Tak terlintas sedikit pun dalam benak Dinna Rohmatunnisa, kalau koleksi aksesorinya yang bertema Shape Shifter akan menjuarai Lomba Perancang Aksesori (LPA) tahun ini. Pasalnya, aksi Dinna dalam dunia aksesori memang baru seumur jagung. Namun, Dinna mengaku kemenangannya adalah cambuk untuk bekerja lebih keras lagi.
Mencari Domba Garut
“Boleh dibilang saya cinta aksesori! Bukan karena persaingan dalam bisnis aksesori lebih kecil dibandingkan fashion, tapi saya jatuh cinta pada detailnya. Bagi saya, membuat aksesori membutuhkan ketelitian yang lebih besar. Saya baru mulai menekuni aksesori, terutama tas, di awal tahun ini. Saat itu saya ingin mendesain tas yang multifungsi, namun tetap modis.
“LPA pun menjadi ajang untuk membuktikan keseriusan saya. Apalagi saya juga ingin mendapatkan masukan dan kritik dari mereka yang sudah lama terjun di dunia aksesori. Setelah mendapatkan konsep rancangan yang matang, saya lalu mewujudkannya dengan mencari bahan baku, membuat pola, hingga mengawasi proses pembuatannya.
“Koleksi pertama wajib memiliki kualitas yang bagus dan ciri khas sehingga masyarakat tertarik dengan karya tersebut. Saya menggunakan kulit domba yang kuat, namun lembut agar dapat dilipat. Untuk memastikan mendapatkan kualitas kulit yang oke, saya mencari pabrik pengolahan kulit domba di Garut. Saya juga mendatangi penyamak untuk melihat prosesnya sehingga yakin dengan kualitasnya.”
Berburu Ilmu
“Sudah lama saya tertarik pada fashion. Ketertarikan ini muncul setiap kali saya melihat seseorang berdandan modis. Bukannya ingin mempunyai baju serupa, tapi yang ada di dalam pikiran saya adalah bagaimana cara membuatnya. Saya juga mengagumi beberapa merek-merek fashion ternama. Lagi-lagi bukan berminat untuk memiliki produk mereka, melainkan penasaran dengan strategi mereka hingga produknya mendunia.
“Merasa fashion adalah passion saya, saat kuliah saya pun ingin mempunyai butik. Sayangnya saat itu saya kurang pede, mungkin karena nggak memiliki latar belakang pendidikan mode. Walau akhirnya membuat butik secara online, saya belum serius banget menjalaninya. Saya memang mendesain dan menjual baju-baju tradisional seperti kebaya, hanya belum terpikir untuk memiliki koleksi rancangan sendiri.
“Karena ingin menambah ilmu di bidang fashion, sambil menjalani kuliah akuntansi di Bandung, saya mengikuti kursus singkat di sekolah mode untuk belajar membuat desain. Walau begitu saya masih juga nggak pede dengan kemampuan saya. Lulus kuliah, saya bekerja kantoran sebagai konsultan keuangan, lalu meneruskan kuliah S-2 di Nottingham, Inggris, jurusan business investment. Saya yakin, setiap bisnis—termasuk fashion—membutuhkan perencanaan ekonomi yang matang.
“Lulus S-2 saya kembali bekerja kantoran, namun keinginan berbisnis fashion tetap besar. Saya bahkan rela melepas pekerjaan, lalu menjalankan kursus privat dengan Sapta de Lucas—konsultan dan pengajar sekolah mode. Dari Sapta saya belajar cara mendapatkan inspirasi dan mengolah inspirasi tersebut menjadi produk. Tadinya rancangan saya cenderung tanpa konsep.”
Harus Punya Target
“Menjadi pemenang LPA nggak berarti saya boleh puas. Justru menjadi penyemangat saya untuk mengeksplorasi bisnis aksesori lebih dalam lagi. Persaingan dalam bisnis, tuh, ketat—jika saya nggak berkembang, produk saya nggak akan dikenal masyarakat. Saya pun mulai mempunyai target, misalnya setiap bulan menghasilkan 10 produk untuk satu model. Walau bisnis ini masih dirintis, setiap hari saya harus produktif.
