
Foto: Fotosearch
Kekerasan seksual dan kejahatan lain terhadap wanita dan anak yang belakangan membombardir tak pelak mengundang reaksi marah, sedih, dan juga bingung di banyak kalangan. Pertanyaan seperti mengapa hal ini bisa terjadi dan bagaimana cara mengakhirinya, senantiasa menghantui siapa pun yang peduli pada masalah darurat ini.
“Ketika kita sedang sibuk mencari-cari kesalahan atau saling menyalahkan, akan bermunculan korban-korban baru. Akan lebih baik bila kita menyalurkan energi ini untuk membentuk kekuatan bersama demi melawan kekerasan,” tutur Agustina Erni, Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA).
Jadi, sesungguhnya pertanyaan yang lebih besar adalah peran apa yang bisa kita lakukan untuk mengakhiri dan mencegah tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak? Hal inilah yang berusaha dijawab oleh hampir 400 unsur masyarakat dari Sabang sampai Merauke, yang berkumpul di Yogyakarta, 30 Mei – 1 Juni 2016, dalam Temu Nasional Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) 2016.
Sebanyak 50 inspirator, termasuk femina, yang tampil dalam PUSPA 2016 ini, menunjukkan bahwa energi dan dedikasi individu bisa berperan dalam memberdayakan wanita dan komunitasnya secara sosial dan ekonomi, yang pada akhirnya akan menurunkan angka kekerasan dan kejahatan. Tidak masalah dari kota besar atau pelosok daerah, semua memiliki kapasitas masing-masing.
Misalnya Nuraeni, yang membina istri-istri nelayan di Makassar untuk mengolah hasil tangkapan laut para suaminya supaya tidak terjebak utang rentenir. Atau Bunga Mega, penyintas kekerasan yang mendirikan komunitas sisterhood CeweQuat dengan program mentorship dan networking. Kalangan pria muda pun tidak mau ketinggalan ambil bagian. Seperti Ravio Patra yang melalui komunitas pendidik sebaya, Allied Children Against Violence, berupaya menciptakan ketahanan mental bagi para remaja yang rentan mengalami bullying dan tindak kekerasan. Atau Napolion Fakdawer, yang berupaya menurunkan angka HIV/AIDS pada ibu dan anak di Papua Barat, salah satunya dengan meningkatkan peran ayah dalam rumah tangga dan pengasuhan anak.
Potensi besar yang dimiliki tiap daerah dan pelosok di Indonesia ini, kalau digalang bersama tentunya akan berdampak besar. Selain komitmen dan dedikasi, dibutuhkan juga kolaborasi antara pemerintah, lembaga masyarakat, organisasi keagamaan, organisasi profesi, akademisi, dunia usaha, dan media. “Marilah kita menjadi mata yang mengawasi dan tangan yang melindungi perempuan dan anak di sekitar kita,” ajak Sulistyo, Asisten I Pemerintahan dan Kesra Daerah Istimewa Yogyakarta, saat menutup Puspa 2016. (f)


