Career
Bangun Relasi untuk Karier Cemerlang

5 Jan 2017


Foto: 123RF

Menjalin relasi bukan hanya untuk pekerjaan public relations (PR), sales, atau staf marketing. Semua profesi butuh aktivitas networking, karena tak mungkin bisa mencapai tujuan karier maupun goal bisnis tanpa bantuan sahabat, rekan kerja, bahkan pesaing Anda. Supaya networking berjalan optimal, dibutuhkan etika dan strategi cerdas dalam menjalankannya. Jika dijalankan asal-asalan, bisa jadi bisnis maupun karier Anda malah berantakan.
 
Menjaga Pertemanan
“Hai, Farah. Kamu kerja di mana? Kamu beli, dong, produk kosmetik aku. Lagi ada diskon, lho!” Pesan singkat di messenger Facebook itu membuat Farah (28), kesal. Pasalnya, pesan dikirim oleh orang yang baru ia kenal di dunia maya. Baginya, pesan itu tidak efektif karena basi dan tanpa etika. “Pertama, dia langsung ‘menembak’ saya membeli produknya, padahal baru kenal. Kedua, dia menanyakan pekerjaan saya, yang sebenarnya sudah saya cantumkan di Facebook,” ujar Farah, kesal.
 
Lain lagi dengan Virni (31), yang mengaku kesal karena menerima pesan WhatsApp dari teman yang sudah lama menghilang dan tak pernah merespons saat ia hubungi. “Sekalinya mengirimkan message, ia menawarkan kerja sama event. Saya jadi malas, karena kesannya datang hanya saat sedang butuh,” kata Virni.
 
Pengalaman Farah maupun Virni menjadi bukti bahwa perlu strategi jitu dan cara tepat menjalin networking dalam dunia bisnis. Berbasa-basi memang perlu, tapi tetap harus dibarengi etika.
 
“Aktivitas networking yang baik hendaknya dilakukan dengan niat tulus dari hati, bukan hanya karena kewajiban pekerjaan,” jelas Prita Kemal Gani, praktisi public relations (PR) dan pendiri London School of Public Relations (LSPR).
 
Menurut Prita, menjalin relasi di dunia bisnis sebaiknya diawali dengan pertemanan. Sebagai makhluk sosial, manusia tak mungkin bisa hidup sendiri dan tentu membutuhkan teman. Namun, zaman telah berkembang, pertemanan pun ikut berubah. Menurut Prita, era digital telah mengubah interaksi pertemanan melalui dua ‘dunia’: nyata dan maya. Dan, tak bisa dipungkiri, perkembangan media sosial dan gadget membuat orang jadi lebih intens menyapa temannya secara online.
 
“Sebagian waktu kita tiap hari dihabiskan bersama gadget, khususnya media sosial. Kesempatan menyapa teman secara online jadi terbuka lebar,” ujar Prita.
 
Meski begitu, keseimbangan pertemanan juga harus dijaga, baik secara online maupun offline. Artinya, kualitas silaturahmi di media sosial sebaiknya juga dilakukan di dunia nyata.
 
“Pertemanan yang tulus akan membawa banyak manfaat positif dan kesempatan tak terduga. Relasi bisnis potensial, misalnya” cetus Prita. Kalau di dunia PR, prinsip dasarnya adalah ‘tak kenal maka tak sayang’. Perlu upaya khusus dilakukan PR untuk lebih mengenali maupun menyesuaikan karakter klien, yang sebaiknya dilakukan dengan cara yang hangat agar klien nyaman.
 
“Saat mengawali aktivitas networking, tak perlu melakukan entertain dengan berlebihan. Mulailah lewat hal-hal sederhana, seperti mencari tahu kesamaan maupun hobi klien Anda,” jelasnya.
 
Tak dipungkiri Prita, pertemanan menjadi modal utama saat ia membangun LSPR pada 1992 silam. Beberapa kawan dari berbagai latar belakang profesi makin memuluskan langkah Prita mengembangkan bisnisnya di bidang pendidikan itu. “Friendship is my biggest asset, instead of skill or money,” cetusnya.
 
Meski begitu, Prita menyarankan, saat sudah mendapat partner bisnis baru, Anda tetap harus menjaga agar relasi tersebut tahan lama. Misalnya dengan menjunjung tinggi komitmen profesi dan menepati janji.
 
