LUKISAN TUA DALAM BINGKAI PANJANG sekarang terpasang di dinding rumah Ibu. Lukisan yang selalu menjadi misteri bagiku sejak aku bisa berhitung. Dua belas sosok terlukis di sana. Sosok pertama di paling kiri adalah Eyang Uti yang bersanggul dan berkebaya kutubaru. Setelah itu berturut-turut di sebelahnya ada sosok Ibu sebagai anak pertama. Usia Ibu saat itu mungkin sekitar 20 tahunan. Sosok kesebelas adalah sosok anak perempuan berusia satu tahun. Adik Ibu terkecil itu dilukis bersebelahan dengan sosok terakhir, Eyang Kakung, yang memakai kemeja safari warna biru tua.
Dua belas sosok, tanpa sadar aku berhitung. Samar-samar suara Eyang Uti yang berbisik di telingaku terngiang kembali. “Tiga belas,” bisik Eyang Uti pada diriku yang baru bisa berhitung. “Ada tiga belas orang.”
Aku pernah bercerita kepada Ibu tentang kalimat Eyang Uti. Tanpa kuduga Ibu sontak mencengkeram lenganku.
"Jangan pernah sebut-sebut itu lagi," Ibu berbisik mengancam di telingaku. "Nanti Eyang Uti dibawa pergi jauh."
Sejak itu kukunci mulutku rapat-rapat tiap kali Eyang Uti berkata padaku ada tiga belas sosok di lukisan berbingkai panjang. Aku sayang sekali kepada Eyang Uti dan tidak ingin dirinya dibawa pergi hanya karena dia tidak bisa berhitung.
Suara tangis bayiku mengembalikan kesadaranku. Bayi laki-laki berusia tiga bulan itu baru saja aku taruh di tempat tidurnya setelah kugendong dan kuayun selama dua jam. Terduduk lelah di kursi kayu berukir di seberang lukisan berbingkai panjang, aku tak sanggup memaksa tubuhku untuk mengambil bayiku yang menangis di kamar. Bahkan telingaku berusaha keras menulikan suara tangisannya.
“Ma….”
Aku tidak menyadari kehadiran suamiku yang berdiri menggendong bayi kami. Di minimnya cahaya lampu ruangan, masih dapat kulihat rasa lelah dan kantuk pada wajah suamiku.
“Aku sudah coba gendong, tapi Adek masih nangis….” Suaranya serak menggantung.
Melihat wajah lelahnya, rasa bersalah tanpa ampun menyergap dan memaksaku berdiri menerima bayiku dari gendongan suamiku.
“Eh! Hati-hati!”
Aku tersentak. Suara kaget suamiku dan lengkingan tangis bayiku menyadarkan aku. Suamiku mencengkeram gendonganku keras-keras.
“Hati-hati merosot! Sebentar aku ambilkan jaritnya.” Suamiku melesat ke kamar.
"Sssh.... Sayang…." Bisikanku terdengar seperti suatu permohonan. Kupandangi wajah merah basah di gendonganku. Wajah anak pertamaku. Takut tubuh kecilnya merosot lagi dari gendonganku, kupeluk dia erat-erat dengan penuh perasaan.
Suamiku kembali dengan membawa jarit batik berwarna cokelat. Dibantunya aku mengikat jarit melilit tubuhku dan bayiku.
“Sudah kencang?” tanyanya. Diperiksanya tiap simpul untuk memastikan.
Aku mengangguk. “Kamu tidur dulu. Sudah jam 2. Subuh-subuh kamu sudah harus bangun,” kataku lirih.
Dielusnya kepalaku sebelum berjalan ragu-ragu masuk ke kamar.
Apa lagi yang harus aku lakukan untuk menenangkan seorang bayi pada jam dua pagi? Aku terduduk lemas di kursi di seberang lukisan berbingkai panjang. Bayiku masih menangis, walau tak senyaring sebelumnya. Kudekatkan wajahku ke pipinya.
"Ssshh...," bisikku. Seperti yang diajarkan Ibu, dari mulutku mengalun doa-doa yang kuharap bisa menenangkannya. Bayiku masih menangis gelisah. Tatapanku terantuk pada lukisan di bingkai panjang. "Sayang, lihat itu! Lukisan Eyang!"
Bayiku berangsur diam mendengarku bercerita tentang satu per satu sosok di lukisan. Dia kembali tertidur ketika ceritaku sampai ke sosok nomor sebelas. Kulemaskan punggung dan bersandar di punggung kursi. Aku tidak mau membuat bayiku bangun lagi, jadi kuputuskan untuk memejamkan mataku di kursi itu.
