Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta 13 tahun lalu, Sacha Stevenson tidak pernah menyangka kalau dia bakal menetap lama. “Rencana awal saya hanya tinggal setahun saja di Indonesia terus pindah lagi ke negara lain,” cerita Sacha dengan dialek Jakarta yang kental. Rencana pun tinggal rencana. Sacha mengaku keburu jatuh cinta pada Indonesia.
Senang Bertualang
“Saya dibesarkan oleh ibu yang senang jalan-jalan. Waktu kecil sampai remaja, saya sudah sering ikut ibu keliling 20 negara. Pekerjaan ibu memang membuat kami sering berpindah-pindah tempat tinggal.
“Saat usia 19 tahun, saya ingin menciptakan petualangan saya sendiri. Saya lalu mendaftarkan diri sebagai pengajar Bahasa Inggris di negara yang membutuhkan. Kebetulan saja waktu itu panggilan tercepat datang dari Jakarta, Indonesia.
“Berhubung niatnya memang ingin bertualang, selama setahun bekerja saya benar-benar berhemat. Saya hanya makan gado-gado dan nggak minum bir di Jalan Jaksa, he he he. Saya juga mengontrak kamar kecil di dalam gang di daerah Kebon Jeruk. Pokoknya kalau buka pintu, langsung kelihatan penjual tahu gejrot sama ibu-ibu yang sedang mencuci pakaian.
“Lingkungan tersebut yang membuat saya paham betul soal kebiasaan orang-orang Indonesia. Sampai-sampai, karena terlalu lama bergaul dengan orang Indonesia, teman-teman bule saya bilang, ‘Sacha kamu nggak seperti bule lagi’. Saya tertawa saja mendengarnya.
“Mengumpulkan uang selama setahun, saya pergi ke Sumatra Utara dan menetap delapan bulan di Bukit Lawang. Saya menyewa bekas rumah makan Padang yang sudah bangkrut. Bersentuhan langsung dengan penduduk asli membuat saya lebih mengenal kebiasaan dan budaya setempat. Tentu saja pengalaman yang nggak akan saya dapatkan kalau menginap di hotel.”
Indonesia Rumah Kedua
“Selepas dari Bukit Lawang, saya sempat kembali ke negara saya, Kanada. Namun tak bertahan lama— saya segera balik ke Indonesia. Waktu balik ke Kanada, saya sempat menyusul ibu ke Mesir.
“Di masa-masa itu, mata saya selalu awas melihat orang berciri khas Asia Tenggara dan memasang telinga baik-baik untuk cari tahu apakah mereka berasal dari Indonesia. Kalau memang dari Indonesia, langsung, deh, saya ajak ngobrol pakai Bahasa Indonesia, he he he.
“Banyak yang tanya apa yang membuat saya cinta pada Indonesia. Bukannya lebih enak tinggal di Kanada yang semuanya sudah serba teratur? Menurut saya, kalau semua sudah sistematis, justru nggak ada lagi menariknya.
“Tinggal di Indonesia itu menarik. Masih banyak hal yang harus diperjuangkan. Mulai dari hal kecil, seperti macet, polusi, atau permasalahan sosial. Perjuangan membuat kita lebih mensyukuri hidup. Perjuangan membuat kita lebih menghargai sesuatu ketika hal tersebut sudah berhasil didapatkan.”
Pro-kontra Video
“Nggak semua orang menyukai video YouTube yang saya buat. Beberapa waktu lalu video saya sempat diprotes karena dianggap menistakan agama tertentu. Akhirnya saya edit ulang dan sensor habis.
“Saya juga dibilang menjelek-jelekkan Indonesia lewat video YouTube. Saya nggak punya niat menjelek-jelekkan Indonesia, saya cinta Indonesia. Suami saya orang Indonesia, bahkan saya mau membawa ibu untuk tinggal di Indonesia. Beberapa kali suami juga kasih masukan kalau menurutnya video yang saya buat terlalu sensitif.
“Saya santai-santai saja menanggapi semua komentar. Walaupun ada yang negatif, banyak juga yang memberikan apresiasi. Namun, saya menolak ketika ada rumah produksi yang mau mengangkat How to Act Indonesian ke TV. Pastinya, nggak akan sebebas di YouTube. Saya rasa How to Act Indonesian lebih cocok untuk YouTube—saya bisa lebih ekspresif dan penyebarannya lebih luas di sana.
“Beberapa penerbit juga menawari saya untuk membuat buku, tapi tunggu dululah, saya masih disibukkan oleh YouTube. Seminggu sekali, kan, saya meng-upload video dan masih saya kerjakan sendiri.”
“Saat ini saya sedang menulis skenario untuk acara TV yang mau saya tawarkan ke beberapa stasiun. Kalau ditolak, ya, nggak apa-apa, yang penting sudah mencoba. Hidup nggak usah dibuat rumit. Lakukan apa yang kita sukai, kalau gagal tinggal coba lagi.” CC
Obat Kangen untuk Perantau
Video YouTube-nya How to Act Indonesian yang diposting setahun lalu ramai dibicarakan publik. Rekaman video Sacha yang menceritakan keseharian masyarakat Indonesia mampu memikat banyak orang. Bahkan berkat kepopulerannya itu, Sacha mendapat banyak peluang menarik di dunia hiburan, termasuk bermain di sekuel film Comic 8!
