, The Body Shop menggandeng Yayasan Pulih dan Magdalene dalam kampanye ‘TBS Fights For Sisterhood’ yang bertujuan untuk menggalang suara dan keikut sertaan masyarakat dalam pergerakannya.
Target 500.000 tanda tangan yang rencananya bulan Maret 2021 mendatang akan diserahkan pada komisi VIII DPR RI, disertai dengan aksi barisan sepatu di halaman gedung DPR RI. “Karena sedang ada pandemi, mengajak masa untuk turun ke jalan bukanlah hal yang bijak. Kami merasa bila Anda tidak bisa terlibat menyuarakan aspirasi secara fisik, sepatu Anda dapat mewakili Anda untuk menapak di gedung DPR RI mewakili Anda,” jelas Suzy.
Gerakan barisan sepatu itu terinspirasi dari Wall of Shoes, sebuah gerakan usungan seniman Vahit Tuna dari Turki yang menempelkan 1 pasang sepatu untuk setiap korban jiwa akibat kekerasan terhadap perempuan pada 2018 dimana tercatat korban 440 jiwa. Gerakan ini pun menginspirasi aktivisme anti kekerasan terhadap perempuan serupa di Israel, Italia, dan Mexico dengan memajang sepatu bercat merah, atau yang lebih dikenal dengan The Red Shoes Movement.
“Sepatu yang terkumpul nantinya akan kami kemas ulang sebagai karya seni, kami mencoba berbagai media penyampaian komunikasi untuk menjangkau berbagai kalangan,” jelas Ratu Ommaya, Public Relations & Community Manager The Body Shop Indonesia. Untuk saat ini sudah ada karya dari illustrator Emtee yang bisa dilihat pada laman situs gerakan TBS Fight For Sisterhood. “Kedepannya kita akan mencoba melibatkan banyak seniman lain dan melakukan kunjungan ke kampus-kampus untuk membuka dialog,” lanjut Ratu yang merasa topik RUU PKS ini perlu dibicarakan dan dibahas mendalam.
Tak hanya dalam bentuk seni rupa dan ilustrasi, Lily Yulianti Farid, aktivis dan pendiri Makassar International Writers Festival, mengemas 4 buah film pendek menceritakan perjuangan penyintas dan mengapa RUU PKS ini menjadi variabel yang amat penting dalam gerakan feminisme Indonesia. “RUU PKS menjamin perlindungan, pemulihan, dan penanganan bagi korban. Negara perlu menjamin pelaksanaan peran dan tanggung jawab keluarga, masyarakat dan korporasi dalam penghapusan kekerasan seksual” kata Lily menjelaskan. Keempat seri film karya Lily akan ditayangkan secara berjangka.
“Terkadang laki-laki baru bisa merasa hebat atau jantan saat merendahkan ataupun melecehkan sosok perempuan,” tutur aktris dan aktivis Hannah Al-Rashid yang turut hadir pada jumpa virtual sore itu. Hal yang kerap disebut sebagai ‘toxic masculinity’ ini turut diiyakan oleh komika Bintang Emon yang mengaku selalu tidak sepaham setiap ada pembahasan yang merendahkan lawan jenisnya saat kumpul-kumpul bersama teman-temannya, “Kekerasan seksual bisa terjadi pada siapa saja, termasuk laki-laki. Inipun bentuk dukungan saya sebagai laki-laki yang merasa kekerasan seksual bisa segera dihapuskan,” katanya.
Tidak mudah memang mengutarakan hal yang pelik seperti pelecehan karena di Indonesia sendiri penyintas seringnya justru diberi stigma oleh masyarakat. Banyak sekali penyintas yang baru dapat terbuka bercerita setelah pertemuan berulang kali dengan lembaga konseling atau psikolog.
Yang terpenting adalah memberikan wawasan dan informasi tentang apa yang harus dilakukan bila seseorang menjadi korban, sebagai keluarga dan teman korban terdekat. dan teman korban bila hal itu terjadi sebagai poin vital dalam proses pendampingan. “Penegakan hukum kasus kekerasan seksual saat ini masih belum ditopang oleh regulasi yang secara spesifik bicara tentang kekerasan seksual dan berpihak pada korban, sehingga penegakan hukum kasus kekerasan seksual masih memiliki kendala, kata Wawan Suwandi, Humas dari Yayasan Pulh.
The Body Shop sendiri memang dikenal sebagai perusahaan yang feminis dan memiliki misi dalam penyelamatan lingkungan, sosial, dan women empowerment. Sejak didirikan mendiang Anita Roddick hingga kini. “Banyak konsumen kita yang menyumbang sejumlah uang yang dipercayakan untuk mendukung program aktivisme yang dilakukan The Body Shop, dengan disalurkan ke berbagai yayasan dengan misi yang sejalan dengan kami,” papar CEO dari The Body Shop Indonesia, Aryo Widiwardhono.
“The Body Shop hanya menjadi diri sendiri, jadi apabila konsumen terpengaruh dengan apa yang kami lakukan dan tentunya juga tertarik dengan produk kita, kami menyambut baik niatan para pelanggan untuk bergabung. Meskipun menjual produk dengan embel-embel aktivisme, bukankanlah tujuan dari The Body Shop, we’re just doing who we are,” tutup Suzy Hutomo pada penguhujung pertemuan.
Tergerak untuk ikut mengisi petisi ataupun ingin mencari informasi lebih lanjut? Kunjungi TBSFightforsistehood.co.id (f)
Baca Juga
Norma Sosial Jadi Alasan Orang Rendah Terapkan Disiplin Perilaku Jaga Jarak
Kolaborasi, Langkah Cepat Pemulihan Ekonomi Indonesia
Bahaya Di Balik 'Keberuntungan' OTG
Topic
#FeatureFemina, #RUUPKS, #FightForSisterhood, #TheBodyShop


