Health & Diet
Kapan Harus Berhenti Mencari 'Second Opinion' Saat Didiagnosis Penyakit Serius?

21 Aug 2019


Dok. Rawpixel




Banyak alasan bagi pasien untuk mencari pendapat kedua ketika didiagnosis penyakit serius atau yang mengancam nyawa.

Sebuah riset yang dilakukan Mayo Clinic --diterbitkan dalam
Journal of Evaluation in Clinical Practice--  terhadap pasien yang datang kepada mereka untuk mencari pendapat kedua, menemukan bahwa 88% pasien mendapatkan diagnosis baru, 12% mendapati hasil yang sama seperti yang ia dapat dari dokter pertama.

Tiap dokter memiliki kompetensi dan pandangan yang berbeda-beda, mungkin itu sebabnya ada perbedaan diagnosis. Karenanya, tak perlu ragu untuk mencari pendapat kedua, jika memang merasa perlu.

Di Amerika Serikat, rumah sakit besar seperti Johns Hopkins dan Clevelend Clinic bahkan menyediakan fasilitas layanan daring untuk pasien yang ingin mencari pendapat kedua. Tentu saja dengan melampirkan semua hasil pemeriksaan dan obat yang mungkin diterima dari dokter pertama.

Mencari pendapat kedua bisa memberikan hasil pengobatan yang signifikan.

"Jika seorang pasien tidak mencari pendapat kedua, ada kemungkinan penyakitnya akan bertambah berat. Tapi, ada kemungkinan ia bisa sembuh dengan sendirinya, karena memang banyak keluhan atau penyakit ringan akan sembuh dengan sendirinya tanpa diobati atau dengan istirahat saja," jelas dr. Broto Wasisto, DTM&H, MPH,
 yang pernah menjabat sebagai pengurus Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI)..

Mungkin juga keluhan disebabkan oleh masalah psikis, yang berarti perlu penanganan yang berbeda pula. Dengan segala kemungkinan itu, keputusan kembali berada di tangan pasien.

"Meminta atau mencari pendapat kedua seharusnya dilakukan oleh pasien sendiri, kecuali kalau pasiennya masih anak-anak. Atau, kalau pasien tidak mampu, maka keluarganya bisa membantu mencari pendapat kedua."

Mencari pendapat kedua adalah hak pasien, sehingga seorang dokter wajib memberi izin bila pasiennya meminta dirujuk atau meminta pendapat kedua kepada dokter lain. Lalu, bagaimana etika dokter kedua?

Dokter kedua akan menerima rujukan tersebut apabila sesuai dengan kompetensinya. Apabila ada beda pandangan tentang diagnosis dan terapi antara kedua dokter tadi, biasanya mereka akan berkomunikasi. Bahkan, bukan tidak mungkin dokter akan membentuk tim, bila menemukan masalah penyakit yang sulit atau berat.

Mencari pendapat lain boleh-boleh saja, tapi perlu diingat, jangan sampai itu membuat penyakit  makin bertambah parah karena tidak segera mendapat perawatan. Kanker misalnya, makin lama ditunda pengobatannya, bisa menurunkan tingkat keberhasilan.

Jangan biarkan keraguan membuat Anda terlambat menjalani pengobatan. Tak dipungkiri, sebagian pasien yang mencari pendapat kedua, ketiga, atau lebih, cenderung dipengaruhi psikologis, karena tidak mau menerima kenyataan.

"Mencari pendapat kedua kepada banyak dokter secara berpindah-pindah sebaiknya tidak dijalani." Dokter dan dokter spesialis di Indonesia sekarang ini sudah sangat baik dan banyak yang mempunyai reputasi internasional. Alat-alat pun sudah sangat canggih.

"Apabila seorang pasien merasa dirugikan oleh dokter, dia bisa mengadu kepada MKEK (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran) atau kepada MKDKI (Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia)," katanya.

Pada akhirnya, sebagai pasien kita harus cerdas. Apalagi ini menyangkut hidup kita di masa datang, biaya pengobatan yang akan dikeluarkan, kemungkinan efek yang tidak menyenangkan, atau bahkan mengancam jiwa.

Jika pendapat kedua yang Anda dapatkan ternyata tidak berbeda, ini tetap sepadan untuk dilakukan.(f)



BACA JUGA : 

Pusat Layanan Prostat Kini Hadir di RS Cipto Mangunkusumo
Kasus Kanker Payudara Terus Meningkat. Ini yang Perlu Dilakukan!



Topic

#secondopinion

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?