Family
Sekolah Bagus Itu Subjektif

2 Mar 2016


Memutuskan sekolah dengan kurikulum nasional atau asing, tentu saja butuh pertimbangan matang. Jangan sampai hanya sekadar mengejar gengsi atau ikut tren. Orang tua harus memastikan dengan melihat visi dan misi sekolah, kurikulum, program, kualitas tenaga pendidik, dan budaya di sekolah tersebut. Begitu juga  dengan anggaran biaya yang dibutuhkan. Sebab, sekolah internasional membutuhkan biaya tak sedikit. 
 
Misalnya saja, sebagai gambaran, untuk memasukkan anak ke sekolah Cikal di Cilandak, Jakarta  Selatan, yang menerapkan kurikulum campuran IB, kurikulum nasional, dan kurikulum Cikal, harus menyiapkan biaya sebesar Rp86 juta (uang pangkal) dengan uang SPP mencapai Rp14 juta per trimester. 
“Biaya sekolah ini cukup tinggi disebabkan untuk memperoleh izin sertifikasi IB dan para guru secara berkala wajib mengikuti training untuk memenuhi standar IB,” kata Wakil Kepala Sekolah Cikal (Cilandak), Chusnul Chotimah. Namun, lebih jauh Chusnul menerangkan, untuk menyediakan akses sekolah yang lebih terjangkau, Cikal juga memiliki sekolah tanpa kurikulum IB (hanya menerapkan kurikulum nasional dan kurikulum Cikal)   di Serpong, Tangerang Selatan.
 
Mahalnya biaya sekolah dengan standar internasional ini seharusnya menjadi pertimbangan utama orang tua dalam memilih sekolah. “Pendidikan anak itu kan  sifatnya jangka panjang dan berkesinambungan. Orang tua perlu membekali diri dengan asuransi dan investasi pendidikan anak dengan memperhitungkan tingkat inflasi,” saran Wei. Jangan sampai sekolah anak putus di tengah jalan akibat orang tua terlalu memaksakan diri, sementara kondisi keuangannya tak mendukung.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) baru-baru ini pernah melakukan survei di 33 provinsi, bahwa 66,7% ayah dan 65,2% ibu memilih sekolah anak lebih berdasar pada pertimbangan kualitas. Lalu, 57,9% ayah lebih pada pertimbangan biaya, sementara ibu, 61,5%.  
 
Hal penting lain selain keuangan yang sering kali luput jadi pertimbangan adalah masalah psikologi anak. Anak-anak dari kalangan ‘the have’ tentu saja punya gaya hidup yang berbeda dengan kalangan menengah ke bawah.

“Bayangkan, ketika teman-teman si anak tiap liburan sekolah traveling ke luar negeri atau mainnya ke Kidzania,   anak Anda tak bisa liburan ke luar negeri atau tak mampu sering-sering ikut main di tempat permainan mahal. Tentu akan menimbulkan rasa minder si anak dan bukan tak mungkin ia kesulitan mendapatkan teman karena gaya hidup yang  berbeda itu,” tutur Wei.
 
Lebih lanjut Wei menjelaskan, respons anak menutupi keminderannya itu pun berbeda-beda, ada yang menarik diri dari pergaulan, ada yang pelariannya mengejar prestasi akademis, ada juga yang berusaha menutup-nutupi kondisi yang sebenarnya.

Sisi positif  bersekolah di sekolah internasional adalah networking-nya yang bagus. “Yang bersekolah di sana pastinya anak-anak pengusaha, pejabat, diplomat, atau pekerja ekspatriat. Manfaatkanlah jaringan pertemanan yang bagus itu ketika sudah lulus dan akan bekerja atau berwirausaha sendiri nanti,” saran Wei.

Memang, kebanyakan orang tua yang menyekolahkan anak di sekolah internasional itu tujuannya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Ada juga yang tak berniat meneruskan kuliahnya di luar negeri, tapi beranggapan bahwa sekolah dengan kurikulum asing itu lebih baik.

Menanggapinya, Wei menjelaskan bahwa sebetulnya, sekolah yang ’baik’ itu sangat subjektif, tergantung kebutuhan anak dan orang tua. “Baik untuk si A belum tentu baik untuk si B. Masing-masing orang tua punya ekspektasi sendiri dan nilai-nilai apa yang ingin ditanamkan kepada anak-anaknya ketika menyerahkan anak ke sekolah,” ujar Wei.

Ada yang ingin anaknya digenjot dengan hal-hal bersifat akademis, ada orang tua yang lebih santai dan mementingkan pengembangan karakter diri. Untuk yang ingin mengejar prestasi bidang akademis, sekolah dengan Singaporean Curriculum, yang terkenal sering men-drill score achievements, lebih bisa mengakomodasi. Di perkotaan besar, banyak juga orang tua yang lebih suka memilih sekolah yang tidak memberikan PR atau jam belajarnya sampai sore (full day), karena mereka sibuk bekerja di kantor sepanjang hari.  

Akhir kata, di mana pun anak bersekolah, hal terpenting yang harus diingat adalah sekolah sebagai tempat yang seharusnya bisa mewadahi potensi anak bukan karena kemauan orang tua semata, apalagi jika alasannya demi gengsi.(f) 
 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?