
Bagian 2 3
<<<<< Kisah sebelumnya
Perempuan itu ngeri mendengar pengakuan itu. Satu suku? Betapa rasis. Telinganya jengah mendengar hal-hal begituan. Seperti dijebak atau terjebak dalam situasi, harus mendengar. Entah apa yang merasuki atasannya sehingga ia membuka diri seperti pengakuan dosa di depan bilik pastor, seperti besok akan mati.
Bahwa atasannya pensiun dua tahun lalu. Tetapi, ia tetap diminta bekerja karena belum seorang pun sanggup menggantikan posisinya. Dengan tangan besi ia mengurus orang-orang pintar yang suka berkelit dan memanfaatkan fasilitas. Ia menjadi jembatan komunikasi antara birokrasi dan politik dua negara. Ia genius, membuat peraturan rekanan lembaga yang rumit dan kaku, menjadi lebih supel dan terbuka. Ia panjang akal dalam mempertemukan dua kebenaran, lalu memunculkan kearifan, dari sana.
“Saya harap kamu mengungguli asisten saya yang lain,” lanjutnya.
Ia seperti melihat sinar iblis muncul di mata atasannya.
"Dalam satu dua tahun ini, saya harus berhenti. Ingin berhenti. Saya perlu istirahat. Saya ingin mengerjakan hobi-hobi saya. Membaca, berkebun, jalan-jalan santai ke luar negeri tanpa ada telepon urgen. Saya harus cari pengganti. Supaya kantor enggak kelimpungan. Makanya, saya sangat berharap kamu menunjukkan prestasi bagus agar saya enggak malu mengusulkan kamu ke board. Karena itu, kamu harus paham semua sistem kerja di kantor. Saya kasih tahu kamu rahasia-rahasia. Saya orang pertama di sini. Saya menciptakan sistem. Dulu saya sendiri mengatur puluhan grantee, berhasil, tuh. Saya dapat pujian. Berkali-kali. Saya melewati banyak krisis di kedua negara. Kamu juga pasti bisa. Asisten saya sekarang? Baru dua bulan kerja, tiga kali bikin kesalahan fatal. Satu, membuat grantee dideportasi. Dua, merugikan kantor ribuan dolar karena salah pesan tiket. Tiga, nyaris pacaran dengan komisioner yang punya bini. Seharusnya dia dipecat. Tetapi, hati direktur eksekutif kita seperti ayam betina. Mana bisa saya minta dia menggantikan saya? Kamu ngerti kan maksud saya?”Perempuan itu meneguk air putihnya tandas. Cerita itu kedengaran seperti konspirasi busuk dan ambisi yang keji.
itu robot. Cuma jalankan apa yang diperintahkan. Enggak kreatif. Sulit berkembang orang kayak gitu. Percaya, deh. Mana kurang membaca. Enggak mampu kasih masukan. Dia hanya pernah tinggal di luar selama setahun dan bisa berbahasa asing dengan baik. Selebihnya, nol besar. Saya capeklah ngajarin dia. Saya lihat kamu jauh di atas dia kualitasnya. Karena itu kamu harus selangkah lebih maju, meski kamu datang belakangan. Proaktif. Kasih masukan tepat. Bermanfaat untuk banyak orang. Saya akan latih kamu dalam tiga bulan pertama. Saya serius. Gimana? Kamu siap, tidak?”Ia mengangguk-angguk sementara mendengar gosip murahan itu. Dan istilah nol besar yang disebut atasannya, menimbulkan rasa jeri tersendiri dalam dirinya. Penyelia senior menghina asisten pertama tanpa rasa sopan. Meski dia belum mengenal asisten pertama, keterangan itu membuatnya galau. Ia seperti telah mengkhianati kawan sebelum mengenal.
Ruangan ber-AC tinggi itu terasa panas seperti ribuan bakteri berkerumun di sana.
"Program ini tidak hanya butuh ketelitian, tetapi naluri yang baik. Insting yang terlatih dalam membaca wajah dan karakter orang. Bisa memutuskan saat genting....” Tiba-tiba wajah si bengkung udang muncul di pintu. “Maaf, Bu. Telepon dari duta besar.”