KETUKAN DI PINTU DEPAN yang terdengar dari kamarku membuat jantungku berdetak kencang. Bayiku baru saja terlelap untuk tidur siangnya dan aku baru bisa menaruhnya di tempat tidur. Ketukan di pintu terdengar lagi lebih kencang. Secepat kilat aku melesat ke ruang tamu. Sosok perempuan tua bersanggul kecil muncul di depanku saat kubuka pintu. Saat itu juga suara tangis bayi terdengar nyaring memecah sepinya siang hari di rumah besar milik Ibu. Kepalaku berdenyut-denyut.
"Wis ambil bayimu dulu, Nduk. Saya tunggu di sini," kata perempuan itu, lembut.
Kuraih bayiku dan tangisannya mereda begitu dia melekat di dadaku. Aku memasang jarit cokelat hadiah dari Eyang Uti sebagai gendongan. Ibu pernah mengomentari jarit yang menurutnya tidak seringkas gendongan bayi modern. Aku kembali ke teras dan menemukan perempuan tua itu masih berdiri dengan sabar. Sosoknya sederhana, namun anggun. Guratan kecantikan masih nyata di wajahnya. Aku belum pernah bertemu perempuan ini seumur hidupku, tapi kemiripan wajahnya dengan Ibu membuatku penasaran.
"Maaf, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"
Senyumnya tersungging ramah. Kerutan di pinggir matanya membuatnya terlihat lebih tua dari usia ibuku.
"Ibumu ada, Nduk? Kamu Arum, tho? Ini bayimu? Siapa namanya?"
Aku berusaha menyembunyikan rasa heranku.
"Ibu sedang pergi. Maaf, Ibu siapa, ya?"
"Aku ini kakak ibumu. Panggil saja aku Bude Ros."
Lamat-lamat kudengar diriku berkata, “Tapi Ibu tidak punya kakak.…”
EYANG UTI ternyata benar-benar bisa berhitung, aku membatin. Sekarang jumlah mereka benar-benar tiga belas. Diam-diam aku berhitung seperti anak kecil. Sebelas orang duduk di ruang tamu Ibu dalam keheningan yang menggelisahkan. Dua orang lainnya sudah terbaring di tempat peristirahatan mereka yang terakhir.
"Aku datang ke makam saat Ibu dikubur sebulan lalu. Aku berdiri agak jauh," suara perempuan tua yang baru kulihat siang tadi menjelaskan dengan tenang.
"Dari mana Mbak tahu Ibu meninggal?" tanya Ibu, dingin.
"Ibu... maksudku... kakaknya Bapak, Ibu Klaten, yang cerita."
Adik kedua ibuku menyela. "Lalu sekarang apa maksud Mbak datang ke sini?"
Bude Ros menghela napas berat. "Aku ingin bertemu saudara kandungku."
Sepuluh orang di ruangan itu saling menatap. Mereka menunggu suara yang akan keluar dari mulut ibuku, kakak yang mereka anggap paling tua.
"Aku ingat Mbak Ros pernah menolak Ibu. Kenapa sekarang Mbak Ros berubah pikiran?" Nada tajam di suara Ibu membelah malam yang baru saja turun. Telingaku mendengar suara terkesiap dan mataku menyaksikan rasa kaget di wajah adik-adik Ibu.
“Apa maksud Mbak Nien? Mbak Nien tahu tentang Mbak Ros sebelumnya?” tanya adik bungsu Ibu, dengan suara tertahan.
Wajah Bude Ros berubah muram. "Dik Nien,” kata Bude Ros pada ibuku, “susah bagiku untuk mendengar cerita aku anak yang dibuang oleh ibunya...."
"Ibu tidak membuang Mbak Ros!” potong Ibu dengan nada tinggi. “Ibu jatuh sakit setelah melahirkan Mbak Ros. Mbak Ros dibawa Kakak dari Bapak karena penyakit Ibu membuatnya tidak mampu mengurus seorang bayi!" Suara Ibu melengking. Kemarahan menggelegak di sana. “Aku ikut Ibu menjemput Mbak Ros. Dari dalam mobil aku menyaksikan Mbak Ros mengusir Ibu…."
Air mata menggenang di mata Bude Ros, tapi wajahnya kukuh menatap Ibu.
“Aku… masih kecil waktu itu… masih SMP.”
"Apa Mbak Ros tahu Ibu jatuh sakit lagi setelah itu, sampai mencoba bunuh diri?!"
