Fiction
Bajama

30 Dec 2015


Sebagai anak perempuan satu-satunya seakan banyak yang meramal dan menaruh harapan tinggi bahwa aku akan mewarisi keahlian memasak Amak.

Satu hal yang selalu membuat rinduku bertalu-talu akan kampong* halaman adalah masakan  Amak*, meskipun belasan tahun aku telah merantau di Pulau Jawa. Aroma rempah-rempah yang menyapa penciumanku tiap kali Amak memasak, seakan terus membuntuti sekalipun aku telah berjarak ratusan kilometer dari tanah leluhur. Amak dan masakannya tak pernah menyingkir dari ingatanku.

Meskipun aku tak pandai memasak seperti daro* Minang lainnya, aku meyakini rindu Amak akan kehadiranku di dekatnya tak pernah putus. Cinta Amak terhadapku, anak perempuan satu-satunya, tak mungkin bisa kutandingi.

Aku mengikuti jejak Uda*, Apak*, Mamak*, Atuak*, dan leluhur sebelumnya yang mengadu nasib di nagari* orang. Ya, semua laki-laki. Para perantau dari Minang umumnya laki-laki. Kaum perempuan biasanya keluar dari kampong setelah menikah dan diboyong suami ataupun ikut sanak keluarga yang merantau. Sebagai anak perempuan, apalagi satu-satunya, aku seharusnya tak mengikuti jalan Uda.
Aku sepatutnya menemani Amak, merawatnya sepanjang usia. Namun, belas kasih Amak terhadapku tanpa pamrih. Ia tak mengharapkan aku membalas budi dengan mengikatku di dekatnya.

Ketika aku ungkapkan keinginanku untuk mengambil kuliah di Jakarta, tak seorang pun yang setuju. Uda, Mamak yang menggantikan peran Apak setelah wafat, bahkan tetangga yang turut campur, menentang keras. Tentulah aku ingin berontak. Pastilah Amak masih ingat sifat anaknya yang satu ini yang keras kepala. Tapi kulihat Amak hanya terdiam dan tak melontarkan sepatah kata pun. Aku duga ia pasti kecewa mendengar keinginanku untuk menjauh dari dekapannya. Hatinya pasti seperti teriris-iris. Penolakan itu membuatku hilang harapan. Berhari-hari aku hanya mengurung diri di kamar. Mungkin aku ditakdirkan untuk menghabiskan sisa hidupku di kamar ini.

Di malam ketiga, Amak masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu. Tak seperti biasanya. Tanpa basa basi dan tanpa duduk terlebih dulu, Amak berucap, “Hati Amak lebih senang kalau kau bahagia meskipun tidak berada di dekat Amak. Daripada kau berada di sini tapi tak bahagia. Biarlah Amak titipkan kau pada Illahi. Amak yakin gadih Amak ini bisa jaga diri baik-baik.” Aku tak bisa berkata apa-apa selain bersimpuh di kedua kakinya.

*****

Hidup sebatang kara di kota perantauan dan jauh dari Amak ternyata sangat sulit. Amak telah memanjakan selera lidahku dengan masakan buatannya yang dikenal nikmat hingga ke luar kampong. Bahkan kudengar kisah, banyak lelaki dari keluarga terpandang yang berharap dipinang oleh Amak lantaran kepandaiannya memasak. Dalam adat Minang, pihak perempuan yang meminang dan membayar uang japuik* kepada laki-laki. Namun begitu, Amak justru menjatuhkan pilihan pada Apak, lelaki sederhana dari keluarga tak punya.

Sebagai anak perempuan satu-satunya seakan banyak yang meramal dan menaruh harapan tinggi bahwa aku akan mewarisi keahlian memasak Amak. Berkali-kali Amak memintaku ikut ke dapur agar aku bisa belajar memasak padanya. Tapi ada saja alasanku untuk menolaknya secara halus. Aku lebih tertarik berkutat dengan buku. Lambat laun Amak memahami bahwa aku tak berminat memasak. Suatu malam, saat sedang menjahit kancing seragam sekolahku yang terlepas sambil menemaniku mengerjakan tugas sekolah, Amak berkata, “Tak apa kalau kau tak pandai memasak. Tapi kau harus pandai di sekolah, supaya bisa meraih cita-citamu.”