“Sebenarnya saya buat video YouTube untuk orang-orang asing maupun orang Indonesia yang tinggal di luar negeri dan kangen pada negaranya,” ujar Sacha.
Senang Bertualang
“Saya dibesarkan oleh ibu yang senang jalan-jalan. Waktu kecil sampai remaja, saya sudah sering ikut ibu keliling 20 negara. Pekerjaan ibu memang membuat kami sering berpindah-pindah tempat tinggal.
“Saat usia 19 tahun, saya ingin menciptakan petualangan saya sendiri. Saya lalu mendaftarkan diri sebagai pengajar Bahasa Inggris di negara yang membutuhkan. Kebetulan saja waktu itu panggilan tercepat datang dari Jakarta, Indonesia.
“Berhubung niatnya memang ingin bertualang, selama setahun bekerja saya benar-benar berhemat. Saya hanya makan gado-gado dan nggak minum bir di Jalan Jaksa, he he he. Saya juga mengontrak kamar kecil di dalam gang di daerah Kebon Jeruk. Pokoknya kalau buka pintu, langsung kelihatan penjual tahu gejrot sama ibu-ibu yang sedang mencuci pakaian.
“Lingkungan tersebut yang membuat saya paham betul soal kebiasaan orang-orang Indonesia. Sampai-sampai, karena terlalu lama bergaul dengan orang Indonesia, teman-teman bule saya bilang, ‘Sacha kamu nggak seperti bule lagi’. Saya tertawa saja mendengarnya.
“Mengumpulkan uang selama setahun, saya pergi ke Sumatra Utara dan menetap delapan bulan di Bukit Lawang. Saya menyewa bekas rumah makan Padang yang sudah bangkrut. Bersentuhan langsung dengan penduduk asli membuat saya lebih mengenal kebiasaan dan budaya setempat. Tentu saja pengalaman yang nggak akan saya dapatkan kalau menginap di hotel.”
Indonesia Rumah Kedua
“Selepas dari Bukit Lawang, saya sempat kembali ke negara saya, Kanada. Namun tak bertahan lama— saya segera balik ke Indonesia. Waktu balik ke Kanada, saya sempat menyusul ibu ke Mesir.
“Di masa-masa itu, mata saya selalu awas melihat orang berciri khas Asia Tenggara dan memasang telinga baik-baik untuk cari tahu apakah mereka berasal dari Indonesia. Kalau memang dari Indonesia, langsung, deh, saya ajak ngobrol pakai Bahasa Indonesia, he he he.
“Banyak yang tanya apa yang membuat saya cinta pada Indonesia. Bukannya lebih enak tinggal di Kanada yang semuanya sudah serba teratur? Menurut saya, kalau semua sudah sistematis, justru nggak ada lagi menariknya.
“Tinggal di Indonesia itu menarik. Masih banyak hal yang harus diperjuangkan. Mulai dari hal kecil, seperti macet, polusi, atau permasalahan sosial. Perjuangan membuat kita lebih mensyukuri hidup. Perjuangan membuat kita lebih menghargai sesuatu ketika hal tersebut sudah berhasil didapatkan.”
Pro-kontra Video
“Nggak semua orang menyukai video YouTube yang saya buat. Beberapa waktu lalu video saya sempat diprotes karena dianggap menistakan agama tertentu. Akhirnya saya edit ulang dan sensor habis.
“Saya juga dibilang menjelek-jelekkan Indonesia lewat video YouTube. Saya nggak punya niat menjelek-jelekkan Indonesia, saya cinta Indonesia. Suami saya orang Indonesia, bahkan saya mau membawa ibu untuk tinggal di Indonesia. Beberapa kali suami juga kasih masukan kalau menurutnya video yang saya buat terlalu sensitif.
“Saya santai-santai saja menanggapi semua komentar. Walaupun ada yang negatif, banyak juga yang memberikan apresiasi. Namun, saya menolak ketika ada rumah produksi yang mau mengangkat How to Act Indonesian ke TV. Pastinya, nggak akan sebebas di YouTube. Saya rasa How to Act Indonesian lebih cocok untuk YouTube—saya bisa lebih ekspresif dan penyebarannya lebih luas di sana.
“Beberapa penerbit juga menawari saya untuk membuat buku, tapi tunggu dululah, saya masih disibukkan oleh YouTube. Seminggu sekali, kan, saya meng-upload video dan masih saya kerjakan sendiri.”
“Saat ini saya sedang menulis skenario untuk acara TV yang mau saya tawarkan ke beberapa stasiun. Kalau ditolak, ya, nggak apa-apa, yang penting sudah mencoba. Hidup nggak usah dibuat rumit. Lakukan apa yang kita sukai, kalau gagal tinggal coba lagi.” CC
Obat Kangen untuk Perantau
Video YouTube-nya How to Act Indonesian yang diposting setahun lalu ramai dibicarakan publik. Rekaman video Sacha yang menceritakan keseharian masyarakat Indonesia mampu memikat banyak orang. Bahkan berkat kepopulerannya itu, Sacha mendapat banyak peluang menarik di dunia hiburan, termasuk bermain di sekuel film Comic 8!
“Sebenarnya saya buat video YouTube untuk orang-orang asing maupun orang Indonesia yang tinggal di luar negeri dan kangen pada negaranya,” ujar Sacha.


