Trending Topic
Hobi, Kok, Senang Membanding-bandingkan?

8 Feb 2017


Foto: Fotosearch

A: Enaknya jadi si B. Setiap hari diantar-jemput pacarnya.
B: Ah, seandainya saya jadi A yang jomblo, pasti lebih bahagia daripada punya pacar posesif seperti sekarang.
 
Nggak pernah merasa puas, sih, sudah jadi sifat dasar manusia. Itu sebabnya kita sering menganggap orang lain lebih beruntung dibanding kita. Pokoknya, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau, deh, di mata kita. Tapi, apa benar begitu?
 
Terbiasa Dibandingkan
Sejak kecil, secara nggak langsung orangtua sudah membuat kita membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Ingat, dong, kalau dulu ortu selalu bilang supaya kita harus sepintar kakak atau serajin teman kita? Nah, menurut psikolog Nessi Purnomo, hal inilah yang akhirnya membuat kita mulai memperhatikan kelebihan orang lain.    

“Orangtua selalu ingin anaknya termotivasi dalam melakukan sesuatu. Karena itu, mereka selalu membandingkan kita dengan orang lain. Biasanya, yang sering dijadikan pembanding adalah saudara kandung atau teman sepermainan kita.”

Memasuki usia sekolah, proses comparing atau membanding-bandingkan semakin kuat lagi karena guru sering memberi apresiasi berlebihan kepada anak-anak tertentu.

“Sekolah sebenarnya adalah tempat yang tepat untuk menggali potensi seorang anak. Misalnya, anak yang kurang bisa dalam eksakta diarahkan mencari bakatnya di bidang lain. Sayangnya, guru malah terbiasa memiliki anak emas yang kerap dijadikan patokan kesuksesan untuk siswa yang lain. Akhirnya, banyak yang merasa iri terhadap anak itu.”
 
Jadi Main Perasaan
Memang, sih, comparing bisa mendorong seseorang untuk lebih maju dan tampil sebaik mungkin. Namun, kita nggak bisa sembarangan, tuh, melakukannya.

“Comparing itu ada seninya. Daripada membandingkan dengan orang lain, lebih baik melihat ke diri sendiri. Misalnya, kemarin saya bisa menyelesaikan deadline secara cepat, kok, sekarang nggak bisa. Dengan begitu, muncul rasa ingin menantang diri sendiri agar bisa seperti kemarin.”

Jika comparing dilakukan antarpersonal, sering kali bukan motivasi yang muncul, melainkan perasaan iri. Kita akan terpacu melihat kelebihan orang lain yang nggak kita punya.

“Terus-menerus dibandingkan dengan seseorang bikin kita merasa orang itu adalah rival terberat kita. Lama-kelamaan, akan muncul rasa iri yang kalau mengendap terlalu lama bisa membuat seseorang membenci tanpa alasan. Bahkan, terbuka kemungkinan dia akan berusaha menjatuhkan orang itu.”
 
‘Hijau’ dari Kejauhan
Kita sering lupa kalau setiap orang mempunyai masalah masing-masing. Belum tentu ‘si tetangga’ yang bikin kita iri itu merasa puas pada hidupnya. Bisa jadi justru dia juga iri dengan apa yang kita miliki.

“Kita selalu sirik melihat cewek lain yang punya pacar ganteng, kaya, dan pintar. Biasanya, kita langsung membandingkan dengan pacar kita yang terlihat biasa-biasa saja. Padahal, bisa jadi cewek itu sering bertengkar dengan pacarnya, nggak seperti kita yang rukun terus. Jadi, belum tentu kita bahagia jika menjadi seperti dia.”

Yap, rumput tetangga terlihat lebih hijau karena kita melihatnya dari kejauhan, alias dari luarnya saja. Kita nggak tahu secara detail bagaimana cara orang itu menjaga rumputnya tetap hijau. Bisa jadi memang dibutuhkan pengorbanan atau usaha keras.

“Daripada sibuk mencari perbedaan yang mencolok dari diri kita dan ‘si tetangga’, lebih baik pikirkan persamaannya. Untuk mendapatkan kesuksesan, dia pasti juga harus berusaha keras seperti kita. Jadi keindahan yang dimilikinya nggak bersifat  instan. Kalau sudah begitu, kita akan sadar kalau kita pun bisa memiliki rumput yang indah jika mau berusaha.” (f)

Baca juga:
Rumput Tetangga Lebih Hijau
Duh, Pasangan Suka Membandingkan Anda dengan Sahabat Wanitanya
7 Tip Bersaing Sehat dengan Si Anak Emas Atasan

 


Topic

#psikologi

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?