“Menjunjung komitmen artinya paham cara tepat memperlakukan klien. Misalnya Anda berjanji akan memberikan kontak seseorang, maka Anda harus menepatinya,” tegas Prita.
 
Pandai Berstrategi
Selain etika, cara berkomunikasi menjadi elemen terpenting dalam menjalin relasi bisnis. Keberhasilan bisnis pun sangat bergantung pada skill komunikasi. Hal itu diamini Dr. Rudy Handoko, pengajar ilmu marketing dan Direktur Program S-1, Prasetiya Mulya: School of Business and Economics, Jakarta. Menurut Rudy, kebanyakan masalah dalam perusahaan terjadi karena manajemen komunikasi yang buruk.
 
“Sepintar atau sehebat apa pun pengalaman seseorang, semuanya akan sia-sia bila tak memiliki skill berkomunikasi yang baik. Bukan tak mungkin, hal itu akan menggagalkan negosiasi bisnis,” tegas Rudy.
 
Skill komunikasi bukan hanya soal kepiawaianberbicara, tapi juga kemauan untuk mendengar, termasuk ketika klien menyampaikan keluhan tak mengenakkan. “Saat customer Anda marah-marah misalnya, dengarkan saja. Terkadang, seseorang hanya perlu didengar. Kemauan mendengar adalah bagian penting untuk memperluas networking,” imbuhnya.
 
Untuk bagian sales atau praktisi MLM misalnya, tawarkan solusi, bukan memaksa membeli produk. “Misalnya dengan memberi promosi gratis kepada calon klien. Kalau ia tertarik, berarti penawarannya berhasil. Kalau tidak, ya, tidak masalah,” ujar Rudy.
 
Selain skill komunikasi, memperluas jaringan dan manajemen klien juga hal yang sangat penting dalam dunia bisnis. Bahkan, beberapa perusahaan rela mengeluarkan biaya besar untuk menerapkan strategi customer relationship management (CRM).
 
“Perusahaan biasanya berinvestasi di bidang teknologi informasi untuk memperoleh big data mengenai klien, termasuk hobi klien,” jelas Rudy.
 
Cara kerjanya seperti Google yang bisa membaca dan mengolah keinginan klien melalui keyword tertentu. “Misalnya Anda browsing mencari hotel, maka berikutnya banyak iklan hotel di laman media sosial Anda,” jelasnya.
 
Meskipun begitu, pebisnis dengan bujet terbatas tetap bisa menjalin networking dengan strategi relationship management (RM), Ini cara mudah dan murah memperlakukan klien sewajarnya, tanpa mengistimewakan ataupun menyepelekan mereka. Dan, menurut Rudy, apabila strategi RM itu diterapkan dengan baik, klien akan menjadi loyal. Dari sesederhana mengirimkan ucapan selamat di hari besar lewat WA, ucapan ulang tahun, mengirimkan makanan, hingga mengajak hangout atau ngopi-ngopi di luar jam kantor. Lebih jauh, Rudy juga menekankan pentingnya membangun trust dan konsistensi.
 
Trust berarti bisa dipercaya. Kalau berjanji meeting, datanglah tepat waktu sesuai kesepakatan. Selain itu, bersikaplah konsisten agar klien yakin bahwa Anda adalah orang yang bisa diandalkan di segala situasi,” cetus Rudy.
 
Tak dipungkiri, praktik networking memang tak semudah teori maupun kata-kata bijak ‘tak kenal maka tak sayang’. Sebab, dalam penerapannya, sering kali seseorang tak bisa melakukan networking dengan profesional. Salah satu penyebabnya adalah subjektivitas orang lain yang berujung pada asumsi pribadi. Padahal, menurut Rudy, hal seperti itu bisa menghalangi dealing bisnis yang potensial.
 
“Bersikaplah objektif dan profesional dalam menjalin relasi. Jangan sampai Anda kehilangan kesempatan baik hanya karena terpengaruh berita hoax. Jangan mudah percaya, sebelum Anda membuktikannya sendiri,” tegas Rudy. (f)
 

Baca juga:
Peran Penting Humas Kantor Saat Menyampaikan Kabar Buruk Perusahaan
Cara Memperbaiki Komunikasi Dengan Atasan
Tantangan Baru Karier di 2017


Topic

#perkembangankarier

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?