Health & Diet
Cara Dian Sastrowardoyo Tangani Autisme Pada Sang Anak

26 Aug 2019


(foto: dok. femina)

Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah serangkaian gangguan perkembangan saraf yang sebagian besar ditandai dengan gangguan fungsi sosial dan gangguan komunikasi. Gejala mencakup fokus yang intens pada suatu hal, tidak responsif, kurang memahami isyarat sosial (seperti nada suara atau tubuh), gerakan berulang, atau melukai diri seperti memukul-mukul kepala.

Berdasarkan data yang dipaparkan oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak  (Kementrian PPPA) pada Hari Peduli Autisme April 2018 lalu, penyintas autisme di Indonesia diprediksi mencapai 2,4 juta orang dengan penambahan 500 orang pertahun.

Ini angka yang cukup besar apalagi masih banyak masyarakat Indonesia yang belum paham bagaimana menangani anak penyintas autisme.

Dalam konferensi pers Special Kids Expo (Spekix) 2019 yang digelar di JCC (23/08/2019) lalu, Gayatri Pamoedji, Ketua Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI) menjelaskan cara menangani anak dengan autisme.

“Kunci utama suksesnya penanganan generasi muda dengan kebutuhan khusus, terletak pada informasi yang akurat, sarana pendidikan dan pelatihan tepat, dan dukungan dari berbagai pihak, terutama pada orang tua agar tidak putus asa. Dukungan dari masyarakat luas dapat dilakukan dengan tidak menggunakan kata autis sebagai ejekan, mengetahui apa yang dibutuhkankan anak muda berkebutuhan khusus dan menghormati keunikan mereka," ujar Gayatri.

Untuk mengetahui ciri autisme sejak dini, orang tua harus mewaspadai perilaku tertentu.
1/ Apakah anak memiliki ketertarikan pada anak-anak lain?
2/ Apakah anak menunjuk pada hal yang disukai?
3/ Apakah anak mau menatap mata Anda lebih dari 1-2 detik?
4/ Apakah anak mau meniru ucapan, ekspresi wajah, atau gerak-gerik Anda?
5/ Apakah anak bereaksi ketika namanya dipanggil?
6/ Apakah anak mau melihat ke arah benda yang Anda tunjuk?
7/ Apakah anak pernah bermain role play (berpura-pura)?
 
Jika orang tua menjawab “tidak” pada minimal dua dari pertanyaan di atas, maka kemungkinan anaknya mengalami autisme.

Pentingnya kewaspadaan orang tua dan intervensi dini pada anak autisme diungkapkan oleh artis dan model, Dian Sastrowardoyo. Ia mengaku bahwa putra pertamanya, Syailendra Naryama Sastraguna, memiliki seluruh ciri autisme sejak berusia 6 bulan. Kala itu Syailendra bersekolah untuk pertama kalinya.

“Saya bisa melihat perkembangan anak saya dibandingkan anak-anak lain di sekolah. Anak saya tidak tertarik melakukan kegiatan apapun yang diadakan guru, misalnya bermain games atau bernyanyi. Dia tidak bisa fokus," ujar Dian.

Keadaan tersebut membuka pikiran Dian dan suami. Mereka mulai melakukan terapi pada Syailendra sejak berusia 8 bulan. “Terapinya mencakup terapi okupasi, terapi bicara, dan terapi perilaku,” ujar pemenang Gadis Sampul 1996 ini.

Dian sempat membuat kesepakatan dengan keluarga untuk tidak memberikan apapun pada anaknya sampai ia mau meminta dengan berbicara. “Jadi kita mendorong anak untuk berkomunikasi. Selain itu, kita hanya mau mendengarkan kalau anak bicara dengan sopan dan melibatkan eye contact," kata Dian menjelaskan salah satu cara terapi bicara yang ia lakukan pada sang anak.

Aktris yang namanya melejit lewat film Ada Apa Dengan Cinta ini menerapkan terapi secara intensif sampai anaknya berusia 4 tahun. Menginjak usia 6 tahun, anaknya sudah tak memerlukan terapi lagi. “Sekarang anak saya kelas 3 SD, usia 8 tahun. Kemampuan sosialnya sudah sangat membaik. Sudah bisa curhat, cerita, dan jahilin adiknya. Dia punya banyak teman dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik," kata Dian tersenyum lega. (f)
 

BACA JUGA:
Waspada Udara Berkualitas Buruk, Picu Penyakit Paru Pada Anak
Imunisasi adalah Salah Satu Hak Bayi dan Anak untuk Dilindungi
Menyambut Pekan ASI 1-7 Agustus, Ini 7 Manfaat Menyusui untuk Ibu dan Anak

 


Topic

#SPEKIX2019, #diansastrowardoyo, #anakdiansastrowardoyo, #autisme, #ciriciriautisme

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?