“Saya juga berharap nantinya aksesori akan dilihat sebagai kebutuhan dan bukan hanya pelengkap busana. Suatu saat saya ingin mendirikan asosiasi untuk desainer aksesori agar kami punya wadah untuk saling berbagi pengalaman dan berkembang bersama.”
Mencari Domba Garut
“Boleh dibilang saya cinta aksesori! Bukan karena persaingan dalam bisnis aksesori lebih kecil dibandingkan fashion, tapi saya jatuh cinta pada detailnya. Bagi saya, membuat aksesori membutuhkan ketelitian yang lebih besar. Saya baru mulai menekuni aksesori, terutama tas, di awal tahun ini. Saat itu saya ingin mendesain tas yang multifungsi, namun tetap modis.
“LPA pun menjadi ajang untuk membuktikan keseriusan saya. Apalagi saya juga ingin mendapatkan masukan dan kritik dari mereka yang sudah lama terjun di dunia aksesori. Setelah mendapatkan konsep rancangan yang matang, saya lalu mewujudkannya dengan mencari bahan baku, membuat pola, hingga mengawasi proses pembuatannya.
“Koleksi pertama wajib memiliki kualitas yang bagus dan ciri khas sehingga masyarakat tertarik dengan karya tersebut. Saya menggunakan kulit domba yang kuat, namun lembut agar dapat dilipat. Untuk memastikan mendapatkan kualitas kulit yang oke, saya mencari pabrik pengolahan kulit domba di Garut. Saya juga mendatangi penyamak untuk melihat prosesnya sehingga yakin dengan kualitasnya.”
Berburu Ilmu
“Sudah lama saya tertarik pada fashion. Ketertarikan ini muncul setiap kali saya melihat seseorang berdandan modis. Bukannya ingin mempunyai baju serupa, tapi yang ada di dalam pikiran saya adalah bagaimana cara membuatnya. Saya juga mengagumi beberapa merek-merek fashion ternama. Lagi-lagi bukan berminat untuk memiliki produk mereka, melainkan penasaran dengan strategi mereka hingga produknya mendunia.
“Merasa fashion adalah passion saya, saat kuliah saya pun ingin mempunyai butik. Sayangnya saat itu saya kurang pede, mungkin karena nggak memiliki latar belakang pendidikan mode. Walau akhirnya membuat butik secara online, saya belum serius banget menjalaninya. Saya memang mendesain dan menjual baju-baju tradisional seperti kebaya, hanya belum terpikir untuk memiliki koleksi rancangan sendiri.
“Karena ingin menambah ilmu di bidang fashion, sambil menjalani kuliah akuntansi di Bandung, saya mengikuti kursus singkat di sekolah mode untuk belajar membuat desain. Walau begitu saya masih juga nggak pede dengan kemampuan saya. Lulus kuliah, saya bekerja kantoran sebagai konsultan keuangan, lalu meneruskan kuliah S-2 di Nottingham, Inggris, jurusan business investment. Saya yakin, setiap bisnis—termasuk fashion—membutuhkan perencanaan ekonomi yang matang.
“Lulus S-2 saya kembali bekerja kantoran, namun keinginan berbisnis fashion tetap besar. Saya bahkan rela melepas pekerjaan, lalu menjalankan kursus privat dengan Sapta de Lucas—konsultan dan pengajar sekolah mode. Dari Sapta saya belajar cara mendapatkan inspirasi dan mengolah inspirasi tersebut menjadi produk. Tadinya rancangan saya cenderung tanpa konsep.”
Harus Punya Target
“Menjadi pemenang LPA nggak berarti saya boleh puas. Justru menjadi penyemangat saya untuk mengeksplorasi bisnis aksesori lebih dalam lagi. Persaingan dalam bisnis, tuh, ketat—jika saya nggak berkembang, produk saya nggak akan dikenal masyarakat. Saya pun mulai mempunyai target, misalnya setiap bulan menghasilkan 10 produk untuk satu model. Walau bisnis ini masih dirintis, setiap hari saya harus produktif.
“Saya juga berharap nantinya aksesori akan dilihat sebagai kebutuhan dan bukan hanya pelengkap busana. Suatu saat saya ingin mendirikan asosiasi untuk desainer aksesori agar kami punya wadah untuk saling berbagi pengalaman dan berkembang bersama.”


