Itulah inti dari The Devil Wears Prada 2, sekuel film ikonik The Devil Wears Prada, yang bikin semua orang ingin bekerja di media fashion seperti media fiktif Runway–pada masanya.
Pergeseran industri media dan fashion dalam dua dekade ikut memengaruhi plot utama The Devil Wears Prada 2, yang tetap berkisah tentang 4 tokoh utama Miranda Priestly (Meryl Streep), Andy Sachs (Anne Hathaway), Nigel Kipling (Stanley Tucci), dan Emily Charlton (Emily Blunt).
Industri media fashion boleh berubah, tapi event glamor tampaknya tak berubah urusan keribetannya. Foto: 20th Century Studios
Andy, yang di ending film OG dikisahkan tak lagi kerja di Runway, kini adalah penulis feature di harian Vanguard, yang dipecat bersamaan saat ia menerima penghargaan. Tak lama kemudian ia mendapat tawaran sebagai editor feature di Runway, langsung dari CEO Elias-Clarke penerbit Runway.
Sang CEO, Irv Ravitz (Tibor Feldman), merekrut Andy untuk membuat tulisan yang bisa menyeimbangkan kabar buruk tentang Runway yang dianggap menampilkan karya fashion tak beretika, agar tidak lagi meresahkan para pengiklan.
Andy pun bertemu lagi dengan mantan atasannya, Miranda, serta Fashion Director Runway, Nigel, yang dulu seperti mentor dan “bapak peri”-nya. Andy kembali ke tempat kerja lamanya, walau ia juga ditawari temannya untuk membuat biografi tak resmi dari Miranda.
Bersama Miranda dan Nigel, Andy juga kembali bertemu sesama asisten Miranda dulu, Emily, yang kini telah bekerja di rumah mode Dior, dan jadi klien besar Runway.
Lama tak berada di dunia fashion, Andy harus kerja keras menyesuaikan diri sambil menunjukkan kemampuannya menghasilkan tulisan yang apik tapi juga berdampak pada Runway.
Ketika Irv Ravitz meninggal mendadak, aksi bisnis pewarisnya, Jay Ravitz (B.J Novak), membuat Miranda goyah, dan Andy berusaha menolongnya, di tengah kesibukan tim Runway menghadapi event besar di Milan.
Dari asisten jadi tim inti kadang bikin Andy sedikit sok tahu di mata Miranda. Foto: 20th Century Studios
Jika film pertama berdasarkan novel karya Lauren Weisberger, film kedua ini adalah kisah orisinal yang ditulis oleh Aline Brosh McKenna dan Lauren Weisberger. The Devil Wears Prada 2 bakal bikin nostalgia bagi mereka yang ada atau pernah di tengah lingkungan media, terutama fashion.
Andy sebagai outsider sering bertindak seakan mencari validasi. Namun sebenarnya Andy adalah representasi kita saat masuk ke dunia Runway yang glamor tapi penuh realitas–anggaran harus dihemat, dan Miranda pun terpaksa naik kelas ekonomi di penerbangan New York-Milan.
The Devil Wears Prada 2 yang juga dibintangi Simone Ashley, Kenneth Branagh, Tracie Thoms, Lucy Liu, Justin Theroux, dan Patrick Brammall itu menghadirkan pentingnya koneksi di industri media dan fashion, serta sebuah legasi, seperti Runway (atau mungkin Miranda dan Nigel), tetap relevan di masa sekarang.
Meski berdurasi dua jam, film yang disutradarai David Frankel ini tak membosankan, meski tak cukup banyak memperlihatkan perbedaan media generasi 20 tahun lalu dan sekarang. Gen Z diwakili Jin Chao (Helen J. Chen), asisten Andy, yang digambarkan banyak akal, tapi tidak terlalu ‘aneh’ dibandingkan para seniornya.
Yang pasti, film ini menunjukkan sisi lain para tokoh utamanya (dan inspirasi gaya kerja dan pesta), namun sedikit perbedaan dari penampilann mereka–yang awet muda.
The Devil Wears Prada 2 tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 29 April 2026. (f)
Zornia Harisantoso
Topic
#reviews