Penyelia senior berdiri tanpa ba-bi-bu, pergi. Dengan segera tangan perempuan itu merapikan meja, membawa barang pecah-belah ke dapur, mencuci baik-baik semua peralatan di bak cuci sambil melepas ketegangan akibat mendengarkan.
Ia kembali ke mejanya, melihat atasannya sedang bersenda gurau dengan asisten pertama. Sangat akrab dan tanpa jarak. Mereka buka-bukaan soal pengalaman memandikan anjing, jenis makanan, kebiasaan, salon, dan dokter hewan. Ia tidak mau terlibat pembicaraan itu, duduk di kursinya baik-baik, mulai membuka beberapa dokumen yang dia sudah sisihkan untuk dipelajari. Ia menepis jauh-jauh pembicaraan yang baru saja terhenti dengan atasannya, soal nol besar tadi.
“Kamu pelihara anjing juga?” tanya atasannya.
“Tidak,” jawabnya pelan, menggeleng.
“O, sayang. Anjing itu binatang berkarakter. Ia mengajar kita banyak hal. Orang yang punya anjing biasanya ngerti gestur.” Lalu si atasan memuji asisten pertama yang berhasil melatih anjingnya jadi penurut.
Ia mengangguk-angguk mengerti, mulai membuka halaman pertama.
”Hari ini kita akan kerja sampai malam. Dokumen kiriman dari kantor pusat sudah datang. Kita berangkat jam tiga dari sini. Kamu enggak keberatan kerja sampai malam?” nada suaranya terdengar mengintimidasi.
“Ya, tidak keberatan.”
Lantas atasannya berteriak menyerukan nama si bengkung udang, memerintahkan sopir kantor untuk bersiap, yang dijawab tegas, “Siap, Bu!”
Atasannya masih berkata ini dan itu. Ia mendengarnya sebagai bising di telinga. Ia berusaha berkonsentrasi, membenamkan dirinya dalam dokumen. Ketika ia mengangkat mukanya, atasannya tak ada di tempat. Tak sengaja ia melihat si asisten pertama sedang memandangnya, tersenyum.
"Enggak usah terlalu tekun dan serius di sini, Neng. Santai aja. Apa pun gagasan kita, kalau enggak sesuai bos, enggak guna,” bisik asisten pertama, tertawa kecil.Ia berusaha tersenyum. Entah kenapa, hatinya lebih memercayai rekannya itu daripada atasan mereka. Namun, ia meneruskan membaca, membuat catatan-catatan, menuliskan nama-nama yang sulit agar lebih mudah diingat. Sebagai mantan wartawan, ia pernah menghafal seribu nama dan nomor telepon, di kepalanya.
Menjelang pukul tiga, penyelia senior muncul. Kepalanya baru melewati pintu, tetapi suaranya sudah menggelegar memerintah asisten pertama untuk menyuruh office boy menurunkan dua boks dokumen ke bawah, menginstruksikan si bengkung udang menelepon satu restoran untuk memesan empat porsi nasi goreng. Lalu kepalanya melongok ke ruang si Kolonel, si bengkung udang berkata, “”Beliau masih di kedutaan, Bu.”
“Gua juga tahu. Telepon dia, suruh cepat balik!” semprotnya, meradang.“Baik, Bu!“
Kedua orang yang diperintah segera melakukan apa yang diperintahkan. Sementara ia, tak tahu apa yang harus dilakukan, membenamkan wajah ke halaman dokumen. Raut kusut atasannya tiba di kursi. Duduk dua menit, suasana hatinya membaik. Ia bertanya ke asisten pertama dengan nada riang, yang dijawab dengan nada santai oleh asisten pertama. Sebentar saja mereka sudah terlibat pembicaraan yang mesra, seolah-olah tak terjadi rush sebelumnya.
“Kamu punya Facebook?” tanya atasannya, menoleh ke arahnya.
Perempuan itu mengangguk ragu, memberi tahu alamat Facebook-nya, lalu asisten pertama berkomentar, ”Yaa.., ketahuan, deh.”
Mendengar itu, atasan mereka tertawa keras, bahagia. Celah di antara gigi serinya menunjukkan kebahagiaan itu.