***

Meniti karier di ibu kota menguras pikiran dan menyita waktu sehingga mengalihkan perhatianku dari Amak dan masakannya. Ritual pulang kampong  tiap hari raya Lebaran mulai berjeda menjadi dua tahun, kemudian tanpa sadar sudah tiga tahun aku tak sempat melepas rindu pada Amak dan masakan buatannya.

Amak berkali-kali mengingatkanku untuk pulang. Tapi aku hanya mengucap janji yang selalu abai untuk ditepati. Bahkan aku pun kesulitan membagi waktu untuk kekasihku yang tinggal di kota yang sama. Hubungan asmaraku tak pernah berakhir di pelaminan.
Sekitar dua pekan lalu, Amak memintaku segera pulang yang tak dapat kuhiraukan lagi. “Kau harus pulang Gaia, kalau kau masih menganggap aku sebagai amak kau,” nada suaranya tetap terdengar lembut namun tegas seakan menjadi perintah yang tak bisa diganggu gugat lagi. Aku turuti karena khawatir terjadi sesuatu pada Amak.
Warna hijau menyambut pandanganku ketika mobil sewaan dari bandara memasuki kampong kelahiranku. Hamparan sawah yang membentang dinaungi ngarai yang menjadi dinding pelindung. Kerinduan pada keelokan alam nagari yang tak kujumpai di tempat lain, mulai terobati. Suasana kampong hampir tak berbeda seperti terakhir kali aku tinggalkan, hanya saja tampak lebih sepi. Mungkin karena penghuninya semakin banyak yang merantau.

Ketika mobil berhenti di sebuah rumah panggung yang tetap kokoh meskipun tertelan zaman, sosok perempuan setengah baya tampak tergopoh-gopoh menuruni tangga.
“Amaaak!” aku berlari menghampirinya, lalu mencium tangannya.  
“Anak gadih* Amak!” serunya sambil memeluk dan menyerangku dengan ciuman di sekujur wajah.
“Amak sehat, ‘kan?”
Ia mengangguk mantap, “Alhamdulillah, sehat walafiat.”
“Tapi garis kerut di wajah Amak  makin bertambah, tuh. Kebanyakan kena hawa panas tungku bisa bikin kulit lebih cepat menua,” godaku.
“Amak ingin berhenti memasak dan kau yang melanjutkan memasak untuk Amak, setuju?”
“Setuju! Asalkan Amak mau menyantap makanan tak sedap buatanku?” Tawaku pecah tak tertahan.
“Nah, selama di sini, kau harus belajar memasak sama Amak. Kau tak boleh pergi lagi sampai pandai memasak.”
“Mak, aku tak pandai masak saja sudah sulit mencari suami karena aku dianggap terlalu sempurna. Apalagi kalau aku pandai masak. Makin sulit nanti,” selorohku.  
“Tak perlu khawatir, Amak sudah siapkan untuk kau.”
“Siapkan apa Mak? Peralatan masak? Aku minta resep sajalah, nanti aku belajar sendiri,” aku merajuk.  
“Sudah, kau santai saja. Sekarang kita siapkan buat baralek*.”
“Baralek dalam rangka apa, Mak? Amak ingin menikah lagikah?” candaku.
“Hush, jaga cakap kau. Baralek untuk kepulanganmu Gaia, anak daro perantau yang hampir hilang karena tak pulang-pulang. Amak undang sanak, kerabat, dan tetangga untuk makan Bajama* malam ini.”

***

Seusai membongkar muatan koper, aku menyambar handuk hendak membasuh tubuh. Ketika keluar kamar, aku sempat terkejut. Seingatku sewaktu masuk kamar tadi hanya ada Amak di rumah. Kini penghuni dapur penuh sesak. Banyak wajah yang masih kuingat, beberapa wajah kulupa namanya, ada pula wajah yang baru kulihat. Mungkin istri dari sepupu yang baru menikah dan sedang menginap di kampong suaminya ini.
Melihat kehadiranku, Amak berseru dari dapur, “Gaia lekas mandi. Selepas itu, kau bantu Amak memasak.”