Hawa dingin menyelimuti ruangan. Kilasan kenangan di kepalaku memberikan gambar masa kecilku bersama Eyang Uti. Eyang Uti yang sangat memanjakan aku adalah tempatku mencari kelembutan dan menitipkan tangis saat Ibu begitu keras terhadapku.Tak bisa kubayangkan Eyang Uti seperti penggambaran Ibu barusan.
"Mbak Nien?" panggil adik laki-laki Ibu termuda. Nadanya hati-hati. “Kenapa kami baru mendengar cerita ini?”
“Waktu kecil aku pernah mendengar Ibu diguna-guna. Apa karena itu kami tidak pernah diberi tahu?” Suara salah satu tanteku lirih bertanya.
“Sembarangan!” sergah adik laki-laki Ibu yang lebih tua.
"Tapi aku ingat Bapak membuat pengajian di rumah!” sela seseorang. "Ada yang bilang itu ruwatan….”
“Apa bisa orang kena guna-guna membuang bayinya sendiri?"
“Jangan sembarangan bicara soal guna-guna, soal bunuh diri!” Adik laki-laki Ibu tadi bertambah emosi. “Bapak dan Ibu orang yang taat beribadah! Mbak Nien tahu dari mana Ibu berniat bunuh diri? Aku tidak pernah mendengar cerita semacam itu! Tidak mungkin Ibu sependek itu pikirannya. Ibu tidak pernah lalai beribadah!”
“Mbak Nien bilang Ibu sakit! Bukan guna-guna! Dan kamu masih kecil waktu itu!” tanteku, adik persis di bawah Ibu, menyahut tak kalah emosi.
"DIAM!" Suara Ibu menggelegar memotong pikiran-pikiran yang terucap liar dan menyentak semua orang di ruang tamu itu. Sedetik kemudian bayiku menangis kencang, mengagetkan semua orang. Sedari tadi dia tertidur di gendonganku.
Ibu sontak menoleh ke arahku yang duduk di ruang keluarga, yang bersebelahan dengan ruang tamu. Tanpa bersuara aku bangkit dari kursi.
"Siapa nama bayimu, Nduk?" panggil Bude Ros.
Aku menghentikan langkahku berjalan ke kamar. "Candra," jawabku pelan.
"Pasti lahir pas bulan bersinar terang. Candra senang bangun malam-malam, ya?"
Aku mengangguk lemah. Bayiku masih menangis, tapi aku sudah tidak punya tenaga untuk membujuknya.
"Tapi Arum tidak sedang sakit, ‘kan? Badanmu kurus." Bude Ros bertanya lembut.
Mata Ibu tertuju kepadaku. Tajam. "Dia sehat. Hanya malas makan."
Suara tangis Candra makin kencang. Mata Bude Ros mengikatku. Pandangan matanya berpindah-pindah antara aku dan bayiku. Perlahan matanya membesar seperti tersadar akan sesuatu. Gelisah, kudekap bayiku makin kencang. Tangisnya makin menjadi-jadi. Aku berlalu secepat mungkin.
Di kamar, kubaringkan Candra sangat hati-hati. Tubuhku lunglai terduduk di lantai. Dari pinggir tempat tidur kupandangi bayiku yang terus menangis. Air mata meleleh di pipiku. Berganti-ganti aku memohon dan mengalunkan doa supaya Candra berhenti menangis. Permohonan yang sama yang telah ratusan kali aku bisikkan tanpa hasil. Tanganku meraba jarit yang masih melilit leher dan dadaku. Jarit berwarna cokelat yang tak pernah sempat aku cuci sejak dipakai tiga bulan lalu. Sekelebat ingatanku kembali pada suatu hari sebelum kelahiran anakku. Eyang Uti memberikan jarit berwarna cokelat yang tidak baru, tapi terlihat belum pernah dipakai.
“Hadiah untukmu. Jarit ini sakti. Sudah dimantrai!” Eyang Uti terkekeh melihat wajahku merengut. Kemudian wajahnya berubah serius, “Jarit ini akan berguna.”
Kuraba lagi jarit itu dengan gemetar. Badanku tiba-tiba bergetar hebat menyadari bahwa hanya selembar kain cokelat itu yang tiga bulan ini sudah menahan Candra di gendonganku. Tanganku perlahan membentuk cengkeraman. Lilitan jarit di leherku makin mengencang. Satu-satunya orang yang mengerti kegunaan sebenarnya jarit ini sudah dikuburkan sebulan lalu. Sekarang sudah terlambat bagiku untuk bertanya.
Suara ketukan di pintu terdengar samar. Sepertinya Bude Ros memanggilku. Aku ingin bisa bilang ke Bude Ros, sudah terlambat baginya untuk bertanya juga. (f)
Mariskova