Lalu jam tiga molor menjadi jam empat karena keterlambatan direktur eksekutif. Nasi goreng sudah tiba sejak tadi. Dan itu memicu atasannya kembali menggeliat seperti cacing kena air panas. Ia mendekat ke ruang Kolonel Sanders, memberi kode dengan tangannya, menunjuk-nunjuk pergelangan tangan –padahal tidak ada jam tangan melekat di sana-- dan Sang Kolonel mengangguk-angguk, dengan segera meletakkan gagang telepon, “Oke, ladies, kita pergi sekarang!”
Penyelia senior memerintahkan asisten pertama dan perempuan itu turun lebih dulu. Wajahnya masih kusut. Mulutnya tidak bahagia.
Atmosfer canggung di dalam mobil. Tak seorang pun mulai bicara. Sopir meluncurkan kendaraan, tenang. Kolonel Sanders duduk di depan. Ketiga perempuan berjejer di tengah. Asisten pertama sibuk dengan ponselnya. Antena perempuan itu bersikap waspada.
"Nasi goreng dingin. Mana enak?” sela penyelia senior tiba-tiba.Tak ada yang menyahut. Untung jalanan lancar. Kendaraan belum terkena kebijakan 3-in-1.
Kediaman Kolonel Sanders berada di balik gedung tinggi sebuah kantor di jalan protokol. Mobil memasuki halaman gedung, belok kiri, putar balik, masuk ke ruang parkir lantai dasar. Tiap penghuni apartemen punya lift masing-masing untuk tiba di lantai yang dituju.
Semua menghambur keluar mobil. Dua boks dokumen akan diantar sopir. Kolonel Sanders bersiap dengan kartu pass. Masih tanpa suara mereka di dalam lift, dan tiba di lantai 11.
"Pasti sedingin kutub utara.”Masih tak ada yang menyahut.
"Darah panas. Jangan-jangan di masa lalu dia ular yang enggak ada pasangannya,” kata penyelia senior.Kali ini asisten pertama menyeringai, menjawab, “Pertama beruang es. Sekarang ular.”
Lalu Kolonel Sanders mengulang ramah, “Beruang es, sekarang ular.”
Akhirnya suasana cair. Suasana hati si penyelia senior meleleh seperti mentega di atas kompor.
Udara dingin betul-betul menyerang ketika pintu dibuka. Kolonel Sanders tak pernah menurunkan temperatur, meski dia sedang berada di luar.
Apartemen itu berkamar tiga, ruang tamu yang luas dan ruang santai yang nyaman. Sang Kolonel tinggal sendirian. Istrinya memiliki bisnis obat-obatan herbal milik keluarga yang tak bisa ditinggalkan dan anak semata wayang perempuan bekerja di luar negeri, dan punya kehidupan sendiri.
Satu setel meja panjang dan kursi antik dari kayu jati hitam berada di tengah ruang besar dan menarik perhatian.
"Dia beli meja ini dari Jepara, membebani biaya pengiriman ke kantor. Kurang ajar!” desis penyelia senior, disambut kengerian perempuan itu karena khawatir si Kolonel mendengar desis itu.“Dia enggak akan dengar,” kata atasannya, seakan memahami kekhawatirannya. “Telinga kanannya agak budek.”
Dinding dipenuhi foto-foto artistik yang mengabadikan bunga-bunga, matahari yang terbit dan terbenam, suasana kota, laut.“Merasa diri fotografer profesional, tapi hasilnya seperti anak SMP,” ujar atasannya, mengiringi mata perempuan itu yang beredar melihat tiap foto, yang menurutnya foto-foto tersebut bagus dan diambil dari teknik yang pintar.
Tak lama bel rumah berdering. Sopir dengan dua boks besar berisi dokumen tiba di ruangan.
”Kita makan dulu, baru kerja,” sabda penyelia senior, keras.
"Well, terserah kalian. Apa pun yang membuat kalian senang. Di sini piring-piring yang kalian perlukan,” ujar Kolonel Sanders sambil masuk ke dapurnya, diikuti penyelia senior, menurunkan empat piring putih ceper dan satu mangkuk besar.Tuan rumah menawarkan minuman kaleng berkarbonat, bir, atau jus kepada ketiga perempuan, yang dijawab bersamaan: air putih.