“Baik Amak, tapi nanti aku bantu rapi-rapi saja, ya. Amak kan tau kalau aku tak pandai masak. Nanti aku malah merusak masakan Amak,” sahutku.
Seisi rumah tertawa. Rupanya sudah menjadi rahasia umum di kampong ini bahwa bakat Amak yang membanggakan itu tak menurun padaku. Kini Amak pun tak menganggapnya sebagai beban. Meskipun anak gadih-ku tak pandai memasak, setidaknya ia telah berhasil menjadi pengacara di ibu kota, mungkin begitulah kebanggaan Amak sekarang.
Aroma rempah berupa kapulaga, cengkih, jintan, kayu manis, ketumbar, merica, adas kandis yang berpadu mengintimidasi indra penciumanku. Randang* kesukaanku sedang dimasak Amak. Aneka bumbu rempah melebur dengan santan kelapa lalu merasuki irisan daging di atas kuali yang dipanasi tungku kayu bakar. Hawa panas dari tungku tak hanya membuat daging menjadi empuk, namun juga mematangkan warna kulit wajah Amak menjadi kecokelatan.

 Randang perlu dimasak selama empat hingga enam jam agar daging menjadi lunak dan bumbu meresap sempurna. Butuh kesabaran tinggi untuk memasaknya yang pasti tak kumiliki. Meskipun tanpa penyedap rasa buatan, mencium aromanya saja membuat perutku  makin meraung-raung.

Sebelum azan magrib berkumandang, nasi telah tanak dan lauk-pauk telah matang. Alas tikar pun telah digelar. Satu per satu kerabat berpamitan pulang sejenak untuk membasuh tubuh dan mengganti pakaian sebagai penghormatan kepada tuan rumah. Saat mencuci tangan setelah memotong tapai sarikaya yang telah kucicipi sampai berkali-kali karena tak tahan godaan melepas rindu dengan rasa legitnya, Amak menyodorkan baju kurung dan kain songket halus yang terlipat rapi.

“Pakailah,” ujar Amak. Melihat sorot matanya yang penuh harapan agar aku menuruti permintaannya, aku tak punya alasan untuk menolak.  
Setelah berganti pakaian, aku memoles wajah dengan riasan sekadarnya. Telepon genggamku berdering nyaring. Tumben, biasanya sinyal sulit terjangkau. Nama Adrian tertera di layar. Lelaki yang kutemui di tanah rantau. Kami sempat menjalin hubungan yang serius namun akhirnya kandas di tengah jalan karena aku dianggap lebih memprioritaskan karier daripada dirinya. Ia memutuskan hubungan secara sepihak, tapi kini ia meminta untuk rujuk kembali. Aku tak tertarik menjawab panggilan teleponnya dan memilih beranjak ke luar kamar.

***

Ba’da Isya, tamu mulai berdatangan. Untung saja, Amak diwarisi rumah dengan beranda yang luas oleh Atuak yang pedagang ulung. Sehingga dapat menampung banyak orang. Terdengar dari dapur, tamu yang datang terkadang menanyakan tujuan makan Bajama ini. Amak tak lelah menjawab dengan ramah, “Untuk Gaia yang lama tak pulang dari rantau.”

Setelah tamu berkumpul, Amak memanggilku untuk duduk di dekatnya. Aku mengatur posisi duduk basimpuah* seperti perempuan lainnya. Dari tempat dudukku yang diapit antara Amak dan pemuka adat, aku bisa menebarkan pandangan ke seluruh tamu yang hadir, menyapa dengan senyuman sekaligus sebagai ucapan terimakasih atas kesediaan mereka untuk datang.

Seingatku, dulu sewaktu menghadiri makan Bajama, para tamu mengenakan pakaian adat. Kini hanya tetua adat yang masih setia menerapkannya. Kaum lelaki datang memakai baju koko dan sarung, sementara kaum perempuan memakai baju kurung dan songket atau sarung batik.

Tiba-tiba pandanganku terhenti pada sosok lelaki di sudut dekat pintu. Lelaki yang terpatri dalam memoriku. Lelaki itu pernah mencuri perhatianku. Lelaki yang kukagumi, tapi rasanya sulit kuraih. Lelaki yang membuat kerumunan gadih serentak berteriak histeris bila melihat ia melintas.

Lelaki yang setiap kali bertemu di jalan selalu menyapa dan memanggil namaku. Namun degup jantungku yang berdetak terlalu kecang hanya bisa membuatku tertunduk dan tak membalas senyum maupun sapaannya. Kemudian aku akan lari sekencang-kencangnya tanpa tujuan. Entah karena hatiku terlalu senang atau justru menyesali kebodohan sikapku.  

