Pakai sunscreen wajib, dan cek ke dokter jika vlek hitam tidak hilang juga. Foto ilustrasi: Pexels/Cottonbro Studio
Ada satu momen yang bisa bikin kita panik: Ketika bercak kecokelatan di pipi atau atas bibir tak kunjung memudar, meski skincare sudah berganti berkali-kali.
Banyak orang mengira itu hanya bekas jerawat atau vlek hitam biasa. Padahal, bisa jadi yang sedang dihadapi adalah melasma—kondisi hiperpigmentasi yang jauh lebih kompleks.
Melasma bukan hanya dialami perempuan berusia matang. Justru kondisi ini paling sering mulai muncul pada usia 20 hingga 30 tahun, masa ketika banyak perempuan sedang aktif bekerja, membangun karier, hingga menjalani kehamilan pertama. Lebih dari 90% penderita melasma adalah perempuan, terutama pada usia reproduktif.
Di Indonesia, risikonya bahkan lebih tinggi. Tinggal di negara tropis berarti kulit terpapar sinar ultraviolet hampir sepanjang tahun. Ditambah lagi, mayoritas orang Indonesia memiliki warna kulit sawo matang dengan fototipe Fitzpatrick IV-V, yang secara alami lebih rentan mengalami hiperpigmentasi ketika terpapar sinar matahari.
Sayangnya, masih banyak yang menganggap semua noda di wajah adalah “vlek biasa.” Akibatnya, tidak sedikit orang yang terus mencoba berbagai skincare viral atau treatment tanpa mengetahui penyebab sebenarnya. Padahal, tidak semua noda hitam memiliki penanganan yang sama.
Melasma sendiri muncul karena produksi melanin berlebihan. Pemicunya bukan cuma matahari. Perubahan hormon, faktor genetik, hingga paparan visible light—termasuk cahaya biru dari lingkungan—ikut berperan.
Paparan sinar matahari yang berlangsung terus-menerus juga memicu peradangan dan stres oksidatif pada kulit sehingga melasma menjadi lebih sulit hilang dan lebih mudah kambuh.
Tak sedikit penyintas melasma mengaku kehilangan rasa percaya diri. Ada yang merasa risih setiap kali bercermin dan lelah menutupi noda dengan makeup setiap hari. Melasma ternyata bukan hanya soal penampilan, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan psikologis dan kualitas hidup.
Kabar baiknya, melasma bukan kondisi yang harus diterima begitu saja. Penanganan melasma saat ini sudah berkembang. Selain penggunaan krim tertentu, dokter dapat mengombinasikan terapi sesuai kondisi pasien, termasuk tindakan di klinik untuk membantu memperbaiki kualitas kulit sekaligus mengurangi hiperpigmentasi.
Salah satu pendekatan mutakhir untuk perbaikan kualitas kulit secara menyeluruh sekaligus memudarkan noda gelap adalah melalui tindakan redermalisasi dengan Xela Rederm, skin booster yang mengombinasikan Hyaluronic Acid dan Succinic Acid untuk membantu memudarkan hiperpigmentasi sekaligus memperbaiki hidrasi dan kualitas kulit.
Terapi redermalisasi dapat dikombinasikan dengan AQ Serum, yang diformulasikan dengan Growth Factors untuk mendukung regenerasi seluler kulit, membantu mengurangi proses inflamasi, serta mempercepat pemulihansehingga tampilan hiperpigmentasi dapat berangsur membaik.
Terapi ini diperkenalkan Unison Medika Jaya di pertengahan Juli lalu, memperingati Melasma Awareness Month.
Berbagi cerita dan wawasan tentang melasma: penyintas melasma Margaret Vivi (nomor dua dari kiri), dokter estetika dr. Ratna Yuliarviana (tengah), dokter spesialis kulit dr. Stanley Setiawan (nomor dua dari kanan). Foto: Dok. Unison Medika Jaya
Bersama nara sumber dokter spesialis kulit, dokter estetika dan penyintas melasma, Unison Medika Jaya memberikan edukasi tentang faktor risiko, pentingnya diagnosis yang tepat, serta perkembangan terapi melasma yang kini semakin komprehensif.
Bagi perempuan muda Indonesia, mengenali melasma sejak dini sama pentingnya dengan memilih skincare yang tepat dan rutin memakai sunscreen.
Perlindungan terhadap sinar UV tetap menjadi fondasi utama agar hasil terapi bertahan lebih lama dan risiko kekambuhan berkurang, tentunya di samping tindakan di klinik jika diperlukan. (f)
