
Jostein Gaarder/Mizan
Surat itu diselipkan dalam kereta dorong bayi dan telah 11 tahun menanti untuk ditemukan. Surat yang ditulis ayah George, yang meninggal saat usia George baru 4 tahun. Kenangan mereka tercetak dalam lembaran foto dan rekaman video. Salah satunya, memperlihatkan dirinya di pangkuan sang ayah, seminggu sebelum sang ayah meninggal. Kini, 11 tahun kemudian, surat itu membuka dialog mendalam dengan sang ayah. Rangkaian perjalanan yang membuatnya belajar tentang cinta dan filosofi kehidupan. Dengan bahasa yang indah, Jostein Gaarder sekali lagi sukses mengaduk-aduk nalar dan imajinasi pembacanya. (f)