Lelaki itu yang membuatku tak pernah menolak ajakan Amak untuk menghadiri undangan makan Bajama. Dalam acara itulah, berbagai kalangan status sosial bisa duduk bersama dalam satu lingkaran untuk menyantap menu makanan yang sama. Aku yang dilahirkan dalam keluarga sederhana bisa leluasa memandang dari dekat lelaki dari keluarga terpandang itu. Lelaki itu sering kali didaulat untuk membacakan ayat suci Al-Quran sebagai pembuka acara makan Bajama.

 Tersadar dari kenangan masa lalu, aku terkejut melihatnya tersenyum ke arahku. Aku sontak tertunduk. Sekali lagi, aku mengabaikan senyumnya. Andai aku bisa berlari sekencang-kencangnya seperti yang dulu sering kali aku lakukan….
Lelaki itu membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya. Sayang sekali, nyaliku ciut untuk menyatakan ke Amak bahwa aku mengagumi lelaki itu dan meminta Amak meminangnya untukku. Aku tak mau lamaran Amak nanti ditolak karena tak sanggup membayar uang japuik yang diminta. Seluruh gadih di nagari ini, aku yakin merasakan hal yang sama denganku. Terpesona oleh senyumnya yang menawan dan perilakunya yang santun. Namun, realitas bahwa lelaki itu putra satu-satunya Datuk Samsul, pemuka adat, aku terpaksa mengubur perasaanku dalam-dalam. Apalagi teringat aku tak bisa memasak. Apa pula yang bisa kuandalkan untuk memikat hatinya?

Setelah lulus SMA, lelaki itu mengembara ke Pulau Jawa untuk melanjutkan pendidikan. Untuk itulah, aku memutuskan untuk kuliah di Jakarta. Aku berharap suatu hari bisa bertemu dengannya di tanah rantau. Namun, hingga belasan tahun berada di sana, aku tak pernah berhasil menangkap bayangannya. Ketika kudengar kabar ia telah dipinang oleh putri keluarga kaya dari kampong tetangga, aku memutuskan berhenti mencari kabar tentangnya.

Jelajah memoriku ke masa lalu mendadak terhenti ketika mendengar sorak kalimat “Mari makan!” yang mengakhiri balas pantun, ritual sebelum memulai acara makan. Tanpa sadar pula aku melewati petuah yang disampaikan Datuk Samsul, Apak lelaki itu, sebagai acara pembuka. Seruan itu sebagai pertanda makan Bajama dimulai. Jamuan berupa jamba* berisi nasi dan piring berisi lauk-pauk di bagian tengahnya, serentak disajikan. Empat sampai enam orang melingkari satu jamba. Lama aku tak mengikuti tradisi Minang ini, tapi aku masih ingat aturan yang diterapkan dalam makan Bajama.

Cara makannya menggunakan tangan. Tetapi tidak diperkenankan memasukkan tangan ke dalam mulut untuk menyuap makanan, melainkan cukup dengan ‘melemparkan’ suapan makanan ke mulut. Sebagai tanda penghormatan, para tetua dipersilakan untuk memulai terlebih dulu, kemudian diikuti yang muda. Di sela makan, aku mencuri pandang ke arah lelaki itu. Ternyata ia tengah melihat ke arahku. Aku segera mengalihkan pandangan. Rasa lapar mendadak hilang. Rasanya aku ingin berlari sekencang-kencangnya masuk ke dalam rumah.

***
Lewat tengah malam, akhirnya aku bisa berbaring di ranjang untuk meluruskan punggung yang pegal. Aku hendak memejamkan mata ketika pintu diketuk.
“Gaia, sudah tidurkah? Amak hendak bicara sebentar.”
“Belum, Amak. Masuklah,” sahutku.

“Gaia, Amak sebenarnya tak mau bicara masalah ini. Dari dulu Amak tak mau ikut campur urusan pribadimu. Tapi Amak merasa bersalah kalau tak pernah bicara soal ini. Sebelum Amak bicara, kau janji jangan tersulut amarah ya. Amak hanya ingin tanya pendapatmu saja. Kau boleh setuju, boleh tidak. Apakah kau minat menikah dengan lelaki dari kampong ini?”

