Fiction
Cerber: Intan yang Kucari [3]

2 Jul 2017


Bagian 3
 
Kisah sebelumnya:
Delapan bulan hendak menikah dengan Parulian, Rian bertemu lagi dengan Tigor, pria yang ia cintai sejak masa SMA. Namun, ketika Rian mantap memilih tetap bersama Parulian, justru tunangannya itu memilih menikahi wanita lain. Justru adik Parulian, Mario, yang kemudian mendekatinya.
 
Tiba juga hari itu, ketika suatu hari Mario datang dengan sikap gugup. Hatiku menebak-nebak, apakah dia hendak menyatakan cinta padaku, makanya dia terlihat tak tenang begitu? Terus terang, tebakan itu membuat  jantungku menjadi sibuk luar biasa. 

Sekarang hari Kamis, jadi kami tak akan disela oleh kehadiran Tigor. Tiap kamis, dia memimpin kebaktian pemuda di gerejanya. 

“Aku tahu, sampai sekarang kau masih akrab dengan Tigor,” katanya, membuka percakapan.
“Tapi, rupanya dia belum mengatakan apa-apa  padamu, ya?” pancingnya.
Aku memandangnya dengan wajah bertanya.
“Kita sudah sama-sama dewasa. Pasti kau sudah tahu kalau aku mencintaimu.”
Aku tahu, tapi jantungku yang sejak tadi memukul-mukul tanpa irama, sekarang berpadu dengan napas yang terhenti sesaat, setelah mendengar ucapannya.

Dia mengulurkan tangannya meraih tanganku. Aku tak berdaya menolaknya.

“Tanganmu dingin,” katanya separuh berbisik. Aku tersipu, mukaku terasa panas sekali.
Malu-malu kulayangkan pandang  ke wajahnya. Tiba-tiba, yang kulihat justru wajah Parulian.  
Aku terperanjat. Refleks kutarik tanganku dari genggamannya. Dia tersentak kaget, lalu memandangku kecewa.
“Aku tidak bisa,” kataku cepat.
“Karena abangku?” kudengar suaranya sangat gusar.
“Ya, karena dia,” jawabku berterus terang.
“Sudah setahun lebih. Mengapa kau membuang waktumu untuk terus mengingat-ingat dia?”
Aku terbelalak mendengar jawabannya. Betapa beraninya dia.
“Abangmulah yang membuatku menyia-nyiakan waktuku!”  aku berseru marah.
“Ternyata kau masih marah.”

“Ya. Aku memang masih marah. Tentu saja kau tidak akan mengerti, mengapa sampai sekarang aku masih marah. Karena bukan kau yang sudah membeli kebaya pengantin, ikut konseling pranikah. Juga bukan kau yang sakit berminggu-minggu dan tak dihargai perasaannya oleh seluruh keluargamu. Wajar kalau kau tak mengerti,” kataku marah dan pilu.

“Kami bukan tak menghargai perasaanmu. Tapi kami terpaksa. Papa dan Mama selalu mengatakan bahwa mereka bersalah padamu. Kalau memang mereka tak menyukaimu, pasti mereka tak akan mendorongku untuk mendekatimu.”

Aku malah naik pitam mendengar  jawabannya. Debar  cinta di jantungku berganti menjadi debar kemarahan.

“Begitu, ya?! Jadi kau mendekatiku untuk menghapus rasa bersalah orang tuamu? Bagus sekali. Lagi-lagi orang tuamu menyuruh anaknya berkorban untuk mewujudkan kemauan mereka.”
 


Topic

#fiksifemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?