Career
Jakarta Beatbox, Musik Fun tanpa Instrumen

14 Jan 2015

Di Indonesia, musik beatbox belum sepopuler akapela. Jakarta Beatbox—grup beatbox pertama di Indonesia—sepakat memperkenalkan musik yang memanfaatkan mulut, bibir, lidah, dan vokal untuk meniru suara perkusi dan efek-efek lain.
“Semakin banyak beatboxer yang lahir, semakin banyak juga lapangan pekerjaan buat beatboxer itu sendiri,” kata Laurentius Caesarando, leader Jakarta Beatbox yang berdiri sejak empat tahun lalu.

Ngumpul untuk Kerja
“Kami menciptakan Jakarta Beatbox karena sudah ada komunitas beatboxer yang senang ngumpul bareng. Kebetulan saya, Melvin Tampubolon, dan Gustaf Sailendra sudah sering melakukan solo performance. Lalu saya berpikir, ‘Kenapa nggak dibikin brand untuk dijual ke klien?’. Akhirnya terbentuklah Jakarta Beatbox pada tanggal 15 September 2010.
“Awalnya kami punya 20 anggota, tapi akhirnya tinggal berenam. Formasinya saya sebagai leader/manajer, Gustaf jadi manajer Beatbox School Indonesia, Melvin mengurusi socmed Jakarta Beatbox, Daniel mengurusi socmed Beatboxnesia, Felicia sebagai asisten, serta Indira. Ternyata kami berenam kerjanya lebih solid, efektif, dan cost-nya juga sedikit.
“Jakarta Beatbox memang bertujuan untuk jualan performance.  Dalam setahun kami bisa dapat profit minimal Rp 500 juta yang didapat dari performance, iklan, produk, TVC, coaching talent, juga sekolah beatbox. Tahun ini kami sudah berhasil tampil di mancanegara. Contohnya, beberapa waktu lalu kami sempat dikirim oleh Google ke Singapura.”

Belajar Autodidak
“Kami semua belajar dari tutorial beatbox di YouTube dalam Bahasa Inggris dan Jerman. Biasanya saya nyanyi atau nge-rap, Melvin bagian beat, Gustaf untuk high hats, Daniel khusus efek seperti suara robot sampai terompet. Jadi, di Jakarta Beatbox semua punya speciality masing-masing.
“Waktu itu belum ada tutorial dalam Bahasa Indonesia sehingga kami tertantang membuatnya. Ternyata peminatnya banyak banget! YouTube pun mengajak kami berpartner, bahkan digaji untuk bikin video tutorial.
“Ketika ada orang yang merasa sulit belajar dari tutorial di YouTube, kami mulai mengembangkan ide. Setelah survei, kami membuat materi dan meluncurkan kelas privat. Awalnya hanya privat antarteman yang menyebar dari mulut ke mulut, hingga berdirilah Beatbox School Indonesia.
“Biasanya kami latihan setiap hari Minggu sembari manage sekolah, ngumpul, dan bikin video tutorial. Istilahnya, sambil menyelam minum air. Berhubung peminatnya semakin banyak, sejak akhir November lalu kami juga membuka kelas di hari Sabtu—info lengkapnya bisa dilihat di www.jakartabeatbox.com. Sampai saat ini, sih, kami sudah punya lebih dari 150 murid.”

























Memanfaatkan Masa Muda

“Kami juga punya branding baru di 2014, yaitu Beatboxnesia (Beatbox Indonesia). Ini program untuk meng-grab masyarakat sekaligus mempromosikan beatboxer-beatboxer Indonesia. Kami punya akun YouTube, unggah video untuk promote mereka di www.beatboxnesia.com, sampai menggelar beatbox battle secara online via Instagram.
“Sekarang beatbox lagi booming sehingga kami semangat mengerjakannya dan ‘hajar’ semua peluang. Selain kuliah dari Senin sampai Sabtu, kami manggung dan mengajar. Ya, masa muda dipakai sebisa mungkin. Kadang kalau salah satu personel berhalangan karena jadwal manggung bentrok dengan kuliah, kami merekrut dari Beatboxnesia.
“Beatbox, tuh, sudah jadi passion. Kami nggak sekadar suka, tapi juga sudah dapat bonus secara finansial dari hobi tersebut. Itu yang nge-boost kami untuk maju. Di Jakarta Beatbox, saya belajar bahwa orang yang rajin bisa melakukan banyak hal. Kalau punya banyak waktu kosong ternyata kita bisa melakukan apa saja yang kita inginkan.”






 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?