“Maksud Amak aku mau dijodohkan?” selidikku. “Sejak dulu aku tak menaruh minat pada lelaki di kampong ini yang telah aku anggap seperti saudara sendiri.”
“Tak apa kalau kau memang tak minat. Amak tak mau memaksamu. Lagipula ini bukan pilihan Amak, tapi permintaan keluarga lelaki itu. Ketika kau remaja, ada lelaki yang mengatakan kepada orang tuanya bahwa ia ingin menikah denganmu. Tapi kubilang bahwa aku tak bisa menyampaikan kepadamu sampai kau lulus SMA agar kau konsentrasi belajar dulu supaya punya bekal pendidikan. Mereka anggap itu sebagai penolakan halus. Sejak itu mereka tak pernah bicara lagi perihal permintaan itu. Anak lelaki itu pun pergi ke Jakarta untuk kuliah. Seperti yang kau lakukan. Meskipun Amak tak paham alasanmu ingin kuliah di Jakarta.”
“Sekarang lelaki itu tinggal di Jakarta, Mak?”
“Selesai kuliah, ia langsung bekerja di sana sampai sekarang. Tapi tak seperti kau yang jarang pulang seperti anak hilang, ia rutin pulang kampong. Karena tak melihatmu pulang tiga tahun belakangan ini, ketika menjenguk Amak, ia menanyakan kabarmu. Ia berharap bisa bertemu denganmu di Jakarta, tapi tak pernah berhasil. Ia juga bilang masih berharap bisa menikah denganmu.”

Amak terdiam sejenak, menghela napas panjang, kemudian melanjutkan lagi, “Amak bilang tak janji bisa memenuhi keinginannya karena tak mau memaksakan Gaia. Tapi Amak berjanji akan membicarakannya dengan Gaia. Jadi, Amak tak mau ingkar janji karena tak pernah mengatakannya kepada kau.”
“Mengapa Amak tak bilang dari dulu? Siapa lelaki itu Mak? Aku kenal dekat?”
“Dulu kau pasti kenal. Tapi Amak sangsi apakah sekarang kau masih ingat dengannya.”
“Siapa Mak?” tanyaku penasaran.

“Risyad, putra Datuk Samsul. Kau masih ingat? Tadi dia datang di masak Bajama. Tapi dia bilang sepertinya kau lupa padanya.”
“Aku ingat! Tapi bukankah dia sudah menikah? Aku dengar kabar dia telah dipinang gadih dari kampong sebelah?”
“Dia tolak pinangan itu.”
“Amak, mengapa tak bilang dari dulu?”
“Amak ingat betul sewaktu kau beranjak remaja, Amak pernah bertanya apakah kau mau kalau dijodohkan? Kau bilang, kalau dijodohkan dengan pilihan Amak, nanti kau tak mau memakai suntiang* saat upacara pernikahan.”
“Ya aku masih ingat perkataanku itu. Suntiang bermakna setia menanggung beban yang mungkin timbul dalam rumah tangga. Aku kira akan dijodohkan dengan orang yang tak aku cinta, jadi aku tak mau berjanji akan setia dengan memakai suntiang.”
“Jadi, kau tertarik dengannya?”
“Begini saja Amak, tolong berikan nomor teleponku kepadanya. Katakan padanya untuk menghubungiku kalau sudah kembali ke Jakarta nanti. Di sini aku mau konsentrasi belajar memasak dulu. Ajari aku memasak randang andalan Amak, ya.”
Raut wajah Amak tampak bingung. Sementara aku tak sabar menunggu pagi agar segera bisa mewarisi bakat yang dimiliki oleh Amak dan meneruskan tradisi sebagai daro Minang.  (f)

***

Keterangan:
Kampong = Kampung
Amak = Ibu
Daro = Dara/Anak perempuan
Uda = Kakak laki-laki
Apak = Ayah
Mamak = Paman
Atuak = Kakek
Uang japuik = uang pemberian dari pengantin perempuan kepada pengantin laki-laki pada saat acara bajapuik (penjemputan pengantin pria)
Nagari = Desa/Kampung
Gadih = Gadis
Baralek = Kenduri
Bajama = Bersama
Randang = Rendang
Basimpuah = Posisi duduk bersimpuh
Jamba = Wadah berbentuk lingkaran terbuat dari alumunium
Suntiang = Hiasan kepala pengantin perempuan adat Minangkabau

Uti Sruti



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?