Trending Topic
Fakta Tentang Makanan Penangkal Covid-19

24 Jan 2021


Foto: Freepik
 
Imun tubuh adalah sistem yang menjaga tubuh kita dari serangan makhluk lain seperti virus, bakteri, dan jamur. Dalam kondisi tertentu imun dapat menurun. Kurang tidur, telau letih, pola makan yang tidak teratur, diet yang terlalu ketat adalah beberapa faktor yang bisa bisa menurunkan imunitas atau kekebalan tubuh.

Makanan dan minuman sebagai sumber nutrisi yang mendorong sistem kekebalan tubuh perlu diperhatikan. “ Perlu selektif. Jangan semua dihindari, tapi juga jangan semua dimakan,” ujar dr. Diani Adrina Sp.GK , dokter spesialis gizi klinik dari Rumah Sakit Pusat Pertamina pada Live Talkshow: Fakta atau Hoax? Makanan Penangkal Virus COVID-19 bersama Femina beberapa waktu lalu.

Selama pandemi, imun tubuh menjadi nomor satu. Informasi mengenai makanan yang manjur sebagai penangkal virus covid-19 tak henti-hentinya beredar di media sosial. Ini semua demi meningkatkan daya tahan tubuh degan cepat. Beberapa bahan makanan disebutkan, namun apakah benar bahan tersebut bisa menjadi immune booster yang manjur hingga dapat menangkal virus Covid-19?

Jamu
Sejak awal pandemi jamu mendadak jadi tren. Bahan rempah herba seperti kunyit, jahe, kencur, temulawak, dan sebagainya banyak dicari untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Sejak dulu Indonesia terkenal dengan rempahnya. Rempah ini banyak manfaatnya dan sudah ada penelitiannya, baik itu temulawak maupun jahe. “Dalam penelitian ini ditemukan bahwa bahan-bahan jamu memiliki kemampuan untuk meningkatkan sistem kekebalan, penderita kanker, dan penyakit kronik lainnya,” terang Diani.

Ia juga menjelaskan bahwa tidak masalah bahan-bahan ini diolah dan dijadikan sebagai bumbu masak yang biasa digunakan oleh masyarakat Indonesia. Dikonsumsi dalam bentuk minuman juga bisa. Namun demikian, penelitaian menyatakan bahwa cara memproses, waktu, dan suhu mempengaruhi kandungan nutrisinya. Dibandingkan digoreng dan dipanggang, rempah-rempah yang direbus menyisakan kandungan nutrisi yang lebih banyak. Diani juga menyarankan untuk tidak telalu lama memasaknya dan menggunakan suhu yang tidak terlalu tinggi.

Makanan beralkali
Informasi yang beredar bahwa ”virus Covid-19 hidup di lingkungan dengan pH 5,5 hingga 8,5. Oleh karenanya tubuh dibuat tidak dalam pH tersebut dengan mengonsumi makanan beralkali atau pH tinggi.”

Lemon dan bawang putih adalah dua yang kerap disebut-sebut. Saat ini banyak masyarakat yang memasukkan salah satu atau keduanya dalam menu rutin di pagi hari.
Diani menjelaskan bahwa masih butuh penelitian lebih lanjut mengenai manakan dan minuman alkali. Sebab banyak faktor perancu yang terdapat dalam efek makanan pH tinggi ini.

“Tubuh manusia memiliki sistem untuk mengembalikan atau menyeimbangkan pH agar tetap pada keadaan aslinya,” terang Diani. Apabila mengeonsumsi makanan beralkali, maka asam lambung akan menetralisir makanan dan minuman beralkali tersebut. Setelah menjadi asam, makanan akan terus diproses di usus yang mengeluarkan enzim yang bersifat basa, sehingga akan menjadi netral. Jika masih lebih asam atau basa, maka akan dikeluarkan melalui urin. “Sebetulnya pH tubuh kita tidak berubah karena sistem itu,” Diani menyimpulkan.

Namun, ia juga menjelaskan bahwa makanan ber-pH tinggi ini semuanya dari tanaman yang memiliki antioksidan dan vitamin yang tinggi. Ini juga menjadi faktor perancu atas efek yang terjadi. “Mungkin saja kebaikan yang didapat karena kandungan antioksidan, vitamin, dan serat yang tinggi. Bukan karena sifatnya yang basa,” jelasnya.

Walau masih perlu penelitan lebih lanjut mengenai efektifitas makanan dan minuman beralkali, mengonsumsinya tiap hari adalah hal yang baik. Sehingga masyarakat yang sudah menjadikannya sebagai rutinitas, bisa terus melakukannya.

Vitamin C dosis tinggi
Menurut testimoni beberapa penyitas COVID-19, vitamin C dosis tinggi diberikan sebagai salah satu obatdalam masa karantina. Vitamin dosis tinggi dipercaya dapat mendorong peningkatan imunitas dengan cepat. Padahal, menurut penelitian dalam Journal of the American Medical Association (JAMA), tubuh kita hanya mampu mencerna 200 mg vitamin C setiap harinya.
“Sebenarnya tubuh hanya butuh 100-200 mg per hari. Tapi untuk kondisi sedang sakit, pasien memang memberikan dengan sengan dosis tinggi,” terang Diani.  Ia memberikan catatan bahwa pemberian vitamin C dosis tinggi ini menggunakan suplemen vitamin dengan sifat sustain release. Dengan kata lain, vitamin C ini dilepaskan dan diserap dalam tubuh sedikit-demi sedikit sehingga penyerapannya lebih efektif.
Tip yang bisa dilakukan di rumah dengan mudah adalah dengam mengonsumi buah-buahan tinggi vitamin C dalam tiga waktu yang berbeda dalam sehari. Misalnya, dalam satu hari mengomsumi satu buah apel di pagi hari, satu buah apel di siang hari, dan satu di malam hari. Dengan demikian, penyerapan vitamin C oleh tubuh akan lebih baik.
 
Air hangat
HIndari minum air es, minum air hangat”. Virus COVID-19 disebut menyerang saluran pernapasan mulai rongga hidung dan mulut hingga terbentuk lendir yang dapat menutup saluran pernapasan dan paru-paru. Minum air hangat dipercaya bisa mencegah munculnya atau melunturkan lendir ini.

Di suhu dingin, produksi lendir akan terus berlangsung untuk menghangatkan suhu di dalam tubuh. “Dengan mengonsumi atau menghirup uap hangat akan membantu menghambat produksinya agar tidak terlalu banyak,” terang Diani.

Saat mukosa atau lendir di saluran pernapasan mendapatkan suhu yang hangat, maka pembuluh darah akan melebar dan membantu mengurangi dahak agar tidak menyumbat.
 
Makanan dan minuman probiotik
Sistem pencernaan selalu dikaitkan denga sistem kekebalan tubuh. Salah satu cara untuk menjaga saluran pencernaan adalah menjaga bakteri baik yang ada di dalamnya. Bakteri baik ini bisa berasal dari yoghurt, kefir, dan makanan fermentasi lainnya. Kuman-kuman baik (probiotik) membutuhkan makanan yang disebut prebiotik. Disamping mengonsumis probiotik juga perlu banyak serat buah dan sayur yang menjadi  makanan bakteri baik dalam perut.
 
Diet Keto
Diet ini juga disebut sebagai pola makan yang dianjurkan untuk meningkatkan kekebalan tubuh karena tinggi lemak dan rendah karbohidrat.

“Mengonsumsi rendah karbohidrat akan membuat tubuh lebih fit, tapi jangan disubstitusi dengan lemak, “ ungkap Diani. Sebab lemak akan mengalami oksidasi yang menghasilkan radikal bebas yang tinggi. Ini bisa menyebabkan timbulnya penyakit-penyakit akibat akumulasi lemak yang tinggi, seperti kolesterol tinggi.

Tinggi protein juga perlu diperhatikan, sebab tubuh memiliki ambang batas dalam menerimanya. Sampah protein atau urium akan memberatkan kerja ginjal. “Jika menjalankan diet keto, harus rutin memeriksa fungsi ginjal,” ia mengingatkan.

Diet keto minim konsumsi buah. Hanya sejenis aplukat yang antioksidannya tidak bervariasi. Sayur juga tidak bervariasi. Padahal serat sangat diperlukan untuk kelangsungan probiotik dalam sistem pencernaan.

Lebih disarankan untuk menonsumsi makanan dengan komposisi yang lengkap sesuai dengan porsi yang dibutuhkan. (f)
Baca juga:
5 Hoax Tentang Vaksin COVID-19 Ini Menyesatkan


Topic

#3M, #IngatPesanIbu, #covid-19, #satgascovid-19

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?