Career
Millennials On Top

25 Feb 2016



 Di dunia kerja, generasi millennial sering kali dicap cenderung pemalas dan labil. Padahal kenyataannya, kini  makin banyak dari mereka yang menduduki posisi-posisi penting di perusahaan-perusahaan top. Ketika senioritas tidak lagi menjadi prioritas dalam kriteria kepemimpinan, dedikasi dan kerja keras yang mereka berikan rasanya patut ditiru siapa pun yang ingin mencapai puncak. Berikut ini pengalaman dua wanita, yang meskipun masih muda, memiliki jiwa kepemimpinan yang matang.


Natashya Gutierrez (28), Bureau Chief Rappler Indonesia
Berani Gagal

Apa saja tanggung jawab Anda dalam pekerjaan ini?
Sebagai bureau chief, saya melakukan supervisi dan manajemen dari tim editorial Rappler Indonesia, termasuk semua konten multimedia yang dimuat di website. Saya juga membuat strategi konten multimedia untuk kantor Indonesia, dan berkoordinasi dengan Rappler Philippines mengenai konten, eksekusi, dan strategi.
    
Sebelum pindah ke Jakarta, saya adalah salah satu dari tim awal yang mendirikan Rappler di Filipina. Pada waktu itu, Rappler adalah social news network yang pertama di sana. Sekarang, Rappler adalah situs berita ketiga yang paling banyak dibaca di Filipina. Di Manila, tadinya saya bekerja sebagai reporter multimedia. Salah satu pengalaman saya adalah meliput pemerintahan era Presiden Benigno Aquino III dan menulis berbagai berita investigasi tentang korupsi.

Bagaimana karakter tim Anda?
Saat ini tim kami terdiri dari 10 staf editor, termasuk di antaranya 2 editor, 4 reporter, dan social media manager. Jumlah ini akan terus bertambah. Tim kami kebanyakan adalah digital native yang berusia 20-an tahun, dan beberapa jurnalis senior. Misalnya, managing editor kami adalah jurnalis ternama, Uni Lubis. CEO kami sekarang adalah Maria Ressa, mantan Bureau Chief CNN Indonesia.
    
Saya beruntung karena berada dalam lingkungan yang muda, dinamis, dan inovatif. Mereka adalah orang-orang yang ingin mengubah ‘wajah’ dari dunia jurnalisme di Indonesia, dengan mendorong netizens atau ‘penghuni’ internet untuk lebih terlibat dalam pembangunan bangsa, melalui media sosial dan crowdsourcing.

Sebagai pemimpin muda, pernahkah Anda diragukan oleh orang lain?
Ketika saya mengambil posisi ini, saya menyadari bahwa akan selalu ada tantangan dan tekanan untuk membuktikan diri, bahwa usia saya bukanlah kekurangan melainkan kelebihan. Saya pernah bertemu dengan seorang editor senior yang tiba-tiba merasa tidak nyaman ketika mengetahui di usia saya ini saya mengepalai satu kantor. Saya juga melihat adanya keengganan di beberapa kantor berita lokal untuk membuka diri terhadap young leadership di era internet ini.

Seperti apa ekspektasi orang terhadap Anda?
Sebagai digital native, saya diharapkan untuk terus bekerja dan berkolaborasi dengan mereka yang lebih senior, di saat yang bersamaan juga menawarkan berbagai perspektif baru dan input segar untuk kami berinovasi bersama. Karena target pembaca kami juga kaum millennial dan digital native, saya memahami betul bagaimana mereka memikirkan, merasakan, melakukan, dan mengonsumsi berita.
    
Tentunya, tantangan ini akan terus-menerus berubah, karena saya juga harus bisa mencari tahu dan menentukan masa depan news dan mengikuti tren. Kami belajar sesuatu yang baru   tiap hari.

Apa visi Anda sebagai pemimpin?
Kekuatan saya sebagai pemimpin adalah, saya tidak takut gagal. Fail fast and fail forward. Banyak yang mengira ini hanyalah hype di silicon valley, karena banyak startup yang sangat takut gagal. Kalau saya selalu bermain aman dan takut mengambil risiko, saya tidak akan bisa belajar, tidak bisa tumbuh, dan tidak bisa berinovasi.
    
Lebih dari sekadar mengurus angka, traffic, sales atau analytics, sebagai pemimpin saya mengingatkan diri sendiri dan tim alasan mengapa kami melakukan semua ini. Tujuannya adalah untuk tidak pernah lupa bahwa gol kami adalah memberdayakan kaum muda supaya mereka bisa membuat keputusan-keputusan bijak yang bisa membawa perubahan bagi negerinya sendiri, tentunya melalui berita yang kami laporkan dan melalui social engagement.