”Kalian betul-betul hidup sehat,” sela Kolonel Sanders tertawa. Ia mengeluarkan satu botol besar air putih dari kulkas, dan gelas-gelas, membawanya ke meja panjang. Ia kembali ke dapur untuk membawa beberapa minuman kaleng berkarbonat untuknya.
”Aku akan mengurus makan malamku sendiri,” ucap Kolonel Sanders bergerak menuju telepon.
"Tidak. Ini ada empat porsi nasi goreng,” cegah atasannya.
"Ah ... bagus. Saya suka nasi goreng.”Kolonel Sanders menghabiskan nasi gorengnya dalam waktu kurang dari lima menit. Saat ketiga perempuan masih mengunyah, ia mengeluarkan sebongkah keju, memotong-motongnya dadu kecil, lalu cracker asin berbentuk bulat. Ia menaruhnya di dua piring berbeda.
"Kamu selalu tahu keju kesukaan saya,” ujar si penyelia senior senang, meraup beberapa potong keju.
"Well, tiap hari saya makan keju seperti kalian makan nasi.”
"Dasar naga,” bisik penyelia senior yang langsung disambut tawa meriah asisten pertama. Kali ini Kolonel Sanders tidak mengomentari, tetapi mengangkat dirinya, pergi ke kamar, melakukan entah apa di sana.
"Hmmh, gitu aja marah!” ledek si atasan.Meski makanan sudah habis, puding cokelat sudah habis, keju dan cracker sudah habis, si atasan belum bersabda untuk mulai kerja. Kolonel Sanders pun tampaknya hanya menunggu. Dan sambil menunggu, ia bercerita tentang anjing kecil di rumahnya, namanya Diego.
Diego diajari untuk lari mendekat tiap kali namanya dipanggil. Satu kali tetangganya beli burung beo. Lalu Beo itu bisa ngomong, ”Ke sini Diego. Ke sini Diego.” Tiap kali Diego berlari ke luar rumah, mencari arah suara. Setelah melihat anjing kebingungan berputar-putar, beo akan mengatupkan mulutnya.
Beo terus memanggil Diego. Anjing itu tak pernah merasa ditipu oleh si beo. Berkali-kali. Dan itu menyebabkan ketenteraman di rumah terganggu. Lalu istrinya protes ke tetangga bahwa tindakan si beo mengganggu. Pemilik beo membela, berkata dia tak pernah mengajari beonya berkata itu.Belakangan diketahui sebabnya, si beo mengikuti kebiasaan Kolonel Sanders, yang tiap kali tiba di rumah, keluar dari mobil, yang pertama dikatakan mulutnya adalah, “Ke sini, Diego, ke sini Diego.”
Mereka terkekeh-kekeh membayangkan Diego yang malang, tetapi dengan cepat penyelia senior menyambar, menghentikan keriaan, dengan bersabda, “Ayo, kita mulai kerja. Nanti kita kemalaman pulang. Sakit perut gua kumat.”
Mendengar itu, Kolonel Sanders dan asisten pertama bergerak ke arah boks dokumen, sementara ia tertahan karena atasannya mendadak berbisik kepadanya, “Dia pikir cerita itu masih lucu. Dia sudah ceritakan itu tiap kali ada orang baru. Kasihan, tak punya stok cerita.”
Perempuan itu membeku sejenak, setelah itu dengan gerak tak kentara, mulai ikut memilah-milah dokumen, menurut situasinya: pengajar atau peneliti. Ada sembilan puluh nama untuk diperas menjadi 40, sesuai kuota tahun ini. Diam-diam ia mengamati bahwa asisten pertama bekerja cekatan dan profesional. Dia berusaha menganalisis dengan baik profil orang yang dibacanya. Mengingat lagi pembicaraannya dengan atasannya, ia merasa berdosa kepada rekannya.
