Sex & Relationship
Pandemi Corona Mengubah Cara Berkencan Para Lajang

20 Apr 2020



Dok. Unsplash


Sejak wabah corona melanda, perubahan di setiap aspek kehidupan terjadi. Sendi perekonomian tersendat,  orang-orang bekerja dari rumah, para siswa belajar di rumah, dan masyarakat tak lagi bepergian kecuali untuk kebutuhan tertentu. Bagi para lajang keadaan ini juga mengubah cara mereka menjalin asmara.

Sebagai mahluk sosial, kita tak pernah kehabisan cara untuk berkencan dalam situasi pandemi. Orang-orang tetap terhubung melalui Skype, FaceTime, Zoom, dan aplikasi video call lainnya. Menurut Helen Fisher, antropolog biologis dari Kinsey Institute mengungkapkan otak manusia menganggap cinta romantis sebagai kebutuhan utama seperti halnya makan dan minum.

“Cinta romantis selalu bertahan. Seperti hal nya makan dan minum, jatuh cinta adalah hal yang dibutuhkan untuk melanjutkan keturunan,” ungkapnya seperti dikutip dari TIME.

Sendiri di rumah, bahkan beberapa kehilangan pekerjaan, membuat para lajang menghabiskan lebih banyak waktu di aplikasi kencan, terutama pada kota-kota  dengan persebaran virus corona yang tinggi. Aplikasi kencan Bumble melaporkan peningkatan pengiriman pesan sebesar 21% di Seattle, 23% di New York City, dan 26% di San Fransisco sejak 12 Maret lalu, sehari setelah World Health Organization (WHO) menetapkan virus corona sebagai pandemi global.


Penggunaan fitur video chat Bumble meningkat 93% di Amerika Serikat antara tanggal 13 hingga 27 Maret, setelah Presiden Donald Trump menetapkan kondisi darurat nasional. Aplikasi kencan Hinge juga mengalami peningkatan pengiriman pesan sebesar 30% pada bulan Maret dibandingkan bulan sebelumnya, menyusul diluncurkannya fitur “date from home” yang menawarkan layanan bicara dan video chat.

Hal serupa terjadi di Indonesia. Sejumlah aplikasi kencan online menunjukkan peningkatan pengguna yang cukup signifikan selama masa social distancing.

Berdasarkan data Tinder yang diambil mulai 20 Februari hingga 26 Maret, percakapan pengguna di Indonesia meningkat rata-rata sebesar 23%. Rata-rata durasi percakapan juga meningkat 19% lebih lama. Sementara itu, aplikasi kencan OKCupid mencatat kenaikan percakapan dan durasi percakapan sebesar 7%. Tak hanya itu, aplikasi kencan berhasil masuk dalam 10 dari 100 aplikasi terpopuler di iTunes.

Namun 'chemistry' tak bisa digantikan begitu saja dengan teknologi. Karena itu Fisher menyarankan untuk segera bertemu teman kencan online Anda saat kondisi sudah memungkinkan. Namun di sisi lain, kencan jarak jauh ada sisi positifnya.

“Menurut saya ini waktu yg tepat untuk berkencan. Anda cukup cukup duduk dan berusaha mengenal teman kencan demi membangun percakapan. Salah satu hal penting yang dicari pada sosok pasangan adalah apakah ia bisa menjadi teman ngobrol yang baik,” terangnya.

Berkencan jarak jauh dari rumah akan membuat kita lebih fokus pada lawan bicara. Tidak seperti di café atau restoran yang punya potensi gangguan dari lingkungan sekitar.

“Orang harus memperbaiki kemampuan komunikasi mereka. Video chat menuntut kita lebih banyak bicara daripada di bar yang ramai,” tutur David, seorang pria berusia 25 tahun. David juga merasa kencan jarak jauh sangat menghemat pengeluaran.  

“Keadaan ini juga membuat dompet saya lebih aman,” ujarnya. Sebuah faktor penting bagi para peserta kencan online mengingat tingkat pengangguran cendrung meningkat.

Di luar semua itu, kita belum mengetahui apakah pengalaman social distancing punya dampak jangka panjang dalam kebiasaan interaksi kita. Beberapa lajang yang diwawancarai TIME memperkirakan mereka akan tetap berkencan online untuk menyeleksi calon pasangan bahkan setelah social distancing dihentikan.

Sebagian dari mereka berpikir akan butuh beberapa bulan bahkan bertahun-tahun untuk kembali terbiasa berjabat tangan dengan orang asing atau berpelukan pada kencan pertama.

Dacher Keltner, sosiolog University of California mengkhawatirkan efek jangka panjang social distancing pada kesehatan mental masyarakat. Data menunjukkan bahwa 30 hingga 40% orang yang terisolasi secara sosial selama beberapa minggu berisiko depresi dan terdorong bunuh diri. Para pakar kesehatan publik khawatir perasaan ini tak akan langsung hilang begitu masyarakat kembali menjalani hidup normal.

“Jika dilihat dari perspektif evolusi, manusia telah melakukan kontak fisik selama jutaan tahun. Hubungan antar manusia terbentuk dari bahasa non verbal yang dimulai dari hubungan anak dan orang tua. Saya khawatir dengan dampak yang terjadi setelah masyarakat kehilangan kontak fisik selama beberapa waktu,” ungkapnya.(f)
 


BACA JUGA:
Bercinta di Masa Pandemi Virus Corona, Amankah?
6 Momentum Bersama Pasangan Yang Layak Dirayakan
Tidur Cukup, Kehidupan Seks Terjamin

 

 
 


Topic

#aplikasikencan, #corona

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?