Putri Silalahi (29),  Head of Communications (Products) Google Indonesia
Getting The Job Done

Bagaimana pengalaman kerja Anda hingga sampai di posisi ini?
Perjalanan karier saya dimulai di industri media, menjadi reporter di Metro TV kurang lebih setahun, lalu menjadi reporter di sebuah majalah wanita sampai akhirnya menempati posisi managing editor. Setelah 5 tahun di sana, saya ingin belajar hal baru dan menantang diri untuk keluar dari comfort zone. Saya pun meniti karier di Coca-Cola selama 3 tahun, awalnya sebagai media specialist, lalu posisi terakhir saya adalah head of corporate communications.
Di tahun 2014, melihat perkembangan internet yang begitu exciting, saya merasa bahwa perusahaan teknologi akan memberi pengetahuan yang lain dari industri lainnya. Maka, sampailah saya di Google, di mana saat ini saya memimpin strategi komunikasi untuk produk dan pengembangan teknologi Google bagi pengguna di Indonesia, dari Search, Maps, Android, Play, YouTube, dan banyak lagi. Saat sebuah produk sedang didesain untuk pengguna Indonesia misalnya, saya memberi input soal aspek dari produk dan teknologi tersebut yang paling sesuai dengan kebutuhan orang Indonesia.  

Seperti apa dinamika kepemimpinan Anda?
Tim yang selama ini saya pegang sudah sangat beragam. Waktu di majalah, saya memimpin 11 orang. Di Coca-Cola, tim inti saya 3 orang, dan pernah selama setahun saya memimpin sampai 20 orang saat atasan mendadak resigned. Sekarang, di Google saya mengarahkan 2 orang karena Google menganut konsep flat organization. Tak hanya keragaman usia yang lebih tua, mereka juga berasal dari latar belakang dan kultur yang berbeda-beda.
Waktu di Coca-Cola, tim saya sangat majemuk, dari fresh graduate hingga pria separuh baya yang sudah bekerja di sana sejak saya masih duduk di bangku SMA. Tapi, saya selalu memilih bawahan dengan strength yang berbeda-beda, misalnya yang satu jago event management, sementara yang satu lebih lihai dalam menulis press release. Perbedaan ini saling melengkapi dan membuat tim menjadi solid.
 
Kekuatan atau kelebihan apa yang Anda bawa sebagai pemimpin muda?
Tiap kali orang bertanya hal ini, kalimat ini yang selalu muncul di kepala saya: get the job done. Saat kita masih muda, otomatis pengalaman kita tidak seluas orang-orang yang sudah lama bekerja di perusahaan tersebut. Jadi, tidak ada cara lain untuk membuktikan kemampuan selain dengan menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu. Bahkan kalau bisa, hasilnya di atas ekspektasi.
Saya juga bisa mengidentifikasi peluang untuk mengambil inisiatif, meski terkait di luar tanggung jawab kita. Salah satu atasan saya pernah mengatakan, “Kalau kamu melihat ada sampah di lantai, apakah kamu akan membersihkannya sendiri, atau kamu akan terus berjalan karena berpikir itu bukan sampahmu?” Maksudnya, mereka yang mau melakukan pekerjaan baik itu di level ‘bawah’ maupun di ‘atas’ adalah mereka yang akan stand out.

Kesulitan apa saja yang Anda hadapi sejauh ini?
Membentuk sebuah tim yang solid membutuhkan waktu, dan bagi pemimpin muda, emosi terkadang ikut campur tangan. But practice makes perfect. Saya banyak membaca buku tentang leadership atau berkonsultasi dengan orang-orang yang lebih berpengalaman (mentor leadership favorit saya adalah ayah saya sendiri). Orang bilang, kemampuan memimpin akan membaik seiring waktu. Tapi, bagi mereka yang masih muda, semua bisa dibantu dengan banyak belajar dan bertanya. If you lack the experience, make up for it by doing your homework.  
Pengalaman saya sejauh ini menunjukkan bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang memercayakan timnya untuk melakukan pekerjaan tanpa harus micromanaging, memberi cukup ruang untuk timnya bereksperimen demi mencapai hal-hal di luar ekspektasi. Saya selalu terinspirasi quote dari John Quincy Adams, “Kalau tindakanmu menginspirasi yang lain untuk lebih bermimpi, lebih banyak belajar, lebih banyak melakukan sesuatu, dan menjadi sesuatu yang lebih, artinya kamu adalah seorang pemimpin.”

Pernahkah Anda diragukan oleh rekan atau bawahan yang lebih senior?
Seandainya pernah, mungkin mereka tidak mengatakannya langsung kepada saya, ha… ha… ha.... Tapi, saya sudah menyadari bahwa kita akan menghemat banyak waktu dan tenaga, jika kita tidak selalu memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Makin cepat kita belajar hal ini dalam hidup,  makin mudah semua dijalani.
Menurut saya, rasa ragu ini terkadang lebih banyak datang dari dalam diri kita sendiri, bukan orang lain. Suara-suara dalam kepala yang mengatakan, “Ah, saya masih terlalu muda, saya pasti tidak bisa,” atau “Saya belum berpengalaman, nanti pasti gagal,” sangat berbahaya.   Karena, rasa takut ini yang akan menghambat kita dari melakukan banyak hal. (f)

PRIMARITA S. SMITA

 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?