Kalau peneliti, dia harus menjelaskan penelitiannya secara rinci dan penelitiannya tidak sensitif. Kalau pengajar, dia harus menjelaskan materi dan metode yang akan dikerjakan dan bermanfaat. Hal-hal menyimpang seperti ingin mengenal budaya atau melancong, buang ke tempat sampah! Dia pikir itu uang dari nenek moyangnya?” katanya.”Perhatikan riwayat penyakit dan obat-obat yang sedang dikonsumsi. Kalau rumit dan sakit jiwa, coret! Kita bukan mengurus orang sakit di sini!” tegasnya lagi.
Malam itu penyelia senior menunjukkan kekuatannya atas direktur eksekutif. Dengan pongah ia berkata dia yang paling tahu masalah genting yang akan timbul di lapangan. Tiap kali Kolonel Sanders mengangguk-angguk dengan wajah kikuk, karena tiap kali berpendapat berbeda, ditentang oleh si penyelia senior, dengan ganas dan beringas. Dan si asisten pertama tampaknya menghindari konflik dengan keduanya. Ia tiap kali menurut apa yang diperintahkan. Antara tak mau ambil pusing dan menyelamatkan diri dari kerumitan pola komunikasi yang membingungkan.
“Kamu harus akui, saya selalu yang menghadapi kesulitan dan peraturan. Kamu hanya terima beres, ‘kan? Jadi ikuti saran saya!” bentaknya ke direktur eksekutif.
Tiap kali dokumen yang sudah melewati screening asisten pertama dan Kolonel Sanders, akan dibaca ulang penyelia senior, mempertanyakan ulang, yang malah memperlambat pekerjaan. Mereka memang berhasil memilih 40 nama malam itu, lewat tengah malam. Ia merasa lehernya beku saat keluar dari apartemen Kolonel Sanders.
“Besok ke kantor tepat pukul 7. Kita akan membuat catatan untuk dipresentasikan ke dewan komisioner, kenapa kita memilih 40 orang ini. Jangan bikin alasan telat!” seru si penyelia senior sebelum mereka bubar. Kolonel Sanders mengangkat bahunya sekali, menanggapi perintah itu.
Hari pertama yang panjang. Hampir dua puluh jam bekerja. Ia tak perlu mengkhawatirkan pekerjaan barunya. Yang jelas, ia akan berhadapan dengan monster betina yang selalu bernafsu menancapkan kekuasaannya dalam-dalam di diri lawan.
Di taksi, ia berusaha tenang. Membayangkan ibunya yang sekarat, kebaikan hati bibinya dalam merawat, dan kebulatan tekadnya. Dia merasa siap bertempur di kawah candradimuka. Sedahsyat apa pun pertempuran itu.
Pagi itu ia dan Kolonel Sanders tiba di kantor kurang dari pukul 7. Asisten pertama pukul 7.30. Sementara atasannya, pukul 10. Sambil menunjukkan celah pada gigi serinya, ia membela dirinya, telat bangun karena sakit kepala dan tidur kurang.
Adegan 3 – Musim panas
Pagi ini hari rapat dengan para komisioner. Dan pagi ini akan berakhir lebih singkat.
Semalaman ia menghafal 40 calon penerima grant, kelebihan-kekurangan, hingga ke titik koma.
Asisten pertama, bahkan penyelia senior dan Kolonel Sanders, mungkin takkan pernah menduga apa yang akan terjadi di ruang rapat pagi itu.
Buah-buahan mahal dan pastry hotel bintang lima adalah tradisi rapat ini. Sebenarnya ini hanya formalitas. Para komisioner umumnya percaya hasil kerja tim mereka, akan meluluskan nama-nama, tanpa sanggahan serius. Setelah itu nama-nama akan dikirim ke kantor pusat, yang menandai dimulainya proses lingkar pertama.
Setiap orang bersikap santai. Overhead projector sudah dipanaskan. Kopi dan teh mengepul hangat. Ruangan sejuk segar.
Penyelia senior bertindak sebagai tuan rumah yang kelewat ramah. Dia membual dengan santai, berkata telah memilih sendiri buah-buahan tropis kesukaan mereka. Kue-kue yang dipilihnya pun yang terbaik yang dimiliki negeri ini. Makan siang nanti adalah puncaknya.
Lalu sang atasan memperkenalkannya sebagai anggota baru tim. Ketiga komisioner menyalami, antusias setelah mendengar pekerjaan sebelumnya: wartawan, pegawai pemerintah, penulis.
“Dan, bagaimana pengalaman pertama menyeleksi calon grantee kemarin?” tanya ketua komisioner, ramah.
Tanpa kesulitan, tak terburu-buru, dia menjelaskan dua garis besar program, lalu menyebutkan beberapa nama menonjol, fungsi penelitian mereka bagi negeri ini, dan mengemukakan pendapat-pendapat yang sederhana.
Ketiga komisioner mengangguk-angguk, mulai tergugah.
Lalu ia menyebut tiga nama yang tak ada dalam daftar 40, yang menarik perhatiannya karena menurut hematnya, penelitian hukum kelautan sangat strategis bagi negeri yang adalah maritim ini. Penelitian serupa belum pernah dilakukan karena izin yang melibatkan kesediaan banyak pihak dan membutuhkan komunikasi baru dengan beberapa lembaga negara dan wilayah perintis.
Ia masih menjelaskan beberapa hal, ketika ketua komisioner memanggil Kolonel Sanders dan atasannya, untuk menyimak. Saat itulah penyelia senior gelisah. Dan kegelisahan itu terlalu kentara sehingga semua orang bisa merasakan gerak-geriknya yang kikuk. Pagi belum beranjak.
“Siapa yang ingin coba buah ....”
“Saya kira kita perlu mempertimbangkan pendapat ini. Sangat menarik,” kata satu komisioner.
“Mungkin sebaiknya kita menurunkan tiga dari kelompok 40, memasukkan tiga penelitian maritim seperti yang dia usulkan?” ujar komisioner yang lain.
“Pendapat yang bagus. Sangat bisa dipertimbangkan,” ucap Kolonel Sanders memandangnya, tersenyum bangga.
“Wah, rapat kita sudah selesai sebelum dimulai. Terima kasih, Young Lady. Saya kagum dengan gagasan itu. Dan selamat, bahasa Inggris kamu sempurna. Pagi ini benar-benar cerah. Sangat manis. Kita akan membuka terobosan baru untuk program ini. Bukan begitu? Mana buah-buahan tropis yang menyenangkan hati kita itu? Kita perlu rayakan energi segar yang dibawa kawan baru kita. Sepertinya kita sudah menemukan orang yang tepat, yang kita cari-cari selama ini. Kamu akan pensiun bahagia, Sayang. Ha…ha…ha...,” kata seorang komisioner menyebut nama atasannya.
Perempuan itu tersipu karena dielu-elukan menjadi bintang bersinar di pagi cerah itu. Saat presentasi, ia pun diberi kesempatan pertama untuk menjelaskan ke-40 calon penerima grant. Ia takjub bahwa apa yang dibaca semalam, ditumpahkan pagi ini. Semua bertepuk tangan, kecuali atasannya.
Dan, pagi itu benar-benar berakhir lebih cepat.
Sorenya, penyelia senior mengajaknya pergi, tidak menyebutkan tujuan. Asisten pertama seperti dilupakan kehadirannya, tidak diajak. Perempuan itu sedikit waswas, tetapi ia berusaha tenang. Ia masih ingat ekspresi tak senang dan sorot mata tajam yang ditunjukkan atasannya selama presentasi.
Taksi meluncur lancar. Atasannya mengobrol apa saja yang tak penting, yang menyenangkan. Perihal presentasi tidak disinggungnya.
Lalu atasannya bertanya keluarganya. Ia ceritakan apa adanya. Bahwa ia anak tunggal, ayahnya meninggal setahun lalu, tak lama setelah ibunya didapati mengidap kanker.
“Tante saya merawat Ibu. Dia tidak menikah, ikut kami sejak gadis. Dia sangat telaten menyiapkan makanan sehat dan jus, mengingatkan minum obat.”
“Wah, syukurlah. Dalam kesesakan hidup, Tuhan selalu buka jalan, ketika tak ada jalan. Ibumu pasti bahagia punya anak berbakti kayak kamu.”
Atasannya memujinya, tulus. Lalu mereka tiba di satu rumah. Tempatnya bersih dan luas. Atasannya menemui orang yang berjaga di ruang tamu, lalu mereka menunggu.
Tak lama seorang laki-laki tengah baya muncul. Pakaiannya rapi dan perlente. Garis-garis di wajahnya mengatakan dia saudara kandung atasannya. Dialah yang disebut-sebut si trouble-maker oleh atasannya. Rumah itu semacam pusat rehabilitasi untuk pecandu alkohol dan ketidakstabilan emosi.
Atasannya mencium adiknya, mesra. Mereka berpegangan tangan, saling bertatapan, sambil berbagi cerita ringan, yang lucu. Laki-laki itu tersipu karena si kakak mencium kepalanya. Ia diperkenalkan sebagai asisten baru di kantor, dipuji sebagai anak yang berbakti, menjadi tulang punggung keluarga, ketika ibunya sakit kanker.
“Kamu tengok, dong, ke rumahnya. Ketemu ibu dan tantenya. Apa kabar, adik manis?” tanya si flamboyan, menggenggam tangannya.
Kakak-beradik itu saling memuji kebaikan, menceritakan kebiasaan waktu kecil, bersama saudara-saudara yang lain, dan orang tua. Mereka kompak dengan ayah mereka, bersatu untuk menundukkan ibu mereka yang keras.
“Tapi kami semua cinta Mami. Dia ratu di dapurnya. Masakan-masakan legendaris keluarga, lahir dari tangannya. Tapi, disiplinnya itu enggak tahan...,” keluh atasannya, yang disambut tawa cekikikan adik laki-lakinya.
Ia ingat atasannya pernah berkata semua saudaranya tak tahu diri. Membuatnya susah. Tetapi pemandangan di depannya, perkataan itu tak terbukti. Menjelang pamit, si kakak berkata dia sudah mentransfer uang bulanan dan tagihan rumah rehabilitasi.
“Terima kasih, Sis. Kalau bukan karena kamu, aku sudah mati di jalanan. Supporting group, lancar. Di sini banyak buku-buku bagus. Aku enggak bosan.”
“Bagus. Tapi aku pergi sekarang, ya. Minggu aku jemput kamu, ke gereja.”
“Adik manis, tolong jaga kakak saya, ya. Kata orang dia galak. Tapi hatinya baik. Enggak ada yang seteguh dia di keluarga. Membantu tanpa pamrih,” kata si adik.
“Ah, dia mulut manis, tapi hatinya busuk. Jangan percaya,” sanggah sang kakak, sambil mencium dan memeluk adiknya, takzim.
Pemandangan itu sungguh manis. Air matanya hampir menetes.
Dari sana mereka tiba di satu ruang lebar, di samping sebuah gereja. Di dalamnya, sekitar 20 orang sudah berkumpul. Anggota paduan suara gereja, yang akan mengikuti perlombaan tingkat nasional. Lusa, mereka akan terbang, berlaga.
“Ah, ini dia bos sudah datang,” seru mereka beramai-ramai.
Mereka melaporkan bahwa hasil kostum memuaskan. Dengan seragam bagus, kami akan lebih percaya diri menyanyi, ungkap mereka.
“Terima kasih sudah menyumbang kostum buat kami. Tuhan memberkatimu berlipat kali ganda, Sis.”
“Aku senang urusan kostum sudah selesai,” jawab atasannya merendah.
Ia seperti melihat sisi lain dari atasannya. Berbeda dari penampilan yang ditunjukkan sehari-hari di kantor.
Tetapi tengah malam, di antara tidur lelapnya, ia mendengar bunyi bip selulernya. Dari atasannya. Cepat-cepat ia membaca.
“Pendapat kamu yang sok tahu di depan komisioner, takkan berhasil. Saya orang yang paling tahu keadaan di lapangan. Sekali lagi kamu melangkahi saya, saya akan bertindak tegas! Jangan coba-coba jadi pahlawan. Usul kamu bikin penyakit saya kambuh! Kalau terjadi sesuatu pada saya malam ini, itu karena ulah kamu!”
Cerita selanjutnya >>>
***
Ita Siregar
Ita